Inggris menggandeng sekitar 35 negara untuk sama-sama bahas cara bicara dengan Iran agar mau membuka kembali Selat Hormuz.
02 Apr 2026 20:00 WIB · Internasional
AFP
LONDON, RABU — Pada saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap kekesalannya pada mitra dekatnya di Eropa, sekitar 35 negara akan menggelar pertemuan virtual untuk membahas upaya membuka kembali Selat Hormuz. Pertemuan digelar Kamis (2/4/2026).
Pertemuan yang dikoordinasi oleh Inggris itu berupaya mencari cara untuk memberi tekanan diplomatik dan politik agar Iran mengizinkan tanker-tanker melewati Selat Hormuz. Pertemuan tersebut merupakan langkah awal yang nantinya akan ditindaklanjuti dengan rapat teknis untuk membahas langkah-langkah konkret dan detail operasional. Gagasan ini mirip dengan ”koalisi sukarelawan” untuk mendukung keamanan Ukraina setelah gencatan senjata.
Koalisi ini sudah dibentuk dan dipimpin oleh Inggris dan Perancis. Koalisi untuk Selat Hormuz disebutkan akan diikuti 35 negara, termasuk Jerman, Italia, Kanada, dan Uni Emirat Arab.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer mengatakan pertemuan itu dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper. AS tidak ikut dalam pertemuan itu. Tidak dijelaskan apa alasannya. Namun, sebelumnya Trump sudah mengatakan pengamanan Selat Hormuz itu bukan tugas AS.
Bahkan, Trump menyuruh sekutu-sekutunya untuk mengamankan Selat Hormuz dan mengurus minyak mereka sendiri. ”Ambil saja, lindungi, dan pakai untuk kalian sendiri,” kata Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/25/352f8b5b84bb2d69af378b896b03752f-20260325_H01_NNN_Tanker_Hormuz_mumed.png)
Koalisi baru ini merupakan upaya untuk menunjukkan kepada Trump bahwa Eropa memang sedang berupaya keras lebih banyak berbuat demi keamanan mereka sendiri.
Hasil pertemuan tersebut, kata Starmer, diharapkan dapat memulihkan kebebasan navigasi, menjamin keselamatan kapal serta para pelaut yang terjebak. Selain itu, inisiatif itu dapat menjadi upaya untuk memulihkan pergerakan beragam komoditas penting.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, dampak perang AS-Israel melawan Iran, lalu lintas laut di kawasan Teluk Persia menuju dan dari aneka negara terhenti. Macetnya aliran minyak dunia dari Teluk menyebabkan harga minyak melonjak.
Tidak ada negara yang tampaknya bersedia mencoba membuka Selat Hormuz dengan paksa. Sementara pertempuran terus berkecamuk dan Iran bisa sewaktu-waktu menyasar kapal-kapal di selat itu dengan rudal antikapal, pesawat nirawak, kapal serang, dan ranjau.
Terkait hal itu, menurut Starmer, pertemuan ke-35 negara itu juga akan membahas bagaimana memastikan keamanan pelayaran setelah pertempuran berhenti. Negara-negara Eropa awalnya menolak permintaan Trump untuk mengirim angkatan laut mereka ke Selat Hormuz karena khawatir akan terseret ke dalam konflik.
Seorang pejabat Eropa mengatakan, pada tahap pertama, koalisi itu diharapkan akan menyepakati rencana membuka kembali Selat Hormuz. Fokus upaya itu tersebut adalah memastikan Selat Hormuz bebas dari ranjau. Pada tahap kedua adalah bagaimana melindungi kapal-kapal tanker aman melintasi selat itu.
Sejumlah negara termasuk Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Kanada, Jepang, dan Uni Emirat Arab telah menandatangani pernyataan yang menuntut Iran menghentikan pemblokiran Selat Hormuz dan berjanji untuk berkontribusi pada upaya memastikan jalur aman.
Starmer mengakui melanjutkan pelayaran tidak akan mudah, perlu dukungan militer dan upaya diplomatik seiring dengan kemitraan dengan industri maritim.
Secara terpisah, Menteri Pertahanan Australia Richard Marles mengatakan, Australia sedang berdiskusi dengan Inggris dan Perancis tentang bagaimana Australia dapat berkontribusi untuk membuka Selat Hormuz. Australia termasuk negara yang akan ikut hadir dalam pertemuan virtual dengan Inggris.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/02/1adcf8fae098fc7e3484d61fe900d869-wires_photo_342.jpg)
“Kami punya kepentingan agar Selat Hormuz tetap terbuka. Upaya ini bergantung pada kapan kondisi memungkinkan langkah-langkah tersebut dilakukan. Sayangya, kondisi seperti itu tidak ada saat ini,” kata Marles saat diwawancarai Sky News Australia.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan tujuan awal perang di Iran telah tercapai. Serangan AS-Israel, menurut Albanese, sudah melemahkan angkatan udara, angkatan laut, dan basis industri militer Iran.
Oleh karena itu, ia menyerukan de-eskalasi karena apa yang berlanjut saat ini, sebenarnya tidak jelas lagi apa tujuannya. ”Yang jelas, semakin lama perang, semakin berdampak parah pada ekonomi global,” ujarnya.
Saat ini, untuk mengurangi dampak perang di Teluk, khususnya pada sektor energi, Australia memotong pajak bensin untuk menekan kenaikan harga. Selain itu, Canberra juga menjanjikan pinjaman sebesar 680 juta dolar AS kepada pelaku usaha.
Perkembangan terbaru dari Selat Hormuz, Iran dilaporkan mengizinkan kapal tanker Filipina melalui selat itu. Departemen Luar Negeri Filipina menyebutkan izin ini bisa keluar setelah Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro, menghubungi Menlu Iran Abbas Araghchi melalui telepon.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/21/f06fc611-43a3-42ee-ba9a-3cb9ce3d88cd.jpg)
Sehari sebelumnya, Lazaro bertemu dengan duta besar Iran di Manila untuk meminta penetapan resmi Filipina sebagai ”negara nonmusuh”.
Sebelumnya, pekan lalu, Presiden Filipina Ferdinand Marcos telah mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional. Harga BBM mencapai rekor tertinggi di Filipina sejak Iran menutup Selat Hormuz.
Dalam laporan kepada bursa saham Filipina, Petron Corp, operator satu-satunya kilang minyak di Filipina mengatakan, telah setuju untuk membeli minyak mentah Rusia. Pembelian sekitar 2,5 juta barel minyak mentah asal Rusia dilakukan karena kebutuhan yang sangat mendesak.
Sebelum Filipina, Malaysia juga mengatakan kapal tankernya sudah dapat izin untuk melewati Selat Hormuz tanpa membayar bea tol kepada Iran. (REUTERS/AP/AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase