ROMA, SABTU — Perundingan putaran kedua Iran-Amerika Serikat di Italia kembali berakhir tanpa kesepakatan konkret. Teheran-Washington DC hanya menyepakati kelanjutan perundingan dan pembicaraan tingkat teknis soal program nuklir Iran. Bagi Iran, hambatan mencapai kesepakatan berada di Israel.
Perundingan digelar di Kedutaan Besar Oman di Roma, Italia, pada Sabtu (19/4/2025). Perundingan putaran pertama digelar di ibu kota Oman, Muscat, pada akhir pekan lalu.
Kementerian Luar Negeri Oman mengumumkan, Iran-AS setuju untuk melanjutkan perundingan pekan depan. Sementara Menlu Iran Abbas Araghchi mengatakan, pejabat teknis dan pakar Iran-AS akan segera bertemu.
Ia menyebut, pembicaraan menunjukkan kemajuan. ”Saya harap akan ada posisi lebih baik setelah ada pembicaraan teknis. Kali ini, kami berhasil mencapai pengertian lebih baik tentang sejumlah hal prinsip dan tujuan,” ujarnya.
Seperti di Muscat, perundingan di Roma juga tidak berupa pertemuan langsung. Menlu Oman Badr al-Busaidi dan timnya menjadi pembawa pesan. Sementara delegasi Iran-AS berada di ruang terpisah. Mereka saling mengirim surat meski sama-sama berada dalam kompleks Kedubes Oman di Roma.
Format itu dipilih karena AS-Iran sangat tidak percaya satu sama lain. Dengan format tertulis, setiap permintaan dan jawaban direkam kedua belah pihak secara jelas. Tidak ada ruang penafsiran berbeda.
Ketua delegasi AS, Steve Witkoff, pernah menyebut Iran bisa tetap memperkaya uranium maksimum 3,67 persen. Aras pengayaan itu sama dengan yang ditetapkan dalam Kesepakatan Nuklir Iran atau JCPOA 2015.
Namun, pada 2018, Presiden AS Donald Trump memutuskan AS keluar dari kesepakatan yang susah payah dibuat itu. Belakangan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui membujuk Trump untuk mengeluarkan AS dari JCPOA.
Kini, Trump kembali mau mencapai kesepakatan soal nuklir Iran. Tidak cuma itu, sejumlah pejabat sipil pemerintahan Trump menentang hasrat Israel segera melancarkan serangan besar-besaran ke sejumlah fasilitas nuklir Iran. Sebaliknya, sejumlah jenderal AS justru setuju dengan kemauan Israel itu.
Sejauh ini, Trump memilih mengikuti saran pejabat sipil. Meski demikian, ia tetap membuka peluang menyerang Iran apabila perundingan gagal mencapai kesepakatan.
Sementara, meski menyetujui perundingan, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tetap sangat berhati-hati. Ia menyebut AS selalu berubah-ubah sikap. ”Kami sangat pesimistis terhadap pihak lain, tetapi kami optimistis terhadap kemampuan kami sendiri,” katanya.
Hindari perang
Mantan juru bicara tim perunding nuklir Iran, Seyyed Hossein Moussavian, dilansir dari laporan Foreign Policy, mengatakan, perundingan ini sangat penting dan tidak sepatutnya disia-siakan. Perundingan tidak cuma bisa menata ulang program nuklir Iran, tetapi juga bisa membangun ulang situasi di Timur Tengah.
”Kesepakatan untuk menghindari potensi terjadinya perang, menangani serangkaian masalah secara komprehensif, dan menawarkan kepada Iran kompromi yang realistis atas program nuklirnya bisa menjadi kerangka besar proses perundingan,” kata Mousavian.
Ia menyebut, negara-negara Barat memang mencoba menekan Iran melalui Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) IAEA. Di sisi lain, Iran selalu menunjukkan kesiapan transparansi pada program nuklirnya. Teheran siap menerima verifikasi maksimum atas program nuklirnya.
”Bahkan, kami menawarkan kesepakatan kepada Eropa: hormati hak nuklir damai Iran di bawah NPT (non-proliferation treaty), dan Iran akan menawarkan jaminan komprehensif terhadap persenjataan. Namun, perundingan gagal karena Amerika Serikat menolak untuk mengakui segala bentuk pengayaan Iran—bahkan dalam batas-batas perjanjian,” katanya.
Iran telah membuktikan kesiapan mematuhi norma internasional soal nuklir kala menyetujui JCPOA pada 2015. Sayangnya, AS mundur dari kesepakatan itu. ”Meskipun Iran patuh, Trump secara sepihak menarik diri dari JCPOA pada tahun 2018, yang memicu kampanye tekanan maksimum,” kata Mousavian.
Dia menilai perundingan akan berhasil jika AS benar-benar mau berdiplomasi, patuh pada isi kesepakatan, dan menghindari perang. ”Perang dengan Iran akan jauh lebih dahsyat. Trump harus meninggalkan biner ’kesepakatan atau perang’ dan berkomitmen pada diplomasi sebagai satu-satunya jalan yang layak,” katanya.
Selain itu, Mousavian juga mengusulkan agar ada agenda komprehensif yang dibahas dalam perundingan. Isu itu termasuk integrasi ekonomi Iran ke dunia internasional, kesepakatan nuklir yang realistis, dan deeskalasi regional.
”Iran harus menikmati manfaat program nuklir damai sebagai kompensasi terhadap proses verifikasi yang ketat. Sebagai kompensasinya, Iran juga dapat mempertimbangkan mengurangi pengayaan dari 60 persen menjadi di bawah 5 persen, termasuk tidak memproses ulang uranium,” ujarnya.
Ali Samkhani, penasihat politik Ayatollah Khamenei, dikutip dari kantor berita IRNA, mengatakan, tim negosiator Iran diberi keleluasaan penuh untuk mewakili kepentingan negara. Ada sembilan prinsip yang dipegang oleh tim negosiator untuk mengejar kesepakatan komprehensif dengan AS.
Prinsip itu adalah keseriusan, kepastian, keseimbangan, pencabutan sanksi, penolakan model Libya/Emirates, penghindaran ancaman, kecepatan, penahanan gangguan (seperti Israel), dan fasilitasi investasi. ”Iran ada di sana untuk kesepakatan yang seimbang, bukan untuk menyerah,” katanya.
Israel mengancam
Potensi serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran juga tak bisa diabaikan. Bagi Israel, perundingan saat ini tidak akan bisa menghilangkan ancaman.
Netanyahu berkeras setiap perundingan nuklir Iran harus mengarah pada pelucutan total nuklir Iran. Bahkan, Iran tidak boleh punya program nuklir untuk keperluan sipil.
Israel mau Iran mengikuti jejak Libya yang sama sekali menghentikan semua program nuklirnya. Permintaan itu disampaikan Israel yang sama sekali tidak mematuhi hukum dan norma internasional soal pengendalian bom nuklir.
Israel menutup rapat program nuklirnya. Tidak ada pihak yang boleh mengawasi, termasuk AS sekalipun.
Para jenderal dan pejabat keamanan Iran tahu Israel senantiasa siap menyerang program nuklir Iran. Karena itu, Teheran selalu siaga.
Netanyahu, kata seorang pejabat Iran yang menolak identitasnya diungkap, butuh Israel selalu dalam keadaan perang. Israel yang damai dengan tetangganya berarti akhir kekuasaan Netanyahu. Karena itu, Netanyahu akan selalu mencari cara menyerang negara-negara di sekitar Israel.
Kesiapan Iran menghadapi serangan asing, antara lain, ditunjukkan lewat parade militer pada Jumat (18/4/2025). Parade dilakukan sehari sebelum perundingan di Roma.
Iran memamerkan rudal balistik, rudal hipersonik, hingga pesawat nirawak berpeledak. Semua persenjataan Iran itu sudah teruji di medan laga.
(AP/AFP)
ROMA, SABTU — Perundingan putaran kedua Iran-Amerika Serikat di Italia kembali berakhir tanpa kesepakatan konkret. Teheran-Washington DC hanya menyepakati kelanjutan perundingan dan pembicaraan tingkat teknis soal program nuklir Iran. Bagi Iran, hambatan mencapai kesepakatan berada di Israel.
Perundingan digelar di Kedutaan Besar Oman di Roma, Italia, pada Sabtu (19/4/2025). Perundingan putaran pertama digelar di ibu kota Oman, Muscat, pada akhir pekan lalu.
Serial Artikel
Perundingan Nuklir Lancar, Serangan ke Iran Bisa Ditunda Sepekan Lagi
AS-Iran setuju berunding lagi pekan depan. Persetujuan menunda hasrat Israel-AS menyerang Iran dengan alasan mencegah pengembangan senjata nuklir.
Kementerian Luar Negeri Oman mengumumkan, Iran-AS setuju untuk melanjutkan perundingan pekan depan. Sementara Menlu Iran Abbas Araghchi mengatakan, pejabat teknis dan pakar Iran-AS akan segera bertemu.
Ia menyebut, pembicaraan menunjukkan kemajuan. ”Saya harap akan ada posisi lebih baik setelah ada pembicaraan teknis. Kali ini, kami berhasil mencapai pengertian lebih baik tentang sejumlah hal prinsip dan tujuan,” ujarnya.
Seperti di Muscat, perundingan di Roma juga tidak berupa pertemuan langsung. Menlu Oman Badr al-Busaidi dan timnya menjadi pembawa pesan. Sementara delegasi Iran-AS berada di ruang terpisah. Mereka saling mengirim surat meski sama-sama berada dalam kompleks Kedubes Oman di Roma.
Format itu dipilih karena AS-Iran sangat tidak percaya satu sama lain. Dengan format tertulis, setiap permintaan dan jawaban direkam kedua belah pihak secara jelas. Tidak ada ruang penafsiran berbeda.
Ketua delegasi AS, Steve Witkoff, pernah menyebut Iran bisa tetap memperkaya uranium maksimum 3,67 persen. Aras pengayaan itu sama dengan yang ditetapkan dalam Kesepakatan Nuklir Iran atau JCPOA 2015.
Namun, pada 2018, Presiden AS Donald Trump memutuskan AS keluar dari kesepakatan yang susah payah dibuat itu. Belakangan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui membujuk Trump untuk mengeluarkan AS dari JCPOA.
Serial Artikel
Iran dan Poros Perlawanan, Target Trump-Netanyahu Selanjutnya
AS dan Israel berencana mengakhiri potensi kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. Nuklir Iran dianggap sumber instabilitas, meniadakan postur hegemonik Israel.
Kini, Trump kembali mau mencapai kesepakatan soal nuklir Iran. Tidak cuma itu, sejumlah pejabat sipil pemerintahan Trump menentang hasrat Israel segera melancarkan serangan besar-besaran ke sejumlah fasilitas nuklir Iran. Sebaliknya, sejumlah jenderal AS justru setuju dengan kemauan Israel itu.
Sejauh ini, Trump memilih mengikuti saran pejabat sipil. Meski demikian, ia tetap membuka peluang menyerang Iran apabila perundingan gagal mencapai kesepakatan.
Sementara, meski menyetujui perundingan, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tetap sangat berhati-hati. Ia menyebut AS selalu berubah-ubah sikap. ”Kami sangat pesimistis terhadap pihak lain, tetapi kami optimistis terhadap kemampuan kami sendiri,” katanya.
Hindari perang
Mantan juru bicara tim perunding nuklir Iran, Seyyed Hossein Moussavian, dilansir dari laporan Foreign Policy, mengatakan, perundingan ini sangat penting dan tidak sepatutnya disia-siakan. Perundingan tidak cuma bisa menata ulang program nuklir Iran, tetapi juga bisa membangun ulang situasi di Timur Tengah.
”Kesepakatan untuk menghindari potensi terjadinya perang, menangani serangkaian masalah secara komprehensif, dan menawarkan kepada Iran kompromi yang realistis atas program nuklirnya bisa menjadi kerangka besar proses perundingan,” kata Mousavian.
Serial Artikel
Iran Luncurkan Rudal Balistik Baru, Mampu Jangkau Israel
Iran meluncurkan generasi keempat rudal balistik Khorramshahr yang memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer. Dengan jangkauan itu, rudal tersebut mampu menjangkau sebagian besar wilayah Timur Tengah, termasuk Israel.
Ia menyebut, negara-negara Barat memang mencoba menekan Iran melalui Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) IAEA. Di sisi lain, Iran selalu menunjukkan kesiapan transparansi pada program nuklirnya. Teheran siap menerima verifikasi maksimum atas program nuklirnya.
”Bahkan, kami menawarkan kesepakatan kepada Eropa: hormati hak nuklir damai Iran di bawah NPT (non-proliferation treaty), dan Iran akan menawarkan jaminan komprehensif terhadap persenjataan. Namun, perundingan gagal karena Amerika Serikat menolak untuk mengakui segala bentuk pengayaan Iran—bahkan dalam batas-batas perjanjian,” katanya.
Iran telah membuktikan kesiapan mematuhi norma internasional soal nuklir kala menyetujui JCPOA pada 2015. Sayangnya, AS mundur dari kesepakatan itu. ”Meskipun Iran patuh, Trump secara sepihak menarik diri dari JCPOA pada tahun 2018, yang memicu kampanye tekanan maksimum,” kata Mousavian.
Dia menilai perundingan akan berhasil jika AS benar-benar mau berdiplomasi, patuh pada isi kesepakatan, dan menghindari perang. ”Perang dengan Iran akan jauh lebih dahsyat. Trump harus meninggalkan biner ’kesepakatan atau perang’ dan berkomitmen pada diplomasi sebagai satu-satunya jalan yang layak,” katanya.
Serial Artikel
Revitalisi Kesepakatan Nuklir Iran Makin Sulit
AS-Iran terlibat perundingan tidak langsung untuk menghidupkan ulang JCPOA. Israel dan sejumlah pihak di AS menolak upaya itu.
Selain itu, Mousavian juga mengusulkan agar ada agenda komprehensif yang dibahas dalam perundingan. Isu itu termasuk integrasi ekonomi Iran ke dunia internasional, kesepakatan nuklir yang realistis, dan deeskalasi regional.
”Iran harus menikmati manfaat program nuklir damai sebagai kompensasi terhadap proses verifikasi yang ketat. Sebagai kompensasinya, Iran juga dapat mempertimbangkan mengurangi pengayaan dari 60 persen menjadi di bawah 5 persen, termasuk tidak memproses ulang uranium,” ujarnya.
Ali Samkhani, penasihat politik Ayatollah Khamenei, dikutip dari kantor berita IRNA, mengatakan, tim negosiator Iran diberi keleluasaan penuh untuk mewakili kepentingan negara. Ada sembilan prinsip yang dipegang oleh tim negosiator untuk mengejar kesepakatan komprehensif dengan AS.
Prinsip itu adalah keseriusan, kepastian, keseimbangan, pencabutan sanksi, penolakan model Libya/Emirates, penghindaran ancaman, kecepatan, penahanan gangguan (seperti Israel), dan fasilitasi investasi. ”Iran ada di sana untuk kesepakatan yang seimbang, bukan untuk menyerah,” katanya.
Serial Artikel
Israel Serang Iran, Arab Saudi Khawatir Konflik Akan Meluas
Arab Saudi mendesak komunitas internasional dan pihak-pihak yang berpengaruh untuk meredam eskalasi konflik.
Potensi serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran juga tak bisa diabaikan. Bagi Israel, perundingan saat ini tidak akan bisa menghilangkan ancaman.
Netanyahu berkeras setiap perundingan nuklir Iran harus mengarah pada pelucutan total nuklir Iran. Bahkan, Iran tidak boleh punya program nuklir untuk keperluan sipil.
Israel mau Iran mengikuti jejak Libya yang sama sekali menghentikan semua program nuklirnya. Permintaan itu disampaikan Israel yang sama sekali tidak mematuhi hukum dan norma internasional soal pengendalian bom nuklir.
Israel menutup rapat program nuklirnya. Tidak ada pihak yang boleh mengawasi, termasuk AS sekalipun.
Para jenderal dan pejabat keamanan Iran tahu Israel senantiasa siap menyerang program nuklir Iran. Karena itu, Teheran selalu siaga.
Netanyahu, kata seorang pejabat Iran yang menolak identitasnya diungkap, butuh Israel selalu dalam keadaan perang. Israel yang damai dengan tetangganya berarti akhir kekuasaan Netanyahu. Karena itu, Netanyahu akan selalu mencari cara menyerang negara-negara di sekitar Israel.
Kesiapan Iran menghadapi serangan asing, antara lain, ditunjukkan lewat parade militer pada Jumat (18/4/2025). Parade dilakukan sehari sebelum perundingan di Roma.
Iran memamerkan rudal balistik, rudal hipersonik, hingga pesawat nirawak berpeledak. Semua persenjataan Iran itu sudah teruji di medan laga.