Pencarian korban bencana dan distribusi bantuan terus dilakukan. Selain jalur darat, jalur udara juga ditempuh untuk menembus isolasi wilayah.
29 Nov 2025 13:00 WIB · Nasional
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Pencarian korban banjir dan tanah longsor di Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh terus dilakukan, Sabtu (29/11/2025). Petugas SAR dari berbagai lembaga dan masyarakat bahu-membahu mencari korban.
Selain pencarian korban, pembukaan jalur darat yang tertimbun longsor juga terus dilakukan. Selain menggunakan alat berat, pembersihan juga dilakukan dengan peralatan seadanya, seperti cangkul, ataupun tangan kosong.
Dari Sumatera Barat, wartawan Kompas, Yola Sastra, melaporkan pencarian korban oleh tim SAR gabungan pada hari ketiga bencana. Salah satu titik pencarian adalah di sekitar jembatan kembar jalan nasional Padang-Bukittinggi di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang. Sedikitnya tujuh orang tewas dalam bencana ini dan puluhan warga belum ditemukan di sekitar lokasi ini.
Petugas menggunakan semprotan air dari mobil pemadam kebakaran berusaha menyingkirkan lumpur tebal yang menimbun rumah warga. Rumah yang tertimbun hanya menyisakan separuh dinding rumah dan atap. Terlihat juga sebuah mobil yang sebagian bodinya tertimbun lumpur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/68b8d587b8ba8ec1ec033f883669dd81-1e9c5c53_d0e6_4d7e_89c0_bb52f4f9f036.jpeg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/2a110b73141ed43ecc5c344b49764f08-e4e5bb43_1289_49e2_9286_e5cf7acebce6.jpeg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/f4235b28cf5428de29e93727b0dcad5e-0a9b95f6_5604_4c4b_ad49_2d7b0f372ed0.jpeg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/7abff8e0e450e91e128d43fba505f583-d9877223_ff88_4960_bab9_006df2b225f3.jpeg)
Sementara itu, dari Aceh dilaporkan, banyaknya jembatan yang roboh terbawa banjir membuat aktivitas warga terganggu. Warga harus menggunakan perahu untuk bisa menyeberangi sungai. Terbatasnya jumlah perahu membuat warga harus antre.
Pemandangan itu bisa dilihat di Bireuen sebagaimana laporan wartawan kantor berita AP. Bireuen menjadi salah satu wilayah di Aceh yang paling parah terdampak bencana banjir dan longsor yang disebabkan siklon tropis Senyar yang membawa hujan dengan curah tinggi.
Selain harus menyeberangi sungai, warga juga berjibaku menyeberangi banjir untuk mengungsi. Dengan barang yang bisa diselamatkan, warga menyunggi barang bawaan melewati banjir.
Berbagai cara dilakukan untuk menembus wilayah terisolasi. Hal ini penting untuk memudahkan arus bantuan sampai ke lokasi bencana. Selain pembukaan jalan, jalur udara juga ditempuh.
Dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, wartawan Kompas, Agus Susanto, melaporkan pengiriman logistik ke wilayah terdampak bencana. Pengiriman dilakukan menggunakan empat pesawat angkut berat TNI AU, yaitu Hercules C-130, dua Super Hercules C-130J, dan Airbus A400M.
Selain dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, pengiriman bantuan juga dilakukan dari Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan, Banten. Polisi mengirimkan anggotanya serta bantuan untuk korban bencana alam di Sumatera berupa bahan makanan siap saji, selimut, kebutuhan bayi, tenda, genset listrik, perahu karet, dan lainnya dengan total logistik mencapai 10 ton. Bantuan diangkut dua pesawat terbang Fokker 27 MK 50 P/4401 tujuan Sumatera Utara dan pesawat CN 295/P-4501 tujuan Padang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/8fecb7fbeba2e67a6c017daf5f0cfb19-antarafoto_pengiriman_bantuan_untuk_korban_bencana_alam_di_sumatera_1764391713.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/b2a8e23a75ef8b72de0a45b361cdd1dd-antarafoto_pengiriman_bantuan_untuk_korban_bencana_alam_di_sumatera_1764391704.jpg)
Penulis:
Heru Sri KumoroEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji