Persiapan yang matang mutlak diperlukan sebelum seseorang mengikuti lomba lari maraton. Hal ini penting untuk mencegah risiko cedera saat berlari.
21 Nov 2024 20:27 WIB · Nasional
Apakah Anda sedang bersiap untuk mengikuti lomba lari maraton? Jika iya, pastikan Anda sudah menyiapkan kondisi fisik dan mental dengan baik. Persiapan yang matang amat diperlukan seberapa pun panjang lintasan yang akan ditempuh.
Dengan mempersiapkan diri dengan baik diharapkan risiko cedera saat berlari bisa dicegah. Selain itu, seorang pelari juga harus menyadari kapasitas diri. Terkadang risiko cedera tidak bisa dihindari di tengah perlombaan berlangsung. Apabila tubuh sudah menunjukkan sinyal-sinyal adanya cedera, sebaiknya jangan dipaksakan.
Staf Pengajar Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Listya Tresnanti Mirtha dihubungi di Jakarta, Kamis (21/11/2024), mengatakan, ketika berlari maraton, risiko cedera bisa terjadi mulai dari cedera ringan hingga berat.
Cedera ringan biasanya tidak berbahaya, tetapi tetap harus diperhatikan agar tidak berkembang menjadi kondisi lebih serius. Cedera ringan ini seperti lecet dan luka pada kulit, kram otot, melepuh (blister), nyeri lutut atau pergelangan kaki, serta nyeri otot tertunda (DOMS).
Sementara cedera berat harus segera ditangani. Contohnya, cedera stres tulang (stress fracture), tendinitis (peradangan pada tendon), cedera ligamen, overheating atau heatstroke, dan henti jantung mendadak.
Pada kondisi tertentu, cedera ringan bisa dikelola dengan tetap meneruskan lari tanpa menyebabkan gangguan yang lebih serius. Akan tetapi, keputusan untuk meneruskan lari harus berdasarkan evaluasi risiko dan pengendalian rasa sakit dari tim medis.
Namun, jika cedera yang terjadi cukup parah, pelari diharapkan tidak memaksakan diri untuk menyelesaikan lomba. Cedera yang tidak bisa dipaksakan ini bisa ditandai dengan adanya robekan otot atau ligamen yang biasanya disertai nyeri tajam tiba-tiba, bengkak yang berlebihan, sendi yang tidak stabil atau bergeser, rasa nyeri yang semakin parah, serta adanya tanda dehidrasi berat seperti pusing, mual, dan muntah.
Bila dipaksakan, cedera akan semakin memburuk. Proses penyembuhan pun nantinya akan semakin lama.
”Bila dipaksakan, cedera akan semakin memburuk. Proses penyembuhan pun nantinya akan semakin lama. Selain itu, berisiko juga terjadi penurunan performa jangka panjang, risiko cedera baru, serta risiko emergensi medis yang berakibat fatal,” kata Listya.
Dokter spesialis kedokteran olahraga dari Sport Medicine Injury and Recovery Center (SMIRC) RS Pondok Indah-Bintaro Jaya Antonius Andi Kurniawan mengatakan, persiapan yang matang menjadi kunci utama dari pencegahan terjadinya cedera saat berlari. Persiapan ini perlu dilakukan untuk semua lomba lari, baik lari maraton dengan panjang lintasan lima kilometer, sepuluh kilometer, half marathon sekitar 21 km, maupun pada full marathon dengan jarak sekitar 42 kilometer.
Bahkan, ia menuturkan, persiapan juga penting dilakukan saat latihan. Persiapan tersebut tidak hanya pemanasan berupa peregangan, tetapi juga persiapan nutrisi, perlengkapan olahraga yang menunjang, serta persiapan pada kondisi lingkungan lokasi lomba lari.
Tubuh perlu dilatih untuk beradaptasi pada lingkungan tempat lomba lari berlangsung. Sebelum mengikuti lomba lari, seseorang harus mencari tahu kondisi lokasi lomba lari. Apakah lomba akan berlangsung di lingkungan yang dingin, panas, maupun hujan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/15/22f759d0-0484-40a2-805d-4e722839177c_png.png)
Antonius menyampaikan, waktu persiapan untuk latihan lomba maraton pada setiap orang bisa berbeda-beda. Pada seseorang yang baru pertama kali mengikuti lomba maraton, latihan bisa dilakukan selama enam bulan sampai satu tahun sebelum lomba dilakukan. Sementara pada orang yang sudah pernah mengikuti sebelumnya, latihan bisa dilakukan sekitar 4-6 bulan sebelum lomba.
”Jadi, perlu persiapan latihan yang baik. Ini tidak hanya latihan lari, tetapi juga latihan kekuatan otot, recovery dengan baik, stretching atau peregangan, dan pengaturan pola nutrisi yang baik pula. Sebelum berlari perlu dipastikan juga beristirahat cukup,” tuturnya.
Bagi seseorang yang ingin mengikuti lomba maraton disarankan pula untuk melakukan pemeriksaan dasar atau medical check up terlebih dahulu. Pemeriksaan kesehatan dasar secara menyeluruh ini sangat penting untuk memastikan tubuh benar-benar fit untuk mengikuti lari maraton.
Lewat pemeriksaan ini, risiko kesehatan bisa diketahui, terutama jika ada risiko penyakit jantung. Lari maraton punya risiko terjadinya henti jantung mendadak yang bisa mengancam jiwa.
Bagi seseorang yang mengalami cedera selama lomba lari, pertolongan pertama yang harus dilakukan, yaitu merespons segera cedera yang dialami. Tubuh biasanya akan menunjukkan sinyal-sinyal adanya gangguan atau masalah kesehatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/19/d5e61f64-7ece-4a50-838f-2f78a2b08dae.jpg)
”Kalau ada sinyal tubuh seperti nyeri atau kelelahan atau kram serta hal lain yang tidak nyaman, itu harus direspons. Berhenti atau mengurangi kecepatan lari. Apabila dengan mengurangi kecepatan tidak juga membaik, sebaiknya berhenti, kemudian lakukan peregangan dan hubungi tim medis,” tutur Antonius.
Kesadaran untuk merespons sinyal tubuh ini amat penting agar cedera yang dialami tidak memburuk. Seorang pelari diharapkan bisa mengetahui dan menyadari kemampuan diri sendiri. Persiapan yang matang harus dipastikan untuk mencegah terjadinya cedera. Jika cedera tidak bisa dihindari, segera sadari tanda yang dialami dan cari bantuan.
Penulis:
Deonisia ArlintaEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase