Israel merupakan pihak yang mendapatkan keuntungan paling besar dari runtuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah. Bagaimana penjelasannya?
24 Des 2024 10:00 WIB · Politik & Hukum
Israel merupakan pihak yang mendapatkan keuntungan paling besar dari runtuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah, baik dari segi pertahanan keamanan, ancaman militer, maupun penguasaan teritorial.
Selama pemberontakan di Suriah yang berlangsung sejak 27 November 2024 hingga tergulingnya Assad pada 8 Desember 2024, Israel diam-diam ’membokong’ Suriah dengan menyerang target-target militer di seluruh Suriah, bergerak maju dari wilayah pendudukan eksisting di dataran tinggi Golan ke wilayah buffer zone (wilayah penyangga), sehingga mendapatkan titik pijak dan teritori yang lebih luas.
Jet-jet tempur Israel menyerang berbagai sasaran strategis milik militer Suriah sehingga nyaris menghapus seluruh kemampuan pertahanan negara Assad, khususnya angkatan udara dan angkatan laut. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights/SOHR) menyatakan militer Israel menyerang di seantero Suriah.
Informasi tentang bagaimana detail serangan terjadi pada awalnya relatif cenderung ’disimpan’ oleh militer Israel dan baru berselang beberapa hari kemudian dikeluarkan berbagai rekaman video peluru kendali yang menghabisi sasaran-sasaran di Suriah.
Kelompok aktivis Suriah, sebagaimana dilaporkan CNN (11/12/2024), menyatakan, operasi pengeboman yang terjadi pada dua malam itu adalah ”operasi militer yang paling brutal di Damaskus dalam 15 tahun terakhir”.
Laman angkatan bersenjata Israel (IDF) sendiri mengakui, dalam dua hari (9-10 Desember 2024) saja, militernya melakukan penghancuran sebanyak 480 target di seluruh wilayah Suriah.
Bukan hanya persenjataan eksisting yang diserang Israel seperti pesawat jet tempur dan helikopter tempur, melainkan juga fasilitas pertahanan Suriah, seperti bandara, pelabuhan angkatan laut, pusat intelijen, pusat riset pertahanan, dan gedung kementerian pertahanan.
Dari rilis IDF (Israel Defence Force), 12 Desember 2024, diperoleh informasi, Israel melakukan 350 sortie serangan udara, termasuk menggunakan jet tempur, terutama dari jenis F-15. Target yang mereka hancurkan meliputi baterai antipesawat, lapangan udara, dan lokasi produksi senjata di ibu kota Damaskus, Homs, kota pelabuhan Tartus, Latakia, dan Palmyra.
Laman X IDF secara lebih rinci menambahkan bahwa mereka juga berhasil menghancurkan rudal Scud Suriah, rudal jelajah, rudal darat ke laut, rudal darat ke udara, rudal permukaan ke permukaan, pesawat tanpa awak (UAV), jet tempur MiG-23, MiG-29, dan berbagai helikopter serbu Mi-8 dan Mi-24D, sistem radar, tank, hanggar, dan lain-lain.
Dari video yang beredar di media sosial juga terlihat saat rekaman kamera pemandu rudal Israel menggempur sistem antipesawat Pantsir S-2, sistem rudal Buk, di bandara dan hanggar mereka.
Ada video tak terverifikasi bahwa IDF juga menghancurkan sistem S-300 dan S-400 Suriah, tetapi relatif meragukan karena ditengarai sistem itu masih dioperasikan oleh pasukan Rusia yang memiliki basis militer di Suriah.
Jet-jet tempur Israel melakukan serangan mendahului (pre-emptive strike) tanpa khawatir sedikit pun bahwa pertahanan Suriah yang cukup canggih akan berupaya menembak jatuh serangan pesawat-pesawat Israel.
Serangan paling menonjol adalah yang dilakukan jet tempur terhadap depo amunisi dan persenjataan yang terletak di sebelah tenggara kota pelabuhan Tartus, Senin (16/12/2024). Serangan itu menyebabkan ledakan dan bola api raksasa yang terekam oleh warga.
Ledakan bola api raksasa setinggi ratusan meter itu tak hanya melenyapkan sasaran, tetapi juga menyebabkan efek getaran gempa setara 3,1 magnitudo. Getarannya merambat terdeteksi hingga jarak 820 km di wilayah utara Turki.
Video ledakan yang banyak disebut setara bom nuklir itu dan banyak beredar di media sosial menunjukkan besarnya bola api yang terbentuk disertai rambatan gelombang kejut.
Setelah ledakan besar yang dinilai ”tidak manusiawi” lagi, sejumlah negara Arab, termasuk Arab Saudi, Qatar, Iran, dan Irak, mulai berani mengkritik Israel yang disebut ”melakukan aksi perampasan tanah yang berbahaya” di balik tindakan-tindakan militernya di Suriah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/09/7e06a9a6-ce68-4c0d-8e8d-2ebbc123a167_png.png)
Tak hanya di udara, di darat pasukan lapis baja Israel, terdiri dari tank, kendaraan infanteri, dan mobil komando, merangsek maju dan menargetkan depot senjata, struktur militer, peluncur rudal, dan pos-pos posisi penembak. IDF menyatakan menyerang 130 aset Suriah, termasuk depot senjata, struktur militer, peluncur rudal, dan posisi penembak.
IDF juga untuk pertama kalinya memerintahkan kapal-kapal angkatan lautnya (Israel Navy) untuk menembakkan rudal menyerang dua dermaga fasilitas angkatan laut Suriah di Al-Bayda dan Latakia, tempat 15 kapal perang pengangkut rudal Suriah berlabuh. Akibatnya, kapal-kapal yang sebelumnya cukup disegani Israel itu terlihat hancur dan karam di dermaga tempatnya ditambatkan.
Laman Navalnews (10/12/2024) melalui foto-foto kerusakan yang beredar di media sosial mengenali kapal-kapal itu adalah jenis Osa-Class (Project 205) missille boats, dengan peluncur P-15M Termit (SS-N-2C Styx) yang terlihat besar menonjol ’digendong’ di sisi kiri kanan geladak kapal.
Osa-Class termasuk kapal cepat, bisa melesat 39 knot di permukaan laut, yang dibangun Uni Soviet pada awal 1960-an. Suriah mengoperasikan 16 kapal jenis ini yang masing-masing membawa empat peluncur rudal antikapal P-15M Termit dengan jarak jangkauan 80-190 km.
Mengapa Israel sangat bernafsu menghabisi Suriah dan tanpa ragu-ragu melenyapkan semua kemampuan Suriah sebagai suatu negara bangsa? Padahal, Suriah tak menimbulkan kerugian dan ancaman langsung ke Israel sebesar Iran, atau pejuang Hamas, dan Hizbullah?
Persoalan pertama adalah terlepasnya tanggung jawab atas sejumlah persenjataan canggih yang dimiliki Suriah. Ada sejumlah senjata canggih Rusia di Suriah, mulai dari jet tempur MiG-23, MiG-29, helikopter serbu Mi-28 Hind, hingga sistem antirudal S-300 dan S-400.
Sistem S-400 masih menjadi momok bagi negara-negara Barat dan pernah diuji latihan perang secara langsung oleh Turki tahun 2020. Terbukti, saat itu rudal S-400 bisa mendeteksi sistem kamuflase (stealth) jet tempur F-35. Akibat peristiwa itu, Amerika Serikat sempat memperingatkan langkah ’sembrono’ Turki dan membuat hubungan kedua negara tegang.
Suriah menempati urutan ke-60 dalam daftar Global Power Index dari 145 negara di dunia tahun 2024. Jumlah tentara aktifnya mencapai 170.000 orang dengan tentara paramiliter dan cadangan masing-masing 50.000 orang.
Sementara itu, dari persenjataan, Suriah memiliki total 452 pesawat udara yang terdiri dari 168 jet tempur, 57 pesawat penyerang, 153 helikopter, dan 27 heli serang.
Jumlah ini menggambarkan kekuatan tempur udara Suriah tak bisa dianggap enteng. Kebanyakan pesawat Suriah adalah produksi Uni Soviet atau Rusia, termasuk sistem rudal pertahanan udara S-300 dan S-400.
Angkatan darat Suriah tergolong masif dengan 2.720 tank, 14.550 kendaraan militer, artileri otomatis 295 laras, dan artileri tarik 2.400 laras.
Suriah juga memiliki peluncur roket multilaras (MLRS) sebanyak 614 buah yang menggambarkan kekuatan angkatan darat yang masif. Suriah hanya lemah di angkatan laut yang lebih banyak mencakup kapal patroli sebanyak 33 unit dari total angkatan laut terdiri atas 47 kapal.
Dengan segenap kekuatan militer konvensional itu saja, di atas kertas Suriah sudah menjadi ancaman besar bagi eksistensi Israel. Secara jumlah, persenjataan konvensional Suriah lebih besar daripada Israel meskipun lebih rendah dari segi kualitas dan tingkat kecanggihan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/10/742fc74d-8aea-4409-b7b9-cd82c17fc8ec_jpg.jpg)
Apalagi belum tercapai kesepakatan damai antara Israel dan Suriah serta kuatnya dukungan Iran dan Rusia kepada Suriah. Meskipun Israel kerap menyerang pos-pos militer Hizbullah di Suriah, mereka belum pernah berperang total sebagaimana di era peperangan sebelumnya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidatonya sesaat setelah serangan pasukan Israel ke Suriah, 10 Desember 2024, menjelaskan, langkah tersebut dilakukan untuk berjaga-jaga agar ”senjata-senjata berbahaya tidak jatuh ke tangan kelompok-kelompok ekstremis radikal”.
Alasan yang dipakai Netanyahu untuk mengantisipasi kelompok-kelompok radikal ini agaknya membuat tak banyak tentangan yang dilakukan oleh dunia internasional untuk mencegah invasi diam-diam Israel di Suriah.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar mencoba menguatkan narasi itu dengan mengatakan kepada wartawan pada Senin (16/12/2024) bahwa Israel mengebom fasilitas militer Suriah yang menyimpan senjata kimia dan rudal jarak jauh untuk mencegahnya jatuh ”ke tangan para ekstremis”.
Menyikapi aksi militer Israel itu, semua negara tampak masih cenderung diam kecuali empat negara Arab. Hal ini karena pemberontakan bersenjata yang dilakukan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) itu sendiri belum meyakinkan dunia.
Berbagai negara masih memandang dengan keraguan apakah kelompok yang saat ini berhasil menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad akan mampu membentuk pemerintahan yang layak serta menghadirkan stabilitas dan perdamaian wilayah.
Secara umum, tampak keraguan yang kuat bahwa pemimpin pemberontak HTS saat ini, Ahmed al-Sharaa alias Abu Mohammed al-Golani, akan mengarahkan Suriah ke arah yang lebih demokratis. Menlu AS Anthony Blinken secara terbuka menyatakan keraguannya bahwa pemimpin pemberontak itu akan melindungi kelompok-kelompok minoritas.
Terlebih dalam berbagai bukti video-video yang beredar tampak bahwa pasukan pemberontak melakukan eksekusi jalanan terhadap siapa saja yang mereka anggap bekerja sama dengan rezim Bashar al-Assad. Ini adalah ’gaya’ para milisi ISIS, Al-Qaeda, dan kelompok radikal di masa lalu.
Melihat pemerintahan Suriah yang ’kehilangan induk’ karena ditinggal kabur presidennya, dan rendahnya moral patriotik tentara pemerintah Suriah, membuat para pejabat Israel bersukacita dan segera dihadapkan pada perlunya mengeliminasi kemampuan militer canggih Suriah yang kebanyakan merupakan produk Rusia.
Sulit dimungkiri bahwa pemerintah maupun militer Israel tak nyaman dengan para pemberontak Suriah (HTS) dukungan kelompok-kelompok Islamis yang kini memimpin Suriah setelah menumbangkan Presiden Bashar al-Assad. Apalagi di Suriah ada berbagai kelompok milisi lain yang memiliki berbagai kepentingan yang berbeda-beda.
Ada milisi Kurdi dan Suriah Democratic Force (SDF) dukungan AS di bagian utara, ada milisi-milisi kecil berdasar daerah, ada pula pasukan Rusia yang tentu akan berupaya menyelamatkan sebanyak mungkin aset mereka di Suriah.
Sepanjang sejarah konflik Timur Tengah dan berdirinya negara Israel pada 1948, baru kali ini Israel bisa menghabisi musuh bebuyutannya tersebut secara leluasa dalam arti sesungguhnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/10/4e5d055d-f75c-494f-a8d1-e388cae2910e_jpg.jpg)
Ibarat ’bebek lumpuh’, semua persenjataan canggih dan masif Suriah menjadi sasaran tembakan rudal dan bom jet tempur Israel yang tanpa ampun menghabisinya.
Namun, tak sekadar mencegah senjata berbahaya jatuh ke tangan milisi radikal, Israel rupanya menjalankan agenda untuk meluaskan wilayah melalui krisis di tetangganya.
Kali ini krisis politik dan militer sekaligus yang melanda Suriah dan kawasan Timur Tengah. Dari satu perang ke perang berikutnya, hasil akhir dari peperangan adalah kemenangan Israel dan pertambahan luas wilayah sejak pembentukan Israel pada 14 Mei 1948.
Oleh karena itu, tak aneh bahwa dalam krisis kali ini pun Israel tak hanya menyerang titik-titik pertahanan dan alutsista Suriah, tetapi juga maju dari garis demarkasi perang 1974 di dataran tinggi Golan (Golan Height).
Tank-tank dan pasukan kavaleri Israel melaju lebih dalam garis demarkasi/demiliterisasi hingga sedalam 15 kilometer di beberapa bagian. Diperkirakan, kini Israel memiliki tambahan wilayah di dataran tinggi Golan seluas sekitar 400 kilometer.
Selama ini, Israel menduduki sebagian wilayah dataran tinggi Golan (Golan Height) seluas 1.150 kilometer persegi. Wilayah itu selama ini diawasi oleh pasukan penjaga perdamaian PBB, dalam kerangka UN Disengagement Observer Force (UNDOF), yang mandatnya dijalankan sejak 31 Mei 1974 dan diperbarui setiap enam bulan.
Negara Filipina, Fuji, dan India menjadi anggota inti UNDOF yang menempati puluhan pos observasi dan pos komando pasukan membujur dari wilayah utara di Gunung Hermon hingga selatan di Sungai Yarmuk, berbatasan dengan Jordania.
Laman Britannica mencatat jarak terlebar arah timur-barat Golan Height adalah 43 kilometer, sedangkan jarak terpanjang arah utara-selatan mencapai 71 kilometer.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/09/45549f0e-b24f-410c-942d-cc2a4286993d_png.png)
Wilayah berbukit itu secara bentang alam dibatasi oleh Sungai Yordan dan laut/danau Galilea di sebelah barat, Gunung Hermon di sebelah utara, anak Sungai Yarmuk di sebelah timur, dan Sungai Yarmuk di sebelah selatan.
Sementara secara teritori negara posisi dataran tinggi itu di utara berbatasan dengan Lebanon, sebelah barat dengan teritori Israel, sebelah selatan dengan Jordania, dan sebelah timur dengan dua garis buffer zone dan wilayah Suriah. Garis di sisi Suriah dinamakan Bravo Line, sedangkan di sisi wilayah pendudukan Israel dinamakan Alpha Line.
Selama ini Israel menguasai hampir seluruh dataran tinggi Golan kecuali wilayah sempit membujur dari utara ke selatan di sebelah timur yang kemudian menjadi garis gencatan senjata 10 Juni 1967, dan berkembang menjadi wilayah kesepakatan pemisahan kekuatan militer (separation of forces agreement) 31 Mei 1974.
Garis itu membujur dari perbatasan Suriah di utara hingga ke selatan dengan garis daerah itu selama ini diawasi oleh PBB dan tentara Suriah dan dinamakan zona penyangga (buffer zone) dengan luas 155 mil persegi menurut versi Israel (idf.il). Lebar paling kecil buffer zone adalah 5 kilometer, sedangkan lebar paling besar mencapai 80 kilometer.
Britannica mencatat, setelah Perang Dunia I, dataran tinggi Golan menjadi bagian dari mandat Perancis di Suriah dan pada tahun 1941 diserahkan kepada Suriah.
Seusai Perang Arab-Israel tahun 1948-1949, Suriah membentengi puncak barat dataran tinggi Golan, menguasai Lembah Ḥula, Laut Galilea, dan lembah hulu Sungai Yordan, semuanya di (wilayah) Israel.
Wilayah Israel yang merupakan dataran terbuka dan lebih rendah membuat mereka terekspose oleh bidikan senjata Suriah dan menjadi bulan-bulanan tembakan. Di periode ini banyak warga sipil Israel terbunuh oleh artileri Suriah dan tembakan penembak jitu, dan pertanian Israel terganggu karena keamanan yang sulit dan berbahaya.
Pada dua hari terakhir Perang Enam Hari (9-10 Juni 1967), angkatan bersenjata Israel, setelah mengalahkan Mesir dan Jordania, mengalihkan perhatian mereka ke Suriah. Pasukan Israel kemudian berperang melawan pasukan Suriah dengan semua persenjataan yang dimiliki. Pertempuran berhenti pada 10 Juni 1967. Suriah kalah dan meminta gencatan senjata.
Para pemukim Suriah dan sebagian besar penduduk Arab yang menempati wilayah Golan Height melarikan diri, tetapi ada pula yang tetap tinggal. Dataran tinggi tersebut kemudian ditempatkan di bawah administrasi militer Israel dan lalu diintegrasikan secara lebih luas ke dalam negara Israel.
(Sebagai perbandingan, saat ini ada lebih 20.000 pemukim Yahudi di wilayah Golan Height dan pemerintah Israel sudah berencana membangun permukiman baru di tengah situasi peperangan saat ini.)
Lima desa yang sebagian besar dihuni oleh orang Arab Druze tetap ada dan ditawari kewarganegaraan Israel meskipun sebagian besar menolak dan mempertahankan kewarganegaraan Suriah.
Israel juga membuka berbagai wilayah untuk permukiman warga Yahudi. Pada akhir 1970-an, hampir 30 permukiman Yahudi telah didirikan di dataran tinggi tersebut dan pada tahun 1981 Israel akhirnya secara sepihak mencaplok wilayah tersebut sebagai wilayah teritorialnya.
Perjanjian pelepasan wilayah antara Israel dan Suriah, yang ditandatangani setelah Perang Yom Kippur pada Oktober 1973, menetapkan zona penyangga Perserikatan Bangsa-Bangsa di Dataran Tinggi Golan, yang dipantau oleh Pasukan Pengamat Pelepasan PBB (UNDOF).
Negosiasi antara Suriah dan Israel, yang diadakan di Madrid pada tahun 1991, gagal pada tahun 2000 karena desakan Suriah agar Israel sepenuhnya menarik diri dari wilayah dataran tinggi Golan.
Diskusi di antara kedua negara pada tahun 2008 melalui mediasi Turki, yang saat itu merupakan sekutu dekat kedua negara, gagal setelah pengunduran diri Perdana Menteri Israel Ehud Olmert.
Sementara itu, perkembangan di Israel dan kawasan tersebut pada tahun 2010-an membuat kaum Druze Golan yang sebelumnya ’pendiam’ menjadi lebih vokal tentang status mereka. Ada sekitar 25.000 pemukim Arab Druze di wilayah ini.
Terjadi peningkatan pengajuan kewarganegaraan Israel dari sebagian orang Druze di komunitas tersebut, sementara sebagian yang lain mulai berdemonstrasi untuk menegaskan kembali kesetiaan kepada Suriah. Hingga bulan Maret 2019, Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang mengakui aneksasi Israel atas kawasan tersebut.
Dengan perspektif itu, wilayah dataran tinggi Golan tak hanya strategis secara militer, tetapi juga potensial sebagai wilayah permukiman dan pertanian, khususnya di bagian selatan, dan wilayah penggembalaan ternak di bagian utara, alias menjadi wilayah teritorial negara.
Pejabat Israel mengatakan kehadiran IDF bersifat sementara di buffer zone Suriah untuk mencegah ketidakstabilan di Suriah meluas ke wilayah yang dikuasai Israel.
Akan tetapi, melihat rekam jejak Israel, pejabat di negara-negara Arab dan banyak pengamat menyuarakan kekhawatiran bahwa Israel sebenarnya mengeksploitasi ketidakstabilan kawasan tersebut untuk merebut tanah semata.
Artinya, besarnya upaya Israel melemahkan Suriah dengan membuatnya menjadi negara paria dan lumpuh karena tak mempunyai persenjataan lagi sebenarnya bermotifkan penguasaan lahan teritorial berselubungkan soal keamanan. Hal itu sudah terbukti sejak masa lalu di mana peperangan adalah pintu masuk bagi Israel untuk mendapatkan lahan baru untuk negaranya.
Faktanya, meski PBB dan dunia internasional tidak mengakui legitimasi Israel atas pendudukannya di dataran tinggi Golan sebagai hasil kemenangan di peperangan Israel-Arab 1967, akhirnya pada tahun 1974 tercapailah gencatan senjata antara Israel dan Suriah sehingga dibuatlah garis pembatas di area buffer zone itu.
Kini, dengan semakin mendalamnya wilayah Suriah yang diokupasi Israel, diperoleh sejumlah keuntungan strategis oleh negara gerakan zionis itu. Pasukan Israel bisa menduduki puncak Gunung Hermon yang merupakan titik tertinggi di kawasan itu (hampir 3.000 meter) dan sangat strategis, baik dari sisi observasi maupun posisi tembakan. Apalagi letaknya 10 kilometer dari ’perbatasan’ Israel (Alpha Line) dan dataran tinggi Golan yang selama ini sudah diduduki Israel.
PM Israel Benjamin Netanyahu pada 17 Desember 2024 sudah menyatakan bahwa tentara Israel akan tetap berada di zona penyangga itu di sisi perbatasan Suriah untuk waktu tidak terbatas sampai ada pengaturan baru yang ”menjamin keamanan Israel”.
Format geopolitik dan geostrategis kawasan Timur Tengah tampaknya tak menunjang argumen Netanyahu itu. Alih-alih, Israel sedang mengambil keuntungan besar di tengah krisis politik dan keamanan dari Suriah, negara tetangganya itu. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
M Toto SuryaningtyasEditor:
Yohan Wahyu