Iran kembali siap berunding soal program nuklir mereka dengan Inggris, Perancis, dan Jerman tanpa melibatkan AS. Iran juga mengumumkan teknologi nuklir baru.
25 Nov 2024 10:05 WIB · Internasional
TEHERAN, MINGGU — Iran menyatakan siap berunding kembali soal program nuklir mereka dengan beberapa negara Eropa sesuai dengan resolusi yang dikeluarkan badan pengawas atom PBB (IAEA). Yang menarik, perundingan kali ini tanpa melibatkan Amerika Serikat. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan di Teheran, Minggu (24/11/2024), Wakil Menteri Luar Negeri Iran akan bertemu mitra dari Perancis, Jerman, dan Inggris pada Jumat (29/11/2024) mendatang.
”Sejumlah isu kawasan dan internasional juga akan dibahas, termasuk Palestina dan Lebanon hingga isu nuklir,” kata Baghaei.
Baghaei menjelaskan, pertemuan pekan ini adalah kelanjutan dari pembicaraan dengan ketiga negara itu pada September 2024 lalu. Pertemuan itu digelar sebagai agenda sampingan Sidang Majelis Umum PBB di New York, AS.
Sebelumnya, pada Kamis (21/11/2024), sebanyak 35 negara anggota pengurus IAEA mengadopsi resolusi mengecam Iran yang dianggap tidak mau bekerja sama dalam pengawasan dan pengembangan program nuklirnya. Langkah tersebut diambil IAEA yang khawatir proyek pengayaan uranium Iran ditujukan untuk mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan itu berulang kali dibantah oleh Iran yang menegaskan riset mereka untuk tujuan damai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/28/0ee34063-b95f-48ce-b075-dfafce6f60d4.jpg)
Menyikapi resolusi IAEA, Iran mengumumkan telah mengembangkan teknik sentrifugal, yakni cara pengayaan uranium terbaru. Teknologi sentrifugal tersebut adalah pengayaan uranium melalui putaran kecepatan tinggi untuk menghasilkan isotop radio aktif (U-235).
”Kami akan menambah kapasitas pengayaan uranium secara besar-besaran dengan menggunakan berbagai jenis mesin terbaru,” kata Behrouz Kamavandi, Juru Bicara Badan Energi Atom Iran, ke stasiun TV Iran, IRIB. Kamavandi mengatakan, pengembangan nuklir Iran akan tetap berjalan sesuai aturan dan keamanan dengan kerja sama IAEA.
Kunjungan terakhir Delegasi IAEA dipimpin ketua lembaga itu, Rafael Grossi, disikapi Iran dengan menyetujui pengayaan uranium mereka hanya mencapai 60 persen kemurnian. Angka tersebut berada di bawah standar pemurnian uranium yang dibutuhkan untuk membuat hulu ledak nuklir.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang memimpin Iran sejak Juli 2024 adalah tokoh yang mendorong dialog dengan dunia Barat. Pezeshkian menyatakan ingin menghilangkan keraguan dunia terhadap program nuklir Iran.
Di tahun 2015, Iran dan negara-negara besar dunia sepakat untuk mengurangi tekanan dan sanksi terhadap Iran. Kompensasinya adalah Iran mengurangi sejumlah hal penting dalam program nuklir mereka.
Akan tetapi, Amerika Serikat mengundurkan diri sepihak dari perjanjian tersebut di tahun 2018 semasa kepemimpinan Presiden Donald Trump. AS kembali menjatuhkan sanksi ekonomi yang membuat Iran kembali melanjutkan program nuklir di luar kesepakatan semula.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/12/09/AUSTRIA-IRAN-EU-UN-DIPLOMACY-POLITICS-NUCLEAR-JCPOA_100688613_1639064175_jpg.jpg)
Sejumlah upaya dilakukan, termasuk mendorong dialog dan perundingan ulang untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu. Namun, upaya tersebut masih menemui jalan buntu.
Sejumlah perundingan digelar, terakhir pada tahun 2021, di mana Teheran menawarkan sejumlah klausul, di antaranya adalah sanksi ekonomi dicabut sekaligus sebagai kompensasi pembatasan program nuklir Iran. AS menolak dan kukuh pada pendirian bahwa pencabutan sanksi disesuaikan dengan kepatuhan Teheran pada kewajiban mereka (Kompas, Senin 13 Mei 2024).
Terkait dengan perundingan terbaru, pada Minggu petang, Inggris mengkonfirmasi rencana pertemuan dengan Iran dan negara–negara Eropa. Akan tetapi, China, Rusia, dan Amerika Serikat yang terlibat dalam perjanjian tahun 2015 tidak hadir dalam pertemuan.
”Kami memegang komitmen untuk mengambil langkah-langkah diplomatik mencegah Iran dari pengembangan senjata nuklir dengan langkah keras jika diperlukan,” kata Kementerian Luar Negeri Inggris dalam keterangan tertulis.
Perjanjian nuklir tahun 2015 mencakup mekanisme penjatuhan sanksi berat jika ada tindakan Iran yang tidak sesuai komitmen soal pengawasan dan pengembangan nuklir mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/10/4b9f7281-932c-48ba-b087-328bd0f89b12.jpg)
Pakar Iran di lembaga kajian Crisis Group, Ali Vaez, mengatakan, pertemuan pekan ini sudah dirancang dilakukan lebih awal. ”Namun, semuanya berantakan karena ketegangan Iran-Israel soal Perang Gaza,” kata Vaez.
Israel berulang kali menyerang fasilitas nuklir dan teknisi nuklir Iran. Pada 12 April 2024, Iran menyatakan akan membalas Israel atas serangan terhadap fasilitas pengayaan uranium mereka di Natanz.
Fasilitas nuklir Natanz terletak dekat kota Teheran yang diserang sabotase pemadaman pasokan listrik yang mengakibatkan kerusakan. Tidak ada staf fasilitas nuklir yang terluka walau terjadi kebocoran radiasi akibat matinya listrik.
Ketika itu Presiden AS Joe Biden berupaya kembali ke kesepakatan tahun 2015 dan mengurangi sanksi terhadap Iran atas imbalan kepatuhan pada program nuklir sesuai standar IAEA. Sementara itu, Israel menentang keras kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara besar dan bertekad akan menghancurkan semua upaya Iran mengembangkan senjata nuklir.
Iran menuding Israel berada di balik serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz. Pada Novmber 2023, lembaga intelijen luar negeri Israel, Mossad, membunuh ahli nuklir utama Iran, Moshen Fakhrizadeh.
Sebaliknya, Iran menuding Israel berada di balik serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz. Pada November 2023, lembaga intelijen luar negeri Israel, Mossad, membunuh ahli nuklir utama Iran, Moshen Fakhrizadeh. Israel diketahui memiliki kemampuan persenjataan nuklir di Timur Tengah.
Kali ini Iran dan negara-negara Eropa sepakat untuk berunding tanpa menunggu apa langkah pemerintahan Donald Trump kelak saat menjabat akhir Januari 2025. ”Saat ini para pihak menyadari perundingan jauh lebih baik daripada langkah lain yang lebih merugikan semua pihak,” kata Ali Vaez.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/04/324dedeb-a4d7-4ec7-9b0b-ad644da86b4d.jpg)
Sebelumnya, Teheran sejak tahun 2021 mengurangi kerja sama dengan IAEA. Iran mulai mematikan perangkat pengawasan program nuklir dan melarang inspektur nuklir PBB mengunjungi situs nuklir mereka. Pada saat sama, Iran menambah pasokan uranium yang diperkaya hingga mencapai 60 persen.
Angka tersebut, menurut IAEA, sudah mencapai 90 persen kebutuhan untuk membuat hulu ledak nuklir dan lebih tinggi dari 3,67 persen batasan pengayaan uranium yang disepakati tahun 2015.
Harian The Guardian menambahkan, kerja sama Iran dalam Perang Ukraina dan dukungan terhadap Poros Perlawanan di Timur Tengah dalam melawan Israel turut menyulitkan upaya perundingan Iran-Eropa. Oleh karena itu, setiap peluang yang ada perlu dimanfaatkan guna melahirkan langkah baru yang lebih baik bagi masa depan dunia. (AFP/Reuters)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .