Milan berusaha memberi noda pertama bagi Juventus musim ini. Menjelang laga, pelatih Milan Paulo Fonseca mengalami ”masalah terindah” yang harus dituntaskan.
22 Nov 2024 16:24 WIB · Olahraga
MILAN, JUMAT — Kesempurnaan Juventus mendapat ujian besar dari AC Milan saat kedua tim bertemu di Stadion San Siro, Milan, Minggu (24/11/2024) pukul 00.00 WIB. Pelatih Milan Paulo Fonseca dihadapkan pada masalah terindah yang bisa menjadi modal mengatasi ”Si Nyonya Besar”.
Hingga pekan ke-12 liga, belum ada tim di Italia yang mampu menemukan cara mengalahkan Juventus. Di bawah besutan Thiago Motta, Juventus memang belum menjelma jadi tim yang mematikan. Namun, mereka hingga saat ini masih sangat sulit ditaklukkan. Pada pertandingan sebelumnya, Juventus meraih hasil positif dengan memenangi derby della Molle menghadapi Torino.
Para pemain bertahan Milan terlalu banyak melihat bola dan kurang memperhatikan pemain lawan.
Adapun Milan, pada laga sebelumnya, justru hanya mampu bermain imbang 3-3 menghadapi tuan rumah, Cagliari. Meski sempat unggul, kelengahan lini belakang Milan menyebabkan mereka harus puas pulang dengan satu poin.
Meski tampil atraktif dengan berhasil mencetak tiga gol dalam lima pertandingan terakhir di semua kompetisi, Milan punya masalah serius di pertahanan. Gawang Milan sejauh ini telah kebobolan 14 gol dalam 11 pertandingan. Jumlah kebobolan itu merupakan yang terbanyak dari tim penghuni peringkat tujuh besar.
”Para pemain bertahan Milan terlalu banyak melihat bola dan kurang memperhatikan pemain lawan. Di area tersebut, seperti yang selalu saya katakan, bola tidak akan masuk kecuali ada lawan yang mendorongnya,” kata mantan Pelatih Milan Fabio Capello.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/22/09e1360bc4d89d40617a612e7eec75e4-Italy_Soccer_Serie_A_124837807.jpg)
Jelang menjamu Juventus, Fonseca bisa sedikit tersenyum berkat kehadiran kembali bek tengah, Matteo Gabbia, yang bisa diandalkan menutup lubang di pertahanan. Gabbia sudah melewatkan beberapa pertandingan bersama Milan akibat cedera betis. Ia tampak mulai berlatih sejak jeda internasional agar kebugaran fisiknya bisa 100 persen saat melawan Juventus.
Statistik menunjukkan, Gabbia bisa menjadi solusi dari rapuhnya pertahanan Milan belakangan ini. Saat Gabbia bermain, jumlah kebobolan Milan rata-rata sebanyak 0,88 gol per laga. Sementara itu, saat Gabbia absen, Milan mencatatkan rerata gol sebanyak 1,66 gol per laga.
Tidak seperti Juventus yang kehilangan sejumlah pemain kunci, seperti Dusan Vlahovic, Arkadiusz Milik, dan Gleison Bremer, Milan tergolong lebih beruntung karena memiliki skuad yang lengkap. Setelah pulihnya Gabbia, Fonseca bisa mengalihkan perhatian pada lini tengah.
Banyaknya opsi pemain yang bisa diturunkan di lini tengah menjadi ”masalah terindah” bagi Fonseca. Pelatih asal Portugal itu dikabarkan bimbang tentang siapa tiga gelandang di belakang penyerang yang harus diturunkan.
Selama ini, Fonseca mengandalkan formasi 4-2-3-1. Pos penyerang bisa diisi Alvaro Morata atau Tammy Abraham. Dengan banyaknya pemain tersedia, Fonseca dihadapkan pada sejumlah opsi kombinasi tiga gelandang di belakang penyerang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/22/f217f58a24f1b59616a3c9f954fb1750-FBL_EUR_C1_MILAN_BRUGGE_124924710.jpg)
Pilihan pertama, Fonseca bisa menurunkan Rafael Leao, Christian Pulisic, dan Yunus Musah. Opsi kedua adalah menurunkan Leao, Pulisic, dan Samuel Chukwueze. Adapun pilihan ketiga adalah kombinasi antara Leao, Ruben Loftus-Cheek, dan Pulisic.
Setiap pilihan menawarkan kelebihan masing-masing. Kombinasi pertama akan membuat lini tengah Milan tampil agak bertahan, tetapi mampu stabil dalam fase menyerang maupun bertahan. Adapun kombinasi kedua berpotensi membuat Milan lebih agresif dalam menyerang. Kombinasi ketiga merupakan campuran dari kombinasi pertama dan kedua.
Hingga saat ini, Fonseca belum menuntaskan masalah terindahnya itu. Dia harus segera menentukan susunan pemain yang paling efektif meredam Juventus.
Di sisi lain, absennya Vlahovic dan Milik mau tidak mau memaksa Motta menggunakan penyerang palsu dalam formasi 4-2-3-1. Pilihan yang tersedia ada dua, yaitu Timothy Weah atau Kenan Yildiz.
Weah kemungkinan besar akan mengemban peran tersebut mengingat performanya yang sedang menanjak belakangan ini. Pada laga sebelumnya menghadapi Torino, Weah mencetak satu gol. Itu merupakan gol keempatnya dalam delapan laga Liga Italia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/22/c4f1d46ef0c2a95625aa4b24b31fa0a8-Italy_Soccer_Serie_A_125394280.jpg)
Laga menghadapi Milan akan cukup spesial bagi Weah. Sang ayah, George Weah, merupakan ikon Milan. Stadion San Siro pun sudah seperti rumah kedua bagi Weah.
Sementara itu, Motta menilai timnya masih perlu meningkatkan kolektivitas antarpemain. Dia menggarisbawahi pertahanan Juventus yang masih sangat mudah ditembus para pemain lawan.
”Kami harus meningkatkan diri secara kolektif, bersatu, dan saling membantu. Kami harus agresif dan tidak membiarkan ruang antarlini,” ucap Motta.
Milan dan Juventus saat ini berselisih enam poin pada klasemen sementara liga. Juventus sementara berada di depan Milan dengan mengoleksi 24 poin di peringkat keenam.
Dengan begitu, Fonseca turut terbebani target untuk meraih poin penuh dari Juventus demi memangkas jarak menjadi tiga poin.
(Reuters)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji Dewabrata