Iran Tak Mau Lagi Bekerja Sama soal Nuklirnya

Serangan Israel membuat Iran tak mau lagi berunding dengan Amerika Serikat dan bekerja sama dengan IAEA. Iran merasa semua itu tidak berguna.

15 Jun 2025 15:15 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

TEHERAN, MINGGU — Iran marah pada serangan beruntun Israel yang menggunakan senjata buatan Amerika Serikat. Iran pun tak mau lagi merundingkan program nuklirnya. Pengawasan pada fasilitas nuklir Iran pun dibatasi.

Iran dan AS sedianya akan bertemu di Oman pada Minggu (15/5/2025). Akan tetapi, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi memastikan perundingan itu batal.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga memberitahukan pembatalan itu kepada Presiden Perancis Emmanuel Macron. Iran, kata Pezeshkian, tidak akan terlibat perundingan apa pun soal nuklir selama Israel masih terus menyerang.

Ia menekankan, Iran berusaha mengoptimalkan diplomasi. ”Akan tetapi, Iran tidak akan menerima tuntutan yang tidak rasional di bawah tekanan atau duduk di meja perundingan selama rezim Zionis melanjutkan serangannya,” katanya.

Macron menelepon Pezeshkian setelah beredar kabar Iran mengancam para pendukung Israel. Iran disebut akan menyerang negara yang membantu Israel menangkis serangan Iran. Sejauh ini, AS, Inggris, dan Jordania aktif menangkis rudal dan pesawat nirawak Iran ke Israel.

AS juga memasok aneka persenjataan yang dipakai Israel menyerang Iran. Washington DC mengirimkan 300 rudal hellfire ke Tel Aviv sehari setelah Israel memberi tahu akan menyerang Iran.

AS juga membantu memodifikasi F-35 Adir yang dioperasikan Israel agar bisa terbang lebih jauh. Jet tempur dan rudal itu dipakai Israel menyerang Iran.

Sebuah poster menampilkan potret jenderal militer dan ilmuwan nuklir Iran yang tewas dalam serangan Israel pada 13 Juni 2025 tergantung di sebuah jembatan di Teheran, Iran, Sabtu (14/6/2025). Israel dan Iran saling serang setelah permusuhan selama puluhan tahun.

Batasi akses

Bukan cuma memastikan membatalkan putaran perundingan di Oman, Iran juga memutuskan membatasi akses pengawasan ke fasilitas nuklirnya. Iran tidak mau lagi pengawas Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengawasi fasilitas nuklirnya. ”Tidak masuk akal jika tempat-tempat itu diserang dan badan tersebut tetap bungkam,” kata Wamenlu Iran Kazem Gharibabadi.

Iran akan berhenti memberi tahu IAEA soal lokasi dan kebijakan pelindungan lokasi baru fasilitas nuklirnya. ”Iran tidak akan lagi bekerja sama dengan badan tersebut,” ujarnya.

Ia sudah marah kepada IAEA sejak badan itu mengumumkan laporan terbaru atas program nuklir Iran. Laporan terbaru IAEA yang dikeluarkan pekan ini menyimpulkan, Iran punya 408,6 kilogram uranium dengan aras pengayaan 60 persen.

IAEA juga menyebut Iran bisa memproduksi seton uranium yang diperkaya dalam waktu singkat. Menurut lembaga itu, Iran akan segera mencapai aras pengayaan 90 persen. Level itu dibutuhkan untuk membuat bom nuklir.

Akibat laporan itu, 19 dari 35 anggota Dewan Gubernur IAEA mengeluarkan resolusi mengecam Iran. Teheran dituding melanggar kewajiban dalam Traktat Pengendalian Senjata Nuklir (NPT). AS bersama Jerman dan Perancis menyusun resolusi itu.

Trio itu juga sekaligus peneken Kesepakatan Nuklir Iran 2015 atau dikenal sebagai JCPOA. Dalam laporan terdahulu, IAEA menyebut Iran menjalankan kewajiban dalam JCPOA. Walakin, sanksi terhadap Iran tak kunjung dicabut AS dan Eropa.

Bahkan, pada 2018, Donald Trump membawa AS keluar dari JCPOA lalu menambah aneka sanksi untuk Iran. Belakangan terungkap, keputusan Trump antara lain karena desakan dan bujukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Sejak kembali terpilih, Trump mencoba merundingkan lagi program nuklir Iran. Menjelang perundingan putaran enam, Iran diserang Israel dengan senjata AS. Sejumlah pejabat AS dan Israel menyebut, semua tahapan rencana serangan dikoordinasikan Israel ke AS.

Sasaran serangan termasuk berbagai fasilitas nuklir Iran. Bagi para pejabat dan warga Iran, AS-Israel berkoordinasi mengecoh Iran.

Pertanyakan motif

Sebelum ini, Gharibabadi mempertanyakan motif IAEA. Ia merujuk laporan IAEA yang menyebut lembaga itu mengerahkan 274 pengawas ke Iran. Dari seluruh pengawas itu, 120 tinggal di Iran dalam jangka panjang.

Masih dalam laporan IAEA, 21 dari 100 lokasi yang diperiksa lembaga itu ada di Iran. Sisanya di beberapa negara lain. Sementara dari 682 pemeriksaan, 493 dilakukan di Iran.

IAEA juga melakukan 224 verifikasi lanjutan atas laporan program nuklir sejumlah negara. Dari seluruh verifikasi, 144 dilakukan di Iran. IAEA mengerahkan 1.260 dari 1.895 pengawasnya ke Iran.

IAEA juga menghabiskan 22,6 juta euro anggarannya untuk aneka kegiatan terkait Iran. Total anggaran rutin IAEA 2024 bernilai 38,9 juta euro. IAEA masih mengalokasikan 4,3 juta euro dari anggaran tambahannya untuk kegiatan terkait Iran. Total anggaran tambahan itu bernilai 28 juta euro.

”Apa yang ditunjukkan oleh begitu banyaknya kegiatan badan tersebut di Iran jika bukan kerja sama Iran yang konstruktif dan menyeluruh dengan IAEA?” kata Gharibabadi.

Infografik Internasional Serangan Israel atas Fasilitas Nuklir Iran, 13 Juni 2025

Ia juga mengingatkan, berdasarkan sumber daya dan aktivitas luar biasa di Iran, IAEA juga menyimpulkan program nuklir Iran tetap untuk keperluan damai. Meski demikian, motif politik tersembunyi membuat IAEA mengeluarkan laporan yang menyudutkan Iran.

Bukan cuma ke lembaga, tudingan juga diarahkan kepada Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi. Sebelum serangan Israel, sejumlah pihak di Iran mengeluarkan dokumen yang disebut hasil peretasan komputer di Israel.

Dokumen dari 2015-2016 itu menunjukkan komunikasi intensif Grossi dengan sejumlah pihak di Israel. Inti komunikasi itu membangun persepsi Iran mengembangkan program nuklir yang berbahaya.

Sejumlah pihak di Iran menyebut, IAEA membagikan komunikasi rahasia Iran-IAEA kepada Israel. Komunikasi itu termasuk data lokasi dan program nuklir Iran. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji