Trump dinilai semakin tak bisa mengendalikan Israel setelah Netanyahu tetap menyerang Iran meski diminta menahan diri. Perang Iran kembali melebar ke Laut Merah.
08 Jun 2026 17:25 WIB · Internasional
AFP/AHMAD GHARABLI
DUBAI, SENIN — Israel kembali menyerang Iran dengan target pabrik petrokimia dan fasilitas militer. Serangan itu membuat posisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump kian terjepit. Di tengah desakan untuk mengakhiri perang Iran, seruannya tak dihiraukan Israel.
Israel meluncurkan serangan ke Iran tengah dan barat pada Senin (8/6/2026) pagi. Israel menyebutkan, serangan itu balasan atas serangan Iran sebelumnya ke wilayah Israel.
Ini baku serang paling serius antara Israel dan Iran sejak gencatan senjata 8 April 2026. Padahal sebelumnya, Trump sudah meminta secara langsung kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar tidak menyerang Iran.
Salah satu target utama Israel adalah kompleks petrokimia Mahshahr di Provinsi Khuzestan, Iran barat daya. Israel juga menargetkan lokasi peluncuran rudal darat ke darat dan infrastruktur Iran.
Kantor berita Iran, Fars dan Mehr, melaporkan sebagian kompleks Mahshahr rusak. Seluruh pegawai diperintahkan mengungsi. Tidak ada korban luka, sementara kerusakan masih dihitung. Lima lini produksi di kompleks itu telah terkena serangan sejak perang di Iran dimulai pada Februari.
Suara ledakan dilaporkan terdengar di Isfahan, Karaj, Tabriz, dan Teheran. Seorang saksi di Teheran mendengar sedikitnya satu ledakan besar di sebelah barat ibu kota Iran itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/08/457b2d31055097e94546b8ab90acd4ff-wires_photo_2_.jpg)
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan, Israel memakai rudal balistik yang diluncurkan dari udara dalam serangan pada Senin pagi. Menyusul serangan itu, Iran menutup wilayah udara di sekitar Bandara Internasional Imam Khomeini, bandara utama negara itu. IRGC kemudian mengumumkan Operasi Nasr (Operasi Kemenangan).
Serangan Israel ke Iran terjadi setelah Iran lebih dulu menembakkan rudal ke Israel. Serangan Iran merupakan balasan atas serangan Israel ke pinggiran selatan Beirut, ibu kota Lebanon, Minggu. Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter mengatakan, Iran menembakkan 11 rudal balistik ke Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/08/4daa92f7e3c77b61c34ad46b8f0cadfa-wires_photo_1_.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/f798163dfcb952f50f2d60bb5978604d-20260409_H01_KID_Gencatan_Senjata_Perang_mumed.jpg)
Operasi Iran menargetkan dua pangkalan militer Israel. IRGC menyebut operasi itu sebagai balasan langsung atas serangan Israel terhadap situs radar Iran di tiga lokasi.
Salah satu sasaran adalah Pangkalan Udara Ramat David di dekat Nazareth. Militer Israel menyebutkan, mereka mendeteksi rudal yang diluncurkan dari Iran dan mencegatnya dengan sistem pertahanan udara.
Ledakan terdengar di Israel tengah saat sistem pertahanan udara berusaha mencegat rudal Iran. Sirene peringatan juga berbunyi di Jordania.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/08/e765b8ce983821bafcb8b234223f0c44-wires_photo.jpg)
Serangan Israel terjadi pada hari ke-100 perang Iran. Perang dimulai pada 28 Februari 2026 ketika Israel dan AS membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pemimpin senior Iran.
Perang berkecamuk sampai kedua pihak mencapai gencatan senjata pada 8 April. Namun, upaya mengakhiri perang secara permanen terus tersendat oleh tekanan Iran di Selat Hormuz, serangan Israel-Hizbullah di Lebanon, dan tuntutan berat dalam perundingan Iran-AS.
Serangan terbaru Israel ke Iran membuat posisi Trump makin sulit. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan, AS memikul tanggung jawab langsung atas pelanggaran gencatan senjata. Tindakan Israel tidak bisa dipisahkan dari Washington.
”Tidak ada seorang pun percaya bahwa rezim Israel akan mengambil tindakan apa pun tanpa koordinasi dengan Amerika Serikat,” kata Baghaei dalam pengarahan kepada wartawan di Teheran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/08/75f58426d0652c158e51415db0efdc6b-Iran_War.jpeg)
”Amerika Serikat memikul tanggung jawab atas agresi rezim Israel, dan juga akan bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap eskalasi ketegangan,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Perancis dan Qatar. Pembicaraan itu membahas respons Iran terhadap Israel dan perkembangan kawasan.
Sebelumnya, Trump sudah meminta Netanyahu tak melanjutkan serangan lanjutan. Hal ini karena Washington dan Teheran disebut hampir mencapai kesepakatan.
Tidak ada seorang pun percaya bahwa rezim Israel akan mengambil tindakan apa pun tanpa koordinasi dengan Amerika Serikat.
Seorang pejabat senior AS mengatakan, Trump menelepon Netanyahu pada Minggu agar Israel tidak membalas serangan rudal Iran. Menurut pejabat yang berbicara secara anonim, Trump yakin telah membujuk Netanyahu untuk menunggu. ”Trump membuat Bibi menahan diri untuk sementara waktu,” katanya.
Seorang pejabat Israel mengatakan, pembicaraan Trump-Netanyahu berlangsung kurang dari setengah jam, tanpa memberikan rincian. ”Kami sudah dekat untuk melakukan sesuatu yang baik dalam hal kesepakatan,” kata pejabat itu, mengutip pesan Trump kepada Netanyahu.
Namun, Israel tetap menyerang Iran. Hal ini memperkuat kesan bahwa Trump tidak sepenuhnya mengendalikan Netanyahu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/3ca44ffa285f54c641db8fd979faeaa4-Trump.jpeg)
Trump sudah lama dinilai kehilangan kendali atas perang yang ia mulai sendiri. Pada Maret 2026, Senator Demokrat Chris Murphy menilai Trump tidak punya jalan keluar jelas dari perang di Iran.
Saat itu, Trump mengancam menyerang pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz. ”Ia telah kehilangan kendali atas perang dan sedang panik,” kata Murphy, menanggapi unggahan Trump saat itu.
Sebelum terjadi baku serang, Trump mengatakan, serangan baru Israel dan Iran tidak akan mengganggu perundingan damai AS-Iran. Ia juga menegaskan masih memegang kendali, sementara Netanyahu tidak menentukan arah perang.
”Saya yang menentukan. Saya menentukan semuanya. Dia tidak menentukan,” ujarnya, dikutip dari Financial Times.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/02/96fe02e505fe699c279531d51c9c4849-wires_photo.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/164706d8a876d23341d33d64fdb01de0-20260422_ADI_Lalulintas_Selat_Hormuz_mumed.png)
Namun, baik Iran maupun Israel tak menuruti tuntutan Trump. Sebelumnya, ia mengatakan ingin Iran berhenti menembakkan rudal dan kembali ke meja perundingan. Ia juga mengatakan, serangan Israel di Lebanon pada Minggu tidak dikoordinasikan dengan AS. ”Saya tidak senang dengan itu,” kata Trump dikutip dari Fox News.
Dalam wawancara dengan NBC News yang ditayangkan pada Minggu untuk menandai 100 hari perang, Trump kembali menggertak Iran. ”Kami sangat dekat dengan kesepakatan, atau saya akan membombardir mereka habis-habisan,” katanya.
Sejauh ini, belum ada pernyataan baru dari Gedung Putih setelah Israel mengonfirmasi serangan atas kompleks Mahshahr. Gedung Putih juga tidak menjawab pertanyaan tentang apakah serangan Israel dikoordinasikan dengan AS.
Tekanan Trump untuk menghentikan perang di Iran semakin berat. Di dalam negeri, DPR AS telah meloloskan resolusi War Powers untuk membatasi kewenangan Trump melanjutkan operasi militer di Iran. Senat AS juga tengah memproses resolusi serupa.
Di kawasan, dua pejabat mengungkap, upaya diplomatik tengah berlangsung untuk menyelamatkan gencatan senjata antara Iran dan AS setelah baku serang Israel-Iran. Pejabat dari Mesir, Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Qatar mendesak pemerintahan Trump menekan Israel agar menahan serangan terhadap Iran dan Beirut.
Mereka juga mendesak Iran menghentikan serangan terhadap Israel. Kedua pejabat itu berbicara anonim karena tidak berwenang berbicara kepada wartawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/08/2178a790787a1ccff34899fad1e053fb-Lebanon_Israel_Iran_War_138850044.jpg)
Pakistan yang menjadi mediator juga marah atas serangan Israel ke Lebanon. Hal ini dikatakan salah satu pejabat yang terlibat dalam mediasi Iran-AS. Serangan itu terjadi saat Menteri Dalam Negeri Pakistan berada di Teheran untuk mendorong perundingan AS-Iran.
Para mediator mengatakan kepada pemerintahan AS bahwa serangan Israel ke Beirut dimaksudkan untuk mengganggu upaya mencapai kesepakatan. ”Trump harus menghentikan manuver sembrono Netanyahu,” kata mereka.
Houthi di Yaman ikut masuk dalam eskalasi terbaru. Kelompok itu menyatakan telah meluncurkan rentetan rudal ke sasaran sensitif Israel di wilayah Yaffa yang diduduki sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon, Iran, dan Gaza.
Houthi menyebut serangan itu bagian dari perlawanan terhadap agresi Amerika-Israel dan tekanan yang mereka sebut sebagai blokade terhadap Yaman, Gaza, Lebanon, dan Iran. Mereka juga mengancam memblokade pelayaran Israel di Laut Merah.
”Kami menyatakan larangan penuh dan total terhadap navigasi maritim Israel di Laut Merah. Kami menganggap semua pergerakan musuh sebagai sasaran militer yang sah bagi Angkatan Bersenjata kami sejak pernyataan ini diterbitkan,” demikian pernyataan Houthi.
Houthi menegaskan akan membalas eskalasi dengan eskalasi. Operasi militer akan berlanjut selama agresi dan blokade terhadap Yaman serta kelompok yang mereka sebut poros jihad dan perlawanan masih berlangsung. (Reuters/AP/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul