Jaminan Sosial untuk Memutus Rantai Generasi ”Sandwich”

Keterbatasan finansial generasi ”sandwich” berpotensi menurunkan kualitas kehidupan di masa depan. Dengan jaminan sosial ketenagakerjaan, kekhawatiran itu terkikis.

15 Nov 2024 18:30 WIB · ekonomi

Oleh Agustina Purwanti

Ketidakpastian perekonomian berpotensi mengganggu stabilitas keuangan masyarakat. Persoalan kian pelik ketika ketergantungan finansial di level rumah tangga hanya terfokus pada segelintir pihak saja. Artinya, uang yang relatif terbatas ini harus dikonsumsi oleh semua anggota keluarga. Keterbatasan finansial generasi sandwich ini berpotensi menurunkan kualitas kehidupannya di masa depan. Adanya jaminan sosial ketenagakerjaan diharapkan dapat mengikis kekhawatiran itu.

Akhir-akhir ini, kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Berbagai indikator menunjukkan adanya pelemahan di mana-mana. Meski masih dalam laju positif, pada 5 November lalu Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2024 melambat ke angka 4,95 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Padahal, triwulan sebelumnya mampu menyentuh angka 5,05 persen.

Pelemahan saling berkelindan dengan dunia lapangan kerja di mana puluhan ribu tenaga kerja terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang tahun ini. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, selama Januari-Oktober 2024 sebanyak 63.947 pekerja mengalami PHK. Tersebar di seluruh Indonesia, terutama Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten.

Infografik Jajak Pendapat ”Generasi Sandwich” Indonesia

Hilang atau turunnya sumber pendapatan sejumlah pekerja itu kemudian berimplikasi pada daya beli yang melemah. Tecermin dari terjadinya deflasi lima bulan berturut-turut sejak Mei-September 2024. Kondisi ini dikuatkan oleh laporan Bank Indoneia yang menunjukkan adanya penurunan indeks penjualan riil beberapa bulan belakangan. Penyusutan terjadi pada hampir semua kategori kebutuhan, utamanya makanan minuman, perlengkapan informasi dan komunikasi, perlengkapan rumah tangga, juga barang-barang otomotif.

Artinya, sudah menggerogoti sendi-sendi ekonomi individu. Maka, cukup wajar jika keyakinan masyarakat sebagai konsumen melihat kondisi akhir-akhir sedikit surut. Indeks Keyakinan Konsumen yang disusun Bank Indonesia pada Oktober 2024 sebesar 121,1 poin. Memang masih berada pada level optimis, tetapi hal ini melanjutkan tren penurunan sejak bulan sebelumnya.

Tantangan bagi generasi ”sandwich”

Situasi pun diprediksi relatif akan sulit di masa-masa yang akan datang. Ketegangan geopolitik sejumlah negara belum mereda, bersamaan dengan krisis iklim dan problem lainnya yang berpotensi memperkeruh ekonomi, baik negara maupun individu.

Jika ditelusuri lebih dalam, turunnya optimisme lebih besar terjadi pada generasi produktif, terutama milenial dan gen Z. Rata-rata tingkat keyakinan konsumen pada kelompok ini turun satu poin sepanjang tahun ini. Sementara itu, pada kelompok yang lebih senior, pesimisme tak terlalu terekam.

Tampaknya bukan tanpa alasan. Sebab, generasi Z dan milenial ini adalah generasi produktif yang akan sangat terdampak jika kondisi ekonomi penuh guncangan. Padahal, sebagian besar dari kelompok ini memiliki beban ganda dengan turut menanggung biaya hidup anggota keluarga lainnya, alias generasi sandwich.

Tahun 2020 lalu, BPS menyatakan bahwa sebanyak 71 juta penduduk Indonesia tercatat sebagai generasi sandwich. Sekitar seperempat dari total populasi Indonesia dan bukan merupakan angka yang kecil. Merujuk jajak pendapat Litbang Kompas, Agustus lalu, sekitar tiga perempat atau 76 persen dari generasi roti lapis ini adalah penduduk berusia 24-55 tahun. Terbesar pada gen Z matang serta milenial mula dan madya (24-39 tahun) sebesar 43,6 persen.

Infografik Kondisi Generasi Z dan Milenial sebagai Penopang di Keluarga Lansia

Tak hanya bagi diri sendiri, generasi roti lapis itu setidaknya harus memenuhi kebutuhan dua atau tiga generasi di keluarganya, yakni orangtua, dirinya sendiri, serta anak, adik, atau keponakan. Terutama turut menanggung anggota keluarga atau kerabat yang tidak masuk kategori produktif. Atau, sejatinya masuk kelompok produktif, tetapi tak berdaya untuk memenuhi kebutuhannya.

Masih merujuk pada jajak pendapat yang sama, para responden saat itu mengaku tak keberatan dengan ”tuntutan” untuk turut menanggung kebutuhan generasi lainnya dalam keluarganya. Namun, tak bisa dimungkiri, jika kondisi ekonomi penuh ketidakpastian, tak mudah juga bagi generasi sandwich untuk bertahan.

Ancaman PHK bisa menyapa kapan saja, beserta potensi dampak gangguan ekonomi lainnya. Sementara itu, mereka juga perlu mengamankan diri sendiri, baik untuk masa saat ini maupun untuk masa yang akan datang. Jika ekonomi mengalami turbulensi, pendapatan tak pasti, persiapan menyongsong masa depan tampak sulit diraih.

Perlunya jaminan sosial

Pada situasi tersebut, kemampuan mengatur keuangan pun menjadi keniscayaan. Selain itu, memerlukan dukungan untuk menjamin pengamanan bagi sumber penghasilannya. Beruntungnya, di Indonesia saat ini telah tersedia jaminan pengaman sosial dalam skema BPJS Ketenagakerjaan.

Merujuk data Kementerian Ketenagakerjaan, sedikitnya 38,59 juta penduduk Indonesia tercatat sebagai peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan pada Juli 2024. Tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Tak hanya bagi para penerima upah, transformasi dari program BP Jamsostek itu juga memberi jaminan untuk penduduk bukan penerima upah (BPU). Seperti misalnya pedagang, pengojek daring, freelancer, serta petani dan nelayan dengan proporsi sekitar seperlima dari total peserta aktif atau sekitar 7,9 juta orang.

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyerahkan santunan kematian akibat kecelakaan kerja (JKK), biaya pemakaman, manfaat Jaminan Pensiun (JP), Jaminan Hari Tua (JHT) dan manfaat beasiswa kepada peserta BPJS Ketenagakerjaan di Kendari, Kamis (19/5/2022).

Dengan kepemilikan jaminan itu, masa depan para pekerja relatif lebih terjamin. Sebab, BPJS menawarkan program Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun (JP) yang dapat menjadi sarana bagi para peserta untuk mengamankan masa yang akan datang. Sedikitnya ada 14 juta orang terdaftar dalam program tersebut. BPJS Ketenagakerjaan juga menyediakan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).

Dengan demikian, pekerja bisa lebih tenang dalam menjalankan pekerjaannya. Yang tak kalah penting, di tengah berbagai kebutuhan dan tekanan ekonomi, para peserta memiliki ruang untuk tetap menyisihkan pendapatannya demi masa depan yang lebih baik. Terutama bagi generasi roti lapis yang sering terimpit keadaan.

BPJS Ketenagakerjaan ciptakan rasa aman

”Hitung-hitung nabung yang lebih aman karena enggak bisa diambil sesukanya. Lumayan, enggak begitu terasa, tiba-tiba nanti pas tua punya tabungan. Rasanya masa depan sedikit lebih aman.” Demikian ucap Riya (28), seorang buruh pabrik di Jawa Tengah, melalui pesan tertulis (Rabu, 13/11/2024).

Milenial yang juga masuk generasi roti lapis ini harus mendukung keuangan orangtuanya, keluarga kecilnya dengan seorang anak, dan adiknya yang tengah berjuang untuk kuliah. Mereka semua tinggal dalam satu atap. Ia dan suaminya, yang juga bekerja di pabrik sepatu, harus pandai menghitung dan mengalokasikan anggaran agar semua kebutuhan terpenuhi. Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan dengan jadwal kerja yang tidak menentu, sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Beruntung, tempat kerjanya memberi jaminan BPJS Ketenagakerjaan.

Rasa syukur juga diungkapkan Mida (33), seorang perantau di Tangerang. Dengan adanya tunjangan BPJS Ketenagakerjaan dari perusahaan tempatnya bekerja, kekhawatiran Mida akan keuangan di masa depan cukup dapat teratasi. Tabungan akan otomatis terkumpul, termasuk ketika ia tak sempat menyisihkan sama sekali secara mandiri.

Meski belum menikah, milenial ini juga sering terimpit sana sini. Orangtuanya di kampung halaman tidak memiliki pendapatan rutin. Dia juga harus membantu biaya sekolah adiknya yang sebentar lagi akan memasuki perguruan tinggi. Mida juga sesekali harus mengingat kedua neneknya yang sudah menjanda lantaran juga tak punya sumber pendapatan yang pasti.

Dianggap sukses lantaran merantau di kota besar, sanak saudara di kampung halaman juga sering meminta bantuan keuangan kepada Mida. ”Paling tidak dua atau tiga bulan sekali, ada saja pesan masuk ke Whatsapp dari seberang sana untuk meminjam uang,” kata Mida sedikit mengeluh, Senin (11/11/2024). Padahal, di perantauan, ia juga harus menyisihkan uang untuk membayar kontrakan dan kebutuhan harian lainnya.

Petugas melayani nasabah yang mengajukan klaim jaminan hari tua (JHT) di kantor BPJS Ketenagakerjaan di Jakarta, Senin (4/11/2024). Dinamika pasar tenaga kerja nasional seperti maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga pekerja informal menjadi tantangan utama BPJS Ketenagakerjaan untuk memperluas cakupan kepesertaan jaminan sosial.

Dua pengalaman itu setidaknya menggambarkan betapa pentingnya sebuah jaminan sosial bagi para pekerja, terutama untuk para generasi roti lapis. Termasuk saat-saat di mana ekonomi sedang tidak baik, ada jaminan yang bisa diandalkan. Seperti yang sudah terbukti baru-baru ini, di mana terjadi banyak kasus PHK sehingga klaim pencairan JKP hingga September 2024 telah mencapai Rp 289,96 miliar yang disalurkan kepada sekitar 40.000 pekerja. Hal ini membuktikan kebermanfaatan BPJS Ketenagakerjaan di saat mendesak.

Manfaat lainnya adalah, dengan semakin banyaknya peserta yang terdaftar, ruang untuk mengurangi beban berlapis sebuah generasi menjadi lebih terbuka. Sebab, para peserta menjadi lebih terjamin masa depannya. Harapannya, kelak tidak menjadi beban bagi generasi berikutnya. Rantai dan dilema generasi sandwich pun dapat diputus perlahan.

Hal tersebut sangat penting mengingat angka ketergantungan atau dependency ratio di Indonesia masih sangat tinggi. Tahun 2022 angkanya mencapai sekitar 45 persen. Artinya, dari 100 orang di Indonesia, 45 orang menggantungkan hidupnya pada orang lain. Ketergantungan ini banyak datang dari kelompok lansia.

Statistik Lansia 2023 mencatat, sumber pembiayaan rumah tangga sekitar 82 persen lansia di Indonesia berasal dari anggota rumah tangga lainnya yang bekerja. Hanya sekitar 5 persen yang memiliki dana pensiun ataupun investasi. Tak heran jika generasi sandwich saat ini membeludak.

Mengingat pentingnya hal ini, angka kepesertaan perlu ditingkatkan. Tanpa menafikan beragam manfaat yang ditawarkan dan dirasakan, harus diakui bahwa jumlah peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan masih berfluktuasi, kadang naik dan kadang turun. Perlu intervensi lebih optimal lagi agar kepesertaan meluas dan semakin banyak penerima manfaatnya. Sebab, masih banyak pekerja dengan risiko cukup tinggi yang belum terfasilitasi BPJS Ketenagakerjaan.

”Belum (terdaftar). Namun, kabarnya bos saya akan mengusahakan. Maklum, masih CV baru, banyak hal yang masih perlu penataan di sana sini,” ucap Rizki, seorang sopir di sebuah unit usaha transportasi di Kota Medan, Jumat (7/11/2024). Ia berharap dirinya bisa terdaftar keanggotaan BPJS Ketenagakerjaan sebab pekerjaannya mengantarkan tamu keliling Sumatera Utara cukup berisiko. Padahal, ia salah satu tulang punggung bagi keluarganya. Apabila memiliki fasilitas jaminan masa pensiun, ia dapat mempersiapkan hari tua secara lebih baik. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustina Purwanti
 | 

Editor:

Budiawan Sidik A
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra