Jangan Abaikan Bencana di Los Angeles

Ada ”campur tangan” manusia yang membuat ekosistem memburuk dan dampaknya berpengaruh pada cuaca dan iklim global.

11 Jan 2025 08:16 WIB · Editorial

Oleh Redaksi

Api tidak membedakan pesohor atau warga biasa, situs bersejarah atau rumah mewah. Saat baranya berubah menjadi nyala yang berkobar-kobar semua dilalapnya.

California berduka. Puluhan ribu lahan, sebagian wilayah berpenghuni di Los Angeles, hangus. Sebanyak 10 orang tewas dan lebih dari 10.000 bangunan terbakar habis. Sejumlah situs yang terkait industri film Amerika Serikat, Hollywood, turut terdampak, berikut para aktris dan aktor. Para pesohor itu kehilangan tempat tinggal mereka dan terpaksa mengungsi.

Beragam upaya telah dikerahkan, termasuk mengerahkan pesawat-pesawat pemadam yang mampu menjatuhkan berton-ton air bercampur zat pemadam api. Namun, hingga saat ini, kobaran api belum dapat sepenuhnya dipadamkan.

Sejumlah ahli berpendapat, angin kencang dan cuaca kering membuat lidah-lidah api menjilat-jilat, membuatnya sulit dikendalikan. Sebagai catatan, sejak Mei 2024, curah hujan dan kelembaban udara di kawasan itu sangat rendah.

Seorang petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di Altadena, California, AS, Rabu (8/1/2025).

Situasi itulah yang diduga turut memicu luasnya kawasan yang terbakar. Menyikapi fakta itu, prioritas otoritas setempat adalah mengevakuasi warga.

Sejumlah kajian menyebutkan kebakaran hutan atau lahan adalah hal yang wajar terjadi. Peristiwa itu bagian dari siklus Bumi. Akan tetapi, yang kembali menjadi perhatian para ahli adalah perubahan iklim telah memicu krisis iklim.

Kondisi tersebut, sebagaimana telah diketahui, bukan semata-mata alami. Ada ”campur tangan” manusia yang membuat ekosistem memburuk dan dampaknya berpengaruh pada cuaca dan iklim global. Suhu bumi terus meningkat. Sejumlah negara, termasuk Indonesia, mencatat tahun 2024 merupakan tahun terpanas.

Dalam satu dekade terakhir, dunia pun menyaksikan bahwa kebakaran lahan dan bencana hidrometeorologi menjadi lebih intens dan kian merusak. Apabila sikap dan tindakan manusia turut memicu krisis iklim, komitmen dan tindakan manusia pula diyakini dapat menahan laju kerusakan alam atau bahkan turut memperbaiki kembali kondisi iklim global.

Peserta aksi membawa poster berisi tuntuan mereka di Taman Menteng, Jakarta, Jumat (27/9/2024). Aktivis dari sejumlah organisasi melakukan aksi Global Climate Strike dengan mengangkat isu krisis iklim dan krisis demokrasi. Aksi ini bertajuk “Bersama melawan darurat iklim dan darurat demokrasi”. Aksi ini sempat mendapatkan perlawanan dari sejumlah massa aksi yang kontra. Para peserta aksi Global Climate Change menuntut negara untuk mengakui dan menghormati penuh hak-hak masyarakat. Peserta aksi juga menuntut pemerintah untuk menegakkan demokrasi dalam tata kelola pemerintahan terutama pada sektor lingkungan hidup. Dalam tuntutannya mereka meminta pemerintah bertanggung jawab untuk memenuhi kewajiban mengatasi krisis iklim. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 27-09-2024

Kesepakatan untuk menahan agar kenaikan suhu tetap di bawah 1,5 derajat celsius patut diimplementasikan oleh semua pemerintahan. Kesungguhan untuk mengurangi emisi karbon, baik dengan mengalihkan sumber energi dari bahan bakar fosil maupun mengupayakan sumber-sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan, layak untuk dioptimalkan.

Tentu upaya itu bukan langkah yang murah dan populer. Banyak negara saat ini harus berpacu untuk meningkatkan kembali pertumbuhan ekonomi pascapandemi Covid-19. Namun, di sisi lain, angka korban krisis iklim, terutama korban jiwa, bukan semata-mata deret statistik belaka. Apabila hari ini dunia tidak segera bertindak dengan benar, di masa depan dunia akan melihat dan mencatat jatuhnya semakin banyak korban.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Andreas Maryoto, Bonifasius Josie Susilo H