Israel, antara Pasukan Cadangan yang Kelelahan dan Gencatan Senjata

Untuk bisa menggempur Hamas, Israel memanggil kembali pasukan cadangannya. Akan tetapi, 15 bulan perang membuat pasukan itu kelelahan.

23 Mar 2025 06:00 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

Israel kembali menyerang para tetangganya. Tak cuma di luar negeri, di dalam negeri pun orang-orang lelah dengan perang yang terus dikobarkan pemerintah Israel tersebut.

Dalam pernyataan pada Sabtu (22/3/2025) malam waktu Tel Aviv, militer Israel membenarkan tengah melancarkan serangan ke tetangga-tetangga Israel. Lebih dari 200 serangan sepanjang Sabtu saja. Di hari sebelumnya, Israel telah menggempur Palestina, Suriah, dan Lebanon bolak-balik.

Militer Israel, tzahal, menyebut rangkaian serangan itu atas perintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kabinet Netanyahu dan tzahal menuding, tetangga Israel tak mau berdamai.

Tudingan dilancarkan kala Israel tak kunjung menyepakati gencatan seniata lanjutan dengan kelompok-kelompok perjuangan Palestina. Dengan Hizbullah di Lebanon, Israel juga tak melaksanakan isi kesepakatan gencatan bersenjata yang disetujui pada November 2024.

Apapun alasan dari dalam maupun luar Israel, perang butuh sumber daya. Bagi warga Israel, kelanjutan perang berarti setidaknya dua hal. Pertama, rangkaian serangan Israel ke Gaza mengancam keselamatan sandera. Berulang kali terbukti, serangan Israel menewaskan sandera. Karena itu, keluarga sandera mendesak warga Israel memprotes rangkaian serangan di Gaza dan mendorong perundingan.

Kedua, perang berarti anggota pasukan cadangan harus dipanggil. Hanya saja, jumlah tentara cadangan yang menanggapi panggilan itu turun jauh dibandingkan dengan panggilan pertama untuk berperang pada Oktober 2023. Selain faktor kelelahan, sudah muncul juga rasa ketidakpercayaan pada pemerintahan Netanyahu dan kemampuan militer membebaskan para sandera tersisa.

Media Israel, Yedioth Ahronoth dan Haaretz, melaporkan penurunan sampai 60 persen. Mantan penasihat keamanan nasional Israel, Yaakov Amidror, menyebut bahwa Israel butuh lebih banyak pasukan untuk meneruskan perang di Gaza dan palagan lain. Pasukan cadangan terutama untuk angkatan darat. ”Berapa banyak (pasukan) yang akan muncul?” katanya.

Pernyataan Amidror seperti menjelaskan situasi pasukan Israel terkini. Meskipun Israel membuat pernyataan keras akan menurunkan pasukan dengan kekuatan meningkat, sejauh ini belum terlihat tanda-tanda adanya mobilisasi skala besar seperti pada tahun 2023.

Tahun lalu, tzahal memanggil 300.000 tentara cadangan. Mereka dipanggil untuk memperkuat pasukan tetap yang diperkirakan berjumlah sekitar 170.000 orang.

An Israeli tank takes position on the Gaza Strip border in southern Israel, Wednesday, March 19, 2025. (AP Photo/Ariel Schalit)

Belum jelas

Namun, untuk serangan kali ini, jumlah pasukan yang akan dikerahkan belum jelas. Tzahal mengatakan mengirim brigade infanteri elit ke perbatasan Gaza pada Rabu (19/3/2025). Kemudian pada Kamis (20/3/2025), tzahal mengumumkan serangan dan patroli di sepanjang pantai di sisi utara dan selatan Jalur Gaza.

Sejumlah tentara cadangan dalam wawancara dengan Reuters mengatakan, saat perang terus berlanjut, banyak yang berjuang untuk menyeimbangkan antara penugasan militer dengan pekerjaan, keluarga, dan studi. Kesulitan itu membuat jumlah tentara cadangan yang meminta untuk dibebastugaskan meningkat dari waktu ke waktu.

"Perasaan saya mengatakan selama masih ada sandera di sana, saya akan ikut (perang). Namun saat ini saya tidak tahu," kata seorang prajurit cadangan pasukan khusus yang meminta tidak disebutkan namanya.

Sebagai prajurit cadangan khusus, ia menghabiskan sekitar delapan dari 15 bulan pertama perang di Gaza, Lebanon, dan Israel utara. “Ada banyak ketidakpercayaan pada kepemimpinan negara, dan tidak jelas apakah tekanan militer akan membantu para sandera,” ungkap prajurit cadangan itu.

Ia juga mengkhawatirkan dampak pemanggilan tugas berperang itu pada istri dan enam anaknya. Salah satu dari anaknya, katanya, sudah menyiapkan pidato penghormatan untuknya.

Terkait laporan menurunnya response pasukan cadangan kali ini, tzahal menyatakan, berdasarkan data yang terus ditinjau dan diaudit, tidak ada perubahan drastis dalam tingkat kehadiran. Unit-unit memenuhi persyaratan operasional mereka.

Unit cadangan Israel memiliki lebih banyak orang yang dapat direkrut daripada yang dibutuhkan pada waktu tertentu. Kekurangan tersebut dipenuhi dengan  menempatkan sukarelawan dari unit lain. Tzahal menyatakan, sistem cadangan tetap dapat memenuhi misinya.

Di sisi lain, para pimpinan militer Israel mengakui bahwa kelelahan sudah menjadi masalah di antara para prajurit cadangan. “Meski begitu, ketika dibutuhkan, para prajurit cadangan akan bersedia menghentikan apa yang sedang mereka lakukan dan mempertaruhkan nyawa mereka untuk membela negara mereka,” jelas Juru Bicara tzahal Letnan Kolonel Nadav Shoshani seraya menambahkan tzahal memiliki rencana untuk meringankan beban mereka.

Hanoch Daube, seorang kolonel yang baru saja selesai memimpin pasukan cadangan dan reguler di Gaza, mengatakan penurunan tersebut tidak akan mencegah militer untuk melancarkan serangan darat besar-besaran jika diperlukan.

Menurut Daube, jumlah tentara pada awalnya kemungkinan akan tinggi. “Namun, jika serangan berubah menjadi perang gerilya berlarut-larut tanpa tujuan strategis jelas, hal itu pada akhirnya akan menyebabkan kelelahan pasukan,” kata Daube, yang sekarang memimpin asosiasi cadangan yang dikenal sebagai Forum Prajurit Pedang Besi.

Palestinian fishermen prepare to take to the sea at the site of an Israeli strike earlier on a fishing harbour in Deir el-Balah in the central Gaza Strip on March 22, 2025. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Seorang tentara cadangan yang juga ilmuwan dan ayah dari lima anak mengatakan, tidak akan ragu untuk bergabung kembali dengan unit tanknya jika dipanggil kembali ke Gaza. “Saya memiliki banyak kritik tentang pemerintah ini bahkan sebelum perang, tetapi perang ini dibenarkan,” katanya.

Sementara seorang prajurit cadangan lain dari unitnya tidak begitu yakin. Dia mengatakan, dia memiliki ikatan yang dalam dengan rekan-rekannya dan mungkin saja untuk kembali untuk sementara waktu karena rasa tanggung jawab. Sayangnya kali ini ia tidak akan terlalu percaya pada misi tersebut.

"Setelah 7 Oktober, kami merasa negara ini sedang hancur. Namun, negara ini tidak hancur sekarang. Mereka tidak membutuhkan kami seperti sebelumnya,” katanya.

Warga marah

Para pengamat pun menyatakan, terjadinya kembali serangan darat skala penuh melawan Hamas bisa menjadi lebih rumit di tengah memudarnya dukungan publik, para prajurit cadangan yang kelelahan, dan tantangan politik.

Keputusan Netanyahu untuk menyerang lagi Jalur Gaza dan melanjutkan pemboman pada Selasa lalu menambah kemarahan sebagian warga Israel. Sejak serangan itu mereka kemudian menggelar aksi unjuk rasa, berdemonstrasi menentang pemerintah Netanyahu di Tel Aviv dan Yerusalem.

Para pengunjuk rasa menuduh pemerintah melanjutkan perang karena alasan politik. Mereka juga menyatakan, serangan itu membahayakan nyawa para sandera yang masih ditahan di Gaza.

Namun, Netanyahu mengatakan tuduhan tersebut tidak pada tempatnya. Ia menegaskan, serangan itu bertujuan untuk mendapatkan kembali 59 sandera yang tersisa.

Shoshani menambahkan, tzahal memiliki rencana untuk berbagai skenario, termasuk operasi darat jika diperlukan. “Tujuan serangan melawan Hamas ini adalah untuk melumpuhkan kemampuan mereka, mencegah mereka melakukan serangan teror, dan menciptakan tekanan agar para sandera dipulangkan baik melalui operasi militer, atau melalui semacam kesepakatan politik," kata Shoshani pada hari Rabu.

"Semua opsi tersedia," imbuh Shoshani.

NEW YORK, NEW YORK - MARCH 19: Activists gather on Wall Street in front of a property owned by President Donald Trump following renewed attacks on Gaza by Israel on March 19, 2025 in New York City. The protesters called out both the Trump administration and Wall Street banks and financiers for supporting the Israeli government. The Israeli military said today that it had resumed ground operations in Gaza a day after aerial attacks killed a reported 400 people, including 130 children, according to UNICEF. Spencer Platt/Getty Images/AFP (Photo by SPENCER PLATT / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Aksi unjuk rasa itu pun berubah menjadi ricuh. Bentrokan dengan polisi terjadi.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan sebagian besar orang di Israel ingin Israel melanjutkan perundingan. Mereka berharap perundingan akan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang, membebaskan semua sandera yang tersisa dengan imbalan tahanan Palestina, dan melihat penarikan penuh pasukan Israel.

Tiga pejabat pertahanan yang memahami pengambilan keputusan Israel mengatakan,  bahwa dimulainya kembali pertempuran akan berlangsung secara bertahap. Hal itu akan  membuka peluang bagi negosiasi untuk memperpanjang gencatan senjata. Akan tetapi mereka tidak menjelaskan lebih lanjut dari rencana itu. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .