Perayaan ulang tahun yang sepi, dan viral, yang menjadikannya berbeda.
03 Sep 2025 07:30 WIB · Internasional
Senyum Isela Anahí Santiago Morales, sorang gadis berusia 15 tahun, tak lepas dari bibirnya malam itu. Mengenakan gaun warna pink dengan mahkota di kepalanya, Isela perlahan turun dari mobil antik. Tangan kanannya memegang erat buket bunga dengan warna senada, warna pink. Tangan kirinya berpegang pada tangan teman-temannya.
Lampu sorot kamera segera menyala dan para jurnalis mengerumuninya. Sebagian teman-temannya memayungi dan membentuk barisan agar ia bisa naik ke panggung. Putri dari petugas pemungut sampah tampak kewalahan dan kelelahan.
Enam minggu sebelumnya, keluarganya mengadakan quinceanera Isela, sebuah tradisi di Meksiko berupa perayaan ulang tahun ke-15 yang secara simbolis merayakan peralihan dari masa kanak-kanan menuju kedewasaan seorang gadis. Sebuah tradisi budaya dengan makna mendalam yang masih melekat di sebagian kawasan di Amerika Latin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/5bb0b774-e199-4a95-be91-8d6918cb6322_jpg.jpg)
Isela tinggal bersama orangtua dan saudara perempuannya di sebuah rumah kayu sederhana beratap seng di Axtla de Terrazas. Ini sebuah kota berpenduduk sekitar 32.000 jiwa di Negara Bagian San Luis Potosi, Meksiko. Orangtuanya mencari nafkah dengan mengumpulkan sampah. Mereka telah menabung bertahun-tahun untuk mengadakan pesta kecil pada tanggal 9 Juli 2025.
Saat waktunya tiba, orangtuanya telah menyiapkan makanan dan mengundang teman-teman Isela. Perayaan quinceanera Isela hanya dihadiri sedikit orang, sebagian teman-temannya tidak datang. ”Ayah saya bilang kami tidak boleh menyia-nyiakan makanan. Jadi, beliau mengunggah di Facebook bahwa kami punya cukup makanan untuk 40 orang,” kenang Isela.
Postingan sederhana itu mengubah hidupnya. Percikan viral muncul ketika seorang fotografer lokal menawarkan pemotretan gratis, diikuti oleh penyelenggara acara Jeronimo Rosales, yang berjanji menyediakan musik. Rosales tergerak hatinya saat mengetahui hanya sedikit yang hadir dalam acara quinceanera Isela. ”Yang diinginkan setiap gadis adalah pesta yang meriah, yang dihadiri orang-orang dan dinikmati bersama. Rasanya sangat menyedihkan dia ditinggal sendirian,” katanya.
Kisah Isela menyebar dan sumbangan mulai mengalir dari para pelaku bisnis lokal serta warga sipil. Pemerintah kota menawarkan stadion kota sebagai tempat penyelenggaraan. Pada Sabtu malam, ribuan orang berdatangan meskipun hujan deras sesekali menghentikan pertunjukan musik.
Lebih dari selusin grup musik lokal tampil gratis di dua panggung. Pemerintah negara bagian membiayai pertunjukan utama yang dimainkan lewat tengah malam dan politisi lokal memberikan pidato dari panggung tersebut.
Puncak acara, berupa tarian atau berdansa. Isela tampil bersama enam remaja laki-laki diiringi lagu yang khusus diciptakan untuknya. Sekitar 2.000 orang hadir, beberapa datang dari seluruh Meksiko, dan bahkan Texas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/ddb47ec3-4dc3-4924-94e5-bd04653ab531_jpg.jpg)
Sarai Rosales yang sedang berkunjung dari Dallas menghadiri acara ini karena melihat berita di televisi nasional. Sementara Yolanda Castro, seorang ibu rumah tangga yang datang bersama suaminya, karena melihat ajakan di media sosial.
Ini bukan pertama kalinya quinceañera menjadi viral di negara bagian tersebut. Pada tahun 2016, ribuan orang datang ke pesta ulang tahun seorang remaja putri San Luis Potosi bernama Rubi Ibarra setelah ayahnya mengundang ”semua orang” untuk hadir.
Sepanjang acara, Isela, yang bicaranya lembut, tampak tidak nyaman di bawah sorotan kamera. Ia meminta peserta yang membawa hadiah untuknya agar menyumbangkan hadiahnya untuk anak-anak di tempat tinggalnya, kampung pemulung.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/f8a88328-6997-4259-8e69-0157445562f0_jpg.jpg)
Namun, pada malam harinya, ia membuka sebuah paket di atas panggung dan menemukan sepucuk surat yang memberinya sebidang tanah seluas 90 meter persegi di Axtla. Ia menangis tersedu-sedu ketika menyadari bahwa ia kini memiliki properti di kota kelahirannya. Pemerintah setempat juga memberinya beasiswa untuk melanjutkan studinya.
Illiana Ortega, seorang guru di bekas sekolah dasar Isela sekaligus teman dekatnya, berharap pihak berwenang terus mendukung agar Isela dapat mewujudkan impiannya menjadi guru. Pesta maraton berlangsung hingga Minggu dini hari. Hujan yang kembali turun sepanjang malam tidak membubarkan kerumunan pesta di stadion.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/308243c3-b424-4429-b97e-ceb9eacfe09d_jpg.jpg)
Bagi remaja pendiam itu, perayaan di stadion yang dihadiri ratusan orang lebih dari sekadar ulang tahun yang terlambat. Itu adalah secuil pesta besar yang tak pernah ia duga. Baginya bagian penting dari perayaan itu adalah momen saat komunitas pemulung sekaligus tetangganya dapat juga menikmatinya.
Musik berhenti dan Isela bersiap kembali ke kehidupan normalnya. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan