Produksi rudal nasional terkendala penguasaan teknologi. Indonesia bergerak perlahan meneliti dan mengembangkan roket.
25 Jun 2025 07:10 WIB · Politik & Hukum
Langit Timur Tengah belakangan ini menjadi panggung etalase perang modern. Ratusan drone kamikaze, rudal jelajah, hingga rudal balistik berkecepatan hipersonik diluncurkan dalam eskalasi konflik antara Iran dan Israel. Di belahan dunia lain, perang menahun Rusia-Ukraina tak henti diwarnai adu presisi artileri roket dan rudal yang menentukan garis depan pertempuran.
Panggung perang modern itu menjadi cermin, merefleksikan urgensi sekaligus tantangan berat bagi Indonesia untuk bisa berlari di lintasan yang sama. Di tengah deru teknologi pemusnah itu, sudah sampai mana kecanggihan alat utama sistem persenjataan atau alutsista nasional?
Meski perlahan, industri pertahanan nasional tengah menapaki penguasaan teknologi senjata pemusnah. PT Dahana, BUMN bagian dari Defend ID yang bergerak dalam bidang peledak, telah menjejakkan satu kaki pada teknologi peroketan. Namun, untuk melangkah ke anak tangga berikutnya berupa peluru kendali atau rudal, membutuhkan upaya yang jauh lebih besar.
”Jadi, ceritanya sampai sekarang itu kita baru sampai membuat roket,” ujar Direktur Teknologi dan Pengembangan Yusep Nugraha Rubani saat tim eksplorasi industri pertahanan mengunjungi kantornya di Subang, Jawa Barat, Selasa (24/6/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/24/5f9d53b366dadbb4b11b5d00812e5b85-IMG20250624083535.jpg)
Roket tersebut bernama R-Han 122, buah karya Konsorsium Roket Nasional yang dipimpin PT Dahana. Roket ini telah resmi digunakan oleh TNI dan memiliki jangkauan efektif sekitar 25 kilometer. Tak berhenti di situ, para perekayasa dan ilmuwan terus mendorong batas kemampuan roket tersebut.
Hasil penelitian dan perkembangan terkini, jangkauan roket berhasil mencapai jarak 84 kilometer. PT Dahana menargetkan kemampuan jangkauan tembak hingga 100 kilometer. Selain itu, ada pula R-Han 450 yang masih dalam tahap pengembangan.
”Baru sampai tingkat roket. Jadi, roket itu buat kerjanya balistik. Tapi, kalau rudal, kan, sudah ada pengendalinya,” kata Yusep.
Di sisi lain, ia pun menyinggung soal rudal panggul atau Rudal Merapi yang tengah dikembangkan PT Dahana. Namun, rudal tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum tersertifikasi. Lagi pula, Rudal Merapi bersifat ground to air (darat ke udara) dan mengincar atau menargetkan pesawat dan helikopter.
Ada pula rudal yang tengah dikembangkan PT Dirgantara Indonesia lewat Konsorsium Rudal Nasional. Apabila telah selesai, produknya bakal mirip dengan rudal Exocet atau C-705 buatan China. Akan tetapi, prosesnya bakal memakan waktu lama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/24/6c83fd357f1315327072060093aa0933-IMG20250624083838.jpg)
Segala upaya penelitian dan pengembangan, lanjut Yusep, merupakan bagian dari strategi besar industri pertahanan nasional mencapai tahap rudal. ”Itu cikal atau cikal bakal atau grand strategi kita untuk mencapai rudal. Rudal dengan berbagai ukuran tentunya,” katanya.
Perbedaan fundamental antara roket dan rudal cukup signifikan. Roket bergerak balistik lintasannya tak dapat diubah setelah meluncur. Sebaliknya, rudal memiliki ”otak” berupa sistem pemandu yang bisa mengoreksi arah untuk mengejar target.
Yusep mengakui ada sejumlah hambatan dan dinding tinggi yang perlu dilewati guna memproduksi rudal. Salah satunya adalah penguasaan teknologi. Para pemilik teknologi rudal cendet protektif dan membatasi penyebaran ilmunya.
”Kenapa begitu? Karena kebetulan, penguasaan teknologi rudal dan roket ini oleh pemilik teknologi yang mumpuni itu dibatasi,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/20/8cc855d9606785c1393e62eda404bb6b-figure_1_iran_missiles_IISS.png)
Oleh karena itu, Indonesia, khususnya industri pertahanan, harus meneliti dan mengembangkan secara mandiri teknologinya. Langkah ini juga bisa dipercepat lewat transfer of technology antarnegara atau mempekerjakan orang-orang yang memiliki kemampuan.
Secara terpisah, peneliti Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia, Beni Sukadis, berpandangan, mewujudkan industri pertahanan yang mandiri memerlukan komitmen kuat dan peta jalan yang terencana. Ada sejumlah langkah strategis yang harus dieksekusi secara simultan dan berkelanjutan.
Ada sejumlah hambatan dan dinding tinggi yang perlu dilewati guna memproduksi rudal. Salah satunya adalah penguasaan teknologi.
Dalam jangka pendek, fondasi krusial yang harus diperkuat adalah sumber daya manusia. Perekrutan dan peningkatan kapasitas SDM di sektor ini menjadi kunci untuk mendorong inovasi dan efisiensi produksi. Beriringan dengan itu, pemerintah mengarahkan BUMN dan swasta untuk mengisi posisi sebagai industri lapis kedua (tier 2) dan ketiga (tier 3) dalam rantai pasok pertahanan nasional.
”Langkah kolaboratif pun perlu diperkuat, khususnya melalui kerja sama antara Kementerian Pertahanan, TNI, perguruan tinggi, dan swasta, untuk mendukung riset dan pengembangan produk strategis,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/10/69559641-d9dd-49ce-b64e-e002caf98912.jpg)
Beranjak ke jangka menengah, Beni menekankan pentingnya penguatan daya tawar saat melakukan pengadaan alutsista dari luar negeri. Skema imbal dagang, kandungan lokal, dan offset (IDKLO) harus ditingkatkan secara tahunan untuk memastikan adanya alih teknologi yang nyata bagi industri dalam negeri.
Sementara untuk visi jangka panjang, Beni melihat perlunya upaya serius membangun industri hulu (tier 4). Kerja sama dengan konsorsium global pun harus lebih cerdas, yakni diarahkan pada produksi bersama komponen lapis kedua dan ketiga agar Indonesia dapat masuk sebagai mata rantai industri pertahanan internasional.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Frega Wenas Inkiriwang menyatakan, pemerintah tentu mendorong kemandirian industri pertahanan. Ini merupakan upaya implementasi visi dan komitmen Presiden Prabowo Subianto.
Komitmen itu kian kuat di tengah ketidakpastian geopolitik global dan rivalitas antarnegara. Kondisi tersebut menuntut Indonesia membangun postur pertahanan yang kokoh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/02/8b70078e-df9a-4832-8b07-1343bd119345_jpeg.jpg)
Selain itu, kunjungan Frega ke industri pertahanan, termasuk PT Dahana, juga bukan tanpa alasan. Kunjungannya adalah wujud sinergi nyata untuk memastikan visi besar pertahanan negara berjalan di atas rel yang tepat.
Ia pun menyinggung soal produk industri pertahanan dalam negeri yang tak kalah dengan negara lainnya. Frega mencontohkan sejumlah produk peledak dari PT Dahana yang tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sudah mencapai 50 persen dan terus meningkat.
”Bahwa bangsa kita ini tidak kalah, kita punya produk-produk unggulan yang memang dihasilkan oleh anak bangsa sesuai dengan visi Bapak Presiden Prabowo untuk membangun kemandiran,” katanya.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
Anita Yossihara