PERANG

Iran Tak Percaya Ada Itikad Baik AS untuk Berunding

Sudah berkali-kali Amerika Serikat dan Israel menyerang ketika AS sedang bernegosiasi dengan Iran. Teheran tidak mau tertipu lagi.

03 Mar 2026 07:00 WIB · Internasional

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Oleh Elsa Emiria Leba

JAKARTA, KOMPAS — Dengan serangan terbaru terhadap Iran pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat sudah menunjukkan tidak ada itikad baik setiap kali bernegosiasi dengan Iran. Oleh sebab itu, Iran masih meragukan akan ada hasil jika kedua pihak kembali ke meja perundingan.

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengatakan, ini bukan pertama kali serangan terjadi ketika Iran bersedia untuk bernegosiasi dengan AS. Israel didukung AS menyerang Iran pada Juni 2025 ketika Teheran dan Washington sedang menanti negosiasi putaran keenam.

Saat ini, serangan AS dan Israel juga terjadi ketika Teheran dan Washington sudah melakukan dua kali negosiasi. Bahkan, sesuai pernyataan Oman sebagai mediator, ada potensi untuk mencapai kesepakatan awal antara AS-Iran. Namun, AS bersama Israel lagi-lagi menyerang Iran.

”Ketika sebuah negosiasi hampir mencapai kesepakatan, Israel memprovokasi AS dan menyerang Iran. Kami sudah tidak percaya kepada AS dan Israel karena tidak ada jaminan bahwa tidak terjadi perang atau serangan terhadap Iran di tengah negosiasi,” kata Boroujerdi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, saat menyampaikan konferensi pers dan pernyataan terkait tewasnya Presiden Iran Ayatollah Ali Khamenei di kediaman Duta Besar Iran, Jakarta, Senin (2/3/2026). Dalam pernyataannya, Mohammad Boroujerdi menyampaikan bahwa serangan brutal Israel terhadap Iran menewaskan sekitar 505 warga sipil, termasuk 200 diantaranya anak-anak dan juga pemimpin tertinggi mereka. Atas serangan ini negara Iran juga berhak atas serangan balasan. Meski demikian, Iran mengajak negara-negara Islam melalui OKI serta PBB mewujudkan kedamaian dan menentang invasi dan peperangan. Terkait rencana Presiden Prabowo Subianto menjadi mediator konflik, Mohammad Boroujerdi menyatakan terima kasih dan mengapresiasi Indonesia, meski menurutnya hingga saat ini tidak pernah ada mediasi dan perundingan yang berdampak signifikan atas konflik di Timur Tengah. 

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
2-3-2026
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, saat menyampaikan konferensi pers dan pernyataan terkait tewasnya Presiden Iran Ayatollah Ali Khamenei di kediaman Duta Besar Iran, Jakarta, Senin (2/3/2026). Dalam pernyataannya, Mohammad Boroujerdi menyampaikan bahwa serangan brutal Israel terhadap Iran menewaskan sekitar 505 warga sipil, termasuk 200 diantaranya anak-anak dan juga pemimpin tertinggi mereka. Atas serangan ini negara Iran juga berhak atas serangan balasan. Meski demikian, Iran mengajak negara-negara Islam melalui OKI serta PBB mewujudkan kedamaian dan menentang invasi dan peperangan. Terkait rencana Presiden Prabowo Subianto menjadi mediator konflik, Mohammad Boroujerdi menyatakan terima kasih dan mengapresiasi Indonesia, meski menurutnya hingga saat ini tidak pernah ada mediasi dan perundingan yang berdampak signifikan atas konflik di Timur Tengah. 

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
2-3-2026

Iran mengapresiasi simpati rakyat Indonesia dan niat baik Pemerintah Indonesia atas situasi di Timur Tengah. Presiden RI Prabowo Subianto sudah menawarkan diri sebagai mediator Iran-AS. Akan tetapi, Teheran belum melihat apakah langkah itu bisa memberi manfaat dalam situasi seperti saat ini.

Boroujerdi menjelaskan, prinsip pertama dari sebuah negosiasi adalah membangun kepercayaan. Sejak awal, Iran telah berupaya membangun kepercayaan dengan melaksanakan berbagai komitmen, termasuk Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Namun, AS era Presiden AS Donald Trump justru keluar dari JCPOA secara sepihak. Meski Iran masih mau bernegosiasi, AS tetap menyerang. ”Kami perlu jaminan bahwa kesepakatan itu tidak disalahgunakan. Kami mengharapkan negosiasi dan menginginkan demokrasi, tetapi tidak ingin ditipu oleh negosiasi,” kata Boroujerdi.

Peluang negosiasi

Selain Indonesia, sejumlah negara sudah menyerukan agar Iran-AS mau kembali bernegosiasi, seperti China, Inggris, Perancis, dan Jerman. Kepada The Atlantic, Minggu (1/3/2026), Trump mengaku berencana untuk berbicara dengan pemimpin baru Iran setelah serangan AS-Israel membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

”Mereka ingin berbicara, dan saya telah setuju untuk berbicara, jadi saya akan berbicara dengan mereka,” ujar Trump yang menolak berkomentar tentang waktunya.

Seorang pejabat senior Gedung Putih yang menolak menyebutkan nama mengatakan, kepemimpinan potensial yang baru di Iran telah mengisyaratkan terbuka untuk berdialog dengan AS. Akan tetapi, operasi militer di Iran ”terus berlanjut tanpa henti”.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026)

Walau perang sudah terjadi, Oman juga masih optimistis peluang untuk negosiasi antara AS-Iran masih terbuka. ”Saya ingin menegaskan dengan sangat jelas pintu diplomasi tetap terbuka,” kata Menteri Luar Negeri Oman Badr Al-Busaidi di X.

Al-Busaidi melanjutkan, pembicaraan antara kedua pihak di Geneva, Swiss, sudah mencapai kemajuan nyata. Walau tujuan awal negosiasi adalah menghindari perang, bukan berarti harapan untuk mewujudkan perdamaian telah padam.

”Saya masih percaya pada kekuatan diplomasi untuk menyelesaikan konflik ini,” ujar Al-Busaidi yang sudah mendesak Iran untuk melakukan gencatan senjata ketika menelepon Menlu Iran Abbas Araghchi.

Serangan Iran

Dalam konferensi pers itu, Boroujerdi membahas serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di negara-negara Timur Tengah. Dalam melancarkan serangan balasan, Iran telah menyerang pangkalan AS, antara lain di Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain.

”Kami tidak ingin ketidakstabilan meluas di wilayah kami dan saya mendengar beberapa pihak menuduh Iran menyerang negara tetangganya di wilayah kawasan. Tetapi, jika sebuah negara jauh datang dan menyalahgunakan wilayah negara lain untuk menyerang Anda, apa yang akan Anda lakukan?” ujar Boroujerdi.

Asap membumbung akibat serangan balasan Iran di kawasan industri Doha, Qatar, Minggu (1/3/2026). Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Sabtu (28/2/2026) bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan berskala besar yang bertujuan menggulingkan Republik Islam Iran. Iran langsung membalas serangan ke Israel dan negara-negara yang menampung militer AS.
Ledakan percikan dari hasil pencegatan proyektil Iran terlihat di langit Dubai, Uni Emirat Arab, Minggu (1/3/2026),. Iran menyerang negara-negara Timur Tengah yang menampung pangkalan militer AS sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Boroujerdi menyampaikan, Iran tidak pernah mengancam negara-negara tetangga. Namun, Teheran tetap memiliki hak untuk menanggapi dan memberi respons atas serangan yang diterima.

”Kami sudah menyerang basis militer AS yang berada di negara-negara tetangga yang memiliki hubungan baik dengan kami. Tetapi, basis militer dari suatu negara tertentu merupakan wilayah negara tertentu. Kami menyayangkan wilayah tetangga kami disalahgunakan untuk menyerang kami,” kata Boroujerdi.

Terkait penutupan Selat Hormuz oleh Iran, muncul kekhawatiran bahwa pasokan minyak global akan berdampak. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran utama yang menghubungkan negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah dengan dunia.

Boroujerdi menyatakan, Iran adalah pihak yang menjaga keamanan di selat tersebut. Justru kehadiran kapal-kapal AS yang datang menyerang Iran.

”Apabila pihak AS mengharapkan keamanan di Selat Hormuz, tentu keamanan ini harus berlaku untuk setiap negara yang berada di sekitar kawasan,” ujar Boroujerdi.

(AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto