Iran memobilisasi warganya untuk terlibat dalam gerakan bela negara, seperti pada perang melawan AS dan Israel.
21 Mei 2026 08:05 WIB · Internasional
AP/Vahid Salemi
Sejak pecahnya perang melawan Amerika Serikat dan Israel pada Februari 2026, televisi pemerintah Iran membombardir pesan teks kepada penontonnya, dengan seruan untuk bergabung dengan ”Janfada” atau ”mereka yang mengorbankan nyawa mereka”. Pada suatu waktu, kelompok garis keras mendorong keluarga dengan anak laki-laki berusia 12 tahun untuk mengirim mereka bergabung dengan Garda Revolusi, untuk bekerja di pos pemeriksaan. Lembaga Amnesty International mengecamnya sebagai kejahatan perang.
Para pejabat pemerintah mengatakan lebih dari 30 juta orang di Iran telah secara sukarela mendaftar melalui formulir daring atau di pertemuan publik untuk mengorbankan nyawa mereka demi teokrasi Iran. Saat ini negara ini berpenduduk 90 juta jiwa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/97626fbb-98a5-4382-a5c9-e888f439928a_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/b7283cd1-fb27-4430-aa3a-cbfe7b9f40a0_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/4b0451df-5bb5-4a8a-af5e-eaf241d7f3d0_jpg.jpg)
Belum tampak ada mobilisasi massal di Irak, seperti yang pernah dilakukan Ukraina. Saat itu, beberapa hari sebelum invasi Rusia pada tahun 2022, pejabat Pemerintah Ukraina membagikan senjata dan warga diajari membuat bom bensin.
Namun, telah ada beberapa pengumuman publik dan presenter televisi yang muncul dengan membawa senjata selama siaran langsung di televisi pemerintah. Langkah para presenter ini sebagai upaya untuk memicu semangat Janfada tersebut.
”Hidup saya mungkin berakhir, tetapi Iran akan tetap bertahan, dan itulah yang benar-benar penting”. Kalimat itu ditulis jurnalis Soheila Zarfam dalam sebuah kolom untuk surat kabar Tehran Times, koran milik pemerintah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/e312e7ba-fa89-4632-926d-0f513a571183_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/aac4303b-363c-4151-bdad-dc4d0f1a3474_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/4a2bfcb9-5b5c-4152-acf2-4b2f76d564d4_jpg.jpg)
Pengantin baru mengendarai truk pickup militer selama upacara pernikahan massal untuk pasangan yang berpartisipasi dalam kampanye pemerintah Janfada di Teheran, Iran, Senin (18/5/2026). AP/Vahid Salemi
Seorang anggota pasukan sukarelawan Garda Revolusi Basij mendemonstrasikan cara menggunakan senapan serbu Kalashnikov untuk wanita di Teheran, Iran, Selasa (19/5/2026)
Seorang anak laki-laki memegang senapan serbu bergaya Kalashnikov selama kelas pelatihan senjata yang dipimpin oleh anggota pasukan sukarelawan Garda Revolusi Basij di Teheran, Iran, Selasa (19/5/2026). AP/Vahid Salemi
Sementara peraih Nobel Perdamaian asal Iran, Shirin Ebadi, mengkritik demonstrasi senjata di depan umum. Ini merujuk rekaman anak laki-laki yang memegang senapan serbu yang ditayangkan di televisi untuk menyertai ajakan Janfada.
”Adegan seperti ini mengingatkan kita pada penyanderaan anak dan pemberian senjata oleh kelompok-kelompok seperti Boko Haram di Nigeria serta milisi di Sudan dan Kongo,” ujar Ebadi.
Sebuah demonstrasi yang diselenggarakan pemerintah memperlihatkan kaum nomaden di Iran membawa berbagai macam senjata berada di jalanan Teheran. Berbagai senjata, mulai dari senapan Lee-Enfield dari Kekaisaran Inggris hingga blunderbuss, pendahulu senapan yang lebih dikenal di zaman bajak laut di laut lepas, dibawa mereka. Di Iran, hampir sebagian besar penduduknya mempunyai tradisi memiliki dan menyimpan senjata api di rumah. Ini hal yang lumrah dalam budaya mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/014f5797-ab5c-4364-98e8-56ff3a21e6ba_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/dd4ab451-a2b7-48aa-a882-d13e7475cb56_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/1baf0000-edec-438e-9a30-4c14e5e63e0f_jpg.jpg)
Namun, dalam pertemuan Selasa (19/5/2026) di Teheran, peserta pria dan perempuan dibagi ke dalam kelas terpisah. Hadi Khoosheh, pelatih pasukan Basij Garda Revolusi yang semua anggotanya adalah sukarelawan, memperagakan cara menggunakan senapan serbu bergaya Kalashnikov dengan popor lipat.
Biasanya, di akhir pelatihan, mereka yang menyelesaikan kursus akan menerima kartu ”Janfada”, yang membuktikan bahwa mereka telah menerima pelatihan dasar dan pendahuluan untuk jenis senjata tertentu. Kartu ini juga menjadi pertanda bahwa mereka mampu menggunakannya jika sesuatu terjadi pada negara, kata Khoosheh.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/c811d40a-e63b-4500-a18d-51b4608b4923_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/1e4b88c6-e241-4fa2-aa00-aa2c45fb3820_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/80cc6530-e30c-44dd-ba13-9bd6b400bea1_jpg.jpg)
Seorang wanita memegang senapan serbu bergaya Kalashnikov selama kelas pelatihan senjata di Teheran, Iran, Selasa (19/5/2026). AP/Vahid Salemi
Seorang personel militer Iran mendidik orang-orang tentang cara menggunakan senjata di sebuah stan di Hafte Tir Square, di Teheran, Minggu (17/5/2026). AFP
Gadis-gadis memegang potret Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei dan mendiang ayahnya, mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, saat mereka menyaksikan upacara pernikahan massal di Teheran, Iran, Senin (18/5/2026). AP/Vahid Sal
Selain mengadakan pelatihan menggunakan senjata kepada warganya, Pemerintah Iran mengadakan pernikahan massal di Teheran untuk pasangan yang mendaftar Janfada. Upacara yang dilakukan pada Senin malam melibatkan ratusan pasangan di beberapa alun-alun utama di ibu kota. Lebih dari 100 pasangan mengikuti pernikahan ini di Alun-alun Imam Hossein di pusat kota Teheran.
Pernikahan yang disiarkan oleh televisi pemerintah ini bertujuan meningkatkan moral di masa perang. Nantinya para anggota Janfada akan mengorbankan diri, bahkan nyawa, dalam perang. Tokoh-tokoh penting seperti ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Presiden Masoud Pezeshkian, telah mengajukan nama mereka sebagai bagian Janfada.
Pasangan-pasangan tiba di Alun-alun Imam Hossein dengan jip militer yang dilengkapi senapan mesin dan dinikahkan di atas panggung dalam sebuah upacara yang dipimpin oleh seorang ulama. Panggung dihiasi dengan balon dan gambar raksasa Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei. Mojtaba sendiri belum pernah muncul di depan umum sejak menggantikan posisi pendahulunya, Ali Khamenei, pada hari pertama perang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/f6f7bd3b-9b64-46ae-8f5a-84ed778f92ef_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/04ce29a3-0262-46c4-823a-321e4f1750d6_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/9e2b62db-e590-4500-8f10-39f5ae6a0f52_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/20/9d4f7061-3b2a-46e3-bc7a-4a4217dbd448_jpg.jpg)
”Tentu saja, negara sedang berperang, tetapi kaum muda juga berhak untuk menikah,” kata seorang perempuan muda yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Di sampingnya mempelai pria yang menggunakan setelan jas mengangguk sambil tersenyum. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar