Empat tahun setelah kerusuhan di Gedung Capitol yang menewaskan empat orang, parlemen AS akan mengesahkan kemenangan Donald Trump sebagai presiden AS.
06 Jan 2025 20:12 WIB · Internasional
WASHINGTON, MINGGU — Senin (6/1/2025), Kongres Amerika Serikat mengesahkan kemenangan Donald Trump dalam pemilu 2024. Tepat empat tahun lalu, Januari 2021, pendukung Trump menyerbu Gedung Capitol untuk menggagalkan pengesahan hasil penghitungan suara pemilihan presiden AS.
Waktu itu, orang-orang menerobos perintang dan aparat penjaga Capitol dan menduduki gedung itu selama empat jam. Kerusuhan Capitol itu menyebabkan empat orang tewas dan 52 orang ditangkap. Semua karena pendukung Trump menolak mengakui kemenangan Joe Biden.
Kini, pengesahan kemenangan Trump diharapkan lancar. Meski demikian, aparat keamanan tetap berjaga-jaga mengantisipasi kerusuhan, Minggu (5/1/2025). Pemasangan pagar di sekitar kantor parlemen AS salah satu caranya.
Trump akan dilantik sebagai presiden AS pada 20 Januari 2025 dan upacaranya akan dilakukan di tangga Capitol, tempat yang sama dengan tempat yang ”diduduki” para pendukungnya, empat tahun lalu. Wakil Presiden AS Kamala Harris akan memimpin sertifikasi kekalahannya terhadap Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/06/0cc9b59750bcf876ad0fbb0764b1ac1b-bcf1236cd8fd4f79aa4f76092f50a148_0_dc6c9661e6a04f47b7e485ee5e571d7f.jpg)
Pada saat kerusuhan Capitol, Trump melanggar semua preseden. Ia menyebarkan kebohongan untuk meyakinkan rakyat AS bahwa pemilu dicurangi demi kemenangan Biden. Trump mencoba menekan wakil presidennya, Mike Pence, agar menolak mengesahkan kemenangan Biden.
Ketika berpidato di luar Gedung Putih pada 6 Januari 2021, Trump mengajak para pendukungnya untuk berjuang sekuat tenaga membelanya. Ribuan orang lalu menyerbu Capitol.
Mereka memukuli polisi dengan batang logam dan tiang bendera, memecahkan jendela. Mereka juga membuat anggota parlemen berlari ketakutan.
Akibat kerusuhan itu, empat orang tewas. Dua tewas karena serangan jantung, satu karena overdosis, dan satu perusuh tewas ditembak polisi saat mencoba memaksa masuk ke ruang DPR. Trump baru turun tangan beberapa jam kemudian.
Dalam versi Trump, kerusuhan Capitol itu hanya pertemuan damai. Itu jelas sama sekali tidak benar.
Kongres akhirnya mengesahkan kemenangan Biden. Ingatan AS tentang peristiwa 6 Januari 2021 tampaknya memudar dan mayoritas pemilih pemilu 2024 tampaknya tidak lagi menganggap peristiwa itu sebagai masalah genting. Trump pun bersikeras dia tidak melakukan kesalahan apa pun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/01/07/US-PRO-TRUMP-PROTESTERS-GATHER-AT-STATE-CAPITOLS-ACROSS-THE-NATI_93843518_1609979328_jpg.jpg)
Anggota parlemen dari Demokrat khawatir dengan narasi palsu tentang kerusuhan 6 Januari. Kembalinya Trump di tampuk kekuasaan dan anggota Republik yang mendukung versi Trump memperkuat narasi palsu itu.
”Ada upaya tanpa henti untuk menulis ulang—bahkan menghapus—sejarah yang terjadi pada hari itu. Kita tidak bisa membiarkan kebenaran hilang,” tulis Presiden AS Joe Biden di harian The Washington Post, Minggu.
Dalam rekaman video, Harris memastikan pengalihan kekuasaan akan berjalan damai. Dia berjanji akan memastikan hal itu. Harris akan bergabung dengan beberapa wakil presiden AS untuk mengawasi konfirmasi seremonial kekalahan mereka dalam pemilu.
Ini dilakukan sebagai bagian dari peran mereka sebagai ketua Senat. Richard Nixon juga melakukannya setelah kalah dari John F Kennedy pada 1960. Al Gore juga mengikuti jejaknya ketika Mahkamah Agung AS memberi kemenangan pada pemilu 2000 kepada George W Bush.
Juru bicara tim transisi Trump dan Calon Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memastikan tidak akan ada gangguan selama proses sertifikasi dan proses transisi kekuasaan akan lancar. ”Ketika Kamala Harris mengesahkan hasil pemilu, Presiden Trump akan menepati janjinya untuk melayani SEMUA warga Amerika dan akan mempersatukan negara melalui keberhasilan,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/06/30/9306d890-8ccd-4802-be19-fb2285aa170f_png.png)
Ingatan akan kerusuhan 6 Januari 2021 masih kuat bagi mereka yang ada di Capitol pada hari itu. Namun, bekas kerusuhan di dalam Capitol pun semakin sulit ditemukan.
Bekas lubang-lubang di dinding sudah diperbaiki. Jendela dan pintu yang dirusak para perusuh sudah diganti. Tidak ada plakat, pajangan, atau kenangan apa pun.
Anggota parlemen juga jarang menyinggung serangan itu. Banyak anggota Republik yang malah sering mengatakan peristiwa di Capitol itu dibesar-besarkan dan para perusuh itu yang justru menjadi korban.
Peristiwa 6 Januari yang dianggap mengguncang fondasi demokrasi AS itu seperti tidak pernah terjadi. ”Ingatan itu sudah dihapus. Pemenanglah yang menuliskan sejarah dan Trump yang menang. Dalam versi Trump, kerusuhan Capitol itu hanya pertemuan damai. Itu jelas sama sekali tidak benar. Jika Trump mengampuni para perusuh, itu akan mempertegas versinya,” kata Senator Peter Welch dari Demokrat.
Welch mengingatkan massa pendukung Trump yang menyerukan agar Ketua DPR Nancy Pelosi dan Pence dihukum mati. Mereka juga menerobos masuk Capitol dengan membawa senjata, tali pengikat, bahan kimia iritan, dan bendera Konfederasi saat mereka menggeledah Capitol dan memburu para anggota parlemen. Mereka berusaha menghentikan pengesahan kemenangan Biden, dan menggemakan klaim palsu Trump.
”Itu adalah masa yang sangat gelap. Banyak anggota parlemen yang benar-benar ingin melupakan hari itu,” kata Senator Lisa Murkowski, salah satu dari tujuh senator Republik yang memilih untuk menghukum Trump atas tuduhan pemakzulan selepas 6 Januari.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/02/1ab56adc-e373-4e63-baa5-447bc94f9d9e_jpg.jpg)
Trump berjanji memberikan grasi kepada para pendukungnya yang menyerbu Capitol segera setelah dia dilantik. Namun, Trump belum menjelaskan secara spesifik jumlah orang yang akan diberi grasi.
Sekitar 1.580 orang didakwa terkait kerusuhan Capitol. Pernyataan Trump sering berubah.
Dia pernah mengatakan akan memberi grasi pada ”banyak” orang. Dia juga pernah mengisyaratkan mengecualikan mereka yang tindakannya tidak terkendali. ”Jika Trump tidak memenuhi janjinya, mungkin dia harus menghadapi protes keras,” kata John Pierce, pengacara pembela yang mewakili 50 terdakwa 6 Januari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/06/3493ff6b864476a1038c78cc2b0abe0d-e9948af777484a9187c3a84a25b2b9f8_0_41acf72a24dd4ba8ae738fc9ec4e307c.jpg)
Trump diduga mungkin akan memberikan pengampunan hanya kepada orang-orang yang didakwa dengan pelanggaran ringan. Pelanggarannya, antara lain, masuk tanpa izin atau protes di halaman Capitol. Pelanggar tidak dituduh melakukan kekerasan apa pun.
Beberapa terdakwa yang hanya menghadapi dakwaan pelanggaran ringan termasuk pendiri Cowboys for Trump dan mantan pejabat terpilih dari Republik Couy Griffin dan Rebecca Lavrenz yang dijuluki ”Nenek Berdoa J6”. Menurut Trump, keduanya sengaja disasar Biden.
Di atas kertas, Trump dapat mengeluarkan pengamanan menyeluruh untuk semua terdakwa 6 Januari. Bisa juga pengampunan yang hanya dihukum karena kasus pelanggaran ringan.
Lebih dari 170 orang didakwa menggunakan senjata mematikan atau melukai polisi. Kelompok itu termasuk Julian Khater yang dijatuhi hukuman lebih dari 6 tahun penjara karena menyerang polisi dengan semprotan merica.
Satu polisi bernama Brian Sicknick meninggal keesokan harinya. Terdakwa yang terkait kasus ini kemungkinan tidak akan mendapat pengampunan.
Kategori terdakwa yang paling tidak jelas yang dapat memperoleh pengampunan dari Trump adalah mereka yang dihukum karena kejahatan serius seperti konspirasi. Ini termasuk terdakwa pendiri Oath Keepers Stewart Rhodes dan mantan Ketua Proud Boys Enrique Tarrio.
Baik Rhodes maupun Tarrio tidak memasuki Capitol pada hari penyerangan, tetapi mereka menginspirasi anggota mereka dengan retorika kekerasan. Juri memutuskan mereka bersalah karena berencana menggulingkan pemerintah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/10/16/474077cf-e5f2-496a-8295-06d76c55c5d1_jpg.jpg)
James Lee Bright, salah satu mantan pengacara pembela Rhodes, menilai mantan kliennya harus diperlakukan sebagai pelaku tindak pidana nonkekerasan agar mendapatkan pengampunan. ”Dia tidak pernah membawa senjata dan tidak pernah memberi perintah apa pun. Dia juga tidak pernah menyentuh polisi,” ujarnya.
Presiden AS memiliki kewenangan pengampunan yang luas. Pengampunan presiden itu biasanya mengembalikan hak-hak sipil tertentu kepada penjahat yang dihukum, seperti hak untuk memilih dan memiliki senjata. Presiden juga dapat memberikan amnesti, jenis pengampunan untuk pelanggaran tertentu.
Ada pilihan lain lagi yang dapat dipertimbangkan Trump, yakni memberikan keringanan hukuman, bukan pengampunan. Keringanan hukuman mengurangi hukuman seseorang, tetapi tidak memaafkan kejahatannya. Departemen Kehakiman AS mengatakan lebih dari 700 terdakwa sudah menyelesaikan masa hukuman penjaranya atau tidak pernah dijatuhi hukuman penjara. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris Mada