Jembatan ”bailey” hanya bisa dilewati kendaraan satu arah sehingga akan diberlakukan sistem buka-tutup.
03 Mar 2025 13:10 WIB · Nusantara
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/bda37045b6718e9295eee0f426c4dcee-WhatsApp_Image_2025_03_03_at_11.32.43_AM.jpeg)
PADANG, KOMPAS - Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Jambi sedang menyiapkan jembatan bailey di lokasi amblesnya Jalan Nasional Lintas Sumatera yang menghubungkan Sumatera Barat dan Jambi di Kabupaten Bungo. Pemasangan jembatan darurat ini membutuhkan waktu 4-7 hari tergantung kondisi cuaca.
Nantinya, selain memberlakukan sistem buka-tutup, akan ada pembatasan berat di jembatan itu. Kemungkinan truk-truk berat tidak bisa melewati jembatan. Kapasitas jembatan itu bisa mencapai delapan ton, tetapi batas amannya sekitar lima ton.
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Jambi Ibnu Kurniawan, Senin (3/3/2025), mengatakan, bahan-bahan untuk jembatan bailey sudah tiba di lokasi. Pihaknya sedang mencari pekerja untuk pemasangan.
“Pekerjaan sudah dimulai. Persiapan ini juga bagian dari pekerjaan,” katanya.
Selain itu, kata Ibnu, balai juga menunggu kiriman geo bag atau sand bag bantuan dari Balai Wilayah Sungai Sumatera VI Jambi untuk pelindung jalan supaya tidak lagi tergerus air. Geo bag dan sand bag itu dikirim dari Jambi sejak subuh dan diperkirakan tiba di lokasi siang ini.
Ibnu menjelaskan, normalnya pemasangan jembatan bailey butuh waktu empat hari. Namun, prakiraan cuaca BMKG menyebutkan, Bungo akan hujan terus setiap hari, kecuali Jumat (7/3/2025). Cuaca yang tidak mendukung ini akan mempengaruhi pengerjaan jembatan.
“Kalau waktu normal, empat hari selesai. Kalau hujan seperti ini terus, ini bisa jadi tujuh hari, semingguan. Tapi kami akan upayakan secepatnya,” ujar Ibnu.
Menurut Ibnu, jembatan bailey yang akan dipasang memiliki lebar lima meter dan panjang bentangan 30 meter. Jika sudah terpasang, lalu lintas akan diberlakukan sistem buka-tutup karena cuma bisa dilewati kendaraan dari satu arah.
Selain sistem buka-tutup, kata Ibnu, akan ada pembatasan berat. Jadi, kemungkinan truk-truk berat tidak bisa melewati jembatan. Kapasitas jembatan itu bisa mencapai delapan ton, tetapi batas amannya sekitar lima ton.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/8995b0c63aedf96da428ca0b8077a7d7-cropped_image.jpg)
Sebelumnya, Jalan Nasional Lintas Sumatera ambles akibat hujan deras di Bungo pada Minggu (2/3/2025) pukul 15.20. Lokasinya berada di Desa Tukum, Kecamatan Jujuhan, Bungo, tak jauh dari perbatasan Bungo dan Dharmasraya, Sumbar.
Jalan ambles karena gorong-gorong di bawahnya tidak kuat menampung debit air. ”Gorong-gorong jebol dan badan Jalan Lintas Sumatera putus total sekitar 12 meter,” kata Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Dharmasraya Ajun Komisaris Zamrinaldi, Minggu.
Akibat putusnya badan Jalan Lintas Sumatera itu, kata Zamrinaldi, akses lalu lintas dari arah Sumbar menuju Jambi ataupun sebaliknya tidak dapat dilewati berbagai jenis kendaraan, baik roda dua, roda empat, roda enam, hingga sumbu tiga ke atas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/02/643c4fbab727d8a86d4325918c8e46f7-WhatsApp_Image_2025_03_02_at_20.52.47.jpeg)
Kepolisian pun melakukan rekayasa lalu lintas dan mengalihkan arus lalu lintas dari arah Padang ke jalan alternatif lintas lama Koto Baru-Tanjung Simalidu Muaro Tebo. Kemudian, arus lalu lintas dari Simpang PT Peset/Simpang Ratu Balqis-Sitiung IV ke Simpang Rantau Ikil Jambi.
Terkait ambles ini, Ibnu mengatakan, berdasarkan data BMKG, curah hujan saat kejadian jalan ambles termasuk tinggi. Selain itu, informasi yang didapat balai, di sekitar lokasi juga terjadi perubahan tata guna lahan.
Perubahan tata guna lahan, kata Ibnu, membuat air yang awalnya bisa cepat meresap ke tanah, akhirnya tidak bisa meresap ke tanah dan menggenang.
“Biasanya air mengalir pelan dan gorong-gorong yang ada itu cukup. Namun, karena ini daya tampungannya sudah tidak kuat, sudah banyak airnya, jalan pun jebol,” ujarnya.
Untuk perbaikan permanen, Ibnu mengatakan, tim perencana sedang melakukan kajian solusi apa yang cocok. Bentuknya bisa berupa pemasangan jembatan, bisa pula berupa jembatan bentang pendek dengan pemasangan box culvert di bawah jalan.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .