Gangguan lebih lama terhadap pelayaran di Selat Hormuz akan menyebabkan guncangan ekonomi yang berat, terutama di Asia dan Eropa.
12 Mar 2026 09:00 WIB · Internasional
AFP/Philippe Lopez
TEHERAN, KAMIS — Iran memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi harga minyak hingga 200 dolar AS per barel. Badan Energi Internasional meminta negara-negara mengeluarkan cadangan minyak besar-besaran guna meredam krisis minyak terburuk sejak era 1970-an ini.
”Bersiaplah menghadapi (harga) minyak 200 dolar per barel karena harga minyak tergantung keamanan regional yang telah kalian goyahkan,” kata juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters, Kamis (12/3/2026).
Harga minyak melonjak hingga nyaris 120 dolar AS per barel pada awal pekan ini. Harga kemudian turun menjadi 87,8 dolar AS per barel sehari kemudian. Bursa saham juga berjatuhan meski lantas merangkak naik lagi. Naik turun harga minyak ini menunjukkan ketidakpastian masih tinggi.
Iran menutup Selat Hormuz sebagai salah satu respons terhadap serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Gangguan apa pun terhadap lalu lintas di Selat Hormuz memengaruhi perdagangan minyak dan perekonomian global.
Guna menstabilkan harga minyak, Badan Energi Internasional (IEA) merekomendasikan dikeluarkannya cadangan minyak hingga 400 juta barel. Jumlah ini disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah. Presiden AS Donald Trump mengatakan, AS akan menyumbangkan ”sedikit saja” cadangan minyaknya.
Menteri Energi AS Chris Wright menyebutkan, AS akan mengeluarkan 172 juta barel minyak cadangan strategis. Minyak cadangan mulai dilepas pada pekan depan dan perlu sekitar 120 hari untuk mendistribusikannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/49e37a0ac7c985c1671fd2376daf423b-20260311_GKT_AFP_Hormuz_Oil.png)
Saat ini, anggota IEA yang berjumlah 32 negara memiliki lebih dari 1,2 miliar barel stok minyak darurat publik. Selain itu, masih ada tambahan 600 juta barel stok minyak industri yang dipegang berdasarkan kewajiban pemerintah masing-masing.
Sebelum krisis di Iran, IEA pernah melepas stok darurat kolektif terbesar sebanyak 182,7 juta barel setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Para analis memperingatkan, gangguan lebih lama terhadap pelayaran di Selat Hormuz akan menyebabkan guncangan ekonomi yang berat, terutama di Asia dan Eropa. Selain energi, selat itu juga digunakan untuk jalur distribusi sepertiga pupuk yang digunakan dalam produksi pangan global.
Teheran memperingatkan bahwa Iran dapat melancarkan perang berkepanjangan dengan AS dan Israel yang bisa menghancurkan ekonomi dunia. Penasihat Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) Ali Fadavi menegaskan, AS dan Israel mesti mempertimbangkan kemungkinan mereka terlibat dalam perang jangka panjang dengan taruhan perekonomian global.
IRGC juga menekankan, Iran telah mengendalikan penuh Selat Hormuz. Sejauh ini tidak ada kapal yang selamat melintasi selat itu. Pada Rabu, tiga kapal dilaporkan terkena tembakan di perairan Teluk. IRGC menyebutkan, pasukannya melepaskan tembakan terhadap kapal-kapal yang tidak mematuhi perintah mereka.
Sebuah kapal pengangkut barang curah berbendera Thailand terbakar. Awak kapal dievakuasi, sementara tiga orang dilaporkan hilang. Dua kapal lain, yakni kapal kontainer berbendera Jepang dan kapal pengangkut berbendera Kepulauan Marshall, juga mengalami kerusakan akibat proyektil.
Sejauh ini sudah 14 kapal dagang yang terkena serangan di sekitar perairan Teluk sejak perang pecah.
Trump, Rabu, mengatakan, kapal-kapal seharusnya dapat melewati Selat Hormuz. Namun, sumber-sumber mengatakan, Iran telah memasang ranjau di sekitar selat sehingga mempersulit blokade.
Militer AS memperingatkan Iran untuk menjauhi pelabuhan-pelabuhan dengan fasilitas angkatan laut. Iran balik mengancam, jika pelabuhan-pelabuhan itu jadi sasaran, pusat-pusat ekonomi dan perdagangan di kawasan akan menjadi ”target yang sah”.
Trump sebelumnya mengisyaratkan, perang mungkin segera berakhir karena sudah puluhan kapal perang Iran yang dihancurkan. Ia menuturkan, praktis tidak ada lagi yang tersisa untuk ditargetkan. ”Kapan pun saya ingin perang ini berakhir, perang akan berakhir,” katanya dalam wawancara dengan Axios.
Selain itu, menurut laporan The New York Times, mengutip beberapa sumber yang paham soal pengarahan Pentagon, perang sudah memakan biaya hingga 11,3 miliar dolar AS hanya dalam enam hari pertama.
Namun, militer Israel menyatakan, perang masih jauh dari selesai. Mereka masih memiliki banyak target yang bisa diserang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/10/12774c49-15cf-4a4a-ac65-db3b2301356f.jpg)
IRGC pun mengungkap, mereka telah melancarkan operasi rudal bersama dengan Hizbullah di Lebanon terhadap target-target di Israel. Perang di Iran melebar ke Lebanon setelah Hizbullah menyerang Israel menyusul terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama serangan AS-Israel.
Lebanon menyatakan, korban tewas dalam 10 hari dalam pertempuran Hizbullah-Israel mencapai 630 orang. Sedikitnya 800.000 orang mengungsi akibat konflik tersebut.
Hingga hari ke-12, perang terus meluas di kawasan Timur Tengah. IRGC memperingatkan, mereka bisa saja menyerang pusat perekonomian dan perbankan yang terkait dengan kepentingan AS dan Israel.
Departemen Luar Negeri AS juga mengungkapkan, Iran dan kelompok-kelompok yang didukungnya kemungkinan berencana menyasar infrastruktur minyak dan energi milik AS di Irak. Mereka bisa juga menarget hotel-hotel yang kerap dikunjungi warga AS.
Perang Iran melawan agresi AS-Israel telah menggoyang dua pilar perekonomian Teluk, yakni produksi energi dan penerbangan komersial. Pada Rabu, sejumlah drone jatuh di dekat Bandara Dubai, melukai empat orang. Drone lainnya menghantam tangki penyimpanan bahan bakar di Pelabuhan Salalah di Oman.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengeluarkan resolusi yang memerintahkan Iran menghentikan serangan terhadap negara-negara Teluk. Hal ini membuat Perwakilan Tetap Iran untuk PBB menuding penyalahgunaan mandat DK PBB.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Fransisca Romana Ninik WEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti