Militer Israel menyerang lagi markas pasukan PBB di Lebanon selatan. Sejumlah negara Eropa sebut serangan itu disengaja.
12 Okt 2024 11:29 WIB · Internasional
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/12/9f26dae4-7b63-429e-b3e5-4a00d3bd1701_jpg.jpg)
BEIRUT, SABTU — Militer Israel berulah lagi. Dua anggota pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon terluka setelah militer Israel menyerang sebuah lokasi tak jauh dari menara pengawas pasukan PBB di Lebanon selatan, Jumat (11/10/2024). Ledakan juga mengguncang pangkalan utama pasukan PBB di sana.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan sejumlah pemimpin negara mengecam serangan tersebut. ”Serangan ini merupakan pelanggaran serius atas kewajiban Israel berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 dan berdasarkan hukum humaniter internasional,” kata Perancis, Spanyol, dan Italia dalam pernyataan bersama.
Insiden tersebut hanya berselang sehari setelah pada Kamis (10/10/2024), tembakan militer Israel dengan tank Merkava menyasar markas pasukan penjaga perdamaian PBB, yang tergabung dalam Pasukan Sementara PBB di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL) di Naqoura. Akibat serangan itu, dua anggota TNI, yakni Prajurit Satu Eggy Arifiyanto dan Prajurit Kepala Nofrian Syah Putra, cedera.
Baca juga: Tank Israel Tembak Posisi Pasukan Penjaga Perdamaian UNIFIL, Dua Tentara Indonesia Terluka
Detail serangan pada hari Jumat disampaikan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Irlandia Letnan Jenderal Sean Clancy kepada stasiun televisi RTE. Dia mengatakan, militer Israel menyerang menara pengawas di pangkalan utama UNIFIL di wilayah Naqoura, Lebanon selatan. Dua anggota UNIFIL asal Sri Lanka terluka akibat serangan itu.
Clancy memaparkan, tak hanya menyerang menara pengawas, militer Israel dengan sebuah buldoser merobohkan penghalang yang dibangun PBB di dekat Garis Biru, perbatasan antara Lebanon dan Israel. Tank-tank Israel bergerak di sekelilingnya.
Militer Israel dalam keterangannya mengatakan, peristiwa tersebut terjadi saat mereka tengah baku tembak dengan pasukan kelompok Hizbullah. Militer Israel mengklaim, mereka telah mengirimkan peringatan beberapa jam sebelumnya dan mendesak anggota UNIFIL untuk berlindung.
Clancy membantah pernyataan militer Israel. Ia menyatakan, serangan Israel itu disengaja.
Itu adalah tembakan langsung. Jadi dari sudut pandang militer, ini bukan tindakan yang tidak disengaja. Ini adalah tindakan langsung.
”Menara observasi dihujani peluru dari tank, yang merupakan target yang sangat kecil, pasti sangat disengaja. Itu adalah tembakan langsung. Jadi dari sudut pandang militer, ini bukan tindakan yang tidak disengaja. Ini adalah tindakan langsung,” kata Clancy.
Baca juga: Serangan ke Prajurit TNI di UNIFIL Lebanon Bukti Teror Israel
UNIFIL memiliki lebih dari 10.000 personel. Italia, Perancis, Malaysia, Indonesia, dan India merupakan negara-negara penyumbang terbesar pasukan untuk UNIFIL. Sementara Irlandia mengirimkan 340 personelnya untuk bergabung dengan UNIFIL.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/12/c410a261-5962-437c-8bb0-3d105a9aae49_jpg.jpg)
Kecaman keras atas tindakan militer Israel itu datang dari sejumlah negara Eropa. Perancis, Italia, dan Spanyol, tiga negara terbesar pengirim personel Eropa di UNIFIL bersama-sama mengeluarkan pernyataan berisi kemarahan atas tindakan militer Israel itu. Mereka menyatakan bahwa seluruh pasukan penjaga perdamaian yang bertugas di bawah mandat PBB harus dilindungi.
Baca juga: Serangan atas Prajurit TNI di UNIFIL Lebanon Langgar Hukum Internasional
Secara terpisah, Pemerintah Perancis memanggil Duta Besar Israel dan menyatakan kemarahannya atas tindakan militer Israel tersebut. Presiden Perancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, dan PM Spanyol Pedro Sanchez mengecam keras Israel atas penembakan ”yang tidak dapat diterima” itu.
Perancis, Italia, dan Spanyol menyumbang sekitar 2.000 personel untuk UNIFIL. Macron menyebut tindakan militer Israel yang sengaja menarget pasukan PBB ”benar-benar tidak dapat diterima”. Hal serupa diucapkan Meloni. Sanchez menuntut penghentian semua kekerasan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB.
Tak ada kecaman dari Amerika Serikat, pendukung dan pelindung Israel. Presiden AS Joe Biden hanya mengatakan, dirinya telah meminta Israel untuk tidak menembaki pasukan UNIFIL.
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan, mereka hanya meminta agar Israel memastikan terjaminnya keselamatan seluruh pasukan UNIFIL di Lebanon. ”Saya mendesak untuk memastikan keselamatan pasukan UNIFIL dan mengoordinasikan upaya untuk beralih dari operasi militer ke jalur diplomatik sesegera mungkin,” kata Austin dalam unggahannya di X.
Hal itu disampaikan Austin setelah dia berbicara dengan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant sebelum serangan kedua terjadi pada Kamis malam.
Berbeda dengan Rusia yang mengungkapkan kemarahan atas insiden itu. Moskwa mendesak Israel menahan diri dari ”tindakan-tindakan memusuhi” pasukan PBB.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/12/a585cbaf-1782-42bf-acf6-d415c1717a4f_jpg.jpg)
Kemarahan juga disampaikan Pemerintah Irlandia. Dublin menyebut serangan Angkatan Bersenjata Israel (IDF) terhadap UNIFIL memperlihatkan secara nyata bahwa Israel memusuhi pasukan perdamaian PBB.
”Ini menandai intensifikasi permusuhan IDF yang sangat serius terhadap pasukan PBB dan pos-pos PBB. Benar-benar tidak dapat diterima. Apa yang terjadi selama 48 jam terakhir sebelum ini adalah tindakan yang sembrono dan mengintimidasi,” kata Menteri Luar Negeri Irlandia Micheal Martin, yang juga Wakil Perdana Menteri Irlandia.
Martin mendesak masyarakat internasional untuk memberi peringatan keras kepada Israel bahwa serangan langsung dan disengaja pada pasukan perdamaian PBB adalah perilaku yang tidak bisa diterima.
”Masyarakat internasional sekarang perlu bekerja sama dengan Israel dan menekan Israel untuk menghentikan kegiatan ini, menghentikannya, dan memastikan bahwa pasukan penjaga perdamaian PBB tidak berada dalam bahaya,” kata Martin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/01/7d3fec29-7fde-4197-a169-6110ff019da8_jpg.jpg)
Clancy memiliki pandangan senada dengan Martin. ”Menurut saya, ini adalah pelanggaran yang sangat serius, tindakannya gegabah dan mereka harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam situasi apa pun,” katanya.
”Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditoleransi,” kata Clancy.
Baca juga: Presiden Minta Prajurit TNI Penjaga Perdamaian di Lebanon untuk Berhati-hati
Panglima Angkatan Bersenjata Israel Letnan Jenderal Herzi Halevi menolak semua tudingan yang diarahkan pada pasukannya. Dia memastikan bahwa mereka akan terus melakukan operasi militer di Lebanon. Targetnya adalah memastikan bahwa seluruh warga Israel, terutama yang tinggal di wilayah perbatasan, bisa kembali ke rumah masing-masing tanpa gangguan.
”Israel tidak akan menghentikan operasinya sampai kami memastikan bahwa kami bisa dengan aman mengembalikan penduduk (ke rumah masing-masing). Tidak hanya sekarang, tetapi juga di masa depan,” kata Halevi.
Melalui pernyataan tertulis, Jumat, Hizbullah menyebut militer Israel gagal menggerakkan pasukan maju ke Lebanon selatan. Pasukan Israel disebut menghadapi perlawanan signifikan. Mereka menggunakan rumah-rumah para pemukim di beberapa wilayah Israel utara untuk tempat berkumpul. Hizbullah memberi peringatan kepada para pemukim Israel.
Baca juga: Hizbullah dan Israel Bertempur Habis-habisan, Militer Lebanon di Mana?
Sementara di Beirut, Pelaksana Tugas PM Najib Mikati mengungkapkan, serangan Israel pada Jumat malam ke pusat kota Beirut menewaskan 22 orang dan melukai 139 orang. Angkatan Bersenjata Lebanon menyebutkan, dua anggota tewas dan tiga tentara lainnya terluka dalam serangan pasukan Israel di sebuah pos militer di Kafra, Lebanon selatan. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
MAHDI MUHAMMADEditor:
MUHAMMAD SAMSUL HADI