Perundingan masih alot. Baik AS maupun Iran sama-sama mengajukan tuntutan maksimal. Sementara perang mengintai di ambang pintu.
16 Feb 2026 09:15 WIB · Internasional
AFP/Michaela Stache
TEHERAN, SENIN — Iran siap berkompromi untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat, termasuk mengurangi kandungan uranium yang diperkaya. Namun, ada syaratnya. AS harus mencabut sanksi terhadap Iran terlebih dahulu.
Kantor berita Associated Press, Senin (16/2/2026), melaporkan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan delegasinya bertolak ke Geneva, Swiss, untuk perundingan tidak langsung dengan AS. Ini merupakan pembicaraan kedua setelah pertemuan di Oman, pekan lalu. Oman akan menjadi mediator perundingan di Geneva.
Pembicaraan serupa tahun lalu gagal setelah Israel melancarkan perang 12 hari terhadap Iran. Serangan itu termasuk pengeboman situs nuklir Iran oleh AS.
Sejak terakhir kali diperiksa oleh Badan Tenaga Atom Internasional pada Juni 2025, tidak diketahui lagi persediaan uranium yang diperkaya 60 persen milik Iran. Pada waktu itu jumlahnya mencapai 400 kilogram.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi mengatakan, sebenarnya ”bola” sekarang berada di tangan AS. AS harus membuktikan ingin mencapai kesepakatan dengan Iran. ”Jika mereka tulus, saya yakin kita bisa mencapai kesepakatan,” kata Takht-Ravanchi dalam laporan hasil wawancara BBC yang dipublikasikan pada Minggu (15/2/2026).
Pada 2018, Trump menarik AS dari pakta yang melonggarkan sanksi terhadap Iran sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya. AS lalu menerapkan kembali sanksi ekonomi yang keras pada Iran.
Kesediaan Iran untuk berunding dan kompromi kali ini menyusul pernyataan dari Menlu AS Marco Rubio yang menyebutkan, Presiden AS Donald Trump sebenarnya lebih suka mencapai kesepakatan dengan Iran, tetapi sangat sulit melakukannya. Lantaran Teheran susah diajak bicara, Trump mengancam akan menyerang Iran jika kesepakatan tentang program nuklir tidak tercapai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/08/3ee4961aca65635bfad7edee9b2a488d-Oman_US_Iran_135831041.jpg)
Pada saat yang sama, kekuatan militer AS terus ditambah di dekat wilayah Iran. Jika AS menyerang, Iran balik mengancam akan menyerang pangkalan AS di Timur Tengah.
Masalah nuklir Iran ini akan dibahas di Geneva pada Selasa (17/2/2026). Perundingan digelar di Geneva karena Swiss memainkan peran penting dalam hubungan diplomatik antara Iran dan AS selama puluhan tahun.
Swiss mewakili kepentingan AS di Iran sejak Washington memutuskan hubungan dengan Teheran setelah krisis sandera pada 1980, setahun setelah Revolusi Islam Iran.
Iran dan AS telah berunding di Muscat, Oman, pada 6 Februari 2026. Pada waktu itu, Araghchi bertemu dengan Utusan Presiden AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, kesepakatan apa pun antara AS dan Iran harus memasukkan poin penghapusan semua persediaan uranium yang diperkaya serta kemampuan Iran untuk memperkaya lebih banyak lagi. ”Seharusnya tidak ada kemampuan pengayaan. Bongkar peralatan dan infrastruktur yang memungkinkan mereka untuk memperkaya sejak awal,” kata Netanyahu saat pidato di Jerusalem.
AS dan Israel, musuh bebuyutan Iran, menuduh Iran berupaya memiliki senjata nuklir. Tuduhan itu dibantan Iran yang menyatakan, program nuklir tersebut untuk tujuan sipil. Iran juga punya hak mengembangkan teknologi nuklir.
Para ahli menyebut Israel sebagai satu-satunya kekuatan nuklir di Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/df03a28d11de6bc3a4b00d6ec31bcb21-20260205_ANU_AFP_Instalasi_Nuklir_Iran_mumed.jpg)
Iran telah memperkaya uranium hingga 60 persen. Angka ini jauh di atas batas 3,67 persen yang diizinkan dalam perjanjian nuklir 2015 yang sudah tidak berlaku lagi. Perlu pengayaan uranium hingga 90 persen untuk membuat bom nuklir.
Mengenai apakah Iran akan setuju mengirimkan persediaan uranium yang diperkaya sebanyak lebih dari 400 kilogram keluar dari Iran, Takht-Ravanchi mengatakan, masih terlalu dini untuk mengetahui yang terjadi selama perundingan. Hal serupa pernah dilakukan dalam kesepakatan nuklir 2015.
Kala itu, Rusia menerima 11.000 kilogram uranium yang diperkaya tingkat rendah. Moskwa telah menawarkan diri untuk menerima lagi material yang sama dari Iran.
Proposal lain yang sebelumnya dilaporkan di media mencakup tawaran dari Iran untuk menangguhkan sementara pengayaan uranium. Salah satu tuntutan utama Iran adalah agar pembicaraan fokus pada masalah nuklir. Jika dikonfirmasi, ini menjadi langkah maju yang penting bagi Iran.
Iran memandang tuntutan AS untuk nol pengayaan uranium sebagai penghalang bagi kesepakatan apa pun. Iran menganggap hal itu sebagai garis merah dan bentuk pelanggaran hak-haknya berdasarkan perjanjian nonproliferasi nuklir.
”Ketika kami diserang Israel dan Amerika, rudal kami menyelamatkan kami. Jadi, bagaimana mungkin kami melepaskan kemampuan pertahanan kami sendiri,” kata Takht-Ravanchi kepada BBC.
Ketika ditanya tentang lebih dari 40.000 tentara AS yang sekarang ditempatkan di dekat Iran, ia mengatakan, itu akan menjadi ”permainan yang berbeda”. Para pejabat senior Iran telah terlibat dalam diskusi intensif dengan rekan-rekan mereka di seluruh Timur Tengah. Mereka kemudian menghubungi Trump melalui telepon tentang urgensi untuk menghindari perang yang akan berdampak luas.
Iran berulang kali menuduh Israel mencoba untuk menyabotase perundingan Iran-AS. Iran masih dalam posisi waspada mengingat Israel pernah menyerang Iran secara tak terduga pada Juni 2025. Serangan itu kemudian dikenal sebagai perang 12 hari.
Padahal, waktu itu Iran siap bertemu Witkoff di Oman. Gara-gara serangan itu, Iran tidak percaya lagi pada perundingan dengan AS.(REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto