BerandaInternasionalIron Dome Israel Terkecoh...

Iron Dome Israel Terkecoh Pesawat Nirawak Houthi dan Hizbullah

Israel punya sistem pertahanan terbaik terhadap rudal dan roket, tetapi sulit mendeteksi pesawat tak berawak Hizbullah.

16 Okt 2024 06:37 WIB · Internasional

Oleh LUKI AULIA

Pesawat nirawak Shahed 136-B dipamerkan di Teheran, Iran, pada September 2024.

Selama bertahun-tahun, pertahanan udara Israel digadang paling tangguh di kawasan. Setahun terakhir, Iron Dome hingga Arrow Israel bolak-balik kebobolan pesawat nirawak Houthi dan Hizbullah.

Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem mengatakan, perang akan berlanjut, kecuali ada gencatan senjata. ”Karena Israel menyasar seluruh Lebanon, kami berhak menyasar tempat mana pun di Israel. Di tengah, utara, atau selatan,” ujarnya pada Selasa (15/10/2024).

Baca juga: Komunitas Kristen Lebanon Tak Lepas dari Serangan Israel

Ia menyampaikan hal itu setelah Israel menyasar Aitou. Kota yang berada 60 kilometer di timur laut Beirut itu jauh dari markas Hizbullah. Mayoritas penduduknya Kristen.

Pada Selasa dini hari, Hizbullah mengklaim menjatuhkan pesawat nirawak Hermes 450 milik Israel. Hizbullah tidak mengungkap kapan dan di mana pastinya pesawat nirawak andalan Israel itu dijatuhkan.

Penjatuhan diungkap beberapa jam selepas Panglima Angkatan Bersenjata Israel Herzi Halevi menyebut serangan pesawat nirawak Hizbullah menyakitkan dan menyulitkan. Bahkan, Halevi diisukan tewas dalam serangan pesawat nirawak Hizbullah.

Baca juga: Hampir 100 Peluncur THAAD untuk Melindungi Israel

Pesawat-pesawat nirawak Hizbullah, juga Houthi, berulang kali menjebol lapisan pertahanan udara Israel. Pada Minggu malam, pesawat nirawak Hizbullah menghantam markas Brigade Golani. Serangan itu menewaskan 4 tentara dan melukai 67 orang,

Serangan ke Israel berevolusi. Dulu, aneka roket jadi perangkat serangan. Karena itu, beragam arhanud dikembangkan untuk menangkis aneka roket serta rudal. Iron Dome untuk pencegat jarak pendek. Ketapel Daud dan Arrow-2 untuk jarak menengah. Sementara jarak jauh mengandalkan Arrow-3.

Peluncur Iron Dome milik israel di Ashkelon pada Agustus 2022.

Lapisan arhanud itu ternyata tetap belum bisa menjatuhkan semua perangkat serangan ke Israel. Setahun terakhir, Israel sibuk menjatuhkan pesawat tak berawak dari Yaman, Irak, dan Iran.

Meski banyak yang berhasil ditembak jatuh, tetap saja banyak yang berhasil masuk dan mematikan. Para ahli sudah memperingatkan sistem pertahanan udara Israel tidak sepenuhnya aman. Serangan ke markas Brigade Golani buktinya.

Baca juga: Kecohan Pesawat Nirawak di Medan Perang, dari Taktik Israel hingga Perang Ukraina

Sampai sekarang Israel masih menyelidiki bagaimana pesawat tak berawak yang jatuh di kamp militer itu bisa menembus pertahanan udara Israel. Ada sepasang pesawat tak berawak yang masuk. Hanya satu yang berhasil ditembak jatuh. Sementara satu lagi maju terus menuju sasaran.

Pesawat nirawak Hermes 900 buatan Israel dipamerkan di Manila, Filipina, pada September 2024.

Beberapa menit sebelumnya, sirene serangan udara sudah berbunyi menandakan ada pesawat tak berawak yang masuk. Namun, tidak ada sirene yang berbunyi di pangkalan militer sehingga tidak ada peringatan dini bagi tentara Israel. Ini mengindikasikan pesawat tak berawak itu luput dari radar Israel.

Harian The Jerusalem Post, Minggu (13/10/2024), menyebutkan, pesawat tak berawak yang digunakan dalam serangan Brigade Golani itu diyakini jenis Mirsad-1 yang sudah digunakan selama lebih dari 20 tahun. Rancangannya dari Iran.

Baca juga: Jejak Pengembangan Pesawat Nirawak Iran

Pesawat tak berawak itu dapat membawa bahan peledak hingga 40 kilogram, kecepatan tertingginya 370 kilometer per jam, dan daya jangkaunya hingga 120 kilometer.

Kunci keberhasilan serangan pesawat tak berawak, klaim Hizbullah, adalah mengakali pertahanan udara Israel dengan meluncurkan puluhan rudal dan ”skuadron” pesawat tak berawak secara bersamaan. Pesawat tak berawak lebih sulit dideteksi dan dilacak ketimbang roket atau rudal.

Sejumlah pesawat nirawak Iran dipamerkan di Teheran pada Januari 2024.

Mantan Kepala Komando Pertahanan Udara Militer Israel Ran Kochav menilai, pesawat tak berawak menjadi ancaman nyata. ”Sudah enam orang yang tewas dalam 10 hari terakhir akibat pesawat tak berawak. Itu sudah terlalu banyak,” ujarnya.

Pesawat tak berawak yang dioperasikan dari jauh dapat diam-diam memasuki, mengawasi, dan menyerang wilayah musuh, tidak seperti rudal dan roket. Israel memiliki armada pesawat tak berawak yang tangguh dan mampu menjalankan misi mata-mata dan serangan.

Baca juga: Membedah Pesawat Houthi Yaman yang Membawa Maut ke Israel

Mereka juga sudah mengembangkan pesawat tak berawak yang mampu mencapai Iran, sekitar 1.500 kilometer jauhnya. Tetapi, bukan hanya Israel yang menggenjot teknologi tak berawak. Musuh-musuhnya pun beberapa kali mengejutkan selama setahun terakhir karena serangan yang berakibat fatal.

<i>Drone </i>serang Syahid buatan Iran diluncurkan Rusia ke arah Kota Kyiv, Ukraina, 17 Oktober 2022.

Harian The New York Times, Senin (14/10/2024), menuliskan, Israel memiliki sistem pertahanan udara terdepan di dunia untuk mendeteksi dan mencegat rudal. Akan tetapi, sistem pertahanan itu kesulitan mendeteksi pesawat tak berawak yang bergerak lebih lambat.

Pesawat nirawak melaju rata-rata 200 kilometer per jam. Sementara pesawat jet bisa melaju 900 kilometer per jam.

Baca juga: Iran Serbu Israel dengan Ratusan Pesawat Nirawak

Pesawat nirawak sering kali mengandung lebih sedikit logam dan memancarkan lebih sedikit panas dibandingkan roket dan rudal berkecepatan tinggi. Ini berarti pesawat tak berawak tidak selalu memicu peringatan.

Jika pun terdeteksi, pesawat tak berawak musuh terkadang dikira pesawat Israel, termasuk pesawat pribadi kecil. Kadang juga dikira burung. Ini karena mereka mampu terbang pada ketinggian dan kecepatan yang sama rendahnya.

Lintasannya juga lebih sulit dilacak. Pesawat tak berawak bisa terbang memutar ke mana suka, bisa datang dari arah mana saja, dan bisa berubah lintasan dengan cepat.

Bagian-bagian pesawat tak berawak Shahed yang ditembak jatuh yang diluncurkan Rusia ditumpuk di ruang penyimpanan laboratorium penelitian di Kyiv, Ukraina, pada 28 Agustus 2024.

”Semua sistem di Barat—bukan hanya Israel—dibangun untuk mempertahankan atau melindungi wilayah udara dari pesawat tempur dan rudal biasa. Kita perlu mendesain ulang sebagian dari sistem ini sehingga bisa melihat, mendeteksi, dan melacak target yang bergerak lambat seperti pesawat tak berawak,” kata mantan Kepala Departemen Pesawat Tak Berawak di Angkatan Udara Israel Ofer Haruvi.

Hizbullah mulai menggunakan pesawat tak berawak buatan Iran setelah Israel menarik diri dari Lebanon selatan pada tahun 2000. Iran mengirim pesawat tak berawak pengintai Mirsad pertama ke Israel pada 2004. Hizbullah masih menerima bantuan dari Iran dan diduga pesawat tak berawaknya dirakit para ahli dari Hizbullah.

Puing-puing <i>drone </i>Syahid buatan Iran yang digunakan Rusia menyerang Ukraina disimpan di sebuah laboratorium di Kota Kyiv, Ukraina, Rabu (28/8/2024).

Direktur Penelitian di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Alma, Tal Beeri, menjelaskan, pesawat tak berawak menjadi sistem strategis yang terinspirasi dari Iran. Sejak mulai menyerang Israel pada Oktober 2023, Hizbullah sudah meluncurkan sedikitnya 1.500 pesawat tak berawak pengintai dan serang.

Baca juga: Hizbullah-Israel Saling Serang Skala Besar, Kawasan Menegang

Pesawat tak berawak serang yang sering mengenai sasaran sipil memiliki muatan 10 kilogram bahan peledak dan mampu terbang ratusan kilometer.

Beeri menambahkan, Hizbullah, Mei lalu, menggunakan untuk pertama kalinya pesawat tak berawak yang mampu menembakkan rudal anti-tank. Selama ini pesawat tak berawak dipakai untuk mengikis kemampuan pertahanan udara Israel dengan menghantamkannya ke baterai dan infrastruktur.

Foto yang diperoleh dari Pusat Media Houthi Ansarullah, Yaman, pada 23 Juli 2024 ini menunjukkan model pesawat tak berawak baru kelompok pemberontak Houthi, yang didukung Iran yang dijuluki Yafa, ditampilkan di lokasi yang dirahasiakan di Yaman.

Hizbullah juga memakai pesawat tak berawak peledak Ababil untuk menjatuhkan balon observasi Sky Dew Israel. Hizbullah diduga masih punya banyak simpanan, tapi belum digunakan. Hizbullah pernah merilis video yang menunjukkan sebuah gudang berisi penuh pesawat tak berawak.

Baca juga: Mengulik Siasat Houthi Yaman Menghantamkan Pesawat Nirawak ke Israel

Pusat Diklat Alma memperkirakan Hizbullah memiliki sedikitnya 2.000 pesawat tak berawak dan banyak yang merupakan model paling canggih, seperti Mohajer-4 dan Shahed.

Harian The Jerusalem Post, Senin (14/10/2024), menyebutkan, Hizbullah memiliki lima jenis pesawat tak berawak. Pesawat tak berawak observasi, kamikaze, Mirsad-1 dan Mirsad-2, Ababil, dan Shahed. Pesawat tak berawak observasi hanya mampu merekam video dan mengumpulkan informasi intelijen.

Pesawat tak berawak kamikaze yang dirancang jadi senjata. Keluarga pesawat tak berawak Mirsad-1 dan Mirsad-2 didasarkan pada pesawat tak berawak rancangan Iran bernama Ababil dan Mohajer. Bentuknya seperti tabung panjang dan sayapnya lebih panjang.

single

Adapun Ababil panjangnya 6 meter dan mirip dengan Mirsad, tetapi bisa membawa amunisi lebih banyak. Ababil ini yang jadi andalan Hizbullah. Model Shahed-136 beratnya sekitar 200 kilogram dan memiliki hulu ledak hingga 50 kilogram. Lebar sayapnya 2,5 meter dan panjangnya 3,5 meter.

Jangkauannya bisa mencapai 2.000 kilometer. Shahed-136 pertama kali terlihat di Yaman pada Januari 2021. Pesawat ini juga diekspor ke Rusia untuk digunakan melawan Ukraina dalam perang yang dimulai pada 2022.

Baca juga: ”Drone” Hizbullah kembali Tembus Kubah Besi Israel, Empat Tentara Israel Tewas

Ada beberapa cara untuk memerangi pesawat tak berawak. Kepala R2 Wireless, perusahaan perancang sistem deteksi pesawat tak berawak yang bekerja sama dengan militer Israel, Onn Fenig, mengusulkan peningkatan kemampuan radar.

Sistem itu juga harus punya reseptor yang secara pasif mendeteksi dan mengklasifikasikan gelombang radio yang dipancarkan pesawat nirawak, sensor optik yang memindai langit untuk mencari tanda-tanda visual pesawat nirawak, dan sensor akustik yang mendeteksi suara mesin pesawat nirawak. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

LUKI AULIA
 | 

Editor:

KRIS MADA