Berbagai inovasi yang dihasilkan untuk mengatasi tuberkulosis tidak akan bermanfaat secara optimal jika masalah aksesibilitas masih menjadi kendala di masyarakat.
11 Nov 2024 17:10 WIB · Nasional
Oleh Deonisia Arlinta - [email protected]
JAKARTA, KOMPAS– Inovasi dalam penanganan tuberkulosis semakin berkembang pesat di dunia. Itu mulai dari inovasi dalam pemeriksaan dan diagnosis, pengobatan, hingga pencegahan melalui vaksinasi. Meski begitu, berbagai pengembangan tersebut tidak akan berdampak signifikan dalam pengendalian tuberkulosis jika masih terkendala pada aksesibilitas.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Indonesia saat ini telah terlibat dalam tiga uji klinis dalam pengembangan vaksin tuberkulosis di tingkat global. Pengujian tersebut dilakukan untuk pengembangan vaksin tuberkulosis M72/AS01E dari Yayasan Bill and Melinda Gates dan GlaxoSmithKline, vaksin BNT164a1 dari BioNTech dan Biofarma, serta vaksin AdHu5Ag85A dari CanSinoBio dan Etana.
Selain itu, Indonesia juga telah meningkatkan upaya pemeriksaan dan diagnosis tuberkulosis melalui pemeriksaan berbasis polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM). Penggunaan mesin X-ray portabel telah diperluas pula untuk mendeteksi tuberkulosis di masyarakat, terutama pada masyarakat yang berada di daerah yang sulit dijangkau.
“Indonesia punya target untuk mencapai 1 juta penemuan kasus pada tahun depan dari estimasi 1.060.000 kasus. Teknologi amat dibutuhkan agar pemeriksaan bisa lebih cepat dan menjangkau masyarakat secara lebih luas,” tuturnya dalam konferensi pers Pertemuan Tingkat Tinggi Inovasi Tuberkulosis yang diikuti secara daring dari Jakarta, Senin (11/11/2024).
Budi menyebutkan, pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menangani masalah tuberkulosis. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk penanganan tuberkulosis sebesar 500 juta dollar AS atau sekitar Rp 8 triliun. Jumlah itu lebih besar dari rencana anggaran sebelumnya yang hanya sekitar 250 juta dollar AS untuk penanganan tuberkulosis.
Harapannya, komitmen yang diberikan melalui pendanaan tersebut bisa mendorong Indonesia untuk mencapai target eliminasi tuberkulosis pada 2030. Saat ini, Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus tuberkulosis terbesar kedua di dunia.
Terkait dengan riset dan pengembangan untuk tuberkulosis, Chief Transformation Officer (CEO) FIND, Ifedayo Adetifa menuturkan, inovasi terbaru telah dihasilkan untuk mendiagnosis tuberkulosis. Inovasi tersebut berupa GeneXPert yang bisa digunakan untuk mendeteksi bakteri penyebab tuberkulosis sekaligus mendeteksi adanya resisten obat pada pasien tuberkulosis.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/03/19/20200319-NSW-Eliminasi-Tuberkulosis-mumed_1584610781_gif.gif)
Inovasi tersebut memungkinkan diagnosis dilakukan berbasis komputer. Dengan bantuan akal imitasi (AI), proses diagnostik pun bisa menjadi lebih cepat. Hal itu membuat pasien juga bisa lebih cepat mendapatkan pengobatan.
Inovasi lain dalam penanganan tuberkulosis di tingkat global disampaikan pula oleh President and CEO Global Alliance dot TB Drug Development, Mel Spigelman. Inovasi tersebut terutama dalam aspek pengobatan. Pasien tuberkulosis kini bisa mendapatkan pengobatan dengan waktu yang lebih singkat.
Jika sebelumnya waktu pengobatan untuk pasien tuberkulosis sensitif obat memerlukan waktu pengobatan sekitar 24 bulan, inovasi terbaru telah memungkinkan waktu pengobatan lebih singkat menjadi enam bulan.
Executive Director of The Union, Cassandra Kelly Cherino berpendapat bahwa penelitian dan inovasi mutlak dibutuhkan dalam mempercepat target eliminasi tuberkulosis di dunia. Namun, inovasi yang telah dihasilkan tersebut harus disertai dengan kemudahan dalam aksesibilitas di masyarakat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/23/50163176-6e44-49b0-8e0e-3b0808a5338f_jpg.jpg)
“Inovasi tanpa aksesibilitas tidak akan berhasil. Dan satu-satunya cara untuk memastikan aksesibilitas adalah bekerja sama dengan mitra global dan mitra di lapangan, terutama komunitas dan populasi yang terdampak,” tuturnya.
Inovasi tanpa aksesibilitas tidak akan berhasil.
Menurut Cassandra, kerja sama antarlintas sektor diperlukan agar hasil inovasi yang dihasilkan benar-benar dimanfaatkan dan digunakan untuk mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat. Hasil inovasi dan penelitian harus dipastikan terimplementasi di masyarakat.
“Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar kita bisa bersama-sama belajar dan benar-benar menerapkan langkah konkret dalam mengatasi tuberkulosis. Itu juga bagaimana kita bisa menggunakan alat yang sudah ada dan bagaimana kita bisa memiliki kemampuan untuk melakukannya,” ucap dia.
Penulis:
Deonisia ArlintaEditor:
Ichwan Susanto