Industri Perbankan Siap Sokong Pertumbuhan Ekonomi 2025

Pertumbuhan kredit yang tetap terjaga di level dua digit menjadi modalitas bagi industri perbankan untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

23 Jan 2025 09:05 WIB · Ekonomi

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Di tengah risiko pelemahan ekonomi global, industri perbankan optimistis mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025. Upaya tersebut dilakukan, antara lain, dengan dengan memperkuat penciptaan lapangan pekerjaan, serta berkontribusi dalam sektor pangan dan perumahan.

Hal ini mengemuka dalam CEO Forum 2025 bertajuk ”Banking Beyond Growth: Powering a Sustainable and Inclusive Economy for 2025 Onward”, di Jakarta, Rabu (22/1/2025). Acara tersebut diselenggarakan oleh Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) serta Ikatan Bankir Indonesia.

Wakil Ketua Umum Perbanas sekaligus Presiden Direktur Super Bank Indonesia Tigor M Siahaan menyampaikan, aspek penciptaan lapangan pekerjaan, ketahanan pangan, dan sektor perumahan memiliki hubungan yang erat dengan industri perbankan. Ketiga hal tersebut pada gilirannya diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

”Perbankan tidak hanya sebagai sektor penunjang, tetapi juga menjadi katalisator bagi perekonomian Indonesia ke depan,” katanya.

Konferensi Pers Perbanas

Di sektor tenaga kerja, Perbanas menilai, meski kuantitas lapangan kerja meningkat 3,3 juta per tahun selama 2015-2024, kualitas pekerjaan masih terbatas. Guna mengatasi ketimpangan akibat terbatasnya kualitas pekerjaan, dibutuhkan pengembangan keterampilan dan pendidikan berkualitas guna memperbaiki kualitas tenaga kerja.

Terkait dengan ketahanan pangan, Perbanas menekankan perlunya peningkatan produktivitas komoditas pangan prioritas guna mengurangi ketergantungan impor. Peran sektor pertanian perlu ditingkatkan melalui pemberian insentif untuk kredit sektor pertanian dan pengembangan produk hilir melalui sistem data pertanian agar dapat meningkatkan akses informasi bagi pelaku usaha dan perbankan.

Selain itu, Perbanas turut mengapresiasi Program 3 Juta Rumah yang menyasar Masyarakat Berpendapatan Rendah (MBR), khususnya yang berpendapatan Rp 3-7 juta per bulan. Program tersebut diyakini dapat mengatasi backlog perumahan apabila dilaksanakan dengan baik dan tepat sasaran serta mempertimbangkan aspek kemampuan bayar MBR yang berkisar Rp 1,1 juta per bulan.

Quote

Kalau kita melihat situasi seperti ini, kemudian pemerintah menargetkan pertumbuhan sebesar 8 persen, tentu ini ’challenge’ bagi semua pihak. Saat ini kita masih bank ’driven’ ekonomi, dengan ’share’ perbankan 80 persen di sektor keuangan sehingga apa pun yang terjadi di perbankan, tentu akan berpengaruh terhadap eskalasi pertumbuhan ekonomi.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Edian Rae mengingatkan, industri perbankan patut mewaspadai berbagai tantangan ke depan, baik dari global maupun domestik.

Secara umum, ekonomi global menghadapi ketidakpastian dari perekonomian Amerika Serikat, sedangkan ekonomi domestik masih dibayangi pelemahan daya beli dan turunnya kelas menengah. Kendati demikian, penyaluran kredit perbankan masih mampu tumbuh dua digit, yakni per November 2024 sebesar 10,79 persen secara tahunan.

”Kalau kita melihat situasi seperti ini, kemudian pemerintah menargetkan pertumbuhan sebesar 8 persen, tentu ini challenge bagi semua pihak. Saat ini kita masih bank driven ekonomi, dengan share perbankan 80 persen di sektor keuangan sehingga apa pun yang terjadi di perbankan, tentu akan berpengaruh terhadap eskalasi pertumbuhan ekonomi,” ujar Dian.

Perkembangan kinerja industri perbankan hingga November 2024. Sumber: OJK

Senada, Ketua Umum Perbanas Kartika Wirjoatmodjo menambahkan, perekonomian global pada 2025 diperkirakan melemah. Hal ini terutama akibat eskalasi perang dagang antara AS dan Tiongkok yang dapat berdampak signifikan pada perdagangan global dan nilai tukar.

Di sisi lain, Indonesia yang terhubung erat dengan ekonomi global juga diprediksi mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi akibat melemahnya daya beli masyarakat dan fluktuasi nilai tukar. Dalam menghadapi ketidakpastian tersebut, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan perbankan dalam memperkuat fundamental ekonomi domestik guna menjaga stabilitas ekonomi.

”Pemerintah juga perlu memperkuat ekonomi domestik dengan mengoptimalkan berbagai sektor untuk menjaga daya tahan perekonomian dan perlu melakukan penyesuaian kebijakan fiskal yang tepat untuk mengurangi dampak negatif dari pelemahan ekonomi global, termasuk pengelolaan risiko inflasi dan proteksionisme,” ujar Kartika dalam keterangan resmi.

Tetap tumbuh

Di tengah tantangan ketidakpastian dan likuiditas, industri perbankan mencatatkan kinerja yang relatif terjaga stabil. Hal ini, antara lain, dicapai oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI yang menutup buku 2024 dengan mencatatkan laba sebesar Rp 21,5 triliun atau tumbuh 2,7 persen secara tahunan.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menyampaikan, capaian tersebut terutama ditopang oleh transformasi digital yang meningkatkan tabungan sebesar 11 persen secara tahunan, dari Rp 232 triliun pada 2023 menjadi Rp 258 triliun pada 2024. Ini sekaligus menunjukkan daya saing perusahaan dalam menghadapi tantangan ekonomi, baik domestik maupun global.

”Pencapaian yang kami raih pada 2024 menjadi momentum penting untuk menghadapi masa depan. Kami optimistis bahwa dengan terus berinovasi dan fokus pada kebutuhan nasabah, kami akan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan,” tuturnya dalam konferensi pers Paparan Kinerja Keuangan 2024 secara daring.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar (keempat kanan) meluncurkan aplikasi wondr by BNI bersama Influencer Rafi Ahmad dan Enzy Storia, Sekretaris Jenderal PP PBSI Fadil Imran, Komisaris Utama BNI Pradjoto, Deputi Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, Teknologi, dan Informasi Kementerian BUMN Tedi Bharata, Pebulu tangkis Jonatan Christie dan Anthony Ginting di Menara BNI, Jakarta, Jumat (5/7/2024). PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk merilis aplikasi banking wondr by BNI. Aplikasi ini menjadi solusi bagi masyarakat Indonesia untuk dapat melakukan pengelolaan keuangan dengan lebih terencana sesuai dengan kebutuhan finansial. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 05-07-2024

Lebih lanjut, BNI berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dengan memanfaatkan peluang yang ada. Hal itu sejalan dengan visi Astacita pemerintah, meliputi pengembangan infrastruktur, ketahanan energi dan pangan, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hilirisasi industri, serta program perumahan nasional.

Selama 2024, BNI tercatat menyalurkan kredit sebesar Rp 775,87 triliun atau tumbuh 11,6 persen secara tahunan. Capaian tersebut ditopang oleh segmen korporasi yang tumbuh 17,6 persen secara tahunan serta segmen konsumer yang tumbuh 14,5 persen secara tahunan.

Quote

Terkait prospek 2025, BNI menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 8-10 persen, dengan perkiraan pertumbuhan segmen korporasi dan segmen konsumer sekitar 10-12 persen. Kemudian, kami melihat peluang di segmen korporasi terlihat dari beberapa sektor yang masih memiliki prospek yang positif, seperti komunikasi, infrastruktur, dan perindustrian.

Di sisi lain, kualitas aset yang tecermin dari tingkat kredit macet atau nonperforming loan (NPL) turun menjadi 2 persen. Selain itu, BNI turut membentuk pencadangan secara memadai, tecermin dari Loan at Risk Coverage yang mencapai 48,8 persen dan NPL coverage yang terjaga di level 255,8 persen.

Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini menyampaikan, fundamental yang solid ini menjadi landasan bagi BNI untuk dapat tumbuh secara prudent pada 2025. Meski kualitas aset tetap kuat, BNI tetap berhati-hati dan bertumbuh secara konservatif di tengah ketidakpastian global.

”Terkait prospek 2025, BNI menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 8-10 persen, dengan perkiraan pertumbuhan segmen korporasi dan segmen konsumer sekitar 10-12 persen. Kemudian, kami melihat peluang di segmen korporasi terlihat dari beberapa sektor yang masih memiliki prospek yang positif, seperti komunikasi, infrastruktur, dan perindustrian,” tutur Novita.

Hal itu sejalan dengan program pemerintah dalam rangka pemerataan pembangunan dan hilirisasi industri. Sementara itu, di segmen konsumer, terdapat tiga produk andalan, yakni credit payroll, credit mortgage, serta joint financing.

Novita menambahkan, BNI menyambut baik pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Langkah tersebut akan berdampak positif bagi likuiditas perbankan, yang diperkirakan akan terjadi pada semester II-2025.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .