TEHERAN, JUMAT — Israel kembali membunuh perwira tinggi Garda Revolusi Iran. Lewat serangan pada Jumat (13/6/2025), Israel menewaskan Mayor Jenderal Hossein Salami. Selain itu, sejumlah ilmuwan nuklir Iran juga tewas.
Media-media Iran, antara lain IRNA dan Mehr, melaporkan tewasnya Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) tersebut. Charles Lister, peneliti senior Middle East Institute di Amerika Serikat, menyebut Mayjen Mohammed Bagheri juga tewas. Bagheri merupakan Kepala Staf IRGC.
Sementara Tasnim News melaporkan, serangan Israel juga menewaskan Mohammad Mahdi Tehranchi dan Fereydoon Abbasi. Mereka ilmuwan senior dalam pengembangan nuklir Iran. Abbasi pernah jadi Kepala Badan Tenaga Atom Iran. Sementara Tehranchi jadi rektor Universitas Islam Azad.
Sebelum ini, Israel telah berulang kali membunuh para petinggi IRGC dan ilmuwan nuklir Iran. Pada Juni dan April 2024, Israel antara lain membunuh Mayjen Mohammad Reza Zahedi, Brigadir Jenderal Hadi Haj Rahimi, dan Mayor Jenderal Said Abiyar di Suriah.
Lewat serangan November 2020 di Teheran, Israel membunuh Mohzen Fahrizadeh yang merupakan ilmuwan senior pada pengembangan nuklir Iran.
Kini, lewat serangan Jumat dini hari, Israel menewaskan lagi jenderal dan pakar nuklir Iran. Serangan itu menyasar permukiman sipil dan sejumlah fasilitas lain. Dalam foto dan video dari lokasi serangan, terlihat rumah susun dan rumah tapak rusak berat. Temboknya runtuh sebagian.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui, Israel menyerang sejumlah rumah di Teheran, ibu kota Iran. Ia berkilah, rumah-rumah itu kediaman para petinggi militer Iran.
Selain permukiman di Teheran, Israel juga menyasar sejumlah lokasi di beberapa provinsi lain. Di Isfahan, pusat pengembangan nuklir Iran, terdengar sejumlah ledakan. Reaktor nuklir Natanz juga dilaporkan disasar Israel.
Kantor berita Iran, IRNA, menyebut suara ledakan dan gemuruh terdengar di dalam kota Teheran dan sekitarnya. Belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa akibat serangan tersebut.
Serangan Israel terjadi tidak lama setelah Presiden AS Donald Trmp menyatakan bahwa militer Israel akan menyerang Iran. Trump tidak menjelaskan perincian rencana serangan itu. Ia hanya menyebut Israel sangat mungkin menyerang musuh bebuyutannya tersebut.
Trump mengatakan, AS tetap menginginkan jalur diplomatik untuk menegosiasikan penghentian program pengayaan uranium Iran alih-alih menggunakan jalur militer. ”Kami tetap berkomitmen pada resolusi diplomatik untuk masalah nuklir Iran,” katanya di platform Truth Social miliknya.
”Seluruh pemerintahan saya telah diarahkan untuk berunding dengan Iran. Mereka bisa menjadi negara besar, tetapi mereka pertama-tama harus benar-benar melepaskan harapan untuk memperoleh senjata nuklir,” tambahnya.
Israel menyerang Iran di tengah kebuntuan perundingan AS-Iran. Putaran enam perundingan dijadwalkan berlangsung pada hari Minggu ini di Oman.
Para pihak menegaskan posisi masing-masing tidak berubah. AS menuntut Iran menghentikan program pengayaan uraniumnya. Di sisi lain, AS juga terus menjatuhkan sanksi terhadap pemerintah dan sejumlah entitas bisnis untuk menekan Teheran.
Sementara Iran bersikeras tetap melakukan pengayaan uranium. Iran menegaskan itu adalah hak sebagai negara berdaulat. Iran menyebut, negara lain juga mengembangkan senjata nuklir. Bahkan, seperti Israel, sama sekali tidak ada pengawasan dari pihak mana pun.
Israel, seperti halnya AS, tidak menginginkan Iran memiliki kemampuan nuklir. Dalam wawancara dengan stasiun televisi Israel Channel 14 pada akhir November 2024, Netanyahu menegaskan hal itu. ”Saya akan melakukan segalanya untuk mencegahnya (Iran) menjadi (kekuatan) nuklir. Saya akan menggunakan semua sumber daya yang dapat digunakan,” kata Netanyahu kala itu.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan, Iran akan tetap melanjutkan pengayaan uraniumnya. ”Pengetahuan nuklir Iran berakar kuat dan tidak dapat dihilangkan dengan tindakan militer. Bahkan, jika mereka mengebom fasilitas kami, kemampuan kami ada di pikiran kami. Apa pun yang mereka hancurkan, kami akan membangunnya kembali,” kata Presiden Pezeshkian.
Sendirian
Serangan pendahuluan diduga dilakukan sendirian oleh Israel. Sejumlah media AS melaporkan, Pemerintah AS tidak akan berpartisipasi dalam serangan itu.
Koran The Wall Street Journal melaporkan, Pemerintah AS telah memindahkan sejumlah aset militernya keluar dari Timur Tengah dan sekitar Iran. AS dilaporkan telah menarik salah satu dari dua kapal induknya. Selain itu, AS menarik pesawat pengebom B-2.
Sejak Rabu, AS memerintahkan mayoritas warga sipilnya meninggalkan wilayah sekitar Iran. Hanya diplomat pokok.
Selain itu, Washington juga telah memerintahkan sejumlah stafnya meninggalkan kedutaan besarnya di Irak serta pangkalan militer di sekitar kawasan.
Walau demikian, AS masih bisa membantu Israel dengan memberikan dukungan intelejen atau logistik serta jika Iran membalas serangan tersebut. Media AS lainnya, Axios, menyebut operasi tunggal Israel akan lebih terbatas.
Sebab, Angkatan Udara Israel tidak punya pesawat yang bisa membawa bom penembus bunker. Bom itu diperlukan untuk menyerang bunker di reaktor Fordow, Iran.
IAEA dilawan
Sebelum Israel menyerang, Iran melawan tekanan AS dan sejumlah pihak lain. Perlawanan juga ditujukan ke Badan Tenaga Atom Internasional, IAEA.
Sejumlah pihak di Iran menyiarkan berkas lama relasi Rafael Grossi, Direktur Jenderal IAEA, dengan Israel. Tidak sampai 10 tahun lalu, dalam kapasitas sebagai diplomat Argentina, Grossi berulang kali berkomunikasi dengan para petinggi Israel. Fokusnya menjelekkan program nuklir Iran.
Perlawanan lain Iran dilakukan dengan pengumuman pembangunan fasilitas nuklir baru. Iran juga menyatakan mengaktifkan ulang fasilitas lama di Natanz dan Fordow. ”Republik Islam Iran tidak punya pilihan lain selain menanggapi resolusi politik ini,” kata Kementerian Luar Negeri Iran dan Organisasi Energi Atom Iran dalam pernyataan bersama.
Iran mengumumkan itu selepas pertemuan IAEA di Geneva, Swiss. Dalam pertemuan pada Selasa-Rabu itu, IAEA menyebut Iran melanggar aturan tidak mengembangkan senjata nuklir.
Dari 35 anggota Dewan Gubernur IAEA, 19 mendukung rancangan resolusi untuk mengecam Iran. Rancangan disusun AS bersama trio Eropa, yakni Inggris, Perancis, dan Jerman.
Dulu, empat negara itu bagian dari Kesepakatan Nuklir Iran atau lebih dikenal sebagai JCPOA. Disepakati pada 2015, JCPOA menyetujui pencabutan sanksi kepada Iran. Sebagai imbalannya, Iran setuju program nuklirnya diawasi dan dilucuti.
Iran telah melucuti sebagian fasilitas nuklirnya dan mengizinkan pengawas independen memeriksa. Akan tetapi, sanksi tidak kunjung dicabut.
Bahkan, atas bujukan Netanyahu, Trump membawa AS keluar dari JCPOA pada 2018. Setelah itu, AS terus menambah sanksi kepada Iran. Trio Eropa juga tidak kunjung mencabut sanksi kepada Iran. Di sisi lain, mereka terus memprotes pengembangan nuklir Iran.
Tekanan terus dilancarkan lewat berbagai cara. Tekanan terbaru lewat resolusi di IAEA pekan ini.
Resolusi itu mendesak Iran memberikan jawaban tanpa penundaan atas laporan IAEA. Dalam laporan terakhirnya, pengawas IAEA menemukan sejumlah jejak uranium di beberapa lokasi yang tidak secara resmi disebut Iran sebagai fasilitas nuklirnya.
Laporan pada 31 Mei 2025 itu menyebut pengawas menemukan tiga dari empat lokasi merupakan bagian dari program nuklir terstruktur yang dikembangkan Iran dalam dua dekade terakhir. Lokasi itu tidak diungkap Iran. Pengawas juga menemukan beberapa kegiatan menggunakan bahan nuklir yang tidak dideklarasikan.
Pada stasiun televisi milik pemerintah, Juru Bicara Badan Tenaga Atom Iran Behrouz Kamalvandi mengatakan, Iran tidak hanya mengungkap rencana lokasi pengayaan baru. Iran juga akan mengganti mesin sentrifugal lama di fasilitas Fordow. ”Produksi material yang diperkaya akan meningkat secara signifikan,” kata Kamalvandi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang juga merupakan ketua tim perunding nuklir Iran menyebut keputusan Dewan Gubernur IAEA akan mempersulit perundingan dengan AS.
(AP/AFP/Reuters)
TEHERAN, JUMAT — Israel kembali membunuh perwira tinggi Garda Revolusi Iran. Lewat serangan pada Jumat (13/6/2025), Israel menewaskan Mayor Jenderal Hossein Salami. Selain itu, sejumlah ilmuwan nuklir Iran juga tewas.
Media-media Iran, antara lain IRNA dan Mehr, melaporkan tewasnya Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) tersebut. Charles Lister, peneliti senior Middle East Institute di Amerika Serikat, menyebut Mayjen Mohammed Bagheri juga tewas. Bagheri merupakan Kepala Staf IRGC.
Sementara Tasnim News melaporkan, serangan Israel juga menewaskan Mohammad Mahdi Tehranchi dan Fereydoon Abbasi. Mereka ilmuwan senior dalam pengembangan nuklir Iran. Abbasi pernah jadi Kepala Badan Tenaga Atom Iran. Sementara Tehranchi jadi rektor Universitas Islam Azad.
Serial Artikel
Israel Serang Teheran
Belum jelas target apa yang terkena serangan. Rapuhnya perundingan program nuklir Iran-Amerika Serikat turut memicu serangan tersebut. Harga minyak melonjak.
Sebelum ini, Israel telah berulang kali membunuh para petinggi IRGC dan ilmuwan nuklir Iran. Pada Juni dan April 2024, Israel antara lain membunuh Mayjen Mohammad Reza Zahedi, Brigadir Jenderal Hadi Haj Rahimi, dan Mayor Jenderal Said Abiyar di Suriah.
Lewat serangan November 2020 di Teheran, Israel membunuh Mohzen Fahrizadeh yang merupakan ilmuwan senior pada pengembangan nuklir Iran.
Kini, lewat serangan Jumat dini hari, Israel menewaskan lagi jenderal dan pakar nuklir Iran. Serangan itu menyasar permukiman sipil dan sejumlah fasilitas lain. Dalam foto dan video dari lokasi serangan, terlihat rumah susun dan rumah tapak rusak berat. Temboknya runtuh sebagian.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui, Israel menyerang sejumlah rumah di Teheran, ibu kota Iran. Ia berkilah, rumah-rumah itu kediaman para petinggi militer Iran.
Selain permukiman di Teheran, Israel juga menyasar sejumlah lokasi di beberapa provinsi lain. Di Isfahan, pusat pengembangan nuklir Iran, terdengar sejumlah ledakan. Reaktor nuklir Natanz juga dilaporkan disasar Israel.
Kantor berita Iran, IRNA, menyebut suara ledakan dan gemuruh terdengar di dalam kota Teheran dan sekitarnya. Belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa akibat serangan tersebut.
Serangan Israel terjadi tidak lama setelah Presiden AS Donald Trmp menyatakan bahwa militer Israel akan menyerang Iran. Trump tidak menjelaskan perincian rencana serangan itu. Ia hanya menyebut Israel sangat mungkin menyerang musuh bebuyutannya tersebut.
Trump mengatakan, AS tetap menginginkan jalur diplomatik untuk menegosiasikan penghentian program pengayaan uranium Iran alih-alih menggunakan jalur militer. ”Kami tetap berkomitmen pada resolusi diplomatik untuk masalah nuklir Iran,” katanya di platform Truth Social miliknya.
”Seluruh pemerintahan saya telah diarahkan untuk berunding dengan Iran. Mereka bisa menjadi negara besar, tetapi mereka pertama-tama harus benar-benar melepaskan harapan untuk memperoleh senjata nuklir,” tambahnya.
Israel menyerang Iran di tengah kebuntuan perundingan AS-Iran. Putaran enam perundingan dijadwalkan berlangsung pada hari Minggu ini di Oman.
Para pihak menegaskan posisi masing-masing tidak berubah. AS menuntut Iran menghentikan program pengayaan uraniumnya. Di sisi lain, AS juga terus menjatuhkan sanksi terhadap pemerintah dan sejumlah entitas bisnis untuk menekan Teheran.
Sementara Iran bersikeras tetap melakukan pengayaan uranium. Iran menegaskan itu adalah hak sebagai negara berdaulat. Iran menyebut, negara lain juga mengembangkan senjata nuklir. Bahkan, seperti Israel, sama sekali tidak ada pengawasan dari pihak mana pun.
Israel, seperti halnya AS, tidak menginginkan Iran memiliki kemampuan nuklir. Dalam wawancara dengan stasiun televisi Israel Channel 14 pada akhir November 2024, Netanyahu menegaskan hal itu. ”Saya akan melakukan segalanya untuk mencegahnya (Iran) menjadi (kekuatan) nuklir. Saya akan menggunakan semua sumber daya yang dapat digunakan,” kata Netanyahu kala itu.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan, Iran akan tetap melanjutkan pengayaan uraniumnya. ”Pengetahuan nuklir Iran berakar kuat dan tidak dapat dihilangkan dengan tindakan militer. Bahkan, jika mereka mengebom fasilitas kami, kemampuan kami ada di pikiran kami. Apa pun yang mereka hancurkan, kami akan membangunnya kembali,” kata Presiden Pezeshkian.
Serial Artikel
AS-Israel Sepakat Jegal Program Nuklir Iran
Amerika Serikat dan Israel sepakat mendesak Iran untuk menghentikan program pengayaan nuklirnya. AS akan menempuh jalan diplomasi. Namun, jika tidak jalan, Presiden AS Joe Biden siap dengan rencana cadangan.
Serangan pendahuluan diduga dilakukan sendirian oleh Israel. Sejumlah media AS melaporkan, Pemerintah AS tidak akan berpartisipasi dalam serangan itu.
Koran The Wall Street Journal melaporkan, Pemerintah AS telah memindahkan sejumlah aset militernya keluar dari Timur Tengah dan sekitar Iran. AS dilaporkan telah menarik salah satu dari dua kapal induknya. Selain itu, AS menarik pesawat pengebom B-2.
Sejak Rabu, AS memerintahkan mayoritas warga sipilnya meninggalkan wilayah sekitar Iran. Hanya diplomat pokok.
Selain itu, Washington juga telah memerintahkan sejumlah stafnya meninggalkan kedutaan besarnya di Irak serta pangkalan militer di sekitar kawasan.
Walau demikian, AS masih bisa membantu Israel dengan memberikan dukungan intelejen atau logistik serta jika Iran membalas serangan tersebut. Media AS lainnya, Axios, menyebut operasi tunggal Israel akan lebih terbatas.
Sebab, Angkatan Udara Israel tidak punya pesawat yang bisa membawa bom penembus bunker. Bom itu diperlukan untuk menyerang bunker di reaktor Fordow, Iran.
IAEA dilawan
Sebelum Israel menyerang, Iran melawan tekanan AS dan sejumlah pihak lain. Perlawanan juga ditujukan ke Badan Tenaga Atom Internasional, IAEA.
Sejumlah pihak di Iran menyiarkan berkas lama relasi Rafael Grossi, Direktur Jenderal IAEA, dengan Israel. Tidak sampai 10 tahun lalu, dalam kapasitas sebagai diplomat Argentina, Grossi berulang kali berkomunikasi dengan para petinggi Israel. Fokusnya menjelekkan program nuklir Iran.
Perlawanan lain Iran dilakukan dengan pengumuman pembangunan fasilitas nuklir baru. Iran juga menyatakan mengaktifkan ulang fasilitas lama di Natanz dan Fordow. ”Republik Islam Iran tidak punya pilihan lain selain menanggapi resolusi politik ini,” kata Kementerian Luar Negeri Iran dan Organisasi Energi Atom Iran dalam pernyataan bersama.
Serial Artikel
Fakhrizadeh Dibunuh dengan Teknologi Canggih
Pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh, diduga menggunakan teknologi canggih yang melibatkan satelit dan kecerdasan buatan.
Iran mengumumkan itu selepas pertemuan IAEA di Geneva, Swiss. Dalam pertemuan pada Selasa-Rabu itu, IAEA menyebut Iran melanggar aturan tidak mengembangkan senjata nuklir.
Dari 35 anggota Dewan Gubernur IAEA, 19 mendukung rancangan resolusi untuk mengecam Iran. Rancangan disusun AS bersama trio Eropa, yakni Inggris, Perancis, dan Jerman.
Dulu, empat negara itu bagian dari Kesepakatan Nuklir Iran atau lebih dikenal sebagai JCPOA. Disepakati pada 2015, JCPOA menyetujui pencabutan sanksi kepada Iran. Sebagai imbalannya, Iran setuju program nuklirnya diawasi dan dilucuti.
Iran telah melucuti sebagian fasilitas nuklirnya dan mengizinkan pengawas independen memeriksa. Akan tetapi, sanksi tidak kunjung dicabut.
Bahkan, atas bujukan Netanyahu, Trump membawa AS keluar dari JCPOA pada 2018. Setelah itu, AS terus menambah sanksi kepada Iran. Trio Eropa juga tidak kunjung mencabut sanksi kepada Iran. Di sisi lain, mereka terus memprotes pengembangan nuklir Iran.
Tekanan terus dilancarkan lewat berbagai cara. Tekanan terbaru lewat resolusi di IAEA pekan ini.
Resolusi itu mendesak Iran memberikan jawaban tanpa penundaan atas laporan IAEA. Dalam laporan terakhirnya, pengawas IAEA menemukan sejumlah jejak uranium di beberapa lokasi yang tidak secara resmi disebut Iran sebagai fasilitas nuklirnya.
Laporan pada 31 Mei 2025 itu menyebut pengawas menemukan tiga dari empat lokasi merupakan bagian dari program nuklir terstruktur yang dikembangkan Iran dalam dua dekade terakhir. Lokasi itu tidak diungkap Iran. Pengawas juga menemukan beberapa kegiatan menggunakan bahan nuklir yang tidak dideklarasikan.
Pada stasiun televisi milik pemerintah, Juru Bicara Badan Tenaga Atom Iran Behrouz Kamalvandi mengatakan, Iran tidak hanya mengungkap rencana lokasi pengayaan baru. Iran juga akan mengganti mesin sentrifugal lama di fasilitas Fordow. ”Produksi material yang diperkaya akan meningkat secara signifikan,” kata Kamalvandi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang juga merupakan ketua tim perunding nuklir Iran menyebut keputusan Dewan Gubernur IAEA akan mempersulit perundingan dengan AS.