Analis menilai kehadiran militer AS masih kurang dalam hal ukuran dan kemampuan untuk operasi tempur besar.
01 Mar 2026 04:30 WIB · Internasional
AFP PHOTO / IRIB / HANDOUT
Amerika Serikat bersama Israel telah melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Kedua negara bisa jadi unggul dalam teknologi militer, tetapi Iran bukan lawan mudah.
Militer AS telah mengerahkan militernya besar-besaran di sekitar wilayah Iran. Kehadiran militer AS di Timur Tengah bahkan disebut berada pada tingkat tertinggi sejak invasi ke Irak pada 2003. Kala itu, ada lima gugus tempur kapal induk yang dikerahkan AS.
Meski demikian, analis menilai kehadiran militer AS masih kurang dalam hal ukuran dan kemampuan untuk operasi tempur besar. Apalagi jika AS-Israel menghendaki perubahan pemerintahan di Iran.
Lembaga Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington dalam analisis pada Jumat (27/2/2026) mengungkapkan, AS hanya mengerahkan dua gugus serang kapal induk di perairan sekitar Iran, yakni USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford. Secara keseluruhan, kedua kapal membawa 130 pesawat tempur dan pendukungnya serta 16 kapal perang permukaan dan kapal selam.
CSIS menyebut besaran kekuatan AS di Iran kali ini mirip dengan serangan semasa Presiden Clinton ke Irak selama 70 jam mengebom dalam Operasi Rubah Gurun (1998). Ketika itu pemimpin Irak, Saddam Hussein, menolak bekerja sama dengan inspektur senjata PBB. AS lantas mengerahkan rudal Tomahawk dan rudal-rudal jarak jauh lain.
”Pasukan ini mampu melancarkan serangan terhadap Iran dan melindungi sekutu serta mitra AS di kawasan. Namun, mereka kekurangan marinir, pasukan operasi khusus (SOF) untuk serangan atau operasi darat, dan logistik untuk serangan udara yang berkepanjangan. Selain itu, ukurannya jauh lebih kecil daripada yang digunakan Amerika Serikat pada tahun 1991 dan 2003 melawan Irak untuk operasi tempur besar dan perubahan rezim,” demikian analisis CSIS.
Untuk operasi tempur besar atau menjatuhkan pemerintahan Iran, CSIS menulis, AS harus mengerahkan kekuatan besar-besaran di lapangan. Langkah itu sulit dilakukan Presiden AS Donald Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/36a31dc4c4a093dfcca783ddf64aec39-20260217_ADI_Rudal_Iran_mumed.png)
Operasi pengeboman dalam waktu lama masih bisa dilakukan. Namun, langkah itu berisiko AS harus mengerahkan pesawat pengebom ke Iran. CSIS menilai, hal ini bisa merugikan AS karena perlu lebih banyak waktu untuk membangun logistik.
Catatan terakhir CSIS, AS kekurangan pasukan untuk operasi khusus dan marinir sebagai pasukan pendarat dalam operasi amfibi. Andai kata pasukan AS berniat menangkap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei atau pemimpin Iran lainnya, seperti yang dilakukan pada Presiden Venezuela Nicolas Maduro, hal itu tidak mungkin terjadi. Penyebabnya terutama jarak titik peluncuran ke Teheran.
Dalam laporan CSIS pada 20 Februari 2026, persiapan serangan ke Iran hanya berselang delapan bulan dari Operasi Godam Tengah Malam. Pada Juni 2025, AS menyerang Iran di tengah perundingan mereka. Hal yang sama terjadi dalam serangan kali ini. Kedua negara tengah berunding secara tidak langsung soal program nuklir Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/22/9c0539578bad551ec4b1e17975defcb0-Mideast_Wars_Bunker_Buster_Bombs_130604048.jpg)
Selain itu, pengembangan teknologi perang milik Iran dan sekutunya, termasuk kelompok-kelompok yang didukungnya, tidak main-main. Dalam laporannya pada Kamis (26/2/2026), The Wall Street Journal mengungkap, rudal yang dioperasikan kelompok Houthi di Yaman sudah mampu menyambar pesawat tempur AS.
Pilot Angkatan Udara AS, Letnan Kolonel William Parks dan Mayor Michale Blea, yang pulang dari pengeboman di Yaman, tiba-tiba dikunci radar Houthi. Sejurus kemudian, radar meluncur dan terjadi kucing-kucingan selama 15 menit.
Rudal Houthi meluncur nyaris menghantam pesawat Parks dan meledak di dekat kokpit Blea. Pengalaman kedua pilot AS ini membuktikan terus meningkatnya kemampuan persenjataan Iran.
Meski mengalami sejumlah kehancuran fasilitas strategis, seperti pusat-pusat riset nuklir, Iran berhasil mengamankan sejumlah senjata AS yang tidak meledak, seperti bom bunker GBU57 yang berbobot 13 ton. Tehran Times pada 6 Desember 2025 mengklaim, insinyur Iran berhasil membedah kemampuan bom GBU57 andalan AS. Pengetahuan tersebut penting untuk menciptakan fasilitas antibom AS yang digunakan untuk menyerang mereka.
Mantan marinir AS yang juga inspektur senjata PBB di Irak semasa Perang Teluk, Scott Ritter, menuturkan, Iran terus meningkatkan kemampuan termasuk melakukan reverse engineering atas teknologi militer AS. ”Mereka pernah membajak drone AS dengan menyabotase kendalinya, lalu mendaratkannya di Iran. Drone tersebut kemudian mereka bedah dan kembangkan,” ucapnya.
Iran juga berhasil merekayasa teknik drone RQ-170 AS yang dijatuhkan. Dari drone itu dikembangkan drone Shahed 171.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/63c59b241b04c9f020b39962b5c8f79b-9509671.jpg)
Iran disebut berusaha menambah jumlah persenjataan dengan rudal buatan Rusia dan rudal antikapal buatan China. Namun, China mendorong Iran-AS tetap berdialog.
Analisis di laman Chatam House menyebutkan, belajar dari pengalaman perang Hamas-Israel dan berbagai serangan AS, melawan persenjataan AS dan sekutunya yang mahal harus menggunakan senjata ”murah” yang dibuat Iran atau negara lain.
Jet siluman dan pengebom milik AS bisa beroperasi efektif dengan payung udara dan berbagai perlindungan lainnya. Jika Iran bisa memanfaatkan radar dan satelit yang disokong China dan Rusia, kemampuan serangan AS disebut bisa menurun.
Namun, adu siasat dan dinamika di lapangan masih perlu dilihat. Apalagi, serangan terbuka AS-Israel ke Iran berpotensi melebar di kawasan karena negara-negara sekitar yang terimbas.
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik W, Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul