Kejaksaan Italia menyelidiki laporan penculikan aktivis Global Sumud Flotilla oleh Israel. Ada warga Indonesia ikut gerakan itu.
05 Mei 2026 12:00 WIB · Internasional
AFP/JOSEP LAGO
TEl AVIV, SELASA — Israel dituding menyiksa aktivis yang bergabung dalam Global Sumud Flotilla atau Armada Kecil Keteguhan Global. Sejumlah aktivis Indonesia bergabung dalam armada itu.
Dilaporkan AFP pada Selasa (5/5/2026), tudingan dilontarkan kelompok pendamping HAM Adalah. Pengacara kelompok itu mengunjungi dua aktivis yang ditangkap Israel di perairan internasional dekat Yunani, Thiago Avila dan Saif Abu Keshek. Avila warga Brasil, sementara Keshek dari Spanyol.
Para pengacara menyebut mereka diculik. Sebab, lokasi pencegatan mereka jauh dari wilayah teritorial dan yurisdiksi Israel.
Kejaksaan Italia telah memulai penyelidikan atas tudingan penculikan itu. Penyelidikan menindaklanjuti laporan atas nama Avila dan Keshek.
Italia dan Spanyol termasuk negara anggota Uni Eropa (UE) yang mengkritik pencegatan diikuti penangkapan oleh tentara Israel terhadap kapal-kapal dalam Global Sumud Flotilla (GSF). Warga UE semakin marah karena tentara Israel membawa paksa sebagian anggota GSF ke Kreta.
Pulau itu wilayah Yunani, anggota UE. Dari sana, sebagian dibawa ke Israel. Tindakan Israel dinilai melanggar kedaulatan anggota UE.
Di antara yang dibawa Israel adalah Avila dan Keshek. ”Thiago Avila melaporkan telah menjalani interogasi berulang kali yang berlangsung hingga delapan jam. Para interogator secara eksplisit mengancamnya, menyatakan bahwa dia akan ’dibunuh’ atau ’dipenjara selama 100 tahun’,” demikian pernyataan Adalah.
Avila dan Keshek dikurung dalam sel isolasi yang selalu diterangi lampu. ”Mereka selalu ditutup matanya setiap kali dipindahkan ke luar sel mereka, termasuk selama pemeriksaan medis,” lanjut pernyataan Adalah sembari menambahkan soal pemukulan berulang kali terhadap Avila dan Keshek.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/05/31ab13b217468a3094891f3e62b8867b-TOPSHOT_ISRAEL_PALESTINIAN_CONFLICT_FLOTILLA_137979106.jpg)
Kementerian Luar Negeri Israel menolak klaim Avila dan Keshek mengalami kekerasan fisik. ”Bertentangan dengan klaim palsu dan tidak berdasar yang disiapkan sebelumnya, Saif Abu Keshek dan Thiago Ávila sama sekali tidak mengalami penyiksaan,” kata Oren Marmorstein, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Israel.
Israel menyebut, kedua pria itu terafiliasi dengan PCPA, kelompok pendukung Palestina. Menurut AS, PCPA terindikasi mendukung Hamas.
Global Sumud Flotilla adalah inisiatif lintas negara untuk menembus blokade total Israel terhadap Gaza. Nama gerakan itu menggunakan bahasa Inggris, Arab, dan Spanyol. Sumud adalah kata Arab yang keteguhan. Sementara dalam bahasa Spanyol, flotilla berarti armada kecil.
Sejumlah warga Indonesia ikut GSF. Mereka bergabung dari Turki. Kontingen Indonesia terdiri dari lima orang, yakni Andi Angga Prasadewa, Ronggo Wirasanu, Herman Budianto Sudarsono, Hendro Prasetyo, dan Asad Aras Muhammad. Mereka berangkat dari Jakarta pada 28 April 2026.
Misi ini menjadi simbol perlawanan sipil global terhadap krisis kemanusiaan yang berkepanjangan di Gaza sekaligus seruan moral kepada dunia internasional untuk bertindak lebih tegas. Rangkaian misi ini dimulai dari Barcelona, Spanyol, lalu berlanjut ke Italia dan Yunani, sebelum sampai di Turki yang menjadi titik konsolidasi.
Selain konvoi laut, misi ini juga mencakup berbagai upaya advokasi global, termasuk forum parlemen di Brussels, Belgia, dan konvoi darat dari Mauritania, Afrika Utara, menuju Gaza.
Pada 22 April 2026 telah diselenggarakan Kongres Parlemen di Brussels. Kongres mempertemukan anggota parlemen, aktivis kemanusiaan, dan perwakilan masyarakat sipil dari beberapa negara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/05/c79f1a39639d0621f2ae167958354fdd-GREECE_ISRAEL_PALESTINIAN_FLOTILLA_137914919.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/05/258c841b24adb66fb696d1560dc03f1e-FILES_SPAIN_ISRAEL_PALESTINIAN_CONFLICT_GAZA_FLOTILLA_ARREST_137883377.jpg)
Forum itu bertujuan memperkuat tekanan politik internasional untuk menghentikan blokade Gaza dan memastikan perlindungan terhadap warga sipil Palestina. Indonesia juga mengirimkan wakil dari Majelis Ulama Indonesia, akademik, aktivis, dan praktisi hukum.
Partisipasi masyarakat sipil Indonesia dalam misi ini mencerminkan komitmen terhadap isu kemanusiaan dan keadilan global. Dalam konteks ini, KBRI Ankara mengimbau seluruh warga negara Indonesia (WNI) di Turki, baik pekerja migran Indonesia (PMI) maupun peserta kegiatan kemanusiaan internasional, untuk tetap mematuhi hukum setempat, menjaga keselamatan, dan berkoordinasi dengan perwakilan RI.
Melalui berbagai langkah itu, KBRI Ankara menegaskan komitmennya untuk memastikan setiap aktivitas WNI di Turki berlangsung aman, legal, dan terlindungi baik dalam mencari penghidupan maupun memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di tingkat global.
KBRI Ankara menilai partisipasi Indonesia dalam berbagai agenda tersebut mencerminkan komitmen tidak hanya dalam pelindungan WNI dan peningkatan kesejahteraan PMI, tetapi juga dalam kontribusi terhadap isu kemanusiaan global. Melalui berbagai langkah ini, KBRI Ankara menegaskan perannya dalam memastikan kehadiran negara bagi WNI di luar negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama internasional. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan