Asuransi Digital Bersama, Pendatang Perdana di Lantai Bursa pada 2025

Bisnis asuransi umum masih tumbuh positif sepanjang 2024.

08 Jan 2025 13:12 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — PT Asuransi Digital Bersama Tbk menjadi perusahaan pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2025 dengan kode YOII. Dana hasil penawaran umum akan digunakan untuk kegiatan pemasaran hingga pengembangan produk baru asuransi digital untuk gaya hidup masyarakat.

YOII melepas sebanyak 412 juta lembar saham dengan harga Rp 100 per lembar pada 31 Desember 2024 sampai 6 Januari 2025, atau mewakili maksimal 12,03 persen dari jumlah seluruh modal ditempatkan. Perseroan menerima dana segar maksimal Rp 41,20 miliar.

Quote

Sekitar 80 persen dana yang diperoleh dari IPO akan digunakan untuk biaya pemasaran untuk mendukung strategi usaha dan distribusi produk.

Direktur Utama PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) Adi Wibowo Adisaputro pada acara peresmian initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia, Rabu (8/1/2025), menyampaikan, sekitar 80 persen dana yang diperoleh dari IPO akan digunakan untuk biaya pemasaran untuk mendukung strategi usaha dan distribusi produk.

Sisanya, sekitar 20 persen, akan digunakan untuk pengembangan aplikasi dompet asuransi (insurance wallet) beserta infrastruktur penunjang. Di antaranya adalah data center, web hosting, system security, dan penggunaan kecerdasan buatan, serta pengembangan sumber daya manusia.

Direktur Utama PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) Adi Wibowo Adisaputro (kanan) dan Direktur Keuangan Randy Tandra, usai konferensi pers pemasaran saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (8/1/2024).

Berdiri pada 1988 dengan nama PT Sarana Lindung Upaya, perusahaan berganti nama menjadi PT Asuransi Digital Bersama pada 2022. Langkah ini dilakukan seiring dengan transformasi ke pemanfaatan teknologi informasi untuk memasarkan produk asuransi gaya hidup.

Dengan mengadopsi teknologi terkini, perusahaan akan memusatkan upaya pada platform digital untuk menjangkau konsumen secara lebih efektif serta mengelola data pelanggan yang lebih terstruktur dan efisien.

”Fokus kita memang lebih ke arah mendistribusikan produk-produk kita secara digital, terutama melalui digital ecosystem, termasuk lewat insurance wallet yang kita sedang pelajari,” tuturnya dalam konferensi pers.

Produk asuransi disesuaikan dengan kebutuhan individu atau gaya hidup masyarakat yang sudah digital. Pelanggan dapat memilih cakupan asuransi yang mereka inginkan, memilih periode pertanggungan, dan memilih premi sesuai dengan kebutuhan dan anggaran mereka. Sejauh ini, perseroan sudah mengeluarkan produk asuransi gaya hidup, seperti untuk perjalanan dan transaksi di dompet digital.

”Kita akan terus mengembangkan produk-produk sesuai dengan gaya hidup masyarakat tersebut. Untuk saat ini, mungkin ada beberapa produk yang sudah tidak ada dalam pipeline kita, salah satunya ialah pet insurance atau asuransi untuk hewan peliharaan,” kata Direktur Keuangan Asuransi Digital Bersama Randy Tandra pada kesempatan sama.

Peserta pameran merawat anjing-anjing yang dijual dalam acara Indonesia International Pet Expo (IIPE) 2024 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, Jumat (6/9/2024). Mengusung tema "The Magical World of Pet", IIPE 2024 menghadirkan 258 stan yang menjual berbagai hewan peliharaan, seperti anjing, kucing, reptil, dan hewan eksotis. Acara ini berlangsung hingga 8 September 2024. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA 06-09-2024

Pada 2025, PT Asuransi Digital Bersama juga akan masuk ke lini otomotif meski produk asuransi untuk barang tersebut tidak menjadi produk utama. Di tengah pelemahan daya beli otomotif beberapa tahun belakangan, perusahaan menilai asuransi kendaraan, khususnya roda empat, menjadi kebutuhan dasar bagi pemilik kendaraan.

Dengan menggarap produk asuransi digital untuk gaya hidup, perseroan menutup premi di angka Rp 320 miliar atau di atas target tahunan pada 2024. Pada 2025, perusahaan menargetkan kenaikan hingga menjadi Rp 420 miliar sampai dengan Rp 430 miliar.

Perusahaan asuransi umum seperti PT Sompo Insurance Indonesia juga mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang positif pada 2024. Per November 2024, perusahaan mengantongi laba setelah pajak senilai Rp 100,9 miliar, tumbuh lebih kurang 35 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2023.

Dari sisi kecukupan modal, pada periode sama, Sompo mencatatkan risk base capital (RBC) sebesar 227,27 persen, jauh di atas ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang sebesar 120 persen.

Petugas layanan pelanggan asuransi Astra Garda Otto, TB Simatupang, Jakarta, Minggu (5/1/2020) menerima laporan dari konsumen asuransi mobil mengenai kondisi kendaraan pelanggan yang terendam banjir. Laporan langsung mendapat respon dengan mengecek seluruh data kendaraan yang sudah masuk.Selanjutnya mengirimkan tim layanan darurat ke pelanggan untuk menderek kendaraan yang rusak. Bekerja sama dengan bagian perbaikan  kendaraan yang terkena musibah diperbaiki sesuai prosedur asuransi. Saat  banjir melanda Jakarta, Bogor, Depok,Tangerang dan Bekasi pada hari pertama di tahun 2020, Rabu (1/1/2020), sejumlah kendaraan tersapu dan terendam banjir.Kompas/Alif Ichwan05/01/2020

Presiden Direktur PT Sompo Insurance Indonesia Eric Nemitz menjelaskan, realisasi pada 2024 dicapai dengan strategi mengutamakan kepentingan para nasabah serta mitra bisnis dalam memenuhi perlindungan asuransi umum, seperti kendaraan bermotor, properti, dan perlindungan aset lainnya, asuransi perjalanan, dan asuransi kesehatan.

”Kami menghadirkan beragam produk asuransi umum, seperti asuransi properti, perjalanan, pengangkutan, dan kesehatan, serta memaksimalkan lini bisnis komersial dan konsumer,” kata Eric.

Per akhir November 2024, sektor yang menjadi lini bisnis dengan kontributor terbesar atau sekitar 82 persen ialah properti (43 persen), kendaraan bermotor (24 persen), dan asuransi kesehatan (14 persen). Pada 2025, mereka berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan nasabah dan mitra bisnis perusahaan.

Quote

Sampai November 2024, total aset asuransi komersial mencapai Rp 903,58 triliun atau naik 2,71 persen secara tahunan.

OJK melaporkan, sampai November 2024, total aset asuransi komersial mencapai Rp 903,58 triliun atau naik 2,71 persen secara tahunan. Kinerja asuransi komersil berupa akumulasi pendapatan premi pada periode November 2024 mencapai Rp 296,65 triliun atau naik 2,22 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2023. Ini terdiri dari premi asuransi jiwa sebesar Rp 165,13 triliun, dan premi asuransi umum dan reasuransi sebesar Rp 131,52 triliun.

”Secara umum, permodalan industri asuransi komersial masih menunjukkan kondisi yang solid, dengan industri asuransi jiwa serta asuransi umum dan reasuransi secara agregat melaporkan risk based capital (RBC) masing-masing sebesar 442,78 persen dan 321,62 persen (di atas threshold sebesar 120 persen),” jelas Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner OJK, Selasa (7/1/2025).


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .