05 Des 2018 03:46 WIB · Internasional
TEHERAN, SELASA Iran kembali mengancam memblokade alur pelayaran di Teluk Persia. Blokade itu akan membuat pengiriman minyak dari seluruh negara teluk terhenti.
Presiden Iran Hassan Rouhani mengungkap ancaman itu lewat pidato yang disiarkan televisi Iran, Selasa (4/12/2018). ”Amerika harus tahu, kita menjual minyak dan akan terus menjualnya. Mereka tidak bisa menghentikan ekspor minyak kita. Jika mereka mau menghentikan ekspor minyak Iran, tidak ada minyak diekspor lewat Teluk Persia,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2018/12/73462874_1543938283.jpg)
Teluk Persia merupakan rute pelayaran untuk—hingga—sepertiga pasokan minyak global yang diangkut dengan tanker. Minyak dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab, dan Iran melewati Teluk Persia. Di ujung teluk itu ada alur pelayaran sempit, yaitu Selat Hormuz yang secara faktual lebih mudah dikontrol Iran dibandingkan dengan negara lain di Teluk Persia.
Rouhani pernah menyatakan ancaman serupa pada awal Juli 2018. Kala itu, penyebabnya juga sama seperti penyebab ancaman saat ini, yakni ancaman Amerika Serikat untuk menghentikan total ekspor minyak Iran.
Hubungan Washington-Teheran semakin memanas sejak Presiden AS Donald Trump memutuskan keluar dari perjanjian nuklir (JCPOA) dengan Iran. Dalam JCPOA, AS dan sejumlah negara lain setuju mengurangi sanksi ekonomi terhadap Iran. Sebagai imbalannya, Iran mengizinkan program nuklirnya diawasi pemantau internasional untuk memastikan nuklir hanya dikembangkan untuk tujuan sipil.
Trump menilai, JCPOA tidak cukup untuk menghentikan ambisi nuklir Iran. Teheran juga dinilai terus mendorong kekerasan di sejumlah negara. Karena itu, Trump ingin menghilangkan kemampuan Iran dengan melarang ekspor minyak, sumber utama pendapatan negara itu. AS juga melarang transaksi dengan sejumlah individu dan lembaga Iran. Sanksi baru AS terhadap Iran dikenakan lagi mulai November 2018.
Wakil Presiden Iran Eshaq Jahangiri mengatakan, sanksi AS lebih memukul warga dibandingkan Pemerintah Iran. ”Saat AS menyatakan sasaran (sanksi) adalah Pemerintah Iran dan tidak ada tekanan kepada pasien, orangtua, dan masyarakat yang lemah, itu bohong,” ujarnya.
Harga minyak
Harga minyak di pasar global menunjukkan perbaikan. Dalam penutupan perdagangan Senin, harga minyak Texas naik 2,02 dollar AS menjadi 52,95 dollar AS per barel. Sementara harga Brent naik 2,23 dollar AS menjadi 61,69 dollar AS per barel.
Kenaikan itu terjadi setelah dua bulan berturut-turut harga minyak terus turun. Beberapa faktor memicu kenaikan harga tersebut. Persetujuan AS-China untuk menunda perang dagang selama 90 hari membuat ada harapan perekonomian kembali berpacu sehingga permintaan akan minyak bertambah.
Harga minyak juga naik karena keputusan pemerintah rovinsi Alberta, Kanada, memangkas produksi 8,7 persen. Hampir seluruh produksi Alberta dikirim ke AS.
Kenaikan harga minyak juga dipicu oleh spekulasi kesepakatan pemotongan produksi minyak di antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara produsen minyak yang tidak bergabung dengan OPEC. Keputusan tersebut akan dibahas dalam pertemuan di Vienna, Austria, mulai Kamis (6/12).
”Pasar berharap pada pemangkasan besar setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kerja sama negaranya dengan Arab Saudi soal pasokan minyak akan terus berlanjut,” kata kepala strategi pasar pada pialang komoditas FXTM, Hussein Sayed. (AFP/REUTERS/RAZ)
Penulis:
Tim Harian KompasEditor: