Arsip Foto ”Kompas”: Jalan Terjal Mewujudkan Indonesia Indah

TMII menjadi representasi Indonesia mini yang awalnya bernama Indonesia Indah. Taman terbuka ini menjadi etalase bagi daerah-daerah di Bumi Nusantara.

20 Agt 2025 10:00 WIB · Metropolitan

Oleh Priyombodo

Indonesia Indah adalah mula dari gagasan Taman Mini Indonesia Indah atau TMII. Indonesia Indah diawali dari mimpi Ibu Negara Siti Hartinah Soeharto atau Tien Suharto tentang taman terbuka yang mewakili identitas dan cerita setiap daerah di Nusantara dari Sabang  sampai Merauke. Di taman tersebut masyarakat dapat menjelajah cerita Indonesia dari setiap daerah di Nusantara yang dirangkai di Indonesia Indah.

Munculnya ide ini tidak terlepas dari beragam kunjungan yang dilakukan Presiden Soeharto beserta Ibu Negara ke berbagai obyek wisata monumental di sejumlah negara, salah satunya yang membekas adalah Tim Land atau Thailand in Miniature. Melalui arsip berita Harian Kompas berjudul ”Indonesia Indah di Pondok Gedeh Diharapkan Selesai Tahun 1974” tanggal 11 Oktober 1971.

Danau dengan miniatur pulau-pulau di Indonesia dilihat dari atas skylift di komplek TMII, Jakarta.

Ibu Tien Suharto selaku Ketua Yayasan Harapan Kita berbicara di hadapan pejabat pemeritah dan pimpinan surat kabar ibu kota perihal proyek Indonesia Indah. Proyek tersebut akan dibangun di lahan seluar 100 hektar di dekat proyek Jalan Tol Jagorawi. Tepatnya di daerah Kecamatan Pondok Gede atau sekitar 10 kilometer selatan Jakarta.

Secara detail dijelaskan, sebagian dari luasan lahan tersebut akan diubah menjadi danau. Di dalam danau akan ditransformasi seluruh wilayah kepulauan Republik Indonesia yang diperkecil atau dimungilkan. Indonesia mungil atau miniatur Indonesia merupakan tiruan dari Indonesia dalam keadaaan sesungguhnya. Meliputi keadaan geografis lengkap dengan pulau-pulau, lautan, gunung, serta flora fauna, dan manusianya.

Selain itu, juga akan dibangun sebuah tugu megah yang memancarkan falsafah bangsa Indonesia, yaitu Tugu Api Pancasila. Masih di tempat yang sama, dibangun tempat pementasan, tempat ibadah, serta hotel dengan 1.000 kamar.

Untuk memudahkan pengunjung, fasilitas transportasi di lokasi akan dibangun cable car untuk meninjau dari atas, kereta api, kereta api monorail, dokar, andong, hingga perahu dan sepeda air. Semua fasilitas dibangun pada tahun 1972 dan rampung pada tahun 1974.

Arsip berita ”Kompas” terkait rencana pembangunan Indonesia Indah.

 

Proyek Indonesia Indah diperkirakan menelan biaya sebesar Rp 10,5 miliar. Ibu Tien menunjuk Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin bersama wakilnya Ali Moertopo sebagai pemimpin proyek yang saat itu disebut-sebut sebagai proyek mercusuar.

Pada suatu kesempatan, rencana besar itu disosialisasikan oleh Menteri Dalam Negeri Ali Machmud kepada para gubernur dan mengharapkan setiap daerah tingkat I dapat memberi sumbangan sebesar Rp 40 juta-Rp 50 juta. Sebanyak 5.000 pekerja terlibat dalam proyek pembangunan dan ketika sudah beroperasi akan menyerap sekitar 2.000 pekerja.

Proyek Indonesia Indah dinilai sebagian kalangan sebagai langkah menghamburkan uang. Anggaran yang besar menuai berbagai protes termasuk unjuk rasa dari elemen masyarakat dan mahasiswa. Menurut perhitungan para mahasiswa dan pelajar saat itu, dana untuk pembangunan Indonesia Indah dapat digunakan untuk membangun tujuh kampus sebesar Universitas Gadjah Mada (Kompas, 17 Desember 1971). Gelombang penolakan juga terjadi di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, hingga Medan.

Di tengah gencarnya penolakan, peristiwa berdarah terjadi di Jalan Matraman Raya, Jakarta, pada 23 Desember 1971. Saat itu sekitar 20 pemuda yang menamakan diri Gerakan penyelamat Uang Rakyat bermaksud untuk menemui pengurus proyek pembangunan Indonesia Indah ataupun pengurus Yayasan Harapan Kita.

Sambil menunggu, mereka memasang spanduk protes bertuliskan ”Sekretariat Pemborosan Uang Negara”. Tanpa disangka, sekelompok orang tak dikenal tiba di lokasi dan langsung menyerang massa aksi. Setelah selesai menyerang, sekelompok orang bersenjata tersebut segera melarikan diri. Menurut catatan wartawan Kompas yang saat itu meliput aksi ini, terdengar sekitar 10 kali suara tembakan. Akibat peristiwa tersebut, tiga orang peserta aksi mengalami luka-luka, dua di antaranya mengalami luka tusukan belati.

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Di balik aksi protes dan peristiwa berdarah dalam pembangunan Indonesia Indah, Ibu Negara Tien Suharto di kediamannya di jalan Cendana mengatakan, ”Pelaksanaannya selangkah pun tidak akan ditunda.”

Ketika ditanya apakah waktunya sudah tepat, Ibu Negara dengan spontan menjawab, ”Timing-nya saya anggap tepat, mumpung saya belum mati, kalau sudah dipanggil Tuhan tentunya tidak bisa. Sebab, sebagai pemrakarsa, tidak mungkin saya tidak melakukannya sendiri.”

Hal serupa juga diperlihatkan Presiden Soeharto yang menanggapi dinamika terkait proyek Indonesia Indah. Pada awal Januari 1972, Soeharto dengan gaya khasnya menegur tindakan masyarakat yang dinilai menimbulkan kekacauan, khususnya terkait pembangunan Indonesia Indah.

”Kalau ada perbedaan wajar, tapi kalau ini mengganggu stabilitas nasional…,” ujar Soeharto yang tidak melanjutkan kalimatnya (Kompas, 7 Januari 1972).

Menurut Soeharto, Indonesia Indah adalah proyek swasta bukan pemerintah. Dan, dinilai proyek ini akan memberikan keuntungan bagi pariwisata daerah karena dapat memancing wisatawan untuk mengunjungi lokasi aslinya setelah melihat miniatur di Jakarta. Selain itu, proyek ini juga diyakini akan membuka lapangan pekerjaan jika jumlah wisatawan ke daerah meningkat.

Suasana Teater Imax Keong Emas di kompleks TMII, Jakarta, 30 April 1984. Bangunan ini memiliki keunikan bentuk, menyerupai keong raksasa tengah berjalan di tanah.
Taman Miniatur ”Indonesia Indah” menurut rencana akan dibuka secara resmi pada 20 April 1975 mendatang. Proyek tersebut yang dulunya dikenal dengan nama ”Proyek Mini” merupakan sebuah pertamanan di atas daerah seluas 100 hektar yang menggambarkan Indonesia dalam bentuk mini.
Taman Mini Indonesia Indah akan diresmikan pada April 1975, dan dibuka untuk umum. Proyek ini dibangun mulai pertengahan 1972 di atas lahan seluas 75 hektar, sedangkan luas seluruh daerah taman 100 hektar.
Taman Mini Indonesia Indah akan diresmikan pada April 1975, dan dibuka untuk umum. Proyek ini dibangun mulai pertengahan 1972 di atas lahan seluas 75 hektar, sedangkan luas seluruh daerah taman 100 hektar. Didirikan juga rumah adat dari 26 provinsi.
Rumah adat Kalimatan Tengah yang dikenal dengan rumah Betang dibangun di Taman Mini Indonesia Indah yang akan diresmikan pada April 1975, dan dibuka untuk umum.
Tapir atau tenuk, binatang khas Sumatera Selatan, menghiasi Paviliun Sumsel di kompleks TMII, Jakarta, yang diresmikan pada Rabu, 16 April 1975.
Empat proyek baru Taman Mini Indonesia Indah diresmikan Presiden Soeharto, Kamis (20/4/1978). Keempat proyek yang diresmikan dalam rangka Hari Jadi Ke-3 TMII itu adalah Museum Fauna Indonesia berbentuk komodo, Gedung Pusat Pengelolaan TMII, Gedung Bioskop, dan Jam Bunga.
Foto aerial Monumen Api Pancasila di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Kamis (27/5/1982).
Danau-danau buatan di TMII, yang merupakan tiruan dari peta wilayah Nusantara, pada September 1982 pernah kering.
Sebagian Taman Mini dilihat dari udara. Di sebelah kiri belakang terdapat dua pesawat yang ”nangkring”. Paling kiri adalah pesawat milik Indonesia yang pertama, RI 001 Seulawah. Di sebelahnya adalah pesawat Avia 14.

Proyek Indonesia Indah yang  kemudian diberi nama Taman Mini Indonesia Indah (TMII) diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1975.  Peresmian yang dilakukan dalam upacara yang  megah di bawah Tugu dan Alun-alun Pancasila dihadiri 10.000 tamu undangan. Ketua Yayasan Harapan Kita sekaligus penggagas pembangunan taman, Tien Soeharto, menyerahkan taman seluas 120 hektar berikut dengan bangunannya kepada Pemerintah Indonesia dalam hal ini Presiden Soeharto.

”Taman ini merupakan bagian dari pembangunan nasional kita serta tambahan kekayaan nasional kita. Taman ini merupakan Indonesia yang kecil yang menggambarkan secara utuh Indonesia yang besar,” kata Presiden Soeharto dalam sambutannya.

Namun, Soeharto menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 51 Tahun 1977 yang berisi tentang keputusan penyerahan penguasaan dan pengelolaan TMII pada Yayasan Harapan Kita. Sejak saat itulah TMII resmi dikelola oleh yayasan tersebut.

TMII benar mejadi etalase Indonesia untuk tamu negara yang berkunjung. Setiap tamu negara selalu dibawa berkunjung ke TMII khususnya ke taman burung. Di sana, Presiden Soeharto memperlihatkan burung-burung khas Papua ke tamu negara.

Salah satu tamu yang berkunjung ke TMII adalah Presiden Singapura Lee Kwan Yew yang berkunjung ke Indonesia tahun 1982. Melalui arsip foto Kompas tampak Presiden Soeharto memamerkan seekor burung cendrawasih yang bertengger di tangannya. 

Presiden Soeharto atas nama Bangsa dan Negara RI menerima Hibah Proyek Taman Mini Indonesia Indah dari Ketua Umum Yayasan Harapan Kita Ny Siti Hartinah Soeharto di kediamannya, Jalan Cendana, Jakarta, para masa Orde Baru. Ny Siti Hartinah Soeharto membubuhkan tanda tangan di atas naskah Akta Persembahan secara hibah proyek Taman Mini Indonesia Indah disaksikan Notaris Koesbiono Sarmanhadi (kiri), Presiden Soeharto, serta Mensesneg Sudharmono (kanan).
Presiden Romania dan Ny Elena Ceauescu beserta rombongan didampingi Presiden dan Ny Tien Soeharto meninjau TMII di Jakarta, Selasa (23/11/1982).
Perdana Menteri Inggris dan suaminya, Denis Thatcher, mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (10/4/1985). Kedatangannya disambut Presiden dan Ny Tien Soeharto; Wakil Presiden dan Ny Karlinah Umar Wirahadikusuma; serta sejumlah menteri. Kedatangan Margareth Thatcher disambut tarian Reog Ponorogo. Selama di TMII, PM Inggris diajak masuk ke Sasono Langen Budaya, Museum Budaya Bhinneka Tunggal Ika, dan lain-lain.
Presiden Soeharto berfoto bersama Ibu Negara Tien Soeharto di depan patung pertemuan kembali Raden Panji Asmoro Bangun dengan Dewi Sekartadji (Keong Emas) disaksikan Mbok Rondo Dadapan, abdi setia Bancak, dan Doyok saat meresmikan Istana Anak-anak Indonesia, Taman Bunga Keong Emas, dan Museum Asmat di TMII, Jakarta, Minggu (20/4/1986).  Peresmian tiga sarana baru ini memeriahkan ulang tahun ke-11 TMII.
Presiden Romania dan Ny Elena Ceausescu beserta rombongan didampingi Presiden dan Ny Tien Soeharto meninjau Taman Mini indonesia Indah, Jakarta, Selasa (23/11/1982). Nampak Presiden Romania dan Ny Elena Ceausescu berusaha memegang burung cendrawasih jinak yang diberi nama Bayu di Taman Burung. Presiden Soeharto (paling kiri) mengulurkan tangan untuk memberikan makanan.
Presiden Soeharto dan Ny Tie Soeharto mendampingi Presiden Singapura Lee Kuan Yew saat mengunjungi Taman Burung di kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (8/9/1982).
Presiden Soeharto mencoba sendiri kereta gantung di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Minggu (17/4/1988). Kepala Negara mencoba setelah meresmikan pengembangan kereta gantung dengan penekanan tombol di Sasono Langen Budoyo bertepatan dengan HUT XIII TMII. Dengan lambaian tangan, Presiden dan Ny Tien Soeharto duduk satu kabin dengan William Suryadjaya serta Pimpinan TMII Sampurno SH.
Presiden Soeharto meresmikan Museum Prangko Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Kamis (29/9/1983). Didampingi Direktur Pos Moeljono Bc.Ap (kiri), Presiden dan Ny. Tien Soeharto tengah memperhatikan ”slide-slide” mengenai proses pembuatan prangko dari pekerjaan merancang lukisannya sampai menjadi prangko.

Paviliun Jawa Timur di TMII, Jakarta, menggelar karapan sapi. Koordinator Proyek M Said, di TMII, Selasa, 20 Mei 1975, menjelaskan, karapan akan dimeriahkan oleh enam pasang sapi karapan.
Sebanyak 60 kakek-nenek berekreasi ke Taman Mini Indonesia Indah.
Kemeriahan acara tari, nyanyi, dan musik yang dipentaskan di Gelanggang Kesenian Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Rabu, 14 Mei 1975. Acara ini menampilkan berbagai tarian dari Bali, Sumatera, Kalimantan, dan beberapa daerah lainnya. Yang mendapat sambutan meriah adalah tari Topeng dan tari Raksasa dari Bali yang mengangkat kisah Ramayana.
Lebih dari seribu umat Hindu di Jakarta melakukan sembahyang bersama di Pura Kertha Bumi di TMII, Jakarta, Minggu (3/10/1982). Upacara keagamaan Dewayajnya itu merupakan pemujaan kepada Tuhan dengan tujuan mohon agar bangsa dan negara Indonesia dianugerahi keselamatan dan kesejahteraan, bebas dari bencana yang terus-menerus menimpa rakyat, seperti gunung meletus, banjir besar, kemarau, dan kekeringan yang melanda di banyak daerah. Sembahyang ini dilakukan setelah upacara resmi penyucian Pura Kertha Bumi yang baru saja dipugar. Tampak suasana sembahyang yang bersama di Pura Kertha Bumi.
Anak-anak merayakan Hari Anak-anak Indonesia ke-7 yang dibuka Ny Tien Soeharto di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Jumat (17/6/1983).
Suasana Liburan di Taman Mini Indonesia Indah pada pertengahan tahun 1985.
Perayaan malam pergantian tahun di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Suasana di Istana Anak-anak Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah atau TMII di Jakarta, yang dipadati pengunjung, Rabu (4/5/2022). Selama libur Lebaran 2022, TMII hanya membuka 11 wahana karena masih dalam proses revitalisasi.
Pengunjung menikmati piknik di pinggir danau di kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Jumat (17/9/2021). TMII mulai uji coba dibuka untuk tujuan rekreasi setelah hanya dibatasi untuk aktivitas olahraga.

Setelah 44 tahun berlalu di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, pada Maret 2021, Pemerintah memutuskan untuk mengambil alih pengelolaan TMII dari Yayasan Harapan Kita. Kondisi sebagian besar infrastruktur yang dimakan usia, pandemi Covid-19, hingga merosotnya kunjungan menjadi penyebab.

Melalui Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah diputuskan bahwa penguasaan dan pengelolaan TMII dilakukan Kementerian Sekretariat Negara. Lalu pada 1 Juli 2021, PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan,  dan Ratu Boko menandatangani kerja sama dengan Kementerian Sekretariat Negara terkait pemanfaatan TMII dengan jangka waktu selama 25 tahun.

Presiden Joko Widodo meresmikan wajah baru TMII setelah direvitalisasi pada 1 September 2023. Dalam sambutannya, Presiden menuturkan, program revitalisasi TMII sekaligus mengembalikan sebagaimana semangat awalnya yang digagas ibu Tien Soeharto. Dengan wajah baru, Taman Mini Indonesia Indah diharapkan menjadi ikon pariwisata Jakarta dan Indonesia.

 

 

 

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Priyombodo
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Foto:

AP Susetyo Wijatmoko
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto