Tak berselang 24 jam setelah diserang Israel, Iran membalas dengan meluncurkan rudal.
14 Jun 2025 12:07 WIB · Internasional
Jumat (13/6/2025) malam, langit di atas kota Israel berwarna-warni bak pesta kembang api pada malam pergantian tahun. Sesekali terdengar ledakan dan terlihat kembang api raksasa saat dua cahaya bertemu.
Sirene meraung-raung sebagai tanda bahaya untuk warganya. Ribuan penduduk Israel segera mengungsi ke tempat-tempat perlindungan yang telah disiapkan. Malam itu Iran membalas serangan Israel yang menargetkan instalasi nuklir mereka.
Sebelumnya, pada Jumat pagi, Israel meluncurkan serangan berskala besar ke Iran. Serangan ini bertujuan menghancurkan fasilitas nuklir dan infrastruktur militer serta menyasar sejumlah bangunan permukiman.
Operasi yang dinamai Bangsa Singa ini dilaporkan menewaskan Mayor Jenderal Hossein Salami, Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam, serta ilmuwan nuklir Fereydoon Abbasi dan Mohammad Mehdi Tehranchi.
Sebanyak 86 orang tewas dan 341 lainnya terluka dalam serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel ke wilayah Iran pada Jumat. Israel memulai operasi militer besar sejak Jumat dini hari dengan mengerahkan sekitar 200 pesawat tempur untuk menggempur fasilitas program nuklir dan kemampuan rudal jarak jauh Iran.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/14/6df01fb9-c518-45ad-8ef8-5bb19da6c173_jpg.jpg)
Tak sampai 24 jam sejak diserang Israel, pada Jumat malam, Iran membalas dengan meluncurkan puluhan rudal balistik ke wilayah Israel. Asap terlihat mengepul di beberapa lokasi, sementara di langit Jerusalem dan Tel Aviv terlihat kilatan cahaya terang dan terdengar bunyi ledakan saat sistem pertahanan Kubah Besi Israel berusaha mencegat serangan itu.
Asap mengepul di beberapa tempat yang terkena hantaman rudal, termasuk di Tel Aviv dan Ramat Gan, kota dekat Tel Aviv. Ribuan penduduk Israel dievakuasi ke bunker-bunker perlindungan. Ratusan warga dikabarkan terluka dalam serangan ini.
Chen Gabizon, 30 tahun, mengatakan kepada AFP bahwa ia berlari ke tempat perlindungan bawah tanah gedung tersebut setelah menerima peringatan. ”Setelah beberapa menit, kami mendengar ledakan yang sangat besar. Semuanya berguncang. Asap, debu, semuanya berserakan di mana-mana,” katanya.
Kepala Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan agar eskalasi ketegangan ini dihentikan dengan mengatakan ”perdamaian dan diplomasi harus menang”. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak Israel dan Iran untuk menghentikan serangan mereka satu sama lain sambil menyerukan diplomasi.
”Pengeboman Israel terhadap situs nuklir Iran. Serangan rudal Iran di Tel Aviv. Eskalasi yang cukup. Saatnya dihentikan. Perdamaian dan diplomasi harus menang,” tulis Guterres di media sosial X pada Sabtu, seperti dikutip AP.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/14/677c8788-0c81-4711-a4d8-2c2547e096ca_jpg.jpg)
Pada April 2024, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel dengan mengerahkan ratusan drone dan puluhan rudal penjelajah dan rudal balistik. Ini merupakan serangan pertama Iran dari wilayah Iran. Sebelumnya, serangan ke Israel lebih banyak diluncurkan dari Irak, Suriah, dan Yaman. Serangan ini menjadi episode terbaru permusuhan lama Iran dan Israel.
Sebelumnya, pertikaian dua negara ini telah terjadi sejak lama, setidaknya sejak revolusi Ruhollah Khomeini menggulingkan Shah dan mendirikan Republik Islam Iran pada tahun 1979.
Kedekatan Iran dengan Israel ditandai dengan pengakuan Iran atas kemerdekaan Israel pada tahun 1948. Iran menjadi negara kedua yang mengakui Israel setelah Mesir. Namun revolusi Khomeini yang menolak pengaruh Amerika Serikat membuat hubungan mereka menjadi pertikaian. Bagi Iran, Israel dianggap sebagai sekutu Amerika dan harus dilawan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/14/f83701e4-fd73-429a-88cf-b1c6b397a058_jpg.jpg)
Perang Iran dan Israel ini juga menimbulkan kekhawatiran dunia akan terjadinya perang nuklir mengingat kemampuan dua negara dalam menguasai dan memanfaatkan nuklir dalam bidang pertahanan.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti