Jadi Perlindungan Terbaik, Harga Emas Naik ”Gila-gilaan” Tahun Ini

Harga emas mencatat kenaikan tertinggi sejak 1979. Masih akan terus naik di tengah ketegangan geopolitik

23 Des 2025 13:00 WIB · Internasional

AFP/DAVID GRAY

Oleh Fransisca Romana Ninik W

Harga emas kembali mencapai rekor tertinggi, diperdagangkan di atas 4.400 dollar AS per troy ounce untuk pertama kalinya. Emas masih dianggap sebagai perlindungan terbaik dari ancaman berbagai gejolak ekonomi.

Laman ABC News, Selasa (23/12/2025), menyebutkan, rekor harga baru ini memperpanjang tahun yang gemilang bagi logam mulia tersebut. ”Pergerakan harga ini telah mencetak sejarah,” kata Jim Wyckoff, analis pasar senior di Kitco Metals, kepada ABC News.

Harga emas sudah naik hampir 70 persen pada 2025. Pada Senin (22/12/2025) siang, harga emas tercatat 4.470 dollar AS per troy ounce. Pada awal tahun ini, emas mulai diperdagangkan dengan harga 2.600 dollar AS per troy ounce.

Kenaikan harga emas terjadi di tengah momen goyahnya perekonomian dan mencuatnya keresahan global yang terus-menerus. Pasar tenaga kerja melambat dalam beberapa bulan terakhir, sementara inflasi meningkat.

Konflik geopolitik membayangi di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat terhadap Venezuela dan masih berlangsungnya perang Ukraina-Rusia. Logam mulia dipandang sebagai lindung nilai terhadap keresahan geopolitik.

Emas sebagai aset penyimpan nilai yang telah ada selama ribuan tahun dianggap sebagai investasi yang dapat bertahan lebih lama dari gejolak yang terjadi. ”Itulah katalis yang telah mendorong harga emas lebih tinggi,” tambah Wyckoff.

Menurut Adrian Ash, direktur riset di pasar emas batangan BullionVault, ini kenaikan tertinggi sejak 1979. Harga emas kembali naik karena ekspektasi bahwa bank sentral AS akan memangkas suku bunga lebih lanjut tahun depan.

(FILES) A worker polishes gold bullion bars at the ABC Refinery in Sydney on August 5, 2020. Gold prices shot to a record high on December 22, 2025 as investors grow increasingly optimistic the US Federal Reserve will continue to cut interest rates through next year. (Photo by DAVID GRAY / AFP)

Selain itu, laporan BBC edisi Senin menyebutkan, lonjakan harga emas tahun ini banyak dipengaruhi ketegangan geopolitik dan tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap banyak negara.

”Tahun 2025 ditandai dengan tren yang berlangsung lambat seputar suku bunga, perang, dan ketegangan perdagangan. Pasar logam mulia mengatakan Presiden Trump benar-benar telah memicu sesuatu dan harga emas melonjak tahun ini,” ujar Ash, dikutip BBC.

Analis memperkirakan AS akan menurunkan suku bunga dua kali pada 2026. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah biasanya berarti pengembalian yang lebih rendah pula untuk investasi seperti obligasi. Oleh sebab itu, investor mencari komoditas seperti emas untuk mendapatkan pengembalian.

Faktor lain yang melecut tingginya harga emas adalah bank sentral di seluruh dunia memperluas kepemilikan fisik emas. Analis dari Goldman Sach, sebagaimana dikutip BBC, menyebutkan, cara ini untuk melawan gejolak ekonomi, mengurangi ketergantungan pada dollar AS, dan mendiversifikasi portofolio. Pola ini diperkirakan berlanjut pada 2026.

Harga emas dunia yang stabil tinggi karena emas dipandang sebagai cara bagi para pedagang untuk melindungi diri dari ancaman inflasi dan gejolak ekonomi. ”Ketika kepercayaan pada aset keuangan dan stabilitas kebijakan mulai goyah, emas cenderung merespons lebih dulu sebagai logam moneter utama,” ujar Anita Wright, perencana keuangan berlisensi di Ribble Wealth Management kepada BBC.

Lantaran defisit fiskal yang besar di AS, Inggris, Eropa, juga di Jepang dan China, nilai emas sebagai potensi lindung nilai moneter muncul kembali. ”Emas yang sebelumnya tertekan relatif terhadap aset nominal untuk lindung nilai kini dinilai lebih rasional,” kata Matthew McLennan, kepala tim nilai global di First Eagle Investment, saat program The Exchange CNBC edisi 17 Desember.

Perpindahan aset ke emas saat turbulensi pasar, menurut ABC News, terjadi selama beberapa dekade terakhir. Analisis tentang hal ini ditulis oleh Campbell Harvey, profesor di Sekolah Bisnis Fuqua Duke, pada 2020. Harga emas naik selama tujuh dari sembilan penjualan besar-besaran di pasar saham yang terjadi sejak akhir 1980-an.

Lonjakan harga emas juga bertepatan dengan melemahnya nilai tukar dollar AS. Selama paruh pertama 2025, nilainya terhadap mata uang lain merosot 11 persen. Menurut laporan Morgan Stanley pada Agustus, ini penurunan terbesar dalam setidaknya 50 tahun terakhir.

Beberapa analis mengungkapkan, penurunan nilai dollar AS mencerminkan pergeseran dari ketergantungan pada dollar AS sebagai mata uang cadangan global. Investor juga memperhatikan perubahan kebijakan ekonomi AS dan tekanan Trump terhadap The Fed. ”Banyak investor dan lembaga di seluruh dunia mencari aset defensif alternatif. Banyak dari investor menyadari mereka masih kurang berinvestasi dalam emas,” ujar Harvey.

(FILES) A worker displays a one kilogram gold bullion bar at the ABC Refinery in Sydney on August 5, 2020. Gold prices shot to a record high on December 22, 2025 as investors grow increasingly optimistic the US Federal Reserve will continue to cut interest rates through next year. (Photo by DAVID GRAY / AFP)

Perak melejit

Tak hanya emas, harga perak juga melejit. Tahun ini, harga perak mencetak regor tertinggi sebesar 69,44 per troy ounce pada Senin. Dibandingkan pada awal tahun, harga perak naik hingga 138 persen.

Harga perak biasanya mengikuti pergerakan emas. Tidak seperti emas, logam mulia lainnya banyak digunakan dalam manufaktur industri sehingga meningkatkan permintaan.

Namun, menurut Wyckoff, harga emas dan perak memiliki volatilitas tersendiri. Ini terutama ketika pembeli memasuki pasar pada titik tertinggi, mempertaruhkan kerugian alih-alih memberikan jaminan keamanan.

”Pasar komoditas mentah mengalami siklus ledakan dan penurunan. Kita berada di siklus ledakan untuk emas dan perak,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan