Jakarta Tambah Pengolahan Air Limbah Domestik

Sistem pengolahan air limbah domestik terpusat di kawasan TB Simatupang bisa mengurangi cemaran Kali Krukut sekaligus menambah air baku.

10 Des 2024 13:30 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

JAKARTA, KOMPAS — Perumda Paljaya memulai proyek pembangunan sistem pengolahan air limbah domestik terpusat di kawasan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (10/12/2024). Proyek kerja sama dengan PAM Jaya ini untuk sanitasi aman sekaligus pengolahan air limbah menjadi air baku.

Proyek pembangunan ini dimulai setelah bergulir sejak tahun 2018. Konstruksinya terdiri dari pembangunan instalasi pengolahan air limbah domestik di lahan instalasi pengolahan air PAM Jaya dan jaringan perpipaan dengan alokasi anggaran tahap I sebesar Rp 175 miliar untuk pengerjaan hingga awal tahun 2026.

Konstruksi tahap I terdiri dari bangunan sipil, sistem mekanikal-elektrik, fasilitas pengolahan air sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 Tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan, pipa sepanjang 2,54 kilometer, dan 31 manhole sedalam 7,9-18,7 meter.

Sementara itu, konstruksi tahap II sedang dalam penjajakan skema business to business. Bagian ini terdiri dari instalasi pengolahan air limbah domestik, fasilitas pengolahan air lanjutan, dan perluasan jaringan pipa induk, pipa retikulasi, dan menambah pelanggan dengan target 114.000 jiwa.

Penjabat Gubernur DKI Jakarta Teguh Setyabudi menjelaskan tentang proyek sistem pengelolaan air limbah domestik terpusat di kawasan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (10/12/2024).

Direktur Utama Perumda Paljaya Untung Suryadi mengatakan, kawasan TB Simatupang strategis untuk proyek tersebut karena terdiri dari area bisnis, komersial, dan pertumbuhan penduduk. Ketiganya membutuhkan sanitasi aman sekaligus konsumsi air baku yang tinggi.

”Kami bangun pengelolaan terpusat seperti ini agar limbah dikumpulkan dan dikelola supaya tidak mencemari lingkungan. Juga diolah sebagai air baku PAM Jaya atau resapkan ke tanah,” ujar Untung seusai groundbreaking proyek pembangunan itu.

Sistem pengolahan air limbah domestik terpusat ini diproyeksikan mengelola 4.000-6.000 meter kubik limbah setiap harinya. Limbah akan menjadi air baku yang diresapkan atau dialirkan ke Kali Krukut di sekitar situ, air baku yang akan diolah kembali oleh PAM Jaya, dan endapan lumpur di tempat penampungan.

Menurut Untung, proyek itu akan berdampak ganda. Selain mengurangi pencemaran Kali Krukut sebagai salah satu sumber air baku, juga berpotensi menambah 1 persen cakupan layanan air bersih di Cilandak dan sekitarnya.

”Pekerjaan rumah masih banyak. Kami terus bersinergi untuk samakan layanan sanitasi aman dan pengelolaan air limbah,” tutur Untung.

Warga mengisi air bersih dari tandon air milik PAM Jaya di RW 22, Blok Eceng, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (15/11/2022). Sejumlah warga di Pluit, Penjaringan, masih menggunakan air tanah untuk kebutuhan mandi, mencuci baju, dan buang air besar atau kecil. Walaupun sudah terdapat kios air milik PAM Jaya di daerah tersebut, kebutuhan air untuk memasak dan minum untuk warga belum terpenuhi. Sulitnya air bersih tersebut membuat warga harus membeli air untuk kebutuhan masak dan minum. Hingga Oktober 2022, sekitar 34 persen warga Ibu Kota masih bergantung pada air tanah. Fakhri Fadlurrohman (Z19) 15-11-2022

Diketahui juga saat ini tengah berjalan pembangunan jaringan pipa air limbah Jakarta Sewerage Development Project (JSDP) zona 1 di Pluit, Jakarta Utara. Skalanya 40 kali lebih besar dari proyek di kawasan TB Simatupang dan 6 kali lebih besar dari kapasitas layanan Perumda Paljaya sekarang.

Perumda Paljaya menjalankan tujuh pengolahan air limbah atau terpusat. Kapasitasnya mulai dari 900-21.600 meter kubik per hari.

Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin menambahkan, kerja sama ini bagian dari upaya 100 persen warga Jakarta terlayani air bersih pada tahun 2030. Salah satu sumbernya dari pengolahan air limbah menjadi air baku dan pengolahan limbah agar tidak mencemari sungai sebagai pemasok air baku.

”Limbah warga mengontaminasi Kali Krukut sehingga butuh upaya ekstra dalam pengelolaan jadi air baku. Adanya pengelolaan limbah ini bisa mengurangi kontaminasi sekaligus menambah pasokan air baku,” kata Arief.

Bantaran Kali CiliwungPemandangan bantaran Sungai Ciliwung di kawasan Kampung Melayu, Jakarta identik dengan pemukiman kumuh dan sampah seperti terlihat saat Tim Ekspedisi Ciliwung Kompas 2009 melewati kawasan tersebut, Selasa (20/1/2009).

Pelayanan publik

Penjabat Gubernur DKI Jakarta Teguh Setyabudi menekankan komitmen pemerintah untuk penyediaan air bersih dan keberlanjutan lingkungan dengan pengolahan air limbah domestik. Apalagi, Jakarta tengah menyongsong status sebagai kota global setelah tak lagi berstatus sebagai ibu kota, yang akan pindah ke Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur.

Sebelumnya, pembangunan Instalasi Pengolahan Air Ciliwung di Pejaten Timur, Jakarta Selatan, dimulai pada Senin (25/11/2024). Proyek ini ditargetkan selesai pada Mei 2026.

Quote

Limbah warga mengontaminasi Kali Krukut sehingga butuh upaya ekstra dalam pengelolaan jadi air baku. Adanya pengelolaan limbah ini bisa mengurangi kontaminasi sekaligus menambah pasokan air baku.

Instalasi Pengolahan Air Ciliwung dibangun di atas lahan seluas 2.000 meter persegi. Kapasitasnya diproyeksikan mencapai 200 liter per detik untuk melayani 15.000 kepala keluarga atau sekitar 90.000 jiwa.

”Ini standar pelayanan minimal air bersih. Urusan esensial dan wajib dibutuhkan masyarakat. Kami juga menyadari masih cukup banyak warga buang air sembarangan atau tidak terkelola sehingga harus ditangani agar tidak mencemari badan air dan kualitas air tanah, serta tidak meningkatkan risiko penyakit,” papar Teguh.

Dalam kesempatan yang sama, anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wa Ode Herlina, meminta pemerintah terus menghasilkan terobosan dalam penyediaan air baku dan pengelolaan limbah. Semuanya untuk kota sehat dan layak huni, serta kesejahteraan warga.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

C. Wahyu Haryo P
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra