Netanyahu tetap bersikeras menaklukkan Gaza dengan mengerahkan 60.000 tentara cadangan. Kementerian Pertahanan Israel sudah setuju membangun permukiman di Tepi Barat.
21 Agt 2025 08:46 WIB · Internasional
JERUSALEM, RABU — Israel melakukan dua langkah yang berpotensi besar meruntuhkan solusi dua negara. Kedua langkah itu adalah persetujuan pembangunan permukiman di Tepi Barat dan penaklukan Gaza dengan mengerahkan 60.000 anggota pasukan cadangan. Dunia mengecam rencana Israel itu.
Dilaporkan AFP pada Kamis (21/8/2025), warga meninggalkan kawasan Al-Zaytun, Sabra, dan Jabaliya di Gaza. Sebab, warga mendengar ledakan bom dan tembakan tiada henti dari pesawat dan pesawat nirawak Israel.
Sementara Al Jazeera melaporkan, Israel mengerahkan dua brigade infanteri di sekitar Gaza City. Militer Israel, Tzahal, juga mengirimkan satu brigade lain ke Khan Younis. Brigade itu disokong satuan kaveleri ringan dan pesawat nirawak.
Serangan di sejumlah wilayah tengah dan selatan Gaza dilaporkan terjadi selepas Israel mengumumkan gelombang serangan baru ke Gaza. "Tekanan global tidak berdampak pada strategi pemerintah Israel," kata Adel Abdel Ghafar, analis di Middle East Council on Global Affair, kepada Al Jazeera.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pendukungnya, kata Ghafar, tetap berkeras mengusir semua orang Palestina dari Gaza. Serangan tetap dilancarkan meski dilaporkan Hamas telah menyetujui usulan gencatan yang diajukan Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar.
Usulan itu mencakup pembebasan 10 sandera dari Gaza dan gencatan senjata 60 hari. ”Sekarang bolanya ada di Israel,” kata Menteri Luar Negeri Mesir Bader Abdelattay.
Dikabarkan, Komisi Perencanaan Kementerian Pertahanan Israel yang dipimpin Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyetujui rencana Proyek E1. Proyek itu berisi pengembangan permukiman di Tepi Barat yang diduduki Israel. Pengembangan itu akan membelah dan memisahkannya dari Jerusalem Timur.
Dikabarkan, Komisi Perencanaan Kementerian Pertahanan Israel yang dipimpin Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyetujui rencana Proyek E1. Proyek itu berisi pengembangan permukiman di Tepi Barat yang diduduki Israel. Pengembangan itu akan membelah dan memisahkannya dari Jerusalem Timur.
Selain proyek itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, Rabu (20/8/2025), menyetujui rencana militer untuk menaklukkan kota Gaza. Mengawali langkah itu, otoritas Israel mengizinkan pemanggilan sekitar 60.000 anggota pasukan cadangan. Ini memberikan tekanan tambahan bagi Hamas, sementara di sisi lain para mediator mendesak segera ada gencatan senjata.
Otoritas Palestina mengecam rencana Israel tersebut karena hal itu memperparah perpecahan. Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy juga khawatir rencana Israel itu akan merusak solusi dua negara. Melalui unggahan di X, Lammy mendesak Israel untuk membatalkan keputusan tersebut. Presiden Perancis Emmanuel Macron juga menilai Israel akan makin menyeret kawasan itu ke dalam perang permanen. Jerman sudah menolak eskalasi operasi militer Israel.
Bagi Hamas, rencana Israel itu jelas menunjukkan Israel tidak peduli pada upaya negosiasi gencatan senjata dan pembebasan sandera. Hamas menyetujui usulan gencatan senjata awal selama 60 hari, pembebasan sandera secara bertahap, pembebasan beberapa tahanan Palestina, dan ketentuan yang memungkinkan masuknya bantuan ke Gaza.
Israel dan Hamas sudah berunding secara tidak langsung dan terputus-putus sejak konflik terjadi. Hasilnya, dua gencatan senjata singkat di mana sandera Israel dibebaskan dengan imbalan tahanan Palestina. Dari 251 sandera yang disandera selama serangan Hamas pada Oktober 2023 yang memicu perang, 49 orang masih berada di Gaza, termasuk 27 orang yang, menurut Israel, sudah tewas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/6afd15e8ee1465f819ea6c75f9b7a534-Israel_Palestinians_Gaza.jpg)
Qatar, salah satu mediator dalam perundingan tersebut, mengatakan, usulan terbaru yang muncul ”hampir identik" dengan versi sebelumnya yang disepakati oleh Israel.
Netanyahu belum berkomentar secara terbuka mengenai rencana gencatan senjata tersebut. Namun, pada pekan lalu, ia mengatakan Israel akan menerima ”kesepakatan di mana semua sandera dibebaskan sekaligus dan sesuai dengan persyaratan Israel untuk mengakhiri perang”.
Militer Israel mengumumkan langkah pertama operasi untuk merebut kota Gaza dan memanggil 60.000 tentara cadangan. Operasi pendahuluan dan tahap pertama serangan terhadap Gaza sudah dilakukan. Saat ini, juru bicara militer Israel, Effie Defrin, mengatakan, pasukan Israel sudah menguasai pinggiran Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/25d6346c5bd834718818b546a6e2be48-Israel_Palestinians_Gaza_2.jpg)
Sebelumnya, Israel mengatakan, pasukan cadangan itu tidak akan bertugas hingga bulan September mendatang. Ini dianggap sebagai interval yang memberi mediator waktu untuk melanjutkan perundingan. Namun, Netanyahu kemudian mempercepat jadwal untuk menguasai benteng-benteng Hamas. Israel saat ini sudah menguasai sekitar 75 persen Jalur Gaza.
Netanyahu lebih mendengarkan sejumlah anggota sayap kanan koalisinya untuk menolak gencatan senjata sementara, melanjutkan perang, dan mengupayakan aneksasi Gaza. Pasukan Israel bentrok dengan 15 anggota Hamas yang muncul dari terowongan dan menyerang dengan tembakan dan rudal anti-tank di dekat Khan Younis, selatan Gaza.
Brigade Al-Qassam Hamas membenarkan informasi itu. Meski ada rencana penaklukan Gaza oleh Israel, banyak warga Gaza yang memilih untuk tetap tinggal di Gaza. Mereka khawatir tidak akan ada tempat yang aman lagi di Gaza. Mereka akan lebih kekurangan makanan, air dan kebutuhan hidup lainnya jika harus meninggalkan Gaza.
Apa yang dilakukan Netanyahu sudah tak selaras dengan keinginan rakyatnya. Jajak pendapat terbaru menunjukkan dukungan publik Israel yang kuat pada upaya mengakhiri perang. Unjuk rasa terus terjadi di Tel Aviv, mendesak pemerintah mengupayakan gencatan senjata.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/19/4cb9d965-87c9-4565-903f-50758f07d1ea_jpg.jpg)
Jajak pendapat Reuters/Ipsos terbaru terhadap warga Amerika Serikat juga menunjukkan 58 persen responden percaya bahwa setiap negara di Perserikatan Bangsa-Bangsa harus mengakui Palestina sebagai sebuah negara. Namun, lagi-lagi, Netanyahu tak peduli. Ia tetap menjalankan rencana menambah pasukan cadangan dan memperpanjang masa tugas 20.000 tentara cadangan yang sudah bertugas aktif.
Keluarga para sandera dan mantan kepala militer dan intelijen sudah menentang perluasan operasi di Gaza. Sebagian besar keluarga menginginkan gencatan senjata segera dan khawatir bahwa perluasan serangan malah akan membahayakan para sandera yang masih hidup.
Guy Poran, seorang pensiunan pilot angkatan udara yang mengorganisasi para veteran untuk berkampanye mengakhiri perang, mengatakan, banyak tentara cadangan kelelahan setelah menjalani tugas berulang kali dan kesal dengan mereka yang tidak dipanggil.
Seorang pejabat militer Israel, yang tak mau disebutkan namanya, mengatakan, pasukan Israel akan beroperasi di beberapa wilayah Gaza yang belum dipegang Israel dan di mana Israel yakin Hamas masih aktif. Pasukan Israel di wilayah Zeitoun di Gaza dan kamp pengungsi di Jabaliya sudah mempersiapkan landasan untuk operasi militer yang diperluas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/19/e7ed5f90-c2e9-4489-a442-edf72ec29ec8_jpg.jpg)
Meski jadwalnya belum jelas, Netanyahu sudah memerintahkan agar jadwal dipercepat. Kota Gaza diyakini Israel menjadi basis militer dan pemerintahan Hamas dan salah satu tempat perlindungan terakhir di Jalur Gaza. Pasukan Israel akan menargetkan jaringan terowongan bawah tanah Hamas.
Meski Israel telah menargetkan dan membunuh sebagian besar pimpinan senior Hamas, sebagian Hamas secara aktif berkumpul kembali dan melancarkan serangan, termasuk meluncurkan roket ke Israel. Dengan alasan itu, Israel masih terus saja menyerang Gaza.
”Sangat jelas bahwa hal ini hanya akan menciptakan pengungsian massal lagi bagi orang-orang yang telah berulang kali mengungsi sejak konflik ini dimulai,” kata juru bicara PBB, Stephane Dujarric. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan