Setelah gencatan senjata, Israel kembali menyerang Beirut. Israel juga terus menyerang wilayah selatan dan timur Lebanon.
07 Mei 2026 16:01 WIB · Internasional
AFP / KAWNAT HAJU
BEIRUT, KAMIS — Malek Ballout, komandan senior pasukan elite Radwan Hizbullah, tewas dalam serangan Israel di pinggiran selatan Beirut, Rabu (6/5/2026). Serangan itu merupakan serangan pertama Israel ke Beirut sejak berlangsungnya gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang dimulai 17 April 2026.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan, militer Israel memang menargetkan ”Komandan Pasukan Radwan Hizbullah”. Sumber AFP yang dekat dengan Hizbullah berbicara secara anonim dan mengonfirmasi kematian Ballout itu.
Menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon, NNA, pesawat tempur Israel melancarkan serangan, menargetkan wilayah Ghobeiri di pinggiran selatan. Serangan tersebut terjadi ketika Presiden AS Donald Trump mengatakan ada "peluang yang sangat baik" untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran.
Netanyahu mengatakan bahwa ia dan Menteri Pertahanan Israel Katz menginstruksikan tentara Israel untuk melakukan serangan tersebut. Sumber keamanan Lebanon berkata kepada AFP dengan syarat anonim bahwa serangan Israel menghantam sebuah apartemen tempat para pemimpin Radwan mengadakan pertemuan.
Seorang koresponden AFP melihat sebuah bangunan tertutup puing-puing setelah serangan itu. Sementara orang-orang meninggalkan daerah pinggiran selatan Beirut dengan barang-barang mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/2cd1e9bf-7cdc-40fa-a157-8efecb96eb7e.jpg)
Al Jazeera memberitakan, serangan ke pinggiran selatan Beirut ini merupakan serangan Israel yang pertama setelah gencatan senjata sempat disepakati. Diketahui, Hizbullah menyeret Lebanon ke dalam perang Timur Tengah pada bulan Maret, atau setelah serangan AS-Israel ke Iran.
Israel lantas melancarkan serangan di wilayah selatan dan timur Lebanon sejak 2 Maret. Serangan Israel itu menewaskan lebih dari 2.700 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi. Para pengungsi berasal dari Lebanon selatan dan timur serta pinggiran selatan Beirut.
Pada 17 April 2026 berlaku gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah. Selama gencatan senjata, terdapat kesepakatan tak tertulis bahwa Beirut tidak akan menjadi sasaran serangan.
Akan tetapi, setelah berlakunya gencatan senjata, Israel dan Hezbollah justru terus saling tuding bahwa masing-masing melanggar perjanjian gencatan senjata. Ketentuan gencatan senjata memungkinkan Israel untuk bertindak melawan "serangan yang direncanakan, akan segera terjadi, atau sedang berlangsung" oleh Hizbullah.
Israel diketahui berulang kali membombardir wilayah selatan Lebanon sejak gencatan senjata. Hizbullah membalas dengan melancarkan serangan terhadap pasukan Israel.
Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka memverifikasi 152 serangan terhadap fasilitas kesehatan yang mengakibatkan 103 kematian dan 241 luka-luka.
"Serangan-serangan ini telah mengakibatkan penutupan tiga rumah sakit dan 41 pusat kesehatan primer serta menyebabkan kerusakan pada 16 rumah sakit lainnya,” kata Ghebreyesus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/cfc1757a-4432-4c09-88e2-7237bdff0fd3.jpg)
Alhasil meski gencatan senjata berlangsung, kebanyakan pengungsi belum mau kembali ke rumah mereka. Para pengungsi takut akan dimulainya kembali serangan skala besar yang menghancurkan wilayah mereka.
Hizbullah, yang juga terus melakukan serangan terhadap tentara dan wilayah Israel, belum memberi lampu hijau kepada penduduk untuk kembali ke rumah mereka di pinggiran kota. Pesawat tanpa awak atau “drone” Israel masih terus berpatroli.
"Ini sangat melelahkan dan menyedihkan," kata Rana, seorang warga selatan Beirut kepada AFP selama tur pers yang diselenggarakan oleh Hizbullah.
Sebelum serangan pada hari Rabu, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, Israel kembali menyerang wilayah selatan dan timur Lebanon. Setidaknya 11 orang dalam serangan Israel itu.
Di Saksakiyeh, empat orang tewas dan 33 terluka, termasuk enam anak dan empat wanita. NNA juga melaporkan serangan di seluruh wilayah selatan, termasuk beberapa serangan di kota Yater.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/04/05/a9cc8336-fd51-4536-bd11-888c2d735de9_jpg.jpg)
Dengan intesitas serangan yang kembali meningkat, Paus Leo XIV menyampaikan dukungan pada 13 imam dari Lebanon selatan, dekat perbatasan dengan Israel. Paus Leo memberitahu mereka bahwa mereka ada dalam doanya, dan bahwa ia berharap perdamaian akan segera terwujud di sepanjang perbatasan yang tegang.
Pada Rabu, para imam Katolik dan Maronit Lebanon diminta untuk menghadiri pertemuan daring pagi hari dengan Duta Besar Vatikan untuk Lebanon, Uskup Agung Paolo Borgia. Setelah terhubung secara daring, Borgia memberitahu mereka bahwa Leo juga hadir dan ingin berbicara dengan mereka.
Ke-13 orang imam dari desa dan kota di selatan Lebanon, seperti dari Rmeish, Ain Ebel, Debel, dan Marjayoun, sangat terkejut. “(Paus) memberi kami kedamaian dan berkatnya,” kata Pastor Najib al-Amil, pastor paroki Rmeish, yang menghadiri pertemuan daring tersebut.
“Kata-katanya menenangkan, terutama karena kami hidup dalam kekhawatiran terus-menerus di sini,” kata Al-Amil kepada Associated Press (AP).
Al-Amil mengatakan Paus berbicara bahasa Perancis kepada para imam dalam panggilan video yang berlangsung sekitar satu menit. Paus Leo berharap mereka untuk tetap tinggal di kota asal mereka.
“Berdoalah bersama saya agar perdamaian terwujud. Seturut kehendak Allah, perdamaian sudah dekat,” demikian kutipan Paus menurut al-Amil.
Juru bicara Vatikan tidak segera menanggapi ketika ditanya detail panggilan tersebut. Vatikan mengatakan, Leo memiliki agenda pertemuan dengan Duta Besar Takhta Suci untuk Lebanon pada hari Rabu. Namun, detail pertemuan semacam itu tidak pernah dirilis.
Tindakan Paus Leo itu mengingatkan akan Paus Fransiskus. Dalam perang Israel-Hamas di Jalur Gaza, Paus Fransiskus diketahui biasa menelepon pastor paroki di Gaza. Namun, Vatikan selalu menolak memberikan detail tindakan Paus Fransiskus dan menyatakan inisiatif itu sebagai tindakan pastoral pribadi oleh Paus. (AP/AFP)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul