Intensitas hujan kali ini sebenarnya masih dalam kategori ”normal” untuk rata-rata musim hujannya, bahkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2020.
06 Mar 2025 15:54 WIB · Humaniora
Kepala daerah hingga Presiden Republik Indonesia boleh berganti-ganti, tetapi ada yang sepertinya abadi untuk wilayah Jabodetabek: kebanjiran. Banjir merupakan warisan kolonial Belanda yang lestari hingga kini, bahkan semakin parah seiring meluasnya pembangunan di zona cekungan banjir di hilir dan kerusakan daerah resapan di hulu.
Banjir yang melanda sejumlah wilayah Jabodetabek pada Senin (3/3/2025) dan Selasa (4/3/2025) diawali hujan lebat hingga ekstrem yang melanda sejumlah wilayah. Namun, intensitas hujan kali ini sebenarnya masih dalam kategori ”normal” untuk rata-rata musim hujannya, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya.
Peneliti klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Siswanto, mengatakan, intensitas hujan tinggi awalnya terekam di kawasan hulu. Misalnya, pada Senin (3/3/2025), konsentrasi hujan di Cibereum, Puncak, Bogor, Jawa Barat, tercatat 168 milimeter (mm) per hari. Di daerah hulu Bogor yang lain juga banyak yang intensitas hujannya saat itu di atas 100 mm per hari. Pada hari itu, intensitas hujan di perbatasan Jakarta Timur, hingga Bekasi tidak begitu tinggi.
Namun, pada Selasa (4/3/2025), konsentrasi hujan di Katulampa mencapai 225 mm per hari. Demikian juga di derah hulu Bogor rata-rata masih di atas 100 mm per hari. Hujan dengan intensitas di atas 100 mm per hari ini juga terjadi meluas, termasuk di Bekasi dan Kota Jakarta.
”Intensitas hujan di atas 150 mm per hari termasuk kategori ekstrem menurut kategori BMKG. Namun, hujan kali ini baik intensitas maupun sebarannya masih jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2020,” kata Siswanto, yang juga Ketua Tim Kelompok Kerja Informasi Iklim Terapan BMKG.
Data sejarah menunjukkan, hujan dengan intensitas di atas 150 mm sebenarnya sesuatu yang biasa terjadi saat puncak musim hujan di Jakarta dan sekitarnya. Misalnya, saat banjir melanda Jakarta pada 1 Januari 1892, curah hujan di Jakarta saat itu mencapai rekor 286 mm per hari.
Data BMKG juga menunjukkan, saat banjir besar melanda Jabodetabek pada pergantian tahun 2020, intensitas hujan di atas 150 mm per hari terjadi di sejumlah stasiun pengamatan hujan. Bahkan, intensitas hujan di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, ketika itu mencapai 377 mm per hari merupakan rekor tertinggi sepanjang 150 tahun pencatatan.
Banjir kali ini tidak serta-merta dipicu oleh intensitas hujan. Namun, terutama hal ini lebih disebabkan tata kelola lingkungan yang tidak membaik.
Sementara itu, di Taman Mini Indonesia Indah tercatat mencapai 335,2 mm, di Jatiasih 259,6 mm, Teluk Pucung 234,6 mm, Tomang 225,6 mm, Tangerang Selatan 208,9 mm, Manggarai 189 mm, Ciputat 184 mm, Rorotan 172 mm, dan Ragunan 155 mm.
Jadi, melihat data historis, banjir kali ini tidak serta-merta dipicu oleh intensitas hujan. Namun, terutama hal ini lebih disebabkan tata kelola lingkungan yang tidak membaik, setidaknya sejak 2020. Bahkan, bisa dikatakan daya dukung lingkungan di Jakarta saat ini memburuk seiring meluasnya kerusakan daerah resapan air di hulu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/06/bacf85b4ec830b89aaa109b50d94c35e-PHOTO_2025_03_06_06_26_51.jpg)
Melihat kronologi dan sebaran hujan, bisa dilihat bahwa banjir kali ini dimulai di hulu. Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan, banjir bandang telah terjadi di Cisarua, Bogor, pada Minggu (2/3/2025) malam.
Hujan deras di kawasan Puncak menjadi salah satu pemicunya. Akibatnya, Sungai Ciliwung yang tidak mampu menampung debit air pun meluap sehingga merendam rumah warga di bantaran kali hingga ke kawasan hilir.
Padahal, menurut Siswanto, risiko banjir di Jabodetabek juga bakal terus meningkat karena faktor cuaca dan tren perubahan iklim yang mengubah pola hujan. Laporan penelitian Siswanto dan tim di jurnal Meteorological Society of Japan pada 2022 tentang perubahan pola hujan Jakarta antara tahun 1900 dan 2010 menunjukkan, curah hujan tahunan di Jakarta cenderung sama, bahkan berkurang. Namun, hujan lebat harian dengan durasi lebih pendek cenderung meningkat.
Penelitian ini menemukan ada peningkatan dua kali lipat jumlah kejadian hujan dengan durasi pendek (1-3 jam) di musim hujan di Jakarta. Peningkatan frekuensi yang signifikan, sekitar 25 persen, dalam kejadian curah hujan durasi pendek ini, termasuk yang ekstrem atau di atas 10 mm per jam, terutama terjadi pada 2001-2010, dibandingkan dengan awal abad ke-20. Untuk intensitasnya, hujan-hujan durasi pendek ini meningkat 50 persen.
”Magnitudo banjir dipengaruhi oleh vulnerability (kerentanan) dan exposure (paparan). Kalau dari riset saya, vulnerability Jakarta meningkat karena faktor cuaca dan perubahan iklim. Demikian halnya eksposure meningkat karena tata kelola lingkungan yang buruk,” katanya.
Banjir di Jakarta dan sekitarnya kali ini hanya deretan pengulangan dari banjir-banjir sebelumnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/04/18/f6527235-0f7f-4bd9-afc1-9ef7b2d74b97_jpg.jpg)
Hanya tiga tahun sejak dibangun Jan Pieterszoon Coen, pada tahun 1621, Batavia—nama lama Jakarta—telah kebanjiran. Banjir juga terjadi pada 1654 dan sejak itu terus membesar. Kota yang awalnya dirancang Coen di muara Sungai Ciliwung sebagai duplikat Amsterdam di Belanda dan dijuluki ”Venesia dari Timur” karena sistem kanal-kanalnya itu perlahan ditinggalkan.
Pada akhir abad ke-18, terjadi perpindahan besar-besaran penduduk Batavia dari kota lama di muara Ciliwung ke daerah yang lebih tinggi di selatan, yang saat itu disebut Weltevreden, sekitar Jakarta Pusat saat ini. Weltevreden yang semula hutan dan rawa-rawa lantas berkembang pesat. Apalagi pada 1807, Herman Willem Daendels kemudian membangun pusat pemerintahan ibu kota koloni Belanda di Asia di sana.
Awalnya, Daendels sebenarnya hendak membangun pusat pemerintahan di Semarang atau Surabaya karena daya dukung lingkungan yang buruk. Alasan biaya, dia tetap membangunnya di Weltevreden. Pada 1830, ibu kota Hindia Belanda resmi pindah ke Weltevreden.
Namun, banjir semakin menjadi-jadi seiring pertumbuhan kota semakin ke selatan. Di luar banjir-banjir kecil yang hampir tiap tahun, sejarah mencatat sejumlah banjir besar yang berulang di Jakarta, yaitu tahun 1654, 1872, 1909, dan 1918. Banjir pada Februari 1918 tercatat paling besar dalam sejarah banjir di pusat pemerintahan Hindia Belanda.
Koran Sin Po edisi 19 Februari 1918 mencatat, hampir seluruh Jakarta digenangi air. Di kawasan Tanah Tinggi, Pinangsia, Glodok, Straat Belandongan, Tambora, Grogol, Petaksinkian, Kali Besar Oost, rata-rata ketinggian air hingga 70 sentimeter pada umumnya. Begitu juga di Angke, Pekojan, Kebun Jeruk, Kapuran, Kampung Jacatra atau Kampung Pecah Kulir di samping Kali Gunung Sari serta Pejambon, air juga menenggelamkan rumah-rumah penduduk.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/01/13/20200113-ARS-Banjir-Batavia-2-mumed_1578915925.png)
Tahun-tahun setelah itu, bahkan setelah pemerintahan Hindia Belanda selesai membangun saluran air yang di kemudian hari dikenal dengan sebutan Kanal Banjir Barat, dari kliping-kliping koran atau majalah pada masa itu terlihat bahwa hampir tiap tahun Jakarta kebanjiran. Van Breen, insinyur Belanda yang membangun Kanal Banjir Barat hingga Bendung Katulampa di Bogor, bahkan mengakui, kehadiran fasilitas pengendali banjir tersebut memang tidak sepenuhnya menjamin Jakarta terbebas dari banjir.
Menurut dia, dengan keberadaan Kanal Banjir Barat dan pintu air Manggarai yang terjadi adalah pengalihan wilayah banjir saja. Jika sebelumnya banjir melanda kawasan Weltevreden dan Menteng, dengan adanya kanal dan pintu air tadi, air lalu mengalir ke tempat yang lebih rendah sehingga banjir pun berpindah ke daerah Manggarai dan Jatinegara.
Seperti ditulis koran Siang Po, saat banjir besar melanda Jakarta pada 1918, ”lantaran Pejambon tempat yang paling rendah, maka hampir semua rumah sudah kemasukan air. Ada yang sebatas dada dan ada yang sebatas pinggang…”.
Setelah kemerdekaan, banjir semakin rutin melanda. Semakin padat penduduknya hingga meluas menjadi Jabodetabek, maka banjirnya pun bertambah luas. Bahkan, Kanal Banjir Timur yang sepanjang 23,5 kilometer yang terbentang mulai dari Cipinang hingga laut Marunda yang selesai dibangun pada 2010 tidak menjamin Jakarta bebas banjir. Persis seperti yang disampaikan Van Breen, itu hanya memindahkan banjirnya.
Banjir Jakarta memang tak akan bisa diselesaikan dengan sistem kanal saja karena kondisi geologis wilayah ini berupa cekungan banjir. Kawasan utara sekitar Ancol dan Teluk Jakarta itu secara perlahan mengalami pengangkatan karena proses tektonik, mengakibatkan air dari 13 sungai yang bermuara di Teluk Jakarta tidak bisa mengalir lancar ke laut dan kerap terjebak di cekungan besar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/06/c809d2ae-a533-4ae1-8454-63c4a2ffa236_jpg.jpg)
Jadi, bisa dikatakan Jakarta sebenarnya ibarat mangkuk raksasa yang di atasnya terlapisi endapan banjir. Karakteristik geomorfologi seperti mangkuk ini menyebabkan Teluk Jakarta tidak membentuk delta karena material yang terbawa melalui sungai-sungai itu sebagian besar terendapkan kembali di ”dataran banjir Jakarta”.
Sedimen sungai ini pula yang menyebabkan Jakarta di masa lalu kebanyakan berupa rawa-rawa. Dataran yang kering pada musim kemarau menjadi daerah parkir air waktu banjir. Maka, di masa kolonial, daerah luapan banjir itu dijadikan daerah parkir air dan menjadi daerah pertanian dan kawasan hijau, serta hanya sedikit yang bisa dibangun.
Namun, banyak kawasan parkir air diuruk. Contohnya kawasan Tebet yang sebenarnya adalah luapan banjir Sungai Ciliwung, kawasan Mampang yang merupakan luapan banjir Sungai Krukut, dan Kebayoran Lama yang merupakan luapan banjir Sungai Grogol. Bahkan, kawasan bantaran sungai pun kini dipadati perumahan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/06/9d13730d-a294-4fad-b160-a66dba6efcae_png.png)
Ancaman banjir di Jakarta bertambah parah seiring perubahan kawasan dataran tinggi yang mengelilingi cekungan menjadi pusat permukiman baru. Waduk-waduk dan rawa-rawa yang banyak di pinggiran Jakarta kini dikeringkan dan dijadikan hunian. Akibatnya, kawasan untuk resapan air justru mengirim lebih banyak air permukaan ke Jakarta.
Dari perspektif sejarah, tampaknya banjir sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari Jakarta. Ketika ia masih bernama Batavia dengan jumlah penduduk ratusan ribu jiwa dan ketika ruang-ruang terbuka masih terhampar luas banjir sudah terjadi. Sementara di kawasan puncak kondisi lahan relatif belum separah sekarang, banjir juga menjadi peristiwa rutin.
Dari perspektif iklim dan tren kerusakan yang kian masif di daerah resapan dan cekungan banjir, bisa diproyeksikan bahwa ancaman banjir di Jabodetabek bakal terus meningkat ke depannya. Apalagi, jika puncak musim hujan itu terjadi bersamaan dengan pasang tinggi dan banjir rob dari Teluk Jakarta.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Adhitya Ramadhan