Israel Cegat Semua Kapal Global Sumud, 430 Aktivis Ditahan

Upaya Global Sumud bantu warga Palestina di Gaza kembali gagal. Angkatan Laut Israel mencegat semua kapal dalam konvoi gerakan global ini dan menahan para aktivis.

20 Mei 2026 10:30 WIB · Internasional

AFP / JACK GUEZ

Oleh Helena Fransisca Nababan

JERUSALEM, RABU — Angkatan Laut Israel pada Selasa (19/5/2026) mencegat semua armada sipil internasional pengangkut bantuan untuk Gaza, Global Sumud Flotilla. Israel membawa 430 aktivis dari 40 negara ke Israel.

Menyikapi tindakan itu, komunitas internasional mendesak pembebasan segera para aktivis. Komunitas internasional juga menyerukan peninjauan atas penggunaan kekuatan oleh Israel dalam pencegatan kapal-kapal Global Sumud.

Merujuk laman resmi Global Sumud Flotilla, Angkatan Laut (AL) Israel mulai menghentikan armada Global Sumud di sekitar 250 mil laut atau 463 kilometer dari garis pantai Gaza. Sementara menurut laporan The Associated Press (AP), Israel menghentikan kapal-kapal itu di 167 mil laut atau 268 kilometer dari garis pantai Gaza. Kapal-kapal itu berangkat dari Turki pekan lalu.

Siaran langsung di situs web Global Sumud Flotilla menunjukkan, tentara Israel dengan senjata lengkap menaiki kapal-kapal Global Sumud. Di saat yang sama, para aktivis yang mengenakan rompi penyelamat mengangkat tangan mereka. Tentara kemudian menghancurkan kamera yang terpasang di kapal-kapal tersebut.

Sehari sebelumnya, Senin (18/5/2026), AL Israel mencegat 41 kapal dari armada itu di perairan internasional di lepas pantai Siprus. Israel lantas menahan orang-orang yang berada di dalam kapal-kapal itu.

Dengan pencegatan hari Selasa, total 50 kapal dalam konvoi armada pengangkut bantuan kemanusiaan ke Gaza dicegat Israel. Israel kemudian membawa semua aktivis, berjumlah total 430 orang.

Global Sumud menyatakan pada Selasa malam bahwa para aktivis yang berasal dari lebih 40 negara itu ”belum diketahui keberadaannya”. Sebelumnya, Global Sumud mengatakan, ada 426 orang yang ikut serta dalam armada tersebut. Mereka berasal dari 40 negara.

Dari yang ditahan, menurut Global Sumud, mereka belum melakukan kontak dengan pengacara maupun mengakses bantuan konsuler. Pihak keluarga dari para aktivis yang ditahan Israel belum diberi tahu tentang keberadaan mereka.

Tidak jelas mengapa ada perbedaan jumlah orang yang ditahan ini. Namun, kantor Kementerian Luar Negeri Israel pada Selasa malam menyatakan, ”semua aktivis yang berjumlah 430 orang” sudah dipindahkan ke kapal-kapal Israel.

Boats belonging to the Global Sumud Flotilla, carrying activists and humanitarian aid, prepare to depart for Gaza from the port of Marmaris, Turkey, Thursday, May 14, 2026, in an attempt to break the Israeli naval blockade. (AP Photo/Murat Kocabas)

Reaksi keras

Pencegatan kapal-kapal Global Sumud oleh Israel itu menuai reaksi keras. Berbicara di Ankara pada Senin malam, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam intervensi terhadap ”para pelaut harapan” dalam konvoi kapal itu.

Erdogan menyerukan kepada komunitas internasional untuk melawan aksi Israel. Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin menyebut pencegatan di perairan internasional itu sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.

Turki dan Hamas menyebut pencegatan tersebut sebagai ”pembajakan”. Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menyerukan dilakukan peninjauan segera atas penggunaan kekuatan (militer) Israel untuk mengintersepsi kapal.

Para aktivis Italia mengatakan, tentara Israel menembakkan peluru karet ke kapal-kapal yang dinaiki para aktivis. Global Sumud Flotilla mengklaim tentara Israel menembaki lima kapal selama pencegatan. Penembakan menimbulkan sejumlah kerusakan.

Kemenlu Israel menyangkal hal itu. Kemenlu Israel mengatakan tidak ada amunisi tajam yang ditembakkan ke kapal-kapal.

Melalui sebuah pernyataan pada Selasa malam, Kemenlu Israel menyatakan, ”Setelah beberapa peringatan, cara-cara nonmematikan digunakan terhadap kapal-kapal tersebut, bukan terhadap para demonstran, sebagai peringatan. Tidak ada aktivis yang terluka selama peristiwa ini.”

A Palestinian artist paints a mural depicting Israel's interception of ships participating in the Global Sumud Flotilla, a civilian-led humanitarian aid mission to Gaza by sea, in Nuseirat in the central Gaza Strip on May 19, 2026. The Global Sumud Flotilla vessels are the latest in a string of attempts by activists to breach Israel's blockade of the Palestinian territory, with the last convoy intercepted by Israeli forces. Israel controls all entry points into Gaza, which has been under an Israeli blockade since 2007. During the Gaza war, triggered by Hamas's October 2023 attack on Israel, the territory has suffered severe shortages of food, medicine and other essential supplies, with Israel at times halting aid deliveries entirely. The Israeli ministry rejected claims that Gaza was facing aid shortages. (Photo by Eyad Baba / AFP)

Pembebasan dan penyelamatan

Pascapenangkapan dan penahanan, Global Sumud Flotilla menyatakan, para aktivis diangkut secara paksa oleh tentara Israel ke pelabuhan yang tidak disebutkan namanya. Global Sumud mengkhawatiran kondisi para aktivis dan mendesak perlindungan bagi mereka.

Global Sumud juga mendesak pemerintah dan para pemimpin dunia menuntut pembebasan segera dan tanpa syarat para aktivis. Global Sumud menekankan perlunya memastikan para aktivis mendapatkan bantuan hukum dan konsuler tanpa penundaan.

Di antara mereka yang ditahan, terdapat lebih dari selusin aktivis berkewarganegaraan Irlandia. Di dalamnya termasuk saudara perempuan Presiden Irlandia Catherine Connolly. Selain itu, terdapat 78 warga Turki.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengonfirmasi berdasarkan informasi terkini, Rabu (20/5/2026) pukul 07.13 WIB, sembilan WNI anggota Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang tergabung dalam misi GSF 2.0, semuanya dilaporkan telah ditangkap Israel. Empat di antaranya merupakan jurnalis.

Indonesia menyerukan Israel untuk membebaskan para aktivis dan menjamin keselamatan mereka. Kemenlu RI bersama perwakilan RI terus melakukan pendekatan intensif dengan otoritas setempat dan seluruh pihak terkait untuk memastikan pelindungan kesembilan WNI itu.

”Semua jalur diplomatik dan langkah kekonsuleran akan terus dimaksimalkan guna memastikan pelindungan penuh bagi para WNI dan mereka dapat kembali dengan selamat,” demikian keterangan tertulis dari Kemenlu RI.

Indonesia mendesak Pemerintah Israel untuk segera melepaskan semua kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan. Pemerintah Italia dan Spanyol juga menyerukan hal yang sama.

Adapun aktivis Italia, Daniele Gallina, berpandangan, tindakan militer Israel mencegat dan menahan para aktivis menunjukkan bagaimana hukum internasional secara terang-terangan diabaikan. Apalagi, tindakan itu dilakukan terhadap misi sipil damai yang tidak membawa senjata.

Gallina dan enam orang lainnya berada di atas kapal layar yang dialihkan ke pelabuhan di Siprus karena masalah teknis. Gallina mengatakan bahwa ia dan rekan-rekan aktivisnya melihat misi mereka sebagai upaya untuk membuka Gaza kepada dunia.

”Yang penting bukan hanya bantuan itu sendiri, meskipun penting, melainkan perubahan struktural yang diwakilinya. Ini juga tentang menantang kerja sama pemerintah kita sendiri dengan kebijakan-kebijakan ini,” kata Gallina kepada AP.

People hold a protest against the recent interception of the Global Solidarity Flotilla by the Israeli Navy near Cyprus outside the Ministry of Foreign Affairs in Athens on May 18, 2026. Israeli forces intercepted a Gaza-bound aid flotilla on May 18, 2026 after it sailed from Turkey the previous week, with Prime Minister Benjamin Netanyahu denouncing the mission as a "malicious scheme" intended to support Hamas, as the Global Sumud Flotilla vessels mark the latest in a series of attempts by activists to breach Israel's blockade of the Palestinian territory, with the last convoy intercepted by Israeli forces the previous month. (Photo by Aggelos NAKKAS / AFP)

Senin lalu, Kemenlu Israel mengatakan, mereka tidak akan mengizinkan pelanggaran apa pun terhadap blokade angkatan laut yang sah di Gaza. Israel mempertahankan blokade laut terhadap Gaza sejak Hamas menguasai wilayah tersebut pada tahun 2007.

Otoritas Israel memperketat blokade setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang Israel dan menyandera lebih dari 250 warga Israel.

Serangan balasan Israel menyebabkan lebih dari 2 juta penduduk Gaza mengungsi dan lebih dari 70.000 orang lainnya tewas. Banyak di antara pengungsi tinggal di rumah-rumah yang hancur akibat bom dan tenda-tenda darurat yang didirikan di lahan terbuka, pinggir jalan, atau di atas reruntuhan bangunan yang hancur.

Israel mengendalikan semua akses ke Jalur Gaza, termasuk bantuan kemanusiaan. Meskipun gencatan senjata tercapai pada Oktober 2025, namun bantuan kemanusiaan bagi Gaza masih tidak mencukupi.

Badan pertahanan Israel yang mengawasi bantuan kemanusiaan ke Gaza mengklaim bahwa bantuan dalam jumlah cukup telah masuk ke wilayah Gaza. Sekitar 600 truk mengirimkan bantuan setiap hari atau berjumlah sama dengan jumlah truk yang masuk sebelum perang.

Namun, menurut laporan Program Pangan Dunia PBB (WFP), jumlah truk kemanusiaan dan komersial yang masuk ke Gaza menurun tajam pada Maret 2026 dibandingkan bulan-bulan sebelumnya setelah dimulainya perang Iran. Rata-rata 112 truk masuk setiap hari pada bulan Maret.

Global Sumud Flotilla menanggapi langsung seruan warga Palestina di Gaza. Global Sumud menggerakkan mereka yang peduli Palestina untuk mengirimkan bantuan.

Pelayaran ke Gaza yang dimulai dari Turki selatan pada Kamis (14/5/2026) merupakan pelayaran Global Sumud yang ketiga kalinya. Sebelumnya, upaya untuk mengirimkan bantuan ke Gaza juga dicegat oleh Israel di perairan internasional. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan