Upaya Israel menguasai kembali koridor Netzarim dianggap sebagai invasi darat. Tindakan Israel itu dinilai menyeret Israel dan Hamas ke perang habis-habisan
20 Mar 2025 09:30 WIB · Internasional
DEIR AL-BALAH, KAMIS — Setelah mengebom berbagai penjuru Gaza, Israel kembali menempatkan pasukan di wilayah itu. Pasukan Israel kini kembali berada di Koridor Netzarim yang membelah Gaza selatan dan utara.
Israel mengumumkan pendudukan ulang itu pada Rabu (18/3/2025) malam. Pasukan pendudukan Israel juga akan terus dikirim sampai mencapai Rafah.
Israel menarik pasukan dari Gaza sesuai gencatan senjata pada 19 Januari-1 Maret 2025. Selama gencatan senjata berlangsung, Israel berulang kali menyerang Gaza. Lalu, pada Selasa-Rabu pekan ini, Israel mengebom berbagai penjuru Gaza.
Media Al Jazeera, Kamis (20/3/2025), melaporkan, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata tahap I, Israel menarik pasukannya dari koridor Netzarim. Koridor ini berfungsi sebagai zona militer Israel, sekaligus membagi Jalur Gaza menjadi Gaza utara dan selatan.
Dalam gencatan senjata tahap I, warga Palestina di Gaza selatan dimungkinkan melakukan perjalanan di bagian utara Jalur Gaza untuk menemui anggota keluarga yang tersisa. Demikian juga warga yang ada di utara Jalur Gaza bisa melakukan perjalanan ke tengah Gaza. Bantuan kemanusiaan juga lebih banyak yang masuk ke Jalur Gaza.
Dengan perebutan kembali Koridor Netzarim, warga pengungsi Palestina tidak bisa kembali ke rumah mereka. Seiring dengan perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang jalan di tempat, kehadiran kembali militer Israel di koridor tersebut dinilai setara dengan invasi darat.
Hal itu diperjelas dalam pernyataan militer Israel. Militer Israel atau tzahal menyatakan, pendudukan ulang Koridor Netzarim akan menjadi bagian dari titik awal atau titik peluncuran bagi pasukan pendudukan untuk melakukan operasi militer di area tersebut.
Koridor itu baru diciptakan Israel setelah mulai menyerbu dan menghancurkan Gaza pada Oktober 2023. Membentang enam kilometer dari laut sampai ke perbatasan Israel-Gaza, koridor itu menduduki kawasan utama Gaza
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/20/2c5be92b-6846-4bf9-8cf6-7e4501814be8_jpg.jpg)
Tindakan Israel menguasai kembali Koridor Netzarim juga dianggap sebagai pendudukan kembali wilayah Palestina. Tindakan Israel itu akan kembali menyebabkan pengungsian lebih lanjut dan isolasi antara dua bagian Jalur Gaza.
Israel Katz, Menteri Pertahanan Israel, pada Rabu (19/3/2025) memperingatkan, serangan itu sebagai langkah menekan Hamas untuk membebaskan para sandera Israel dan menyerahkan kendali Gaza. Ia juga menyatakan Israel sedang bersiap meningkatkan serangan barunya.
”Jika para sandera (Israel) yang ditahan Hamas di Gaza tidak dibebaskan, Israel akan bertindak dengan intensitas yang belum pernah Anda lihat,” tegas Katz.
Juru Bicara Hamas, Abdel-Latif al-Qanou, mengatakan, tindakan Militer Israel di Gaza merupakan tanda jelas bahwa Israel telah menarik diri dari gencatan senjata dan memberlakukan kembali pengepungan atau ”blokade”.
Hamas dilaporkan belum menanggapi serangan Israel pada Selasa-Rabu itu. Akan tetapi tindakan Israel mengancam akan menyeret Hamas dan Israel kembali ke dalam perang habis-habisan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/20/5646d462-005d-43aa-8f1f-375a2973e9a8_jpg.jpg)
Di Israel, dimulainya kembali serangan udara oleh Israel menimbulkan kekhawatiran tentang nasib sekitar dua lusin sandera yang masih ditahan oleh Hamas. Mereka diyakini masih hidup.
Ribuan warga Israel ikut serta dalam demonstrasi antipemerintah di Jerusalem. Mereka menyerukan kesepakatan untuk membawa pulang para tawanan.
Ori Goldberg, analis politik Israel, kepada Al Jazeera mengatakan, eskalasi Israel terbaru di Gaza didorong pertimbangan politik dalam negeri tetapi tidak memiliki strategi jangka panjang. ”Saya tidak berpikir Netanyahu sedang menghitung, saya pikir Netanyahu berkomitmen pada tindakan yang berbicara tentang eskalasi yang konstan, dan saya pikir ini adalah langkah selanjutnya,” kata Goldberg.
”Ini tidak berbeda dari apa pun yang telah dilakukan Israel, dan tidak ada kebaikan atau pertimbangan sebelumnya dalam langkah ini kecuali melakukan langkah itu sendiri. Israel perlu dianggap aktif. Saya pikir itulah yang paling utama dalam pikiran perdana menteri,” imbuh Goldberg.
Goldberg menambahkan bahwa setiap pembicaraan Israel tentang mengalahkan Hamas adalah khayalan. ”Tidak ada peluang nyata untuk mengalahkan Hamas. Pada dasarnya ini adalah permainan ayam, dan kedua belah pihak menunggu intervensi eksternal untuk menghentikan mereka dari menempuh jalan ini, yang jelas tidak produktif bagi keduanya,” katanya.
”Sejauh menyangkut Israel, ini adalah klaim yang diajukan berdasarkan retorika dan pertimbangan politik dalam negeri. Apa yang terjadi adalah tentang memutar balik waktu dan berpura-pura bahwa satu setengah bulan terakhir tidak benar-benar terjadi,” imbuh Goldberg.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/20/762fd6f8-dbb7-4591-b370-c22eb71e4ad7_jpg.jpg)
Pendapat Goldberg itu senada dengan pemikiran HA Hellyer, analis politik pada Royal United Services Institute di London dan Center for American Progress di Washington DC. ”Dimulainya kembali serangan Israel ke Gaza tidak akan berhasil mengalahkan Hamas sebagaimana perang selama 16 bulan juga gagal melakukannya,” kata Hellyer.
”Saya pikir apa yang Anda lihat dengan komitmen ulang pasukan darat yang berbeda ini adalah keinginan Tel Aviv untuk memutar balik waktu pada bulan terakhir atau lebih,” kata Hellyer kepada Al Jazeera.
Hellyer menambahkan, dengan penguasaan kembali Koridor Netzarim, semua pihak akan melihat Koridor Netzarim sebagai area militer lagi. ”Anda akan melihat warga Palestina dipaksa pindah dari utara kembali ke selatan,” jelasnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/20/54de19d4-317d-41ee-9aec-cad07da95303_jpg.jpg)
Namun, imbuhnya, satu-satunya hal yang dapat mengubah dinamika di lapangan secara signifikan adalah solusi politik. Hal ini tampaknya tidak diinginkan Israel.
”Jika akan ada alternatif bagi Hamas di Gaza, itu bukan karena pengeboman oleh tentara Israel. Itu akan terjadi karena alternatif politik yang akan mengambil alih. Dan sejauh ini, posisi Israel adalah memveto alternatif tersebut,” kata Hellyer.
Sementara, seiring dengan meningkatnya serangan Israel ke Gaza, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendapati ada tujuh aktivitas Israel di Lebanon selatan. Kegiatan militer Israel itu melanggar resolusi PBB.
Wakil Juru Bicara PBB Farhan Haq mengatakan, aktivitas tersebut terjadi di utara Israel, wilayah yang ditetapkan PBB antara Israel dan Lebanon. Resolusi Dewan Keamanan PBB (DK PBB) tahun 2006 mengharuskan pasukan Israel untuk tetap berada di selatan batas yang dikenal sebagai Garis Biru.
Pasukan penjaga perdamaian PBB atau UNIFIL menegaskan kembali seruannya agar Israel sepenuhnya menarik diri dari Lebanon selatan sehingga tentara Lebanon dapat dikerahkan ke seluruh wilayah tersebut, kata Haq.
Dalam insiden lain, kata Haq, pasukan UNIFIL menemukan peluncur roket, granat berpeluncur roket, dan senjata serta amunisi tak berizin lainnya di tujuh lokasi berbeda di Lebanon selatan. ”Semua penemuan tersebut dilaporkan kepada Angkatan Darat Lebanon untuk ditindaklanjuti,” kata Haq.
Selain itu, pada Rabu pagi waktu setempat, Israel juga menyerang wilayah utara Jalur Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, 17 orang tewas.
Jumlah itu menambah angka kematian warga Gaza yang sebelumnya tewas akibat serangan Israel pada Selasa pagi. Dalam serangan udara Selasa pagi, 400 orang lebih tewas dan 678 orang terluka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/20/ab871028-cd70-4ad7-9c2e-ad941ac7065f_jpg.jpg)
Terpisah, Presiden Perancis Emmanuel Macron saat menerima kunjungan Raja Jordania Abdullah II ke Perancis dalam pernyataan bersama menyerukan agar permusuhan Israel-Hamas segera diakhiri. Keduanya juga menyerukan agar segera dimulainya kembali perundingan, termasuk dengan Pemerintah AS, menuju gencatan senjata permanen dan pembebasan semua sandera.
Kedua pemimpin itu juga mengharapkan Israel mengizinkan bantuan kemanusiaan bisa masuk kembali ke Gaza, serta memulihkan akses air dan listrik di wilayah Palestina.(AP)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari