Israel dalam Perang Narasi di Perseteruan UAE-Arab Saudi

Arab Saudi dan negara Arab lain menuding Uni Emirat Arab jadi kaki tangan Israel. Abu Dhabi menyangkal sembari terus akrab dengan Israel.

24 Feb 2026 10:15 WIB · Internasional

Oleh Irene Sarwindaningrum

Perang narasi sengit mewarnai perseteruan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang kian meruncing. Tuduhan Uni Emirat Arab mendukung Israel digaungkan pihak pro-Saudi. Sementara itu, tuduhan Riyadh mendukung ekstremis disuarakan pihak pro-Emirat.

Perang narasi itu muncul dalam analisis sosiolog Mira al-Hussein, peneliti di The Alwaleed Centre, University of Edinburgh, di majalah +972, Selasa (19/2/2026), dan media The Economist, Minggu (17/2/2026).

Tudingan bahwa Abu Dhabi bertindak sebagai proksi Israel dan kuda troya Israel digunakan dalam kampanye media di Arab Saudi. Salah satunya tulisan Ahmed al-Tuwaijri yang terbit dalam artikel opini daring di media Saudi Al-Jazirah akhir Januari 2026.

Dalam artikel itu, akademisi Saudi yang pernah menjabat dekan di King Saud University dan anggota Dewan Syura Saudi memulai dengan bersahabat. Ia menulis rakyat Arab Saudi tidak menyimpan apa pun selain kasih sayang, persaudaraan, dan penghormatan kepada rakyat Uni Emirat Arab (UEA).

Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan saat berbincang-bincang dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman al-Saud, di Abu Dhabi, UAE, 22 November 2018.

Lalu, ia menuding UEA terlalu dekat dengan Israel. ”UEA telah melemparkan dirinya ke pelukan zionisme dan (menerima) bahwa Emirat menjadi kuda troya Israel di dunia Arab demi meraih pengaruh regional dan melemahkan Saudi,” katanya.

Tulisan itu disambut luas di Timur Tengah dan Afrika Utara. Tulisan itu juga mengguncang UEA.

Quote

Untuk pertama kalinya, proyek Israel mengenakan abaya Arab.

Namun, reaksinya bukan dari UEA. Jurnalis Israel, Barak Ravid, menyebarluaskan tulisan itu ke media sosial. Ravid menuding media Arab Saudi mempromosikan sentimen anti-Israel dan anti-Kesepakatan Ibrahim alias Abraham Accord.

Lalu, seperti halnya orang lain di Israel, tak lupa Ravid menempelkan tudingan antisemit. ”Jelas ini datang dari atas,” cuitnya.

Balai kota di kota pesisir Israel Tel Aviv diterangi dengan warna bendera nasional Uni Emirat Arab (UAE), Kamis (13/8/2020). - Israel dan UAE setuju untuk menormalisasi hubungan mereka dalam kesepakatan penting yang ditengahi Amerika Serikat (AS). Kesepakatan ini adalah kesepakatan ketiga yang dicapai negara Yahudi itu dengan negara Arab. Perjanjian tersebut, diumumkan pertama kali oleh Presiden AS Donald Trump di Twitter. Menururt UEA kesepakatan ini akan membuat Israel menghentikan rencananya mencaplok sebagian besar Tepi Barat yang diduduki Israel. AFP/JACK GUEZ
<p>(FILES) In this file photo taken on September 15, 2020, Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu (L), US President Donald Trump, and UAE Foreign Minister Abdullah bin Zayed Al-Nahyan (R) participate in the signing of the Abraham Accords where the countries of Bahrain and the United Arab Emirates recognize Israel, at the White House in Washington, DC. – Trump announced on December 10, 2020, that Morocco is now the fourth Arab state this year to recognize Israel in a diplomatic breakthrough that also sees Washington backing Moroccan rule over the disputed Western Sahara region. (Photo by SAUL LOEB / AFP)</p>

Setelah unggahan Ravid itu, artikel Al-Tuwaijri sempat dihapus. ”Hal itu membuat Saudi tampak seolah goyah,” tulis Mira al-Hussein di +972.

Namun, beberapa jam kemudian artikel itu diterbitkan ulang. Langkah itu muncul setelah Anti-Defamation League (ADL) mengecam ”suara-suara Saudi terkemuka” karena mereka nilai melontarkan pernyataan anti-Israel. ADL adalah organisasi advokasi AS yang fokus pada isu antisemitisme.

Penerbitan ulang artikel Al-Tuwajiri terbaca sebagai sikap menantang Arab Saudi terhadap tekanan narasi yang muncul. Dalam beberapa hari berikutnya, retorika anti-Saudi disebut meningkat, baik di dalam UEA maupun di media Barat yang pro-Israel.

Di Saudi, Al-Tuwaijri bukan satu-satunya. Sejumlah analis Saudi bermunculan menyoroti kedekatan hubungan UEA-Israel.

Dalam wawancara dengan media DW Arabic, misalnya, komentar analis Saudi Munif Ammash Alharbi begitu satir dan sinis. ”Untuk pertama kalinya, proyek Israel mengenakan abaya Arab,” katanya.

Quote

Di depan publik internasional berbahasa Inggris, tokoh-tokoh Emirat menegaskan komitmen pada Kesepakatan Abraham dan memerangi radikalisme.

Ia juga menuduh UEA menopang milisi dan merongrong Yaman, Sudan, Libya, dan Somalia. Sementara di UEA beredar tuduhan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman terlalu dekat dengan kelompok Islamis.

Women in Saudi National flag colours and logo outfit, perform during Saudi National Day celebrations at the Bluewaters Island in Dubai, United Arab Emirates, Friday, Sept. 20, 2019. UAE celebrates the Saudi Arabia's 89th National Day on Sept. 23. (AP Photo/Kamran Jebreili)
This handout picture released by the official Saudi Press Agency (SPA) shows Saudi Arabia's Crown Prince Mohammed bin Salman attending the 2025 Arab-Islamic emergency summit in Doha on September 15, 2025. The September 15 summit in Doha between Arab and Muslim leaders will consider "a draft resolution on the Israeli attack on the State of Qatar" and to show solidarity with the Gulf state. (Photo by Saudi Press Agency / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / SPA" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Bagi pejabat UEA, tuduhan jadi kaki tangan Israel membuat gerah. Mereka bersikeras UEA adalah aktor berdaulat yang kepentingannya kadang sejalan dengan Israel. Abu Dhabi dinyatakan bukan perpanjangan tangan Tel Aviv.

Namun, tudingan itu menguat lagi setelah komentar Senator Amerika Serikat (AS) Lindsey Graham di Tel Aviv, Israel. ”Bibi ingin saya menyampaikan kepada pers bahwa dia takjub dengan tingkat kerja sama, dan arti penting kemitraan Uni Emirat Arab dengan Israel, bahwa MBZ (Presiden UEA Mohammed bin Zayed) melakukan semua yang diminta, bahkan lebih,” kata senator Republikan itu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ikut menanggapi. ”Kami mengharapkan siapa pun yang menginginkan normalisasi atau perdamaian dengan kami agar tidak berpartisipasi dalam upaya yang diarahkan oleh kekuatan atau ideologi yang menginginkan kebalikan dari perdamaian,” katanya.

Dalam pandangan mayoritas warga di kawasan yang anti-Israel, narasi ini mendeligitimasi Abu Dhabi. Sementara dalam UEA, argumen anti-Israel juga beredar kencang.

Sejumlah siniar di UEA bernada julid terhadap Israel. Salah satunya siniar berjudul ”Bagaimana Israel Akan Berakhir?” dengan narasumber penulis Mesir, Osama el-Shazly.

Contoh lain adalah episode siniar dengan penulis Irak, Khazal al-Majidi. Di sana dibahas Israel ingin menguasai seluruh dunia Arab. Padahal, tidak ada bukti arkeologis yang menghubungkan Israel dengan Palestina.

Bagi Mira al-Hussein, hal ini justru menunjukkan strategi kekuatan lunak UEA dalam mengelola narasi secara luwes. ”Di depan publik internasional berbahasa Inggris, tokoh-tokoh Emirat menegaskan komitmen pada Kesepakatan Abraham dan memerangi radikalisme. Akan tetapi, di ranah domestik, narasi yang beredar lebih dekat dengan sentimen populer Arab, termasuk kritik keras terhadap Israel,” tulisnya.

In this photo provided by the Saudi Ministry of Media, Arab leaders from left to right, Bahrain Crown Prince Salman bin Hamad Al Khalifa, Qatar's Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, United Arab Emirates President Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Saudi Crown Prince Mohammed bin Salman, Emir of Kuwait Mishal Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah, King Abdullah II bin Al-Hussein of Jordan, Egyptian President Abdel Fattah el-Sissi, Jordan Crown Prince Hussein bin Abdullah, and UAE's National Security Advisor Sheikh Tahnoun bin Zayed al-Nahyan pose for a picture during their meeting in Riyadh, Saudi Arabia, Friday, Feb. 21, 2025. (Saudi Ministry of Media via AP)
Peta Negara-negara Arab Teluk

Keretakan

Sejak akhir 2025, keretakan Saudi-UEA kian nyata. Api keretakan dua negara itu menyala dalam serangan bom Saudi ke Pelabuhan Mukalla di Yaman, Desember 2025. Serangan itu terjadi setelah kelompok separatis Dewan Transisi Selatan atau Southern Transitional Council (STC) menyerang Hadramaut, yang berbatasan langsung dengan Saudi.

Abu Dhabi menyangkal semua tuduhan mengirim senjata ke STC. Setelah upaya deeskalasi Saudi dengan STC gagal, Riyadh bergerak memutus dukungan militer UEA yang dipandang sebagai urat nadi utama STC. UEA didorong ke luar Yaman.

This frame grab from video broadcast by Saudi state television on Tuesday, Dec. 30, 2025, shows what the kingdom describes as a shipment of weapons and armored vehicles coming from the United Arab Emirates, at Mukalla, Yemen. (Saudi state television via AP)
Fighters said to be backed by the Saudi-led coalition drive through the streets of the port city of Aden on January 8, 2026, the day after it was annouced that Yemen's separatist leader had fled to the United Arab Emirates. A Saudi-led coalition struck the home province of Yemen's UAE-backed separatist Southern Transitional Council (STC) leader on January 7, 2026, after he failed to show up for talks in Saudi Arabia, kicking him out of Yemen's Presidential Leadership Council and accusing him of high treason, while the Saudi coalition bombed his home province after he refused to attend talks in Riyadh. (Photo by SALEH AL-OBEIDI / AFP)

Dari Yaman, perseteruan merembet ke Sudan dan Somalia. Saudi meningkatkan dukungan kepada Angkatan Bersenjata Sudan melawan Rapid Support Forces (RSF). Sementara itu, UEA lagi-lagi membantah tuduhan mendukung RSF.

Saudi juga memperkuat otoritas pemerintah pusat Somalia. Dukungan itu disebut mendorong Mogadishu membatalkan perjanjian-perjanjian dengan UEA.

Rivalitas Riyadh dan Abu Dhabi meluas ke koridor Laut Merah-Teluk Aden hingga Tanduk Afrika. Perseteruan dua raksasa ekonomi Teluk itu menjalar hingga dalam ketegangan Etiopia-Eritrea.

Para petempur  Pasukan Sabuk Keamanan dukungan Uni Emirat Arab (UEA), yang didominasi para anggota Dewan Transisi Selatan (STC), mengendarai tank di kota Shuqrah, sebelah timur Aden, Yaman selatan, Selasa (27/8/2019). Yaman merupakan salah satu wilayah jangkauan kekuatan politik UEA yang agresif melebarkan pengaruh di kawasan sejak revolusi rakyat melanda dunia Arab pada  2011.
<p>Map locating Aden in Yemen and the international airport hit by deadly explosions on Wednesday. &#8211; AFP / AFP</p>

Seiring rivalitas Arab Saudi-UEA, media negara masing-masing menjadi sangat terpolarisasi dan menjadi medan perang narasi. Saluran milik Saudi, Al-Arabiya, misalnya, kerap menayangkan narasi soal peran UEA yang dianggap mengakibatkan destabilisasi di kawasan.

Di sisi lain, media hasil patungan jaringan Sky dan pemerintah Abu Dhabi, Sky News Arabia, mendorong narasi tandingan, yakni soal pemberantasan terorisme dan radikalisme.

The Economist menulis, UEA memusuhi Islam politik, sementara Saudi dinilai lebih bersedia menoleransi kelompok Islamis.

Perseteruan Arab Saudi-UEA dinilai berbahaya. Salah satunya disebut memperparah konflik di kawasan. Sebab, Saudi dan UEA merupakan dua kekuatan utama Teluk. Selama puluhan tahun, dua negara itu menjadi mitra dekat. Arab Saudi dan UEA sama-sama anggota kunci Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dan OPEC.

UEA merupakan pasar ekspor barang terbesar kelima bagi Saudi, sedangkan Saudi berada di peringkat kesembilan bagi UEA. Nilai perdagangan bilateral keduanya disebut mencapai 31 miliar dolar AS per tahun.

<p>(FILES) This file photo taken on December 16, 2020, shows a partial view the King Abdullah Financial District in Riyadh, the Saudi Arabian capital and main financial hub. &#8211; Dangling off sun-dappled skyscrapers, construction workers put finishing touches to a long-delayed financial district in Riyadh that is taking centre stage as competition heats up with Dubai to attract foreign firms. (Photo by Fayez Nureldine / AFP)</p>

Mediasi buntu

Pernah diboikot UEA dan Arab Saudi, Qatar kini mencoba memediasi dua tetangganya itu. Emir Qatar disebut bertemu Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman pada 4 Februari. Setelah itu, ia datang ke MBZ di Abu Dhabi.

Bahrain, Mesir, dan Turki juga disebut berupaya membantu diplomasi. Akan tetapi, hingga pertengahan Februari, mediasi masih buntu.

Presiden AS Donald Trump, yang merupakan sekutu dekat UEA dan Saudi, tampaknya tak mau terlibat. Padahal, ia pernah mengklaim dapat menyelesaikan ketegangan itu dengan sangat mudah.

Dalam editorial yang terbit Kamis (19/2/2026), The Economist menilai perseteruan Saudi-UEA telah berkembang menjadi rivalitas berbahaya. Kondisi ini diperparah perang narasi dan penggunaan aktor proksi di konflik regional. Pola kebijakan yang tertutup dan saling dukung pihak bersenjata berisiko memperpanjang konflik di kawasan, seperti di Sudan, dan memicu instabilitas lebih luas. (REUTERS/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji