Israel Culik Greta Thunberg yang Bawa Bantuan ke Gaza

Tentara Israel menyerbu kapal pengangkut bantuan ke Gaza. Salah satu penumpang kapal adalah Greta Thunberg.

09 Jun 2025 11:33 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

GAZA, SENIN — Tentara Israel menyerbu MV Madleen yang tengah mengantar bantuan ke Gaza. Mereka menculik aktivis Swedia, Greta Thunberg, yang berada di kapal itu bersama beberapa orang lain. Serbuan dilancarkan di perairan internasional.

Dalam pernyataan Freedom Flotilla Coalition (FFC), yang mengirimkan kapal itu, tentara Israel menyerbu pada Senin (9/6/2025) pagi WIB. ”Saya Greta Thunberg. Saya dari Swedia. Jika Anda melihat video ini, kami telah dicegat dan diculik di perairan internasional oleh tentara pendudukan Israel,” kata Thunberg dalam video yang disiarkan FFC pada Senin pagi.

Selepas pukul 06.00 WIB, FFC mengabarkan ada pesawat nirawak di atas MV Madleen. Pesawat itu mengacak sinyal dan menyemprotkan cairan yang membuat mata serta hidung perih.

Setelah itu, komunikasi FFC dengan MV Madleen terhenti. FFC lantas menyiarkan video-video yang direkam Thunberg dan orang lain di kapal itu sebelum tentara Israel menyerbu.

”Kami tidak bersenjata. Yang ada hanya bantuan kemanusiaan,” kata anggota Parlemen Eropa Rima Hassan, yang ikut dalam perjalanan itu. Dia menyatakan, bantuan kemanusiaan akan tetap berupaya dikirimkan ke Gaza tanpa batas waktu tertentu.

Juru bicara FFC, Mahmud Abu-Odeh, mengatakan, tidak ada kejelasan nasib orang-orang di kapal itu. Diduga kuat, mereka diculik di perairan internasional. ”Kapal dimasuki secara ilegal, awaknya yang tidak bersenjata diculik, dan muatan kemanusiaan—termasuk susu bayi, makanan, dan obat-obatan—disita,” demikian pernyataan FFC.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Minggu dini hari telah memerintahkan militer Israel mencegat kapal itu. Pencegatan dinyatakan mencegah kapal melanggar blokade laut yang sudah puluhan tahun diterapkan Israel terhadap Gaza. Blokade itu semakin diketatkan sejak Israel menyerbu Gaza pada Oktober 2023.

Sementara Kementerian Luar Negeri Israel pada Senin menyatakan, MV Madleen dibawa ke Israel. ”Penumpang diharapkan pulang ke negara masing-masing,” demikian pernyataan Kemenlu Israel seraya menyebut pelayaran itu hanya mencari sensasi.

Militer Israel berulang kali menyerbu kapal-kapal FFC. Sebelum MV Madleen, FFC berusaha mengirimkan Mv Conscience pada Mei 2025. Kapal itu diserbu pasukan tanpa identitas begitu meninggalkan Malta.

Sementara 15 tahun lalu, MV Mavi Marmara ditembaki Israel pada Mei 2010. Selain merusak kapal, serangan itu menewaskan sembilan penggiat kemanusiaan di MV Mavi Marmara. Sampai sekarang, tidak ada bukti ada sanksi apa pun terhadap pelaku serangan.

Seluruh misi FFC, yang beberapa kali mencoba mengirimkan kapal ke Gaza, fokus menerobos blokade laut. Sejak Hamas menang pemilu di Gaza 19 tahun lalu, Israel mengetatkan blokade laut. Alasannya, mencegah persenjataan masuk ke Gaza.

Blokade laut membuat jalur pasokan aneka hal ke Gaza hanya lewat Mesir atau Israel. Pintu pelintasan Rafah, yang menghubungkan Gaza-Mesir, telah diduduki Israel sejak serbuan Oktober 2023. Sementara pintu-pintu lain telah lama ditutup warga dan tentara Israel.

Berbagai kelompok warga Israel menghadang setiap truk bantuan yang akan masuk Gaza melalui perbatasan Gaza-Israel. Sementara pemerintah Israel dengan sengaja melarang truk-truk itu.

Saat bantuan masuk, kelompok bersenjata sokongan Israel menjarahnya. Laporan The Guardian dan Arab News memperincikan relasi kelompok itu dengan Israel.

Bahkan, mantan Menhan Israel Avigdor Lieberman memaparkan bukti pasokan senjata Israel ke kelompok itu. Ia menyebut, pasokan disalurkan atas perintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kelompok itu dinyatakan didorong mengalahkan Hamas serta kelompok-kelompok lain yang melawan penjajahan Israel.

PHOTO TAKEN DURING A CONTROLLED EMBED TOUR WITH THE ISRAELI ARMY AND SUBSEQUENTLY EDITED UNDER MILITARY SUPERVISION -- This picture taken on June 8, 2025, shows Israeli soldiers going through an emergency entrance into the European Hospital during a controlled embed organised by the Israeli military, in Khan Yunis in the Gaza Strip. Israel on June 8 ordered the military to stop a humanitarian ship carrying activists, including Swedish climate campaigner Greta Thunberg, breaking the blockade of the war-ravaged Gaza Strip. (Photo by Sharon ARONOWICZ / AFP)

Serbuan rumah sakit

Sementara pada Minggu, Israel mengajak sejumlah jurnalis ke Rumah Sakit Eropa di Khan Younis, Gaza. Menurut militer Israel, Tzahal, rumah sakit itu jadi tempat persembunyian para pemimpin Hamas. Salah satunya Mohammad Sinwar, adik mendiang Yahya Sinwar dan meneruskan kepemimpinan Hamas.

Tzahal mengizinkan jurnalis menyiarkan video dan foto dari dalam rumah sakit itu. Syaratnya, video dan foto harus diperiksa dan disensor Tzahal sebelum disiarkan.

Tzahal menyerbu rumah sakit itu beberapa waktu lalu. Alasannya, Sinwar dan sejumlah pemimpin Hamas ada di sana. Menurut Tzahal, serangan itu dibenarkan.

Juru bicara Tzahal, Brigadir Jenderal Effie Defrin, menyebut bahwa Mohammad Sinwar tewas dalam rumah sakit itu. Ia tidak menunjukkan bukti penguat.

Ruangan-ruangan bawah tanah yang ada di bawah gedung rumah sakit itu diklaim Israel sebagai kompleks komando dan kontrol utama Hamas. Di ruangan kecil tempat Sinwar dan sejumlah pemimpin militer terbunuh, menurut laporan The New York Times, masih terlihat utuh.

Dindingnya tampak tidak rusak. Kasur, pakaian, dan seprai masih terlihat rapi meski Israel mengklaim Sinwar dan koleganya terbunuh akibat serangan senjata berat ke yang menyasar lokasi itu. Bahkan, senapan milik militer Israel yang diklaim dicuri oleh Sinwar masih terkait di salah satu sudut ruangan.

Israeli soldiers take up position at the European Hospital in Khan Younis, southern Gaza, where the military claims that Hamas militants operated in a tunnel beneath the facility, on Sunday, June 8, 2025. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Defrin tidak bisa memberikan penjelasan lebih jauh bagaimana serangan itu menewaskan Sinwar. Dia tidak memberikan jawaban yang pasti. Dia menduga Sinwar dan para pemimpin Hamas tewas akibat gas yang mungkin timbul dalam serangan itu atau gelombang kejut ledakan.

Di dalam ruangan bawah tanah itu militer Israel mengklaim menemukan persediaan senjata, amunisi, uang tunai, dan sejumlah dokumen. ”Kami akan membubarkan Hamas karena kami tidak dapat hidup dengan organisasi teror ini tepat di halaman belakang rumah kami, tepat di seberang perbatasan kami,” kata Defrin.

Juru Bicara Tzahal sebelum Defrin juga pernah menunjukkan ruang bawah tanah yang diklaim tempat persembunyian Hamas. Ditunjukkan pula tulisan di dinding yang disebut daftar anggota Hamas dan pejuang Palestina.

Belakangan, terungkap ruangan itu gudang-gudang rumah sakit. Sementara tulisan di dinding merupakan jadwal jaga dokter dan perawat. Terungkap pula, Israel sengaja meletakkan sejumlah benda dalam ruangan yang ditunjukkan ke publik.

Bantuan kemanusiaan

Bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza sangat dibutuhkan. Kini, Israel bersama kelompok tentara bayaran Amerika Serikat mengendalikan distribusi makanan dan aneka kebutuhan lain di Gaza.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai lembaga lain berulang kali menyebut, kelaparan akut melanda hampir semua populasi yang tersisa di Gaza. Berulang kali beredar foto dan video anak Gaza terlihat tulang rusuknya karena terlalu kurus.

Proses distribusi pangan oleh Israel-AS juga terus memakan korban. Dalam sepekan terakhir saja, berulang kali Israel menembaki warga yang mendekati titik distribusi. Lebih dari 200 orang tewas akibat rangkaian penembakan itu.

Warga membawa karung dan kardus berisi bantuan makanan yang dibagikan oleh yayasan Amerika Serikat-Israel, GHF, di sebuah lokasi di Gaza tengah, Mingu (8/6/2025).

Sedikitnya 12 warga Palestina yang berupaya mendapat bahan makanan tewas setelah militer Israel menembaki mereka, Minggu. Saat itu mereka tengah menuju dua titik distribusi bantuan milik Gaza Humanitarian Foundation (GHF). Militer Israel mengklaim mereka melepaskan tembakan kepada warga yang mendekati pasukannya.

Seorang saksi mata, Abdallah Nour al-Din, mengatakan, warga mulai berkumpul di wilaah Al-Alam Rafah dini hari dan bergerak menuju titik lokasi yang diperkirakan akan menjadi pusat pembagian bantuan. ”Setelah sekitar satu setengah jam, ratusan orang bergerak menuju lokasi dan tentara melepaskan tembakan,” katanya.

Sebelas jasad warga yang tewas ditembak militer Israel dibawa ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Saksi mata menyebut mereka menjadi korban penembakan di lokasi pembagian milik GHF di dekat Rafah, yang berjarak sekitar 1,5 kilometer.

Satu korban tewas lainnya dibawa ke RS Al-Awda, yang ditembak militer Israel di dekat titik distribusi GHF di Gaza tengah.

Sejumlah saksi menyebut penembakan pertama di Gaza selatan terjadi sekitar pukul 06.00 pagi ketika mereka diberi tahu bahwa lokasi itu akan dibuka. Banyak orang yang menuju ke sana lebih awal, mencari makanan yang sangat dibutuhkan sebelum kerumunan orang tiba.

Adham Dahman, yang berada di Rumah Sakit Nasser dengan perban di dagunya, mengatakan, sebuah tank menembaki mereka. ”Kami tidak tahu bagaimana cara melarikan diri,” katanya. ”Ini jebakan bagi kami, bukan bantuan.”

Warga Palestina yang kelaparan mengangkut bahan makanan setelah menyerbu gudang Program Pangan Dunia di Deir el-Balah di Jalur Gaza tengah pada 28 Mei 2025.

Saksi lainnya, Zahed Ben Hassan, menuturkan, seseorang di sebelahnya tertembak di bagian kepala. ”Mereka mengatakan, itu adalah area aman dari pukul 06.00 pagi hingga 18.00 sore. Jadi, mengapa mereka mulai menembaki kami?” katanya. Dia menambahkan, militer Israel bisa melihat mereka dengan jelas meski cahaya padam.

Militer mengumumkan pada hari Jumat bahwa lokasi-lokasi tersebut akan dibuka selama jam-jam tersebut, dan area-area tersebut akan menjadi zona militer tertutup selama sisa waktu.

Secara keseluruhan, sedikitnya 108 jenazah dibawa ke rumah sakit di Gaza selama 24 jam terakhir, kata Kementerian Kesehatan Gaza. Selain korban tewas tidak jauh dari lokasi distribusi bahan makanan GHF, korban tewas lainnya berasal dari sejumlah titik di Gaza yang menjadi sasaran serbu IDF.

Seorang pejabat GHF dan militer Israel membantah terjadi kekerasan dan penembakan di dalam atau di sekitar lokasi distribusinya.

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .