Pemerintah Inggris mengambil sikap tegas terhadap Israel. Selain menghentikan perundingan dagang, London menjatuhkan sanksi terhadap pemukim Israel di Tepi Barat.
20 Mei 2025 21:57 WIB · Internasional
LONDON, SELASA — Jengah dengan sikap arogan Israel, Pemerintah Inggris, Selasa (20/5/2025), mengambil langkah tegas. Inggris menghentikan sementara perundingan perdagangan bebas dengan Israel. Selain itu, Inggris juga memberikan sanksi baru kepada para pemukim di Tepi Barat.
Selain menghentikan perundingan perdagangan, Menteri Luar Negeri David Lammy juga mengumumkan bahwa kementeriannya memanggil Duta Besar Israel untuk Inggris.
Pemanggilan itu terkait dengan perluasan operasi militer Israel di wilayah Palestina yang diduduki pemukim Israel. Lammy mengatakan, serangan bertubi-tubi oleh Israel bukanlah cara yang tepat untuk memulangkan sandera.
”Kita tidak bisa berdiam diri menghadapi kemerosotan baru ini. Itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang mendasari hubungan bilateral kita,” kata Lammy kepada para anggota Parlemen Inggris di London.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/22/ad3cb24a-abbd-471c-a91a-0522690ad630_jpg.jpg)
”Terus terang, itu merupakan penghinaan terhadap nilai-nilai rakyat Inggris. Oleh karena itu, hari ini, saya mengumumkan bahwa kami telah menangguhkan negosiasi dengan Pemerintah Israel ini mengenai perjanjian perdagangan bebas yang baru.”
Selain itu, Lammy mengatakan, siklus kekerasan yang terus-menerus oleh pemukim Israel di Tepi Barat juga perlu disikapi dengan tegas. ”Pemerintah Israel memiliki tanggung jawab untuk campur tangan dan menghentikan tindakan agresif ini,” kata Lammy. ”Kegagalan mereka yang konsisten untuk bertindak membahayakan komunitas Palestina dan solusi dua negara.”
Sehari sebelumnya, dalam pernyataan bersama dengan Perancis dan Kanada, Inggris mengecam keras perluasan operasi militer Israel di Gaza dan menyerukan agar pembatasan bantuan dicabut. Ketiga negara itu mengatakan mereka akan mengambil ”tindakan konkret lebih lanjut” jika serangan Israel tidak berhenti.
Langkah tersebut menjadi sikap tegas Inggris yang geram terhadap tindakan Israel di Gaza. Sebagaimana diketahui, demi mewujudkan ambisinya menghancurkan kelompok Hamas, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus menyerang Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/20/3583c60ab33b765244f307015404eb46-PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_129904538.jpg)
Meskipun lebih dari 50.000 warga Palestina di Gaza tewas akibat ambisinya, Netanyahu belum surut. Ia bahkan kembali memerintahkan militer Israel untuk menggempur Gaza baik lewat udara maupun serbuan darat.
Sejumlah pihak, termasuk komunitas internasional, telah berkali-kali mendesak Netanyahu untuk menghentikan aksinya. Namun, semua diabaikan.
Kini, sejumlah negara, termasuk mitra dekat Israel, salah satunya Inggris, mengambil langkah signifikan. Perdana Menteri Keir Starmer mengatakan bahwa ia merasa ngeri dengan eskalasi militer di Gaza.
”Saya ingin mencatat hari ini bahwa kami ngeri dengan eskalasi dari Israel,” kata Starmer. ”Kami mengulangi tuntutan kami untuk gencatan senjata sebagai satu-satunya cara untuk membebaskan para sandera, kami mengulangi penentangan kami terhadap permukiman di Tepi Barat, dan kami mengulangi tuntutan kami untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan secara besar-besaran ke Gaza.”
Bagi Inggris, sebagaimana ditegaskan Starmer, memburuknya situasi kemanusiaan di Jalur Gaza dan tindakan represif Israel yang kian membabi buta tidak lagi dapat ditoleransi.
Terakhir, serangan Israel ke Jalur Gaza menewaskan lebih dari 50 orang.(AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Bonifasius Josie Susilo HEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan