Pusat-pusat kebugaran merebak di banyak tempat, mulai dari ruko hingga kompleks perumahan. Pasar bisnis ini pun tumbuh sebesar 6,1 persen pada 2024.
12 Jul 2025 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
Keringat mengucur deras membasahi muka dan baju Marina (29) setelah sekitar satu jam menghabiskan waktu di pusat kebugaran atau gym di kompleks perumahannya, Cisauk, Kabupaten Tangerang. Mulai dari mesin treadmill, sepeda statis, hingga angkat beban, ia jajal secara bergantian.
Setidaknya 2-3 kali seminggu, Marina berolahraga di fasilitas kebugaran yang tersedia di kompleks perumahannya itu. Ia tidak mau menyia-nyiakan fasilitas yang ada. Apalagi, pusat kebugaran di perumahannya itu tidak hanya terjangkau secara jarak, tetapi juga harga.
Para penghuni kompleks perumahan dikenai tarif Rp 25.000 per kunjungan tanpa batas waktu. Sementara per bulannya dikenakan tarif sebesar Rp 150.000.
”Sebenarnya tarif per hari Rp 12.500 (diskon) karena penghuni, kalau harga normal Rp 25.000. Aku lebih memilih (bayar) harian karena enggak tentu juga bisa nge-gym. Biasanya seminggu itu dua-tiga kali, sih. Ya, pasti seneng ada fasilitas gym di dalam kompleks karena murah dan dekat juga,” ujar Marina, Jumat (11/7/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/e1c9c77055382d8bf0c9364234851508-IMG_20250711_203948.jpg)
Menurut karyawan swasta itu, gym menawarkan berbagai fasilitas untuk menunjang kegiatan olahraga agar kebugarannya terjaga. Di tengah kesibukan sebagai pekerja di urban, olahraga bisa membuatnya menekan stres dan mencapai work-life balance.
”Kerja di kota seperti Jakarta, setiap hari desak-desakan di kereta, belum lagi masalah dan banyak kerjaan itu buat penat, stres. Ya, dengan olahraga bisa reda. Enggak harus nge-gym juga, sih. Aku juga jogging sore atau malam gitu di GBK. Pokoknya olahraga, apa pun itu bentuknya. Hitung-hitung ini investasi (kesehatan) masa depan,” katanya.
Kesadaran untuk menjaga kebugaran dan kesehatan bersambut dengan merebaknya pusat-pusat kebugaran di banyak tempat. Kalau dulu pusat kebugaran banyak hadir di mal atau hotel berbintang, kini pusat kebugaran lebih banyak muncul di ruko-ruko dan kompleks-kompleks perumahan.
Tengok saja Kota Tangerang Selatan, Banten, dua jaringan pusat kebugaran, yakni Fithub dan FTL Gym, seolah berlomba hadir di beberapa ruko sekaligus dalam dua-tiga tahun terakhir. Belum lagi, jenama-jenama pusat kebugaran lainnya. Sepertinya, saat ini hampir di semua ruas jalan utama di Tangerang Selatan, ada saja tempat nge-gym.
Fenomena serupa juga tampak di beberapa kawasan di Jakarta dan kota-kota di sekitarnya. Di Kota Pelajar Yogyakarta, tempat nge-gym juga merebak di beberapa tempat, mulai dari ruko sampai perkampungan. Sebagian menyasar pasar mahasiswa dan anak muda sehingga tarif yang dikenakan disesuaikan dengan kantong mereka.
Rayyan (18) mengatakan, dirinya membayar Rp 179.000 per bulan untuk biaya nge-gym di Areafit Fitness & Badminton yang terletak di kawasan perumahan di Muja Muju, Kota Yogyakarta. Dengan biaya bulanan sebesar itu, dia boleh nge-gym kapan saja. Kalau per kedatangan, bayarnya Rp 35.000.
Untuk menarik minat warga berolahraga, pusat-pusat kebugaran tidak hanya semakin dekat dengan lingkungan permukiman. Mereka juga terus berinovasi di tengah semakin tingginya kesadaran masyarakat urban untuk hidup sehat.
Jenama The Gym Pod asal Singapura, yang kini mulai muncul di Indonesia, misalnya menawarkan fasilitas kebugaran di ruangan privat dan harga terjangkau.
Chief Technology Officer The Gym Pod Lucius Andi Putra Asikin, kepada Kompas, Kamis (10/7/2025), yakin tren hidup sehat masih akan kuat secara jangka panjang di Asia Tenggara. Oleh karena itu, Gym Pod melihat peluang untuk menghadirkan tempat berolahraga yang nyaman dengan membawa konsep micro-gym.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/08/148f492e-d76f-4ef1-b9ce-8bfccca72f05_jpg.jpg)
”Konsep ini membuat gym dapat diakses dengan lebih mudah bagi kebanyakan masyarakat karena dalam waktu per 30 menit mereka bisa membayar sekurangnya Rp 27.000 untuk mulai berolahraga,” tuturnya.
The Gym Pod memberikan pilihan kepada konsumennya untuk membayar setiap kali penggunaan, meskipun ada pilihan menjadi anggota bulanan. Kebutuhan pengguna juga didukung dengan teknologi data yang mereka kembangkan sejak 2018.
Inovasi data itu sekaligus mereka manfaatkan untuk memperluas bisnis di Indonesia. Meski saat ini masih menyesuaikan tren pasar kebugaran yang terfokus di kota-kota besar, setelah 1,5 tahun hadir di Indonesia, mereka telah menyebar kontainer gym di sembilan lokasi di Jabodetabek. Tahun ini, mereka punya target membuka tiga hingga empat lokasi baru.
”Kami masih punya ruang yang besar untuk menjangkau lebih banyak pasar di seluruh daerah Indonesia yang kesadaran akan kebugarannya mungkin masih lebih rendah di banding dengan kota-kota besar lainnya,” kata Lucius.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/01/10/83d0bcd5-fa2c-4286-a610-0008190ef440_jpg.jpg)
Riset MarketLine di laman Marketresearch.com menyebutkan, pasar bisnis kebugaran dan kesehatan di Indonesia tumbuh sebesar 6,1 persen pada 2024. Tren ini utamanya didorong oleh meningkatnya prevalensi masalah kesehatan terkait gaya hidup, sebut saja obesitas dan penyakit kardiovaskular.
Kehadiran populasi milenial dan generasi Z yang semakin fokus pada kesehatan pribadi, fisik, maupun mental, juga mendukung pertumbuhan pasar ini. Badan Pusat Statistik mencatat, pada 2024, populasi milenial dan generasi Z di Indonesia masing-masing mencapai 65,5 juta dan 73,0 juta jiwa.
Dengan besarnya permintaan itu, pasar pusat kebugaran dan kesehatan di Indonesia mencatat pendapatan sebesar 0,6 miliar dollar AS pada 2024, yang mewakili tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 4,4 persen antara tahun 2019 dan 2024.
Menurut Pakar Kebugaran dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI) Jansen Ongko, personalisasi kebutuhan kebugaran masyarakat mendorong industri gym selalu berkembang.
”Setiap individu punya tujuan unik. Pusat kebugaran idealnya menyediakan program latihan yang lebih personal dan disesuaikan dengan kebutuhan individu, tentunya didukung oleh para tenaga ahli yang profesional,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/08/b879f4a4-3ae0-4655-84b7-8cc90847049d_jpg.jpg)
Pemenuhan kebutuhan itu, antara lain, harus dipenuhi dengan memberikan fleksibilitas kepada pengguna pusat kebugaran. Terkait keanggotaan, misalnya, satu jenis paket saat ini tidak dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang beragam.
Pusat kebugaran perlu menawarkan beragam pilihan, mulai dari jangka pendek, sistem pay-per-visit (bayar sekali datang), hingga paket keluarga, agar lebih mudah diakses oleh berbagai segmen masyarakat.
Pada perkembangannya, pusat kebugaran juga mulai banyak menawarkan berbagai kelas, mulai dari yoga, zumba, spinning, hingga program latihan kekuatan, sehingga membuat sesi olahraga selalu menarik. Pusat kebugaran juga kerap membangun keterlibatan konsumennya melalui acara atau kegiatan yang mempererat komunitas dan meningkatkan loyalitas.
Oleh karena itu, menurutnya, pusat kebugaran harus terus berinvestasi dalam pembaruan fasilitas, program, dan memahami tren pasar. Kemampuan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar dan ekspektasi konsumen, termasuk dalam menghadapi tantangan tak terduga, adalah kunci untuk bertahan dan berkembang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/05/13/829fe85a-a912-4d04-9398-b0de2f1f751e_jpg.jpg)
Saya yakin dengan pendekatan yang tepat dan komitmen terhadap kualitas, industri kebugaran akan terus bertumbuh kuat dan memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi tingkat kesehatan dan kebugaran masyarakat Indonesia.
Pada saat bersamaan, pusat kebugaran juga butuh pengelolaan manajemen yang bertanggung jawab dan transparan untuk menjaga keberlangsungan operasional, sekaligus memberikan rasa aman dan kepercayaan yang lebih besar kepada anggota.
”Saya yakin dengan pendekatan yang tepat dan komitmen terhadap kualitas, industri kebugaran akan terus bertumbuh dan memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi tingkat kesehatan dan kebugaran masyarakat Indonesia,” kata Jansen.
Di pusat kebugaran, keringat dan duit sama-sama bercucuran. Yang satu membuat badan sehat, yang kedua membuat bisnis pusat kebugaran makin kuat.
Penulis:
Aguido Adri, Erika KurniaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto