Janice Tjen Kalah pada Momen Penting di WTA Sao Paulo

Janice Tjen kalah di final turnamen WTA 250 Sao Paulo. Meski demikian, posisinya dalam peringkat dunia terus naik.

15 Sep 2025 08:18 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

SAO PAULO, MINGGU — Janice Tjen mendapatkan pelajaran berharga ketika menjalani final turnamen tenis WTA 250 di Sao Paulo, Brasil. Final dalam debutnya pada turnamen WTA Tour itu akan menjadi bekal untuk meniti jalan yang lebih menantang.

Final antara sesama petenis non-unggulan di Sao Paulo, Minggu (14/9/2025) siang waktu setempat atau Senin (15/9/2025) dini hari waktu Indonesia, itu memberi peluang sama bagi kedua petenis. Janice berhadapan dengan petenis Perancis kelahiran Madagaskar, Tiantsoa Rakotomanga Rajaonah. Keduanya melaju ke final setelah mengalahkan unggulan.

Rajaonah mengalahkan unggulan kelima, Renata Zarazua, pada semifinal, sedangkan Janice menyingkirkan tiga pemain unggulan pada babak pertama, perempat final, dan semifinal. Salah satu yang dikalahkan petenis berusia 23 tahun itu adalah bintang Filipina yang menjadi unggulan ketiga, Alexandra Eala, pada perempat final.

Pertaruhan Janice dan Rajaonah saat menjalani final pun sama, yaitu untuk mendapat gelar pertama dari turnamen WTA Tour. Struktur WTA Tour terdiri atas level WTA 250, 500, dan 1000 yang bersifat Terbuka. Ada pula Final WTA yang diikuti delapan wakil terbaik sepanjang tahun. Adapun Grand Slam adalah level tertinggi persaingan tenis profesional yang penyelenggaranya adalah ”The Grand Slam Board”.

Janice akhirnya kalah dalam ”pertaruhan” itu. Pertandingan selama 1 jam 26 menit itu berakhir dengan skor 3-6, 4-6. Rajaonah, yang berusia 19 tahun, menjadi petenis remaja Perancis pertama yang menjuarai turnamen WTA setelah Oceane Dodin pada 2016.

Janice Tjen, petenis Indonesia, melakukan servis saat melawan Veronika Kudermetova (Rusia), pada babak pertama Grand Slam Amerika Serikat Terbuka. Pada pertandingan di New York, Minggu (24/8/2025), Janice mengalahkan petenis unggulan ke-24 tersebut 6-4, 4-6, 6-4.

Janice, yang bisa memasuki persaingan WTA Tour karena peringkatnya naik seusai mencapai babak kedua Grand Slam Amerika Serikat Terbuka, mempunyai kesempatan yang begitu terbuka untuk memenangi set pertama. Dia membuat sembilan break point pada set pertama, tetapi hanya bisa sekali memanfaatkannya.

Di sisi lain, Rajaonah berhasil memanfaatkan dua break point dengan baik. Total, Janice hanya dua kali mematahkan servis lawan dari sepuluh kesempatan, sedangkan Rajaonah melakukannya empat kali dari delapan break point.

Meskipun mendapat lebih banyak kesempatan untuk mencuri servis lawan, Janice akhirnya takluk karena performanya kalah solid dari Rajaonah ketika menghadapi momen penting. Salah satu momen itu terjadi saat mendapat break point pada gim kesembilan set pertama, pada skor 3-5 (40-30). Janice gagal mengantisipasi lob dari Rajaonah yang membuat bola melambung, lalu jatuh di baseline.

Pada set kedua, Janice mempunyai kesempatan mematahkan servis lawan saat tertinggal 3-4, tetapi dia gagal memanfaatkannya. Rajaonah memenangi pertandingan melalui lob ke baseline yang lagi-lagi tak dapat diantisipasi Janice.

”Ini adalah pekan yang membuat saya stres. Babak pertama sangat sulit. Saya pun tak menduga bisa menjadi juara di sini. Saya tidak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan perasaan saat ini,” kata Rajaonah dalam laman resmi WTA.

Janice Tjen, of Indonesia, returns a shot to Emma Raducanu, of Great Britain, during the second round of the U.S. Open tennis championships, Wednesday, Aug. 27, 2025, in New York. (AP Photo/Andres Kudacki)

Laga sulit yang disebutnya adalah ketika menghadapi Ana Sofia Sanchez pada babak pertama. Rajaonah tertinggal 0-5 pada set ketiga, tetapi berbalik menang 6-4, 4-6, 7-6 (7). Setelah itu, dia tidak kehilangan set pada empat babak berikutnya. Sebaliknya, Janice kalah setelah selalu menang dua set dalam empat babak.

Meski demikian, selalu ada sisi positif yang bisa dibawa Janice dari setiap pertandingan. Kehilangan poin pada momen penting menjadi pengalaman yang bisa dibawa untuk menghadapi turnamen lain.

Naik peringkat

Hasil final WTA Sao Paulo juga menaikkan posisi Janice dari peringkat ke-130 dunia ke posisi ke-103. Posisi itu didapat setelah dia memulai 2025 dari posisi ke-578 dunia. Jika performanya kian solid dan bisa melangkah jauh dalam setiap turnamen, Janice akan memiliki kesempatan untuk memilih turnamen dengan level lebih tinggi, seperti WTA 500 dan 1000, yang akan berlangsung di Asia pada September hingga Oktober.

Puncak persaingan petenis top dunia putri di Asia akan berlangsung dalam turnamen WTA 1000 Beijing, 24 September-5 Oktober, dilanjutkan WTA 1000 Wuhan pada 6-12 Oktober. Pekan ini, 15-21 September, diselenggarakan WTA 500 Korea yang akan diikuti Iga Swiatek, juga petenis Indonesia, Aldila Sutjiadi, setelah kalah di final WTA 500 Gudalajara pada nomor ganda putri.

Aldila, yang berpasangan dengan petenis Meksiko, Giuliana Olmos, kalah dari Irina Khromacheva/Nicole Melichar-Martinez 3-6, 4-6. Dengan demikian, Aldila belum bisa menambah lima gelar WTA 250 dari level lebih tinggi.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto