Jutaan ”buruh hantu” bekerja di sektor AI dengan upah rendah, bahkan di bawah tukang bangunan di Jakarta. Mereka tak dikenal, padahal berperan vital.
16 Okt 2025 14:14 WIB · Internasional
Ribuan triliun rupiah mengalir ke industri kecerdasan buatan atau AI setiap tahun. Namun, di balik gemerlap teknologi itu, jutaan orang bekerja dengan upah rendah dan berisiko tinggi terkena gangguan mental. Pekerja pemberi label data ini kerap disebut ghost worker atau buruh hantu karena berperan di balik layar, tak pernah dikenal.
Dari Virudhunagar, India, hingga kamar sempit di Nairobi, Kenya, dan di Cagayan, Filipina, pekerja pelabelan data AI (anotasi data AI) dibayar murah untuk mengajari mesin berpikir. Kebanyakan dari mereka berasal dari negara berkembang yang bekerja untuk kepentingan perusahaan di negara maju.
Di Virudhunagar, Negara Bagian Tamil Nadu, India selatan, Mohan Kumar bekerja keras di laptop selama berjam-jam setiap hari. ”Aku bagian anotasi AI, mengumpulkan data, memberi label, dan melatih model AI agar bisa mengenali serta memprediksi obyek,” ujarnya seperti dilaporkan BBC, Selasa (14/10/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/07/86f6f7f5-dd4a-4488-86c6-aed84517a79f.jpg)
Tugas utama bagian anotasi data AI adalah mentranskrip audio, memberi label gambar, menerjemahkan, dan menandai video. Mereka datang dari berbagai kalangan, termasuk berpendidikan tinggi. Ikshita Nagar (26), dokter muda asal Delhi, misalnya, bekerja untuk mengidentifikasi jenis luka dari gambar.
Laporan Forbes India, Kamis (11/9/2025), memperkirakan nilai industri anotasi data AI di India berpotensi menembus Rp 112 triliun pada 2030 dan menyerap sekitar satu juta pekerja. Secara global, diperkirakan ada belasan juta orang menjadi pekerja lepas di sektor itu. Pusat-pusat utama ada di India, Filipina, dan Afrika.
Saat ini, pusat anotasi data AI bergeser dari kota besar ke kawasan pinggiran dan perdesaan. Virudhunagar adalah kota kecil yang lebih dikenal dengan kuil kuno dan pabrik korek api. Kini, perusahaan anotasi data beroperasi di sana.
Fenomena ini disebut cloud farming atau ladang awan, yaitu alih daya digital yang memindahkan ”laboratorium pelatihan” AI dari kota besar ke perdesaan dengan standar upah yang lebih murah.
Jumlahnya kurang dari upah minimum, tidak memiliki jaminan sosial, tetapi saya tidak punya pilihan.
Saat ini, pekerja pelatihan AI India diupah Rp 3 juta–Rp 5 juta per bulan, tanpa tunjangan atau asuransi, dan tanpa kepastian kerja.
Cloud farming di Cagayan de Oro, Filipina, menarik pemuda dan mahasiswa di kota itu. Penghasilan mereka tak sampai Rp 3,5 juta sebulan. Upahnya lebih rendah dari tukang bangunan di Jakarta.
”Saya bekerja antara 8 jam dan 10 jam per hari dengan upah rata-rata Rp 115.000 per hari,” kata Junbee (22), salah satu pekerja. ”Jumlahnya kurang dari upah minimum, tidak memiliki jaminan sosial, tetapi saya tidak punya pilihan. Di wilayah Filipina ini, lapangan pekerjaan sangat terbatas,” katanya seperti dikutip media tenaga kerja Equal Times, April 2025.
Junbee bekerja sepanjang malam di warnet yang sempit, kumuh, dan pengap. Komputer tua dan kursi plastik murah menjadi kantornya. Malam itu, pekerjaannya menandai foto hidangan mewah Italia. ”Kami tidak punya uang untuk beli komputer sendiri, jadi kami bekerja di sini setiap malam,” kata Junbee yang terlihat kelelahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/10/01/93b6dbd0-5a56-4bbb-ae61-01024646d148.jpg)
Jutaan pekerja anotasi data AI merupakan tulang punggung pelatihan model bahasa besar (LLM) berbasis AI. Tanpa anotasi data, mesin AI tak bisa berpikir cerdas seperti sekarang. Semua perusahaan teknologi besar membutuhkan hasil kerja mereka, mulai dari OpenAI, Google, Meta, dan Alibaba.
Para pekerja tak pernah berhubungan langsung dengan perusahaan global tersebut. Mereka umumnya direkrut oleh perusahaan perantara. Dengan sistem ini, perusahaan global bisa mudah melepas tanggung jawab pada kesejahteraan mereka.
Mereka menjadi sosok tak dikenal di balik layar AI. Kontribusi mereka tak tercatat di mana pun. Itulah sebabnya, pekerja lepas anotasi data AI ini kerap disebut bagian buruh hantu. Istilah ini pertama kali diperkenalkan antropolog Mary Gray dan ilmuwan sosial komputasional Siddharth Suri pada 2019 untuk pekerja digital di balik layar.
Tanpa status jelas, mereka sulit menuntut kesejahteraan. Di Kenya, investigasi Time pada 2023 menemukan pekerja Nairobi yang melatih model bahasa untuk AI hanya dibayar Rp 20.800–Rp 32.000 per jam, sementara perusahaan perantara mendapat sekitar Rp 200.000 per jam.
Tak hanya soal buruknya kesejahteraan, para buruh hantu AI juga rentan mengalami tekanan mental. Salah satu tugas mereka adalah meninjau teks, foto, dan video berisi kekerasan, dari kecelakaan sampai pemenggalan. ”Kami harus membaca hal-hal mengerikan selama berjam-jam,” kata seorang pekerja label teks di Nairobi, dikutip Time. ”Itu benar-benar mengacaukan pikiran,” tambahnya.
Laporan kantor berita Turki, Anadolu Agency, Jumat (22/8/2025), mengisahkan Faith Nyawira (29), ibu tunggal yang berhenti mengajar karena iming-iming penghasilan lebih baik di anotasi data AI. Tugasnya, menandai gambar korban kekerasan dan kecelakaan mobil. ”Mereka bilang ini bagian dari masa depan. Kami bangga berkontribusi. Namun, kami menebak-nebak, apakah pekerjaan kami benar-benar membawa perubahan atau kami hanya buruh murah dari desa,” kata Nyawira.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/05/c72d733c-b4ee-472b-b022-6b4c2de8087a_jpg.jpg)
Dengan tingkat pengangguran dan tak sekolah Kenya mencapai 67 persen, pekerjaan digital ini awalnya tampak seperti peluang. Akan tetapi, banyak yang kemudian merasa terjebak pada ketergantungan baru, buruh dengan wajah kolonialisme modern.
Amnesty International menilai kondisi tersebut mendekati kerja paksa modern. Laporan itu menggambarkannya sebagai kelanjutan dari penjajahan era kolonialisme.
Dalam analisis Michelle Du dan Chinasa T Okolo dari Brookings Institution, Selasa (7/10/2025), fenomena ini disebut sebagai bentuk baru ketimpangan global atau kolonialisme data. Perusahaan teknologi dari negara maju mencari pekerja murah dari negara berkembang atau Global South.
Dua peneliti itu mendeskripsikannya sebagai penambangan tenaga kognitif manusia dari Global South oleh perusahaan teknologi di Global North. ”Data adalah emas baru, tetapi para penambangnya tetap miskin,” kata Du dan Okolo dalam penelitiannya.
Penelitian itu menegaskan bahwa tenaga kerja digital di negara berkembang menjadi fondasi tersembunyi dari kemajuan AI di dunia maju. Pekerjaan mereka mendukung algoritma bernilai miliaran dollar AS, tanpa imbalan sebanding.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/13/681026c6-e1fd-4ed9-b72c-d696fbaf7984_jpg.jpg)
Perusahaan penyedia layanan anotasi data AI berargumen, sistem ini memberi lapangan kerja di wilayah yang sebelumnya minim kesempatan kerja. Beberapa perusahaan juga mengklaim menyediakan pelatihan dan akses internet di perdesaan.
Pemerintah beberapa negara berupaya menerbitkan panduan untuk sektor ini. India, Filipina, dan Kenya sama-sama memasukkan pengembangan ekosistem AI dan peningkatan kapasitas tenaga kerja digital ke dalam strategi nasional. Mereka menempatkan keterampilan pelabelan data sebagai bagian dari agenda transformasi digital.
Namun, tetap muncul paradoks abadi: semakin tinggi teknologi, semakin murah tenaga manusia. Sejarah menunjukkan, modal dan teknologi kerap membuka celah ketimpangan baru. Seperti diingatkan Karl Marx dua abad silam di Das Kapital, modal hidup dari mengisap tenaga kerja. Hingga era AI pun, bayang-bayang eksploitasi tetap abadi.
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nur Adji