Jalan Panjang Pertemuan Prabowo-Megawati

Bukan satu dua kali usaha pertemuan Prabowo dan Megawati diinisiasi. Ketekunan para pembawa pesan menjalin lobi menjadi kunci terwujudnya perjumpaan mereka.

11 Apr 2025 10:00 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nino Citra Anugrahanto, Antonius Ponco Anggoro

Pertemuan empat mata antara Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri boleh jadi terkesan mendadak, tetapi tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada jalan panjang yang ditempuh. Lobi-lobi elite politik dari kedua kubu bahkan telah berlangsung sejak lama.

Wacana pertemuan Prabowo dan Megawati telah bergulir sejak rampungnya gelaran Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Salah satu pertanda awal mengemuka sewaktu gelaran silaturahmi kebangsaan pimpinan Majelis Perwakilan Rakyat (MPR) dengan keluarga besar Presiden pertama RI Soekarno, yang dihadiri Megawati, pada 9 September 2024. Dalam kesempatan itu, para pimpinan MPR sekaligus menyerahkan surat terkait tidak berlakunya lagi Tap MPRS Nomor XXXII/MPRS/1967. 

Di sela-sela acara, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra Ahmad Muzani, yang ketika itu masih menjabat Wakil Ketua MPR, terlihat mengobrol santai dengan Megawati. Obrolan itu menjadi sinyal bakal bertemunya Megawati dengan Prabowo yang juga merupakan Ketua Umum Partai Gerindra. Kala itu, ia mengharapkan agar perjumpaan bisa dilangsungkan sebelum Prabowo dilantik sebagai Presiden pada 20 Oktober 2024.

Putri Megawati yang juga Ketua DPR, Puan Maharani, menunjukkan kode serupa, beberapa waktu kemudian. Momennya tertangkap ketika upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 2024. Kehangatan terasa dalam interaksi antara Puan dan Prabowo. Seusai acara, Puan juga menyebut, pertemuan kedua tokoh itu segera diadakan kendati waktunya urung pasti.

Keluarga besar Soekarno berfoto bersama pimpinan MPR usai penyerahan surat resmi pencabutan Tap MPRS No 33/1967 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (9/9/2024).

Lima hari menjelang Prabowo dilantik, pada 15 Oktober 2024, isu itu semakin santer berdengung. Itu ditandai dari kedatangan politisi senior PDI-P, Pramono Anung, yang tiba-tiba mendatangi kediaman Prabowo di Kertanegara, Jakarta. Indikasinya seolah menguat mengingat Pramono dikenal sebagai salah satu sosok pembawa pesan dari Megawati.

Sayangnya, pertemuan itu tak kunjung terwujud hingga Prabowo dilantik sebagai Presiden. Bahkan, Megawati tidak menghadiri prosesi pelantikan. Padahal, ia sudah diberi undangan secara langsung oleh Muzani. Meski demikian, komunikasi intens dijalin kedua kubu. Tidak hanya di acara-acara publik, tetapi juga di balik layar yang jauh dari sorotan masyarakat. 

Menurut sumber Kompas, salah satu perjumpaan di balik layar itu berlangsung sebelum bulan Ramadhan lalu. Saat itu, Muzani dengan ditemani Ketua DPP PDI-P Ahmad Basarah berbincang lama dengan Megawati di kediamannya di Jalan Teuku Umar, Jakarta.

Relasi Muzani dan Basarah terjalin erat sejak keduanya sama-sama menjabat Wakil Ketua MPR 2019-2024. Keduanya disebut sama-sama punya andil besar dalam upaya mempertemukan Prabowo dengan Megawati. Upaya ini tak berakhir meski pada periode 2024-2029, Basarah tak lagi menjabat pimpinan MPR, sedangkan Muzani menjabat Ketua MPR.

Pembuka jalan

Komunikasi antara Muzani dan Basarah boleh jadi menjadi titik mula pembuka jalan terjadinya pertemuan. Jalan itu kemudian semakin dilapangkan oleh putra tunggal Prabowo, Ragowo Hediprasetyo, atau Didit Hediprasetyo. Pada hari pertama Lebaran, 1 April 2025, ia bersilaturahmi dengan Megawati dan keluarga di kediaman pribadi Megawati. Kedatangannya hari itu didampingi Muzani. 

Ketua MPR Ahmad Muzani (tengah) berbincang serius dengan Wakil Ketua MPR Bambang Wuryanto dan Ketua Fraksi PDI-P di MPR Ahmad Basarah di sela-sela rapat gabungan MPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (15/10/2024).


Kehangatan antara Didit dan keluarga Megawati terekam dalam foto yang diunggah oleh Puan pada akun Instagram-nya. Pada foto itu, Didit yang mengenakan kemeja hitam diapit Puan dan putrinya, Pinka Haprani, yang sama-sama mengenakan kebaya. Ketiga sosok itu menampilkan senyum terbaiknya lewat foto tersebut.

Ternyata, momen itu berujung pada perjumpaan yang ditunggu-tunggu publik. Prabowo tiba-tiba mengunjungi Megawati di kediaman pribadinya, Minggu (6/4/2025), atau lima hari setelah Lebaran. Keduanya bertemu secara empat mata selama 1,5 jam. Perbincangannya seputar isu terkini nasional dan tantangan global yang tengah dihadapi negeri ini.

Menanggapi pertemuan itu, politisi PDI-P, Mohamad Guntur Romli, mengatakan, pertemuan di antara kedua sosok itu lebih bersifat personal. Sebatas silaturahmi Lebaran di antara dua orang sahabat. Oleh karena itu, tidak ada publikasi mengenai pertemuan itu guna menjauhi drama-drama politik. 

Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Seokarnoputri, di kediaman Megawati, di Jakarta, Senin (7/4/2025).

”Ini pertemuan dua sahabat. Bukan pertemuan dalam arti ada deal-deal untuk ke depan. Kalau pertemuan seperti itu, kan, ceritanya beda lagi,” kata Guntur saat dihubungi, Kamis (10/4/2025). 

Guntur tak memungkiri jika pertemuan itu telah direncanakan sejak lama. Wacananya saja sudah digulirkan sejak Pilpres 2024 selesai. Ada juga berbagai perjumpaan yang mengindikasikan dilangsungkannya perjumpaan. Namun, itu semua urung terjadi mengingat Prabowo dan Megawati memiliki kesibukannya masing-masing.

Kendati pelaksanaannya selalu tertunda, lanjut Guntur, komunikasi antara PDI-P dan Gerindra terus berlangsung melalui para perantara. Dari PDI-P, katanya, sosok-sosok yang sering dijadikan utusan antara lain Puan, Pramono, hingga Basarah, sedangkan Muzani dan Dasco menjadi utusan Prabowo yang kerap menjalin komunikasi dengan pimpinan partainya. Baginya, setiap pihak memiliki peranan penting untuk mewujudkan perjumpaan itu.

”Itu terjalin terus-menerus. Tidak ada satu tokoh yang dominan dibandingkan dengan yang lainnya,” ujar Guntur.

Puan Maharani dan putrinya, Pinka Haprani, menghadiri perayaan ulang tahun Didit Hediprasetyo, putra Presiden Prabowo Subianto

Menurut Guntur, sikap politik PDI-P tidak akan berubah meskipun Prabowo dan Megawati telah saling berbincang. Sejauh ini, klaim dia, PDI-P memutuskan tetap berada di luar pemerintahan Prabowo. Meski demikian, kerja sama politik bisa dijalin. Itu bisa berwujud saling tukar pikiran hingga penyusunan kebijakan melalui parlemen.

”Kalau sudah soal pilihan politik, Pak Prabowo itu sangat menghormati dan menghargai. Tidak akan dibahas dalam pertemuan. Juga, kasusnya Mas Sekjen, tidak akan dibahas hal-hal kayak gitu. Deal-deal politik tidak akan ada,” kata Guntur.

Sementara itu, Muzani menyampaikan, pertemuan itu bisa terwujud berkat pembicaraan panjang antara kedua belah pihak. Itulah yang akhirnya membuat masing-masing bisa duduk dalam persepsi yang sama. Inisiatif juga sudah diupayakan berkali-kali, tak terkecuali kunjungan Didit ke Megawati sewaktu Lebaran lalu.

”Pertemuan itu sudah beberapa kali diinisiasi dan karena kesibukan kedua beliau, akhirnya beberapa kali ter-cancel dan alhamdulilah pada momen Lebaran ini akhirnya terjadi,” kata Muzani.

Ketua DPR Puan Maharani mengajak Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto untuk berswafoto bersama di kediaman Megawati, Jakarta, Senin (2/5/2022).

Dalam momen silaturahmi itu, Prabowo justru bertindak sebagai tamu di hadapan Megawati. Tindakan untuk bertamu lantas mengundang tanya. Terlebih lagi, Prabowo sekarang menguasai pemerintahan.

”Tidak ada pertimbangan khusus. Karena Presiden, Ibu Mega kan senior ya. Usia lebih tua. Presiden lebih mendahului. Jadi, saya kira itu tata krama,” kata Muzani. 

Saling membutuhkan

Dihubungi terpisah, Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes mengatakan, kedua belah pihak menghendaki pertemuan itu sejak lama. Satu sama lain saling membutuhkan untuk memperkuat posisinya masing-masing dalam situasi perpolitikan terkini.

Di satu sisi, kata Arya, Prabowo membutuhkan kekuatan tambahan di tengah berbagai persoalan yang menerpanya. Terentang dari penolakan UU TNI yang disertai sederet aksi unjuk rasa di Tanah Air hingga tantangan ekonomi dan geopolitik terkini. Sebaliknya, PDI-P juga tengah membutuhkan jaminan perlindungan di tengah kongres partai yang akan diadakan. Apalagi gelaran kongres diterpa isu gangguan dari pihak-pihak di luar partai.

Pertemuan Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, di kediaman Megawati, di Jakarta, Rabu (24/7/2019).

”Semuanya ada take and give. Jadi, saling punya kepentingan. PDI-P punya kepentingan, sebagaimana Gerindra juga mempunyai kepentingan,” kata Arya.

Kesuksesan pertemuan itu, lanjut Arya, juga dimotori usaha bersama baik dari PDI-P dan Gerindra. Apalagi para pembawa pesan setiap kubu menunjukkan keseriusannya. Itu ditunjukkan lewat komunikasi intens dan berbagai inisiasi yang telah berlangsung berbulan-bulan sebelum akhirnya kedua pemimpin politik itu bertatap muka.

”Ini adalah usaha kedua belah pihak. Mungkin bintangnya adalah Bu Megawati dan Pak Prabowo. Tetapi, ada juga pembawa pesan yang dekat dengan kedua belah pihak. Dari PDI-P ada Pak Budi Gunawan dan Pak Basarah, sedangkan dari Pak Prabowo itu ada Pak Dasco dan Pak Muzani. Itu saya kira,” kata Arya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nino Citra Anugrahanto, Antonius Ponco Anggoro
 | 

Editor:

Anita Yossihara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .