Iran-Israel: Dari Sekutu Strategis Menjadi Musuh Abadi

Iran dan Israel tak ubahnya dua kutub yang bertentangan. Namun, sejarah mencatat, keduanya pernah menjalin hubungan mesra atas dasar kepentingan strategis.

13 Jun 2025 12:12 WIB · Internasional

Oleh Andreas Yoga Prasetyo

Bagaimana kisah persahabatan Iran dan Israel pada 1950-1979?

Setelah berdirinya negara Israel pada 1948, Iran menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kedaulatan Israel secara de facto. Dukungan ini bukan semata-mata ideologis, melainkan hasil kalkulasi geopolitik yang cermat.

Pada dekade 1950 hingga awal 1970, Israel dan Iran bersatu oleh kepentingan bersama: menghadapi tekanan dari negara-negara Arab, mencegah pengaruh Uni Soviet, dan menjalin hubungan erat dengan Amerika Serikat. Di bawah kekuasaan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi, Iran melihat Israel sebagai mitra bisnis yang potensial, khususnya dalam sektor energi.

Kerja sama keduanya mencakup pembangunan jalur pipa Eilat-Ashkelon untuk menyalurkan minyak Iran ke Israel dan Eropa, menjadikan Iran pemasok utama energi bagi Israel hingga 70 persen dari total kebutuhan. Tak berhenti di situ, Iran dan Israel juga terlibat dalam proyek pertanian, pembangunan, hingga kerja sama intelijen. Puncak hangatnya hubungan kedua negara ditandai dengan pembukaan kedutaan besar kedua negara hingga 1979.

Namun, semua berubah drastis ketika Revolusi Iran meletus pada 1979. Rezim baru Iran di bawah Ayatollah Khomeini membawa angin ideologis yang keras: antizionisme menjadi pilar utama politik luar negeri Iran. Israel dilabeli sebagai ”setan kecil” dan simbol penindasan terhadap Palestina. Hubungan diplomatik pun putus dan Iran berbalik menyerukan penghapusan Israel dari peta dunia.

Meski secara publik Iran bersikap anti-Israel, realitas perang Iran-Irak (1980-1988) pernah membuat Teheran harus bersikap pragmatis. Dalia Dassa dkk dalam buku Israel and Iran: A Dangerous Rivalry (2012) menguraikan, dalam kondisi kekurangan senjata akibat embargo internasional, Iran diam-diam menjalin kembali kontak dengan Israel. Israel, yang merasa Saddam Hussein lebih berbahaya, bersedia memberikan bantuan militer kepada Iran.

Kesepakatan tak resmi pun terjalin: Israel mengirimkan senjata dan komponen jet tempur ke Iran. Sebagai imbalan, Iran memfasilitasi eksodus warga Yahudi Iran ke Israel. Kolaborasi ini mencapai puncaknya dalam skandal ”Iran-Contra” yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Dalam kesepakatan itu, Iran menerima senjata dari AS melalui Israel, dengan imbalan membantu pembebasan sandera Amerika di Lebanon.

Perang proksi dan eskalasi ketegangan: 1990-sekarang

Namun, hubungan semu ini berakhir setelah perang usai. Iran kembali ke narasi anti-Israel. Awal 2000-an menjadi era baru permusuhan. Terpilihnya Mahmoud Ahmadinejad sebagai Presiden Iran memperkuat posisi Iran sebagai ancaman bagi Israel. Program nuklir Iran di era Ahmadinejad yang berkembang pesat memicu kekhawatiran Tel Aviv. Iran berhasil menjadi negara pertama di Timur Tengah yang mendirikan pembangkit listrik tenaga nuklir pada 2011.

Sejak 2010, Israel melancarkan berbagai operasi rahasia untuk menghambat proyek nuklir Iran, mulai dari pembunuhan ilmuwan, serangan siber, hingga sabotase fasilitas nuklir.

Di sisi lain, Iran memanfaatkan perang proksi. Perang proksi merupakan ranah konflik tanpa terlibat langsung dalam pertempuran, tetapi dilakukan dengan strategi mendukung pihak-pihak tertentu dalam konflik atau melalui pihak ketiga, seperti kelompok milisi bersenjata.

Strategi perang proksi Iran dilakukan dengan mendanai dan mempersenjatai kelompok seperti Hizbollah, Hamas, dan Houthi, Iran membangun lingkaran tekanan terhadap Israel. Perang saudara Suriah bahkan dimanfaatkan Iran untuk mendekat ke perbatasan Israel, dengan mengirim senjata ke Hizbollah melalui wilayah Suriah.

Atas proxy war ini, Israel pun bereaksi. Serangan udara dilancarkan ke ratusan target Iran di Suriah, termasuk insiden besar pada 2018 yang menewaskan belasan warga Iran. Aksi balasan kemudian dilakukan oleh Iran melalui peluncuran roket ke Dataran Tinggi Golan yang semakin menegaskan eskalasi konflik yang sulit dikendalikan.

Israel berupaya mengisolasi Iran melalui diplomasi, termasuk menjalin hubungan resmi dengan negara-negara Arab lewat Abraham Accords. Keberhasilan normalisasi dengan Uni Emirat Arab pada 2020 menjadi pencapaian penting bagi Tel Aviv.

Namun, gencarnya diplomasi ini kembali diuji saat perang Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023. Serangan Israel ke Gaza memicu kecaman global dan membuat negara-negara Arab enggan melanjutkan proses normalisasi. Sebaliknya, Iran memanfaatkan momen ini untuk menguatkan pengaruhnya yang siap menggempur Israel dari berbagai arah. Pada Januari 2024, AS menangkap kapal pengangkut senjata dari Iran ke Yaman, menunjukkan bahwa konflik proksi ini belum akan mereda dalam waktu dekat.

Pengembangan rudal dan ”drone” Iran yang mengkhawatirkan Israel

Hal ini dibuktikan dengan serangan Iran ke Israel pada Minggu (14/4/2024). Dalam operasi bertajuk Operasi Janji Jujur itu, Iran meluncurkan ratusan pesawat nirawak dan misil balistik serta puluhan rudal jelajah ke Israel. Melihat pola serangan yang dilakukan, ini merupakan operasi militer yang luar biasa oleh Iran kepada Israel.

Iran melancarkan serangan udara terbesar dalam dekade ini. Ada 180 drone, 110 rudal balistik, dan 30 rudal jelajah yang diluncurkan Iran untuk menyerang seluruh wilayah Israel pada dini hari. Hampir seluruh serangan Iran mampu ditangkal Israel dan koalisi AS. Jika tidak dapat ditangkal, bisa dipastikan wilayah Israel bakal mengalami kehancuran karena besarnya kekuatan ledakan yang terjadi.

Merujuk rilis kantor berita Iran, IRNA (15/4/2024), drone yang dipergunakan adalah jenis Shahed-131/Shahed-136 yang mampu membawa hulu ledak. Sementara rudal balistik yang dipakai adalah Kheibar Shekan berbobot 4,5 ton dan rudal Emad berbobot 17,5 ton. Sementara itu, jenis rudal jelajah yang dipergunakan adalah jenis Paveh. Beredar pula foto tiga selongsong besar bekas badan roket rudal balistik dalam kondisi utuh yang disebutkan membawa 500 kilogram hulu ledak.

Iran memang dikenal sebagai salah satu negara yang mampu memproduksi drone dan rudal balistik. Pesawat nirawak Iran juga tercatat dipakai sejumlah negara, termasuk Rusia. Institute for War and Peace Reporting (14/11/2022) menyebutkan, Rusia memesan 2.400 pesawat nirawak Iran model Shahed-136 dan Shahed 131. Lembaga United States Institute of Peace (USIP) dan The Primer Iran juga melaporkan, hingga awal 2024, Iran telah memasarkan pesawat nirawak buatannya ke lima negara dan tujuh milisi di Timur Tengah.

Sementara kemampuan Iran dalam pengembangan rudal balistik terlihat dari serangan beruntun rudal balistik Iran ke Israel pada Oktober 2024. Iran menggunakan rudal hipersonik canggih Fattah yang dalam bahasa Iran memiliki arti penakluk. Rudal Fattah dapat mengangkut hulu ledak berbobot 350-450 kg. Hulu ledak seberat itu sudah cukup untuk diberi berbagai jenis peledak, termasuk peledak nuklir.

Perkembangan pesat teknologi drone dan rudal Iran membuat Israel terus menjaga radar pertahanannya. Pada November 2021, misalnya, Israel menggelar latihan militer untuk satuan elite Golani yang diikuti 3.000 tentara. Latihan tersebut menarget sasaran-sasaran strategis, yaitu Pelabuhan Chabahar dan Pulau Qeshm di Iran yang dikenal sebagai basis pesawat nirawak Iran.

Sejarah panjang hubungan Iran–Israel adalah kisah panjang tentang kepentingan dan ideologi. Lika-liku hubungan ini menggambarkan betapa dinamisnya politik internasional, bahwa sekutu bisa berubah menjadi musuh, dan musuh lama bisa kembali dirangkul jika situasi mendesak. Relasi keduanya menunjukkan bahwa dalam politik internasional, tidak ada kawan atau lawan abadi.

Saat ini, bayang-bayang konflik terbuka antara keduanya terus membesar. Israel pada Jumat (13/6/2025) menyerang Teheran. Diduga, serangan Israel menarget situs-situs nuklir dan pangkalan militer Iran (Kompas.id 13/6/2025).

Selama tidak ada perubahan mendasar dalam orientasi ideologis ataupun strategi geopolitik, kemungkinan besar pasang surut kedua negara adidaya di Timur Tengah ini akan terus berlanjut dalam bentuk yang lebih kompleks dan berbahaya. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Andreas Yoga Prasetyo
 | 

Editor:

M Toto Suryaningtyas
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti