Israel sengaja menyerang jurnalis di Lebanon, Palestina, Suriah, dan kini Iran. Tidak satu pun orang Israel dihukum karena serangan itu.
17 Jun 2025 10:50 WIB · Internasional
TEHERAN, SELASA — Israel terus sengaja menyerang jurnalis yang sedang bertugas. Kali ini, Israel sengaja menyerang stasiun televisi Iran di tengah siaran langsung.
Kantor IRIB di Teheran diserang pada Senin (16/6/2025) malam. Penyiar Sahar Emami sedang menjelaskan perkembangan serangan Israel ke Iran kala serangan terjadi. ”Kami diserang karena ini strategi musuh menyerang media,” kata Direktur IRIB Peyman Jebelli kepada kantor berita MEHR.
Serangan itu menewaskan tiga jurnalis IRINN, kanal televisi yang dimiliki IRIB. Sejumlah karyawan IRINN dan IRIB juga tewas akibat serangan tersebut
Serangan ke IRIB bukan kebrutalan perdana Israel terhadap jurnalis yang sedang bertugas. Mengacu pada Committee to Protect Journalist (CPJ), serangan Israel ke Lebanon-Palestina pada 2023-2025 menewaskan 185 jurnalis.
Jumlahnya bisa lebih besar bila menghitung korban yang tewas saat sedang tidak bertugas. ”Setiap kali jurnalis tewas, cedera, ditawan, atau dipaksa mengasingkan diri, kita kehilangan elemen kebenaran. Mereka yang bertanggung jawab pada korban ini menghadapi dua pengadilan: satu di bawah hukum internasional dan satu lagi di hadapan pengadilan sejarah,” kata Program Direktur CPJ Carlos Martinez de la Serna.
Tidak hanya membunuh, Israel juga melarang jurnalis bekerja secara bebas di Israel ataupun Palestina. Di Gaza, tidak ada jurnalis bisa meliput aktivitas militer Israel, Tzahal, tanpa sensor.
Setiap tulisan, video, atau foto liputan aktivitas Tzahal hanya boleh diedarkan jika sudah disensor Israel. Berbagai kantor media selalu menuliskan keterangan karya jurnalistik yang mereka siarkan telah melewati pemeriksaan dan sensor Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/17/2d22a62b-864f-4d33-bdab-40fda2d4a565_jpg.jpg)
Israel menuding IRIB dan seluruh media Iran sebagai kanal proganda. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan akan menyerang semua media Iran. Berselang beberapa jam, kantor IRIB diserang.
Melansir harian Times of Israel, militer Israel menyerang stasiun IRIB dengan empat bom. Emami bahkan sempat mengatakan, sejumlah wartawan menjadi korban dalam serangan Israel ke IRIB. ”Ini serangan yang jahat dan merupakan kejahatan perang,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei.
Meski sudah menewaskan banyak jurnalis, belum ada satu pun tentara atau polisi Israel dihukum. Bahkan, negara-negara pendukung Israel di Eropa dan Amerika bungkam.
Padahal, biasanya negara-negara itu mengecam pemberangusan kebebasan pers. ”Tidak ada pernyataan serius terkait dengan pelanggaran Konvensi Geneva ini,” kata Pemimpin Redaksi International Reporter Agency di Rusia, Christelle Neant, kepada Tass.
Jurnalis kelahiran Perancis yang kini jadi warga Rusia itu menyebut, Israel mendapat kekebalan dari Barat untuk terus membunuhi dan melukai jurnalis. ”Israel takut jurnalis karena mereka takut kebenaran, takut kejahatan perang militer Israel disiarkan,” katanya.
Serangan Israel ke Iran tak hanya menyasar jurnalis. Baghaei dari Kemenlu Iran menyebut, 73 anak dan perempuan tewas sejak akibat serangan terbaru Israel.
”Israel selalu menyangkal ada kerusakan pada permukiman (di Iran). Faktanya, total 73 perempuan dan anak tewas dalam tiga serangan terakhir saja,” katanya.
Jumlah korban di Iran terus bertambah. Di serangan perdana Israel pada Jumat dini hari, 20 anak tewas di satu lokasi. Mereka tewas karena rumah susun keluarga mereka diserang Israel.
Iran membalas rangkaian serangan Israel dengan rudal dan pesawat nirawak. Menurut CNN, setidaknya 370 rudal dan jauh lebih banyak pesawat nirawak Iran menyasar berbagai kota di Israel.
Tzahal telah melarang warga membagikan rekaman video dan foto kerusakan itu. Media Israel, Kaan, melaporkan, Israel kini mulai melarang jurnalis asing menyiarkan laporan kerusakan akibat serangan Iran.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/17/bc639a3d-e9ed-4904-b1cc-c3705da9a687_jpg.jpg)
Bukan cuma warga Iran-Israel, perang itu juga berdampak pada warga Indonesia. Kemenlu RI menyebut, 386 warga Indonesia tinggal di Iran dan 194 lain ada di Israel. Sejauh ini, belum ada laporan WNI terluka.
Walakin, ada sejumlah pelancong Indonesia tidak bisa pulang dari Israel dan Iran. Sebab, penerbangan dari dan ke negara itu berhenti beroperasi.
Warga dunia juga bisa terdampak lebih jauh dengan tindakan pembalasan Iran. Teheran terus meninjau rencana menutup Selat Hormuz. Hingga 20 persen minyak dan gas global dikirim melewati selat itu. Jika Iran menutup selat itu, pasokan energi global terdampak.
Wacana itu dilaporkan oleh Euronews yang mengutip Komandan Garda Revolusi Iran Sardar Esmail Koswari. ”Kami sedang mencari keputusan terbaik. Kami harus memberi efek jera kepada musuh dan semua strategi diperhitungkan,” ujarnya. (AP/AFP)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .