perang

Iran Tutup Selat Hormuz, Pelayaran Internasional Terganggu

Serangan gabungan Israel dan AS menyebabkan Iran menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional. Kapal kargo dan minyak sementara tidak bisa melewati selat itu.

01 Mar 2026 09:00 WIB · Internasional

AFP / GIUSEPPE CACACE

Oleh Helena Fransisca Nababan

KAIRO, MINGGU — Iran menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional. Penutupan selat dilakukan sebagai tanggapan atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Akibatnya, pengiriman barang dan perdagangan melalui laut terganggu. 

Pada Sabtu (28/2/2026), Garda Revolusi Iran (IRGC) menyiarkan penutupan selat melalui siaran radio frekuensi tinggi. Melalui siaran itu, merujuk pemberitaan Reuters, Minggu (1/3/2026), IRGC memperingatkan, kapal-kapal tidak akan diizinkan untuk melewati jalur air strategis itu. 

Beberapa kapal yang tengah berada di wilayah tersebut dilaporkan menerima transmisi VHF dari Garda Revolusi Iran. ”Tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz,” kata seorang pejabat dari misi Angkatan Laut Uni Eropa, Aspides. 

Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris pada Sabtu mengatakan, mereka menerima banyak laporan dari kapal-kapal yang beroperasi di Teluk. Laporan menyebutkan, kapal-kapal itu menerima pesan tentang penutupan Selat Hormuz.

Penutupan selat membuat perusahaan minyak besar dan perusahaan perdagangan menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair (LNG). ”Kapal-kapal kami akan tetap di tempat selama beberapa hari,” kata seorang eksekutif senior di sebuah perusahaan perdagangan besar kepada Reuters. 

Citra satelit dari pelacak tanker menunjukkan kapal menumpuk di dekat pelabuhan-pelabuhan besar. Kapal-kapal terhenti di antaranya di Pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA) dan tidak bergerak melalui Selat Hormuz. 

Cargo ships and tankers are seen off coast city of Fujairah, in the Strait of Hormuz in the northern Emirate on February 25, 2026. (Photo by Giuseppe CACACE / AFP)

AL Inggris menyatakan, perintah Iran tersebut tidak mengikat secara hukum. Oleh karena itu, AL Inggris menyarankan kapal-kapal untuk melintas dengan hati-hati.

Akan tetapi, asosiasi tanker Intertanko mengatakan, AL AS sudah memperingatkan agar kapal-kapal tidak berlayar di area tersebut. Kapal-kapal diminta tidak melalui seluruh Teluk Persia, Teluk Oman, Laut Arab Utara, dan Selat Hormuz. AL AS mengatakan, mereka tidak dapat menjamin keselamatan pelayaran. 

Kementerian Pelayaran Yunani pada Sabtu juga memperingatkan agar kapal-kapal menghindari Teluk Persia, Teluk Oman, dan Selat Hormuz. 

Laura Page dari konsultan Kpler menuturkan, penutupan Selat Hormuz dan peringatan pelayaran membuat setidaknya 14 tanker pengangkut LNG telah menunjukkan tanda-tanda melambat, berbalik arah, atau berhenti di dalam atau di sekitar selat. Jumlah kapal terdampak kemungkinan akan meningkat dan menimbulkan risiko bagi ekspor LNG Qatar. 

Pemilik kapal Jerman, Hapag-Lloyd, mengumumkan, mereka menangguhkan lalu lintas kapal-kapalnya melalui Selat Hormuz akibat konflik yang sedang berlangsung. 

”Karena konflik di Timur Tengah dan penutupan resmi Selat Hormuz oleh otoritas terkait di tengah situasi keamanan yang berkembang di wilayah tersebut, Hapag-Lloyd menangguhkan semua transit kapal melalui jalur air tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut,” demikian bunyi pengumuman Hapag-Llyod, perusahaan pelayaran terbesar kelima di dunia. 

TOPSHOT - A motorboat cruises along the shore off the town of Al Jeer on the Strait of Hormuz in the northern emirate of Ras Al Khaimah, with a tanker seen in the background, on February 25, 2026. (Photo by FADEL SENNA / AFP)

Arti penting Hormuz

Selat yang terletak di Teluk Arab ini sangat penting bagi sekutu AS dan pasar energi global. Selat Hormuz menjadi fokus utama setelah AS dan Israel melancarkan serangan rudal terhadap Iran pada hari Sabtu. 

Selat ini terletak di antara Oman dan Iran serta menghubungkan wilayah Teluk di sisi utara dengan Teluk Oman di selatan dan Laut Arab di seberangnya. Selat Hormuz memiliki lebar 33 kilometer pada titik tersempitnya, dengan jalur pelayaran hanya selebar 3 km di setiap arah. 

Keberadaan selat ini begitu penting untuk pasar energi. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati selat ini. Menurut data dari perusahaan analitik Vortexa, lebih dari 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar melewati selat itu setiap hari pada tahun lalu. 

Anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, UEA, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat itu menuju Asia. Qatar, salah satu pengekspor LNG terbesar di dunia, mengirimkan hampir semua LNG produksinya melalui selat itu. 

UEA dan Arab Saudi berupaya mencari rute lain untuk menghindari selat tersebut. Menurut Badan Informasi Energi AS pada Juni 2025, sebanyak 2,6 juta barel per hari kapasitas yang tidak terpakai dari pipa-pipa yang ada di UEA dan Arab Saudi dapat digunakan untuk melewati Selat Hormuz. Armada Kelima AS yang berbasis di Bahrain bertugas melindungi pelayaran komersial di wilayah itu.

(AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti