Selain makin jauh dan lama, perjalanan Padang-Jambi melalui jalur alternatif juga berisiko karena banyak jalan berlubang dan rawan banjir.
06 Mar 2025 17:21 WIB · Nusantara
PADANG, KOMPAS — Perjalanan bus ataupun mobil angkutan penumpang dengan rute Padang-Jambi dan Padang-Jakarta menjadi semakin lama dan berisiko karena putusnya jalan nasional lintas Sumatera atau Jalinsum di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Perusahaan angkutan pun berharap jalan yang rusak itu segera diperbaiki.
Pengusaha dan pengemudi mobil travel rute Padang-Bungo, misalnya, sangat terganggu dengan putusnya Jalinsum Sumbar-Jambi sejak Minggu (2/3/2025). Jumlah penumpang berkurang drastis, waktu tempuh makin lama, dan perjalanan pun makin berisiko.
”Putusnya Jalinsum sangat mengganggu kelancaran kami dalam mengemudi. Jalan alternatif agak susah, kadang bagus, kadang jelek, kadang banjir,” kata Yusri (48), pengemudi travel di PT Restu Ibu Transport, Kamis (6/3/2025), di Padang.
PT Restu Ibu Transport merupakan perusahaan travel yang melayani rute Padang-Bungo. Yusri menuturkan, sejak Jalinsum ambles di Bungo, mobil travel Restu Ibu rute Padang-Bungo harus melewati jalan alternatif, yaitu via jalan lintas lama, Jalan Padang Lamo, dan via Sungai Rumbai.
Jarak dan waktu tempuh pun bertambah saat melintasi jalan alternatif. Yusri menjelaskan, waktu tempuh normal ketika melewati Jalinsum hanya berkisar 6-7 jam, sedangkan ketika melewati jalan alternatif bisa mencapai 9-10 jam.
Yusri menambahkan, perjalanan melewati jalan alternatif juga sangat riskan karena banyak lubang di sepanjang jalan tersebut. Selain itu, dua jalan alternatif via Sungai Rumbai sulit dilewati saat hujan karena rawan banjir (jalur kanan) dan licin karena lumpur (jalur kiri).
Jika hujan, kata Yusri, pengemudi terpaksa mengambil risiko menempuh jalan alternatif via Jalan Padang Lamo yang lebih jauh dan berbahaya karena melewati jembatan putus yang disambung dengan pohon kelapa di Kabupaten Tebo, Jambi.
Indra Farizal (52), pengemudi mobil travel Restu Ibu lainnya, mengatakan, putusnya Jalinsum juga membuat jumlah penumpang turun drastis. Pada situasi normal, mobil travel berkapasitas 10 penumpang itu rata-rata bisa mendapatkan delapan penumpang sekali perjalanan.
Akan tetapi, saat ini, rata-rata hanya ada tiga hingga empat penumpang sekali perjalanan. ”Penumpang takut bepergian karena kondisi jalan dan cuaca,” kata Indra.
Yusri dan Indra pun berharap pemerintah bisa segera memperbaiki Jalinsum yang ambles sehingga perjalanan mobil angkutan kembali normal dan aman. Selain itu, kondisi ini juga menjadi pembelajaran bagi pemerintah tentang pentingnya merawat jalan alternatif.
”Kondisi darurat sekarang menunjukkan betapa pentingnya jalan alternatif sehingga perlu dirawat. Kalau tidak, seperti sekarang situasinya, repot semua jadinya,” kata Indra.
Jarak dan waktu tempuh lebih jauh dan lama juga dialami oleh armada Perusahaan Otobus (PO) NPM, baik rute Padang-Jambi maupun Padang-Jakarta. Bus terpaksa mengambil jalan memutar, terutama sejak dilarang melintas di jalan alternatif di Kabupaten Dharmasraya, dua hari terakhir.
Andri (50), agen PO NPM, mengatakan, untuk rute dari Padang ke Jakarta ataupun ke Jambi, bus mesti lewat ke Kiliran Jao, terus ke Rengat (Riau), agar bisa masuk jalan lintas timur Sumatera.
Kondisi darurat sekarang menunjukkan betapa pentingnya jalan alternatif sehingga perlu dirawat. Kalau tidak, seperti sekarang situasinya, repot semua jadinya.
”Jarak dan waktu tempuh semakin jauh dan lama. Biasanya cuma sekitar 28 jam ke Jakarta, sekarang bisa bertambah 5 jam dibanding biasanya,” katanya.
Andri pun berharap pemerintah segera memperbaiki Jalinsum yang terputus di Bungo, apalagi momen mudik Lebaran segera tiba.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Haris Firdaus