Jumlah anak dan balita yang malanutrisi dan tewas karena kelaparan terus bertambah. Puluhan truk bantuan ada di depan pintu, tetapi tak boleh masuk.
24 Jul 2025 09:19 WIB · Internasional
DEIR AL-BALAH, KAMIS — Sebanyak 115 organisasi kemanusiaan dan lembaga bantuan menyuarakan keprihatinan yang sama terkait blokade dan serangan militer Israel di Jalur Gaza. Rakyat Palestina di Jalur Gaza terancam bencana kelaparan.
Melalui surat terbuka, 115 organisasi yang termasuk kelompok bantuan internasional besar, seperti Doctors Without Borders, Mercy Corps, Save the Children, dan Oxfam, mengatakan, mereka menyaksikan jumlah rekan-rekan mereka sendiri dan warga Palestina semakin berkurang. Mereka menyalahkan pembatasan dan ”pembantaian” Israel di titik-titik distribusi bantuan.
Laporan Associated Press, Kamis (24/7/2025), menyebutkan, jumlah warga Gaza yang tewas karena malanutrisi dan penyakit terkait melonjak. Belum lagi warga yang tewas karena serangan Israel setiap hari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, mayoritas dari sekitar 2 juta penduduk Gaza saat ini sudah kelaparan.
Ironisnya, puluhan truk berisi bantuan makanan sudah menunggu di perbatasan. Mereka tak bisa segera masuk karena pembatasan Israel.
Israel membalas kritikan komunitas internasional dan membantah mereka berada di balik kekurangan pangan kronis di Gaza. Israel berbalik menuding Hamas yang sengaja menciptakan krisis kemanusiaan di Gaza.
Para saksi mata, petugas medis, dan pegawai kantor hak asasi manusia PBB mengatakan, pasukan Israel berulang kali menembaki kerumunan yang mencari bantuan hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang. Namun, menurut Israel, pasukannya hanya melepaskan tembakan peringatan dan jumlah korban yang tewas dibesar-besarkan.
Direktur WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menuturkan, pusat-pusat penanganan malanutrisi akut di Gaza penuh dengan pasien. Mereka kekurangan makanan dan obat-obatan.
Tingkat malanutrisi akut melebihi 10 persen. Lebih dari 20 persen ibu hamil dan menyusui juga mengalami malnutrisi parah. Perwakilan WHO di Gaza, Rik Peeperkorn, mengatakan, sekitar 30.000 anak balita yang mengalami malanutrisi akut di Gaza. WHO melaporkan setidaknya 21 anak balita meninggal sepanjang tahun ini.
Juru bicara Pemerintah Israel, David Mencer, mengatakan, tidak ada kelaparan yang disebabkan oleh Israel. Kekurangan makanan di Gaza sengaja dilakukan oleh Hamas.
Israel mengatakan, mereka mengizinkan cukup bantuan masuk ke Gaza. Israel justru berbalik menyalahkan upaya pengiriman oleh badan-badan PBB yang mengeluhkan terhambat karena pembatasan Israel dan keamanan yang lemah.
Kementerian Luar Negeri Israel menolak kritik 115 organisasi kemanusiaan dan menuding mereka justru menggemakan propaganda Hamas. ”Bantuan sudah mengalir ke Gaza. Hamas yang mencegah distribusi pasokan dan menjarah bantuan untuk diri mereka sendiri atau menjualnya dengan harga yang melambung,” kata Mencer.
Israel mengklaim sudah mengizinkan sekitar 4.500 truk bantuan masuk ke Gaza sejak mencabut blokade penuh pada Mei. Masih ada sekitar 700 truk yang menunggu untuk dijemput dan didistribusikan oleh PBB. Rata-rata ada sekitar 70 truk per hari yang masuk ke Gaza selama gencatan senjata enam minggu pada awal 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/24/81c670a2226a02516610b7d0c44ea10f-wires_photo_54.jpg)
Jumlah ini terendah selama perang Gaza. Menurut PBB, setiap hari harus ada 500-600 truk yang masuk sesuai kebutuhan di Gaza. PBB mengeluhkan kesulitan mengirimkan bantuan ke Gaza karena pembatasan militer Israel, pertempuran yang sedang berlangsung, serta tidak adanya ketertiban dan penegakan hukum.
Dari Brasilia dilaporkan, Brasil akan bergabung dalam kasus yang diajukan Afrika Selatan terhadap genosida Israel di Gaza ke Mahkamah Internasional (ICJ). Afrika Selatan mengajukan gugatan pada 2023 yang meminta ICJ untuk menyatakan Israel telah melanggar kewajibannya berdasarkan Konvensi Genosida 1948.
Gugatan tersebut berargumen, dalam perang melawan Hamas, tindakan militer Israel tidak hanya menargetkan Hamas dengan menyerang warga sipil, tetapi juga menyerang sekolah, rumah sakit, kamp pengungsi, dan tempat penampungan. Negara-negara lain, termasuk Spanyol, Turki, dan Kolombia, telah berupaya untuk bergabung dalam gugatan terhadap Israel.
Dalam pernyataan, Pemerintah Brasil menuduh Israel melanggar hukum internasional seperti aneksasi wilayah secara paksa. Brasil menyatakan kemarahan yang mendalam atas kekerasan yang dialami penduduk sipil. Israel membantah sengaja menargetkan warga sipil Palestina. Menurut Israel, satu-satunya kepentingannya adalah untuk memusnahkan Hamas.
Para pengacara Israel telah menolak kasus Afrika Selatan dan menyebutnya penyalahgunaan Konvensi Genosida. Kedutaan Besar Israel di Brasilia mengatakan, pernyataan Brasil menggunakan kata-kata kasar yang tidak sepenuhnya menggambarkan realitas yang sedang terjadi di Gaza, sementara Brasil juga mengabaikan peran Hamas dalam situasi di Gaza.
Presiden Israel Isaac Herzog, yang sedang mengunjungi pasukan di Gaza, menegaskan, Israel bertindak ”sesuai hukum internasional”, sementara Hamas berusaha menyabotase distribusi bantuan. Namun, 115 organisasi kemanusiaan dan bantuan mengungkapkan, gudang-gudang yang berisi berton-ton persediaan terbengkalai, sementara warga Gaza dan siapa saja yang berada di wilayah Gaza menderita menunggu bantuan.
Mereka menilai ini bukan hanya siksaan fisik, melainkan juga psikologis. Mereka menuntut agar semua penyeberangan darat segera dibuka dan aliran bantuan dibebaskan melalui mekanisme yang dipimpin PBB.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/24/3b4cf3cf530523f273cf6fa0b3fc4354-wires_photo_64.jpg)
Di New York, AS, Komite Perlindungan Jurnalis turut menyuarakan seruan yang menuduh Israel membungkam para jurnalis Gaza yang kelaparan. Wartawan kantor berita AFP di Gaza mengatakan, mereka semua terdampak oleh kekurangan makanan.
Di Khan Younis, Gaza bagian selatan, penduduk setempat menceritakan kepada AFP bagaimana mereka berjuang untuk mendapatkan bantuan pangan. Seorang warga menggambarkan betapa pemandangan mengerikan karena semua orang kelaparan.
Sistem alternatif yang dibangun oleh Israel dan kontraktor Amerika Serikat juga sudah dirusak oleh kekerasan dan kontroversi. Organisasi yang didukung AS dan Israel, Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), mulai mendistribusikan bantuan di Gaza pada Mei lalu ketika Israel melonggarkan blokade total selama dua bulan. Inisiatif ini lantas menyingkirkan sistem yang telah lama dipelopori PBB.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, AS akan membahas isu Gaza dengan mitra-mitranya di Timur Tengah. Isu yang akan dibahas antara lain proposal gencatan senjata terbaru dan pembebasan sandera.
Kesepakatan yang diharapkan tercapai akan mencakup gencatan senjata selama 60 hari. Hamas juga diminta untuk membebaskan 10 sandera yang masih hidup dan mengembalikan jenazah 18 sandera lainnya secara bertahap.
Sebagai barter, Israel harus membebaskan warga Palestina yang dipenjara. Pasokan bantuan kemanusiaan juga akan ditingkatkan.
Kedua belah pihak akan berunding tentang gencatan senjata dalam jangka panjang. ”Ada negosiasi intensif tentang pemulangan para sandera di Gaza. Semoga segera ada kabar baik,” kata Herzog di Gaza.
Hamas mengonfirmasi mereka sudah menanggapi usulan Israel untuk gencatan senjata 60 hari di Gaza. Tanggapan tersebut mencakup usulan amendemen terhadap klausul tentang masuknya bantuan, peta wilayah yang harus ditarik dari tentara Israel, dan jaminan untuk memastikan berakhirnya perang secara permanen. Para negosiator dari kedua belah pihak berunding secara tidak langsung di Doha, Qatar, dengan para mediator untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata yang akan membebaskan sandera Israel.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/29/987eb49c-b8fe-4bbb-804e-6479917e8abd_png.png)
Dari 251 sandera yang disandera selama serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, sebanyak 49 orang masih ditahan di Gaza. Setidaknya 27 orang menurut militer Israel telah tewas. Namun, perundingan telah berlangsung lebih dari dua minggu tanpa hasil dengan setiap pihak saling menyalahkan karena menolak mengalah pada tuntutan mereka.
Bagi Israel, pembongkaran kemampuan militer dan pemerintahan Hamas tidak dapat dinegosiasikan, sementara Hamas menuntut jaminan tegas atas gencatan senjata yang langgeng, penarikan penuh pasukan Israel, dan aliran bantuan yang bebas ke Gaza. Mencer menuduh Hamas menghalangi perundingan. ”Israel sudah setuju dengan proposal Qatar dan proposal terbaru (utusan khusus AS, Steve) Witkoff, Hamas-lah yang menolak,” ujarnya. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan